The Elves Secret

The Elves Secret
26. Hasil Mengejutkan


__ADS_3

Keringat mengalir di pelipis keduanya, Elle terengah menstabilkan nafasnya yang memburu. Elle semakin terlihat cantik dan seksi karena berkeringat, beruntung Elle menggunakan kaos hitam dibalik seragam putihnya karena tadi ia melepas jas sekolahnya sebelum bertanding. Skor mereka saling mengejar dengan Alvaro satu points di depan.


Tak berbeda jauh dengan Alvaro, bulir keringat di keningnya menambah ketampanannya berkali lipat juga kesan seksi apalagi dengan seragamnya yang sedikit basah mencetak jelas tubuh kekar Alvaro. Hingga para murid cewek yang mengidolakan Alvaro semakin menjerit heboh.


Jarak Elle dengan ring sekitar tiga meter. Memang cukup jauh namun Elle berniat untuk melempar bola dari kejauhan ini, ia dulu juga sering melakukannya dan itu semua berhasil masuk walaupun sempat gagal awalnya.


Saat Alvaro hendak mengambil alih bola dengan spontan Elle melompat dan melempar bola di tangannya ke arah ring. Elle percaya bahwa dia akan bisa menyusul skor yang tertinggal.


Dan ledakan suara yang berasal dari murid-murid di sana yang sedang menonton di pinggir lapangan membuat Elle kaget dan langsung tersadar. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah tribune penonton yang sudah nampak ramai.


Sejak kapan jadi seramai ini batin Elle bingung.


“Kita seri” suara berat dari Alvaro membuat Elle langsung menatap pria itu. “Kamu hebat, karena ini pertama kalinya ada orang yang bisa menyeimbangi ku dalam basket.” Sambungnya lagi sambil tersenyum tipis.


Elle pun hanya mengangguk kecil, masih menstabilkan nafasnya. Bibir Alvaro melengkung sempurna menciptakan sebuah senyuman manis lalu mengacak rambut perak Elle gemas.


“Lalu perjanjiannya?” tanya Elle.


“Bagaimana kalau kita saling mentraktir makan di luar” usul Alvaro. Padahal mah itu modusnya saja agar bisa mendekati Elle.


“Baiklah” jawab Elle mengangguk.


“Elle! Astaga kamu keren sekali !!” Lily dan Stella berlari menghampirinya ke tengah lapangan diikuti Emma di belakang.


“Sejak kapan kamu bisa main basket Elle. Bahkan permainan mu terlihat seperti profesional, sangat keren hingga sampai bisa menandingi Alvaro!” timpal Felix yang baru datang dari kerumunan murid-murid di pinggir lapangan bersama Sam dan William di belakangnya.


“Sejak kecil.” Jawab Elle singkat.


“Wow, siapa yang mengajarimu hingga bisa sehebat itu?” tanya Lily penasaran.


“My brother,” jawab Elle.


“Ohh, ternyata saudara. Kalau tampan jangan lupa dikenali ya sama aku kalau bisa jadi calon ipar juga boleh” ucap Lily malu-malu.


Elle hanya tersenyum tipis sambil menggeleng pelan melihat ekspresi Lily yang lucu.

__ADS_1


"Bisa malu-malu juga tuh cewek kasar" ucap Sam menyindir Lily.


"Biasanya juga malu-maluin" timpal Felix lalu mereka berdua tertawa menghiraukan tatapan kesal Lily.


“Elle yang cantik, kapan-kapan tanding yuk berduaan saja sama calon suami biar lebih romantis gitu” ucap Sam menaik turunkan alisnya.


“Boleh saja” jawab Elle tersenyum manis.


“Astaga! Elle manis sekali!” ucap Sam salah tingkah sambil memukul lengan Felix yang membuat Felix langsung meringis kesakitan.


Tukk


“Aduh! Sakit sialan!” kesal Sam sambil memegang sebelah kakinya yang diinjak Felix dengan keras.


“Maaf, sengaja” ucap Felix kalem lalu menyemburkan tawanya.


“Yakk! Kemari kau!” teriak Sam lalu mengejar Felix yang berlari mengelilingi lapangan untuk menghindari amukan Samuel.


Dasar bocah, baru juga kompak mengejekku sekarang main kucing-kucingan batin Lily heran.


“Terima kasih Liam” ucap Elle menerima kedua benda itu.


“Ayo kita ke kelas, biarkan saja dua orang yang tidak waras itu di sini” ucap Lily lalu menggandeng tangan Elle membawanya ke kelas diikuti yang lainnya, meninggalkan Sam dan Felix yang belum berhenti berkelahi dan ditonton oleh murid-murid yang masih berada di lapangan.


Setelah memasuki gerbang mansion, seperti biasa Elle langsung menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama mansion.


Elle keluar dari mobil berjalan menuju pintu utama menghiraukan mobilnya yang akan diurus oleh penjaga. Elle yang berniat untuk segera ke kamarnya, langkahnya langsung terhenti saat mencium bau masakan yang lezat dari arah dapur.


Karena penasaran Elle membawa langkahnya menuju dapur dan melihat di sana ada Hannah dan Monica serta beberapa maid sedang memasak. Elle tersenyum sambil berjalan menghampiri dua wanita paruh baya yang paling dia sayangi itu.


“Mom, nenek” panggil Elle.


“Eh kamu baru pulang sayang?” tanya Hannah.


“Mmm, baru sampai tadi” gumam Elle sambil memeluk manja lengan Monica.

__ADS_1


“Kenapa hari ini putri mommy terlihat manja sekali hemm” ucap Monica sambil mencolek hidung mungil Elle.


“Hehehe lagi mode malas mom” jawab Elle masih dengan kegiatannya memeluk sang mommy.


“Kakek mana, nek?” tanya Elle saat tidak melihat kakeknya yang biasa duduk di ruang tengah.


“Oh kakek kamu tadi di ruang tengah, masa nggak ada?” ucap Hannah. “Mungkin kakek di taman belakang” lanjutnya.


“Ohh.” Jawab Elle.


“Ya udah Vivi ke kamar saja bersih-bersih nanti mommy panggil jika waktunya makan malam sudah siap, mommy dan nenek juga udah memasak makanan kesukaan Vivi” ucap Monica sambil memperlihatkan masakan yang belum siap.


“Wahh kelihatannya enak sekali.” Ucap Elle berbinar, “ ya udah Vivi ke kamar dulu ya mom nek” lanjutnya yang dibalas anggukan kepala oleh Hannah dan Monica.


Setibanya di kamar Elle melepaskan baju seragamnya begitu juga dengan kaos hitam yang dia gunakan di dalamnya, hingga menyisakan tangtop hitam yang melekat di tubuhnya. Elle berjalan ke arah cermin full body memperlihatkan bayangan tubuhnya yang ideal dan putih bersih membuat para kaum hawa mungkin iri jika melihatnya.


Tiba-tiba muncul sepasang sayap bening berkilau di balik punggung Elle. “Akhirnya aku bisa memunculkannya kembali tapi masih belum bisa menggunakannya untuk terbang, mungkin aku harus melatihnya juga” lirih Elle, dan dalam sekejap sepasang sayap itu kembali hilang.


Lalu Elle berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa akibat pertandingan tadi bersama Alvaro di sekolah, mungkin berendam sebentar usulan yang bagus untuk malam ini.


Elle pun bergegas turun menggunakan lift untuk makan malam bersama setelah membersihkan diri. Di sana sudah ada Ibram, Hannah, David, Monica serta Jack dan Allan yang sudah duduk di kursi masing-masing.


“Kemarilah sweetie, duduklah di sini” panggil Allan sambil mengajak Elle duduk di sampingnya.


“Heh bocah harusnya Vivi duduk di sampingku malam ini adalah giliran Vivi duduk di sampingku. Jangan terus merebut Vivi.” Kesal Jack.


“Mau-mau sayalah” balas Allan tenang.


"Ck, dasar bocah" geram Jack. Untung anak sendiri kalau tidak sudah ia buang ke tengah lautan.


“Bisakah kalian diam, sebaiknya kita mulai makan malamnya. Vivi pasti semakin lapar menunggu kalian selesai berdebatnya.” Ucap Ibram yang merasa berisik dengan


perdebatan yang tidak ada ujungnya itu.


Setelah mendengar ucapan sang tuan besar mereka pun akhirnya segera memulai makan malam dengan keheningan karena tidak ingin melihat kesayangan mereka sakit akibat menahan lapar dan juga tidak ingin mendapat amukan.

__ADS_1


__ADS_2