
Elle bukannya takut kalah, dia hanya tidak ingin kehilangan kendali dan membuat kekuatannya keluar saat sedang marah. Dan jika itu terjadi maka Elle akan ketahuan memiliki kekuatan oleh semua orang dan ia tidak menginginkan itu terjadi.
Saat sedang fokus menghajar wajah salah satu pria itu, Elle tidak menyadari keberadaan pria lain yang berdiri di belakangnya melangkah secara perlahan ke arahnya bersiap dengan membawah sebuah pisau di tangannya.
Bugg
Mendengar suara pukulan dari arah belakang Elle langsung menoleh dan melihat Emma berdiri dengan sebuah tongkat bisbol di tangannya serta seorang pria yang sudah terkapar tak sadarkan diri dan tak jauh dari pria itu terdapat sebuah pisau tergeletak di tanah.
“Haaah, syukurlah berhasil” lega Emma.
“Sialan, sepertinya kami harus menikmati tubuh kalian dahulu sebelum membawa kalian pada tuan sebagai kompensasi karena telah melukai kami” ucap salah satu pria itu geram.
“Brengsek, terus kalian pikir kami tidak akan melawan gitu!” Timpal Emma kesal meneriaki pria-pria itu.
“Jangan bermimpi.” Desis Elle pertanda ia sangat marah. Cahaya biru samar muncul di genggaman tangan Elle tanpa ada yang menyadari.
“Hahaha kalian hanya gadis kecil, tidak bisa mungkin mengalahkan kami. Bagaimana kalau kalian menyerahkan diri saja pada kami hmm, om akan memperlakukan kalian dengan sangat baik,” ucap salah satu pria itu sambil tertawa diikuti temannya yang lain. Yang masih bisa sedikit berdiri maksudnya.
Walaupun dalam keadaan tubuh mereka yang sangat sakit bahkan ada juga yang patah akibat pukulan Elle, mereka tetap menakut-nakuti Elle dan kedua temannya agar ketiga gadis itu ketakutan dan memohon.
Mereka juga tidak menyangka seorang gadis remaja dengan tubuh kecil bisa memukul dengan sangat keras, apalagi melawan mereka bertujuh sendirian. Sehingga mereka lebih berwaspada terhadap Elle.
Tetapi mereka berusaha terlihat baik-baik saja agar tidak terlihat seperti pecundang karena bisa dikalahkan hanya oleh seorang gadis remaja.
Saat mereka melangkah berjalan ke arah berdirinya ketiga gadis itu. Tiba-tiba, para pria besar itu berteriak kesakitan secara bersamaan sambil memegang kakinya hingga mereka ambruk terjatuh ke tanah dengan tubuh yang kejang-kejang.
Arghhh
Pannass
Dan perlahan tubuh mereka membiru dengan keluarnya darah dari berbagai lubang di tubuh mereka, hingga mereka pun tewas.
“Me-mereka kenapa?” tanya Stella gemetar yang masih bersembunyi di balik punggung Emma.
“Aku pun tak tahu” jawab Emma yang terlihat kebingungan melihat para pria besar itu yang sudah terlihat mengenaskan.
Sedangkan Elle hanya diam melihat kejadian itu dengan wajah tenang lalu menghembuskan nafas pelan mencoba mengontrol emosinya. Ternyata aku masih belum bisa mengendalikannya batin Elle.
“Ayo pergi” ajak Elle pada kedua temannya.
__ADS_1
“Tapi mereka,,,” ucap Stella.
“Sudah ayo, kita pergi saja dari sini” ucap Emma ngeri jika melihat pemandangan itu lagi.
Saat mereka akan masuk ke mobil tiba-tiba datang beberapa mobil hitam yang langsung berhenti tak jauh dari mereka berdiri.
Beberapa pria berseragam hitam seperti pasukan khusus keluar dari mobil itu dengan membawa senapan laras panjang di tangan masing-masing.
“Vivi.” Panggil Jack berlari menuju ke arah Elle berdiri dan langsung memeluknya erat. “ Oh sayang, syukurlah kamu baik-baik saja” ucapnya lega.
“Maaf, membuat paman khawatir” lirih Elle di dalam dekapