The Elves Secret

The Elves Secret
38. Penolakan Pertunangan


__ADS_3

Setelah tersadar dengan posisi mereka saat ini, Elle langsung mendorong bahu Theo lalu kembali ke kursi yang tadi ia duduki begitupun dengan Theo.


“Ternyata, anda tetap saja tidak punya sopan santun tuan” ujar Elle, percuma jika dia berniat pergi sedangkan pria gila ini akan terus menghalangi nya.


“Amour, aku sudah bilang panggil namaku.” Tekan Theo menatap intens wajah Elle.


Elle mengembuskan nafas pelan “aku ingin pulang.” Ucap Elle kesal setelah menghabiskan minumannya yang ia abaikan.


Theo dengan senyumannya yang masih merekah langsung berdiri dari duduknya lalu menggenggam tangan Elle. “Baiklah. Ayo, aku antar.”


“Aku bisa sendiri ,” tolak Elle sambil melepas genggaman tangan mereka karena dia yakin pria asing ini juga belum mengetahui identitasnya dari keluarga Caldwell.


“Tidak boleh.” Tegas Theo menolak keinginan Elle lalu kembali memegang tangan Elle dengan lebih erat agar Elle tidak bisa melepas lagi genggaman tangan mereka.


“Kamu pulang bersamaku amour. Tenang saja aku masih ingat dimana letak Caldwell Mannor,” bisik Theo tepat di samping telinga Elle sambil tersenyum miring.


Astaga darimana datangnya pria gila ini batin Elle.


Elle cukup terkejut namun dia bisa mengendalikan ekspresinya. Elle hanya bisa menghela nafas berat apalagi melihat Theo yang akan terus membantah keinginan nya, terpaksa dia pun mengangguk setuju. “Lalu mobilku?” tanyanya lagi.


“Hansel, bawa mobil gadisku.” Perintah Theo.


Setelah Elle memberikan kunci mobilnya pada pria yang dipanggil Hansel oleh Theo. Elle dan Theo berjalan keluar dari cafe, serta Elle baru menyadari ternyata cafe sudah sepi tidak ada pelanggan dan itu sangat aneh karena sebelum Elle masuk cafe ini cukup ramai.


“Aku menyewa cafe ini untukmu amour, agar kita bisa berbicara berdua saja dan tidak ada yang akan mengganggu.” Ucap Theo santai yang mengerti pikiran Elle, saat melihat Elle memandang sekeliling cafe yang sepi.


Mereka berdua pun pergi dari cafe menuju Caldwell Mannor dengan menggunakan mobil Theo, namun sebelum mendekati gerbang Elle langsung keluar dari mobil Theo tanpa mengucap apapun lalu pindah menggunakan mobilnya kembali.


“Terima kasih pria gila.” Ujar Elle sebelum menjalankan mobilnya memasuki gerbang.


Sedangkan Theo yang melihat sikap Elle itu hanya tersenyum tipis. Gadisku memang nakal pikirnya.


Bahkan Hansel yang melihat tuannya yang seperti itu hanya bisa menghela nafas panjang. Pekerjaanku akan semakin bertambah jika master sudah memasuki mode bucin nya batin Hansel pasrah.


Di kediaman utama keluarga Parker, Alvaro baru memasuki mansion dengan wajah datar miliknya. Di ruang tengah sudah ada orang tuanya dan juga Amel yang sedang menangis memeluk Sarah.

__ADS_1


“Kemari lah son.” Pinta Tyler, Alvaro lalu melangkah ke arah papanya dan di sofa samping Tyler berhadapan dengan Amel.


“Al, apa benar kamu tidak memperhatikan Amel?” Tyler bertanya pada Alvaro dengan hati-hati.


“Itu benar paman, Al tidak memperhatikan Amel dia malah lebih memilih memperhatikan gadis lain padahal Amel kan calon tunangannya.” Jelas Sarah.


“Benar begitu?” tanya Marie, mama Alvaro.


“Benar. Dan aku tidak akan pernah menyetujui pertunangan ini.” Alvaro menatap Sarah dengan mata dingin.


Setelah mengatakan itu Alvaro melangkah pergi ke kamarnya meninggalkan Amel yang semakin menangis.


“Tante lihat hiks Alvaro tidak mau bertunangan denganku hiks” ucap Amel mengadu pada Marie sambil terisak.


“Sudah-sudah mungkin Al butuh waktu” ucap Marie menghibur Amel.


