
Di suatu tempat yang gelap tanpa adanya satupun cahaya, hanya terdengar suara geraman yang begitu menyeramkan serta suara rantai yang terseret.
Matahari mulai menampakkan diri, Elle perlahan-lahan membuka matanya dan melihat ke atas langit kamar yang berwarna coklat, ini di kamarku pikirnya.
Elle mencoba menggerakkan tubuhnya tetapi dia merasakan tangannya di genggam oleh tangan seseorang membuat Elle langsung menoleh ke samping dan melihat Monica yang tertidur dengan memegang tangannya.
Elle tiba-tiba teringat kilasan kejadian semalam membuat tubuhnya langsung menegang, Monica yang merasa adanya pergerakan di sampingnya langsung membuka mata.
“Vivi,” panggil Monica dengan perasaan lega saat melihat Elle sadar dan langsung memeluknya.
David, Jack dan Allan yang sedang tertidur di sofa panjang kamar itu dalam posisi duduk langsung terbangun saat mendengar suara Monica.
Mereka yang melihat Elle sudah sadar langsung berjalan ke arah ranjang dengan perasaan lega begitu pun dengan Ibram dan Hannah yang baru masuk ke kamar untuk melihat keadaan Elle.
“Apa,,, kalian sudah melihatnya?” tanya Elle lirih sambil menunduk, ia tidak berani menatap keluarganya.
“Hei sayang tidak apa-apa, kamu tetap Vivi kami princess yang paling kami sayangi” ucap Ibram mengangkat dagu Elle agar ia juga menatapnya.
“Siapapun dan apapun kamu, Vivi akan tetap menjadi putriku.” Ujar David tegas, terlihat netra hijau emerald Elle semakin berkaca-kaca bersiap menumpahkan air matanya.
“Terima kasih, karena tidak takut padaku dan menerimaku walau aku tidak murni seorang manusia dan maaf karena tidak jujur pada kalian” ucap Elle dengan air mata terus mengalir di pipinya yang bercampur dengan perasaan senang dan lega karena ia diterima oleh keluarganya.
Monica langsung memeluk Elle “kami mengerti sayang, pasti selama ini sangat sulit untuk Vivi menyimpan semuanya sendirian.”
Mereka semua mengerti apa yang ditakutkan oleh Elle hingga membuatnya menyembunyikan jati dirinya karena memang siapapun tidak akan percaya kecuali melihatnya secara langsung tapi jika orang lain tahu mungkin Elle akan dalam bahaya karena wujudnya.
Sejujurnya mereka juga masih terkejut dan masih sulit percaya ternyata makhluk yang selama ini mereka anggap mitos itu nyatanya ada.
Dan sekarang menjadi salah satu anggota keluarga mereka dan mereka pun berjanji ini akan menjadi rahasia besar keluarga Caldwell.
Sedangkan di sekolah, kedua teman Elle terlihat lesu tak bersemangat karena Elle yang tidak masuk sekolah.
“Hei, kenapa kalian melamun saja?.” Tanya Lily.
Kedatangan Lily beserta Alvaro, William, Felix dan Sam ke meja mereka tidak mengejutkan Emma dan Stella lagi karena itu sudah biasa dengan adanya para anggota Prince Harvest termasuk Lily di sekeliling mereka dan mulai akrab sejak kejadian itu.
__ADS_1
“Dimana Elle?” tanya Lily.
“Haaah, dia tidak sekolah” jawab Stella lesu.
“Kenapa?” tanya Alvaro.
“Mmm ka,,karena sakit” jawab Stella gugup melihat tatapan Alvaro yang cukup menyeramkan.
“What!? Elle sakit! Astaga calon istri lagi sakit sedangkan aku sebagai calon suaminya tidak berada di sampingnya, oh tidak,,,” heboh Sam dengan muka yang disedihkan tanpa menyadari tatapan mengerikan ke arahnya.
“Sialan.” Umpat Felix karena Samuel teriak tepat di samping telinganya.
“Oke nanti saat pulang sekolah, bagaimana kalau ke rumahnya?” ucap Lily, sedangkan Emma dan Stella hanya menggelengkan kepala.
“Kenapa?” tanya William.
