The Elves Secret

The Elves Secret
50. Who Black Family?


__ADS_3

“Eh iya, hari Senin depan kan akan diadakan rapat.” Kata Stella seolah ingat berita penting.


“Rapat? Memangnya ada apa? Apa akan ada event? Atau ada masalah?” tanya Emma dengan wajah bingungnya.


“Mmm, kalau nggak salah sih membahas tentang kedatangan tamu penting yang akan datang ke sekolah serta para investor sekolah kita dan juga tentang camping rutin sebelum ulang tahun sekolah” jawab Stella sambil memainkan gantungan ponselnya.


“Jika kedatangan tamu aku tidak tahu siapa yang datang. Tapi jika camping rutin aku dengar dari kakak kelas kita, camping kali ini akan diadakan di hutan dan kebun milik keluarga Black.” Ucap Lily dengan antusias.


Sedangkan Elle yang tidak tahu siapa itu keluarga Black hanya mendengarkan dengan kening mengkerut. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu tapi dimana pikir Elle dengan mencoba mengingatnya.


“Sungguh!? Pasti sangat seru apalagi katanya seluruh kebun milik keluarga Black sangat indah dan dijaga dengan kelestariannya dan juga keamanannya, aku jadi tidak sabar.” Ucap Emma juga ikut semangat


“Siapa keluarga Black?” tanya Elle dengan wajah bingung membuat ketiga sahabatnya yang mendengar pertanyaan Elle pun sontak menatapnya dengan wajah terkejut.


“Kamu tidak tahu siapa itu keluarga Black?” tanya balik Stella dengan wajah tak percayanya.


Elle menggeleng pelan dengan wajah tenangnya dengan tangan yang tak lepas memainkan sebuah pensil perak.


Elle kemudian terlihat mengingat sesuatu. “Mmm, aku hanya pernah mendengar nama itu sekali tapi aku lupa mendengarnya dimana” ucapnya santai.


Ketiga sahabatnya pun hanya menghela nafas berat. Master X saja yang sudah terkenal di manapun Elle tidak tahu, apalagi keluarga Black pikir mereka bertiga.


“Keluarga Black itu adalah keluarga super kaya dengan pengaruh luar biasa walaupun masih kalah sih dari Master X,” jelas Emma.


“Mereka juga terkenal kejam dan tanpa ampun Elle, jika ada satu orang yang mengusik anggota keluarga atau wilayah yang mereka kuasai, mereka nggak akan segan buat hancurin orang itu” ucap Lily dengan wajah ngeri namun terselip nada kekaguman pada keluarga itu.


“Maka dari itu banyak keluarga konglomerat, pengusaha bahkan masyarakat segan pada keluarga Black” ujar Stella.


“Ohh,,,” jawab Elle singkat sambil mengangguk pelan.


Sedangkan yang lain sudah bisa menebak jawaban Elle yang singkat, padat dan santai jika mereka sudah menjelaskan sesuatu secara panjang lebar apalagi melihat wajah Elle yang terlihat tidak tertarik sama sekali.


“Sudah ku tebak sih jawabannya” bisik Emma pada Stella, sedangkan Stella dan Lily hanya terkekeh kecil.


“Jadi, orang tua kalian pastikan harus datang ya” ucap Lily tetapi setelah selesai mengucapkan itu mereka bertiga langsung diam dan menatap ke arah Elle.

__ADS_1


“Elle?” lirih ketiganya.


Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum kecil saja “kita lihat saja nanti” jawabnya. “Udah bel, ke kantin yuk” ajaknya.


Mereka pun pergi menuju kantin, saat sampai di kantin seperti biasa suasana sudah ramai dan banyak meja yang sudah diisi.


Setelah mengambil makanan masing-masing, mereka kebingungan mencari meja yang sepertinya sudah penuh semuanya.


“Itu di pojok sepertinya kosong” ucap Emma sambil menunjuk meja pojok yang memang kosong.


“Ya sudah kita di situ aja” ucap Lily.


Mereka berempat menuju meja pojok dan duduk di sana setelah itu memakan makanan masing-masing dengan khidmat.