“Aku tidak mau tahu, pokoknya Alvaro harus menjadi tunangan Amel.” Ucap Amel mutlak.


Marie dan Tyler saling melirik mereka bisa saja meresmikan tapi melihat Alvaro tidak menyukai Amel mana bisa mereka memaksanya.


Alvaro berdiri di balkon kamarnya berdiri melihat langit malam yang bertaburan bintang tapi pikirannya melayang hanya tertuju pada satu orang, Elle.


“Amel adalah gadis yang tepat untukmu.” Ujar Tyler.


“Aku tidak menyukainya.”


Ucap Alvaro singkat.


“Kenapa tidak mencoba mencintainya?” tanya Tyler.


“Aku mencintai gadis lain.” Jawab Alvaro.


“Dengar son, papa tidak akan memaksa dan menuntutmu bersama dengan pilihan papa. Papa akan mendukung pilihanmu asal dia bisa membuatmu bahagia.” Jelas Tyler.


“Masalah perjodohan papa akan mencoba bicara dengan orang tuanya Amel.”

__ADS_1


Lanjut Tyler.


“Terima kasih pa” Alvaro memeluk Tyler erat.


Tyler melerai pelukan mereka. “Oh iya, ngomong-ngomong siapa gadis yang bisa mencairkan hati dinginmu itu?” tanya Tyler jahil menggoda Alvaro.


“Dia gadis paling cantik yang pernah aku lihat, dengan sikapnya yang tenang membuatnya terlihat dewasa dan anggun. Al,,, sangat mencintainya pa.” Jelas Alvaro dengan senyuman yang tak luntur dari bibirnya serta wajah memerah malu yang membuat Tyler terkejut, ini pertama kali dia melihat reaksi lain di wajah anaknya itu selain cuek dan datar.


“Kalau begitu bawa dia ke mansion, papa dan mama ingin bertemu dengannya.” Pinta Tyler.


“Tentu, Al akan segera memperkenalkannya dengan papa dan mama.” Ucap Alvaro senang.


“Baiklah papa keluar dulu.” Pamit Tyler lalu berjalan keluar dari kamar Alvaro.


Senyum manis tidak pernah lepas dari wajah tampan Alvaro, dia bahagia mendapat respon baik dari papanya. “Elle, kamu pasti akan menjadi milikku” gumamnya.


Di tempat lain tepatnya di kamar sang putri tunggal keluarga Caldwell, Elle terus saja bergerak gelisah di atas ranjang. Sejak tadi pikirannya selalu dipenuhi dengan kejadian di cafe.


Kenapa jantungku berdebar cepat saat mengingatnya, astaga Vivi berhentilah memikirkan pria gila itu batin Elle teriak.


“Mungkin besok aku harus meminta mommy memeriksa jantungku ke dokter” gumamnya sambil memegang dadanya. Tak lama ia terlelap saat hampir tengah malam karena terus memikirkan perasaannya yang aneh.


Langit yang tadinya gelap kini menjadi terang karena sang surya menyinari bumi, seluruh manusia terbangun dan melakukan keseharian mereka baik itu bekerja, bersekolah dan lainnya.


Begitu pun dengan Elle yang saat ini baru turun dari tangga menuju ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya, seperti biasa Elle menyempatkan diri mencium pipi semua anggota keluarganya lalu ikut bergabung untuk sarapan.


Elle menyuap sandwich yang menjadi menu sarapannya pagi ini.


“Daddy dengar, kemarin weekend Vivi pergi ke toko antik bersama Allan. Apa Vivi mendapatkan sesuatu?” tanya David.


Memang beberapa hari ini David tidak ada di mansion karena sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Karena itulah ia jarang mengetahui apa saja kegiatan Elle selama ini.


Elle menggaruk pipinya yang tak gatal. “Mmm, sebenarnya Vivi dapat sesuatu,,, mungkin” jawab Elle ragu.


“Kenapa Vivi terlihat ragu? Memangnya apa yang Vivi temukan hmm?” tanya Ibram menatap sang cucu.

__ADS_1


“Sebenarnya di toko itu, Vivi sempat membeli sebuah pensil yang ia temukan di sebuah ruangan yang bahkan aku sendiri tidak diizinkan masuk oleh pemilik toko dan itu sangat aneh menurutku” jelas Allan jika mengingat ekspresi Sera, si penjaga toko antik.


“Benar, Vivi hanya memang membeli sebuah pensil tapi Vivi bisa merasakan kalau itu bukanlah pensil biasa” ucap Elle serius.


__ADS_2