“Kami tidak tahu alamat rumah Elle” jawab Emma.
“What? jadi selama ini kalian tidak pernah bermain ke rumah Elle atau hangout bersama mungkin setiap weekend gitu?”
“Kalian memiliki nomor ponselnya?” tanya William.
“Punya.” Jawab serempak Stella dan Emma.
“Hubungi.” Perintah Alvaro dingin
“Hah?”
“Ck, maksud Varo coba hubungi Elle sekarang untuk menanyakan keadaannya.” Ucap Felix meralat ucapan Alvaro.
“Kami sudah mencoba menghubunginya tapi tidak ada yang menjawab” ucap Emma.
“Coba hubungi lagi mungkin sekarang bisa dijawab” pinta Lily.
Emma mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi nomor Elle lalu mengaktifkan loud speaker agar yang lainnya bisa dengar. Setelah tiga kali deringan, panggilan pun akhirnya dijawab tapi bukan Elle melainkan David.
__ADS_1
“Halo.” Ucap David dengan suara beratnya.
“Astaga, suaranya bikin hati meleleh tipe-tipe hot daddy ine” pekik Lily dengan suara tertahan.
Dan langsung cengengesan saat mendapati tatapan menyeramkan dari Alvaro dan William. “Hehehe maaf.”
“Halo uncle Dave, ini Emma temannya Elle. Kami hanya ingin tahu kondisi Elle uncle?” jawab Emma sopan.
Dia tahu itu suara uncle Dave panggilan Emma dan Stella untuk David, karena mereka pernah berkenalan saat beberapa kali Elle menelepon orang tuanya di sekolah. Sedangkan Monica mereka panggil aunty Monic hingga Emma dan Stella pun belum mengetahui identitas Elle sebagai nona muda Caldwell.
“Dia sudah lebih baik tapi masih harus dirawat.” Jawab David dengan suara tegas.
“Uncle, apakah Elle di rawat di rumah sakit kami ingin menjenguknya?” tanya Lily.
“Tidak perlu.”
“Baiklah uncle kalau begitu maaf telah mengganggu waktunya” ucap Lily gugup mendengar jawaban David yang sangat singkat.
“Mmm.” Dan panggilan pun di matikan oleh David.
“Huuh benar-benar menegangkan setiap berbicara dengan uncle Dave” ucap Emma.
“Aku juga” Lily pun melirik ke arah Alvaro dan William dengan tatapan menggoda, “kalian harus mempersiapkan mental” ucap Lily terkekeh kecil sedangkan yang dilirik hanya mendengus kesal mengerti maksud ucapan Lily.
Sudah tiga hari Elle tidak masuk sekolah, saat ini ia sedang duduk di gazebo taman belakang bersama Allan karena merasa bosan di dalam kamar.
“Haah,, kenapa kakak tidak kuliah dan malah mengikuti ku!?” tanya Elle yang sudah ke berapa kali membujuk bahkan mengusir Allan secara terang-terangan agar ia pergi ke kampus meninggalkannya padahal Elle sudah merasa sehat dan tidak perlu untuk dijaga.
Bahkan semua keluarganya tidak mengizinkan ia untuk ke sekolah dan hanya menyuruhnya tetap istirahat di dalam kamar hingga Elle pun sampai mengancam tidak akan makan agar dapat duduk di taman saat ini. Benar-benar keluarga yang posesif.
“Sweetie, aku hanya takut kamu tidak bisa mengontrol kekuatanmu lagi hingga membuatmu hilang kendali. Kau tahu, itu membuat kami sangat khawatir sekali” jelas Allan.
“Sekarang aku bisa sedikit mengontrolnya, kakak tidak perlu khawatir apalagi di rumah ada kakek dan nenek yang akan menjagaku bahkan paman Jack juga ada. Kakak tidak perlu sampai membolos bahkan sebentar lagi kakak akan ujian.”
“Kamu lebih penting sweetie. Kakek dan nenek juga sudah tua apalagi pria itu, mereka tidak akan bisa menghentikanmu jika hilang kendali.”
__ADS_1
“Siapa yang kamu bilang tua bocah” potong Ibram yang berjalan bersama Hannah ke arah mereka.