“Dari tadi aku tidak melihat Alvaro dan teman-temannya, apa mereka tidak ke kantin ya?” tanya Stella melihat sekeliling kantin.


“Mana aku tahu” jawab Emma mengedikkan bahu acuh.


“Udah lah, lanjutkan aja makannya jangan nyari mereka. Mereka kalau laper juga pasti ke sini kok” ujar Lily acuh, apalagi setelah ada Amel dan Sarah yang selalu di dekat Alvaro dan teman-temannya membuat ia malas mengingat tentang mereka.


Namun belum sempat melewati pintu kantin langkah mereka terhenti karena di hadang oleh Alvaro dan ketiga temannya tak lupa dengan dua cewek yang terus mengikuti mereka.


“Eh, Elle makin cantik aja. Baru selesai makan siang ya? Kenapa nggak di tunggu sih biar kita sama-sama makan siangnya” ucap Sam yang mulai dengan gaya playboy nya.


“Permisi kita mau lewat.” Kata Lily dengan suara ketus menghiraukan sapaan Samuel.


"Ih,,, kok gitu sih Ly, tega bener kalian cuekin aku" ucap Sam dengan suara merajuk.


“Kok cepet banget Ly, nanti aja ya kita sama-sama ke kelas” ajak Felix.


"Iya Ly, kalau ramai pasti seru" timpal Amel dengan suara lembutnya tak lupa dengan tampang polosnya.


"Mulai deh, dengan topeng polosnya" sinis Lily.


"Biasa, mau ngedrama" ucap Emma. Membuat Amel diam-diam mengepalkan tangannya.

__ADS_1


“Cih. Mana mau kita sama kalian jika masih ada dua lintah menempel di sini” ucap Lily dengan memasang wajah jijik.


“Ly, nggak boleh gitu kita kan teman dari kecil” timpal Amel sedih.


“Aku tuh nggak punya teman kayak parasit seperti kalian” tunjuk Lily pada Amel dan Sarah.


“Heh! apa maksudmu dengan mengatai kami parasit hah!?” sentak Sarah tak terima, apalagi melihat Amel yang semakin sedih.


“Kenapa? Nggak terima? itu sih derita kamu, lagian memang benar kan” jawab Lily santai.


“Beraninya kamu menghina ku! Ingat, aku adalah anggota keluarga Parker maka dengan mudah aku membuat perhitungan denganmu! keluarga Hester masih jauh berada di bawah kekuasaan keluarga Parker!” geram Sarah sombong.


“Coba saja” jawab Lily santai sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


Sarah yang sudah sangat emosi melangkah dengan cepat menuju Lily untuk menamparnya, Lily yang belum siap langsung menutup matanya berharap tamparan itu tidak terlalu sakit tapi dia belum juga merasakan apapun di pipinya.


Dengan perlahan Lily membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi.


Sebuah tangan lentik dan putih memegang tangan Sarah yang akan menamparnya.


Elle yang memang sedari tadi diam langsung menghadang tangan Sarah dan mendorongnya hingga terjatuh ke lantai, hingga membuat Sarah meringis karena kerasnya benturan pantatnya dengan lantai.


Amel yang melihat itu awalnya terkejut namun dia segera berjalan menuju Sarah dan membantunya kembali berdiri dengan pelan.


“Kenapa kamu mendorong Sarah, Elle?” ucap Amel dengan suara lembut yang terdengar menyalahkan Elle.


“Aku hanya tidak menyukai seseorang yang seenaknya menggunakan kekerasan, begitupun dengan seorang penipu.” Ucap Elle datar dengan pandangan tajam ke arah Amel dan Sarah.


Amel yang mengerti maksud Elle pun langsung terdiam dengan wajah memucat dan tangan yang bergetar.


Elle lalu mengalihkan tatapannya ke arah Alvaro dan teman-temannya “Bisakah kalian minggir.”


Dengan aura yang dapat membuat keempat pria itu tercekat dan tanpa sadar langsung membuka jalan.


Namun beruntung hanya sedikit aura yang Elle keluarkan hingga tidak terlalu berefek pada tubuh manusia, walau mereka hanya terasa tercekik dengan tubuh berubah kaku saja.

__ADS_1


__ADS_2