
Sekarang Elle sudah tiba di gerbang sekolah dan benar saja ia sudah telat karena gerbang sudah tertutup secara otomatis jika melewati jam 08.00 pagi, begitulah kecanggihan sekolah elit Harvest Internasional Highschool.
Elle keluar dari mobilnya berjalan ke arah gerbang berharap ada security yang menjaga untuk diminta membuka gerbang.
Tiba-tiba ia dikagetkan dengan sebuah tangan yang memegang bahunya.
“Liam? Kamu terlambat juga?” tanya Elle saat tahu siapa sang pemilik tangan.
“Iya, ayo ikut aku” ajak William sambil menggandeng tangan Elle.
Elle menatap punggung William yang berjalan di depannya. “Kemana?” tanya Elle bingung.
“Ikut saja.” Ucap William.
“Terus mobilku,,,” ucap Elle sambil menunjuk mobilnya yang masih berada di depan gerbang.
“Nanti ada yang mengurus, biarkan kunci mobilnya di dalam.” Ucap William lagi lalu kembali melangkah menjauh dari tempat itu diikuti Elle di belakangnya.
Dan disinilah William membawa Elle, di depan tembok belakang sekolah yang memiliki gerbang kecil yang terkunci hanya dengan sebuah gembok.
William mengambil sesuatu di saku celananya dan itu adalah sebuah kunci lalu membuka gembok yang mengunci gerbang itu.
“Kamu memiliki kuncinya?” tanya Elle.
“Bukan aku saja, Varo juga memilikinya. Jadi jika Vivi telat lagi panggil saja aku oke.” Ucap William.
Mereka masuk ke dalam sekolah yang sudah terlihat sepi karena jam pembelajaran sedang berjalan.
“Kalian berdua darimana saja, kenapa masih berkeliaran di jam pembelajaran,“ tanya seseorang yang mengagetkan Elle.
Dengan gerakan kaku Elle melihat orang itu yang tak lain seorang penjaga sekolah yang bertugas mengawasi murid-murid yang terlambat, “maaf pak kami,,,”
“Kami baru saja dari ruang kepala sekolah untuk membahas Olimpiade sains yang akan dilaksanakan sebentar lagi.” Jawab William memotong ucapan Elle karena dia tahu Elle akan mengatakan sejujurnya.
Sedangkan Elle mengernyit bingung mendengar itu dan langsung menoleh ke arah William dengan tatapan bertanya.
Tetapi sebagian yang di ucapkan William sepenuhnya tidak berbohong, Elle dan dia ditunjuk oleh guru dan kepala sekolah secara khusus sebagai wakil untuk mengikuti Olimpiade Sains yang satu bulan lagi akan dilaksanakan.
__ADS_1
Aku? Olimpiade Sains? Apa maksudnya bingung Elle.
Beruntung William adalah seorang ketua OSIS dan sudah dikenal oleh semua orang di sekolah, apalagi dia yang sering menjadi wakil Olimpiade Sains dan selalu membawa kemenangan untuk sekolah. Sehingga penjaga itupun langsung percaya.
“Baiklah, kalian kembalilah ke kelas masing-masing.” Ucap penjaga itu lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
“Liam apa maksudmu tadi?” tanya Elle.
“Nanti saja ku jelaskan.” Jawab William lalu menggenggam tangan Elle dan melangkah pergi untuk mengantar Elle ke kelasnya.
Sementara itu Lily, Emma dan Stella menunggu Elle di dalam kelas yang tidak kunjung menampakkan dirinya. Saat ini kelas mereka sedang jam kosong karena guru yang tidak datang.
“Ini Elle kemana sih, apa dia belum sampai ya?” kata Lily sambil sesekali melihat jam tangannya.
“Mending kita susul saja keluar, siapa tahu Elle sudah sampai dan lagi dapat hukuman karena terlambat. Apalagi penjaga sekolah tidak pernah main-main saat memberikan hukuman pada murid yang terlambat” Ujar Emma ngeri jika mengingat hukuman penjaga sekolah.
“Kita tunggu saja disini ya, kalau kalian ingin keluar aku nggak ikutan capek tahu.” Pinta Stella memelas.
Lily dan Emma beranjak dari tempat duduknya mengabaikan Stella yang mendengus kesal, lalu mereka berjalan keluar dari kelas.
Emma melihat Stella yang sudah berjalan di sampingnya, “katanya tadi nggak mau ikut? Capek? Mau nunggu saja di dalam, terus kenapa ikut?” sindir Emma.
“Mau-mau akulah.” Jawab Stella.
Mereka berjalan di koridor yang sepi karena bel masuk sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, sambil melangkah mereka melihat sekeliling koridor bahkan halaman sekolah mencari keberadaan Elle.
Lily tiba-tiba berhenti berjalan dan fokusnya langsung tertuju pada seorang gadis berambut perak dan seorang pria tampan yang sangat dia kenal berjalan ke arah mereka.
“Ooh ternyata yang kita tunggu-tunggu malah sedang asik berduaan ya.” Sindir Lily.
“Elle kamu darimana saja, kenapa bisa bersama Will?” tanya Stella.
“Kami berdua tadi datang telat bersamaan, terus kenapa kalian di luar bukankah ini masih jam pelajaran?” tanya Elle balik.
“Jam kosong, gurunya nggak datang” jawab Emma.
“Vivi, aku pergi dulu ya.” Pamit William lalu pergi setelah mengusap lembut kepala Elle.
__ADS_1
“Ekhem ekhem, bagaimana kalau kita ke kantin saja,” ucap Lily memecah keheningan setelah melihat William pergi.
“Setuju” jawab Stella dan Emma bersamaan.
Saat ini Elle dan ketiga temannya sedang duduk di meja kantin menikmati makanan mereka, di kantin tidak terlalu ramai karena hanya kelas mereka yang mendapat jam kosong.
“Eh bagaimana kalau nanti malam kita keluar?” usul Lily
“Kemana?” tanya Emma.
“Kita jalan-jalan yuk, bosan aku di rumah mulu.” Ucap Lily. Elle dan Emma hanya mengangguk tanda setuju.
Apalagi Elle yang sangat ingin jalan-jalan keluar seperti gadis lainnya bersama teman mereka pasti sangat menyenangkan. Dan tentang izin, keluarganya sudah memberi Elle kebebasan untuknya walau masih dijaga ketat oleh pengawal bayangan milik pamannya, Jack.
“Kayaknya aku nggak bisa deh, soalnya papiku akan segera pulang dari luar negeri.” Ucap Stella.
“Yaah, personil kita jadi berkurang satu deh,” ucap Lily lesu.
“Maaf ya teman-teman.” Ucap Stella tidak enak.
“Tidak apa-apa, lain kali jika ada waktu kita pergi lagi dengan personil lengkap. Benarkan gays?" ucap Emma yang diangguki Elle dan Lily.
“Kita gunakan mobilku saja biar nggak ramai nanti, dan kalian berdua akan aku jemput jam 6 oke,” lanjut Emma lagi.
Tiba-tiba datang Sarah membawa segelas jus jeruk di tangannya lalu menyiram pakaian Elle, membuat yang lainnya langsung terkejut hingga Lily dan Emma langsung dari duduknya.
“Sarah! Apa-apaan kamu ini hah!” teriak Lily lalu mendorong Sarah, dia tidak terima perlakuan Sarah yang seenaknya pada Elle.
“Dia yang apa-apaan! menggoda calon tunangan orang bahkan dia juga berani menggoda William! Karena dia juga Alvaro menolak pertunangannya dengan Amel hingga membuat Amel sedih!" terbaik Sarah menunjuk Elle yang masih duduk dengan menundukkan wajahnya, hingga tidak terlihat jelas ekspresi wajah Elle.
"Aku juga yakin barang-barang branded miliknya itu pasti dia dapat karena menjual diri. Cih, sudah miskin murahan lagi dasar tidak tahu diri!” Kata Sarah menghina Elle di depan mereka semua.
Dan dia semakin emosi saat mengingat Elle jalan berdua dengan William tadi di koridor, pria yang selama ini dia diam-diam cintai bahkan sejak mereka kecil.
Sedangkan sahabat Elle semakin tersulut emosi saat mendengar semua hinaan dan fitnahan Sarah yang tertuju pada Elle.
“Jaga omongan mu sialan.” Ucap Lily marah.
__ADS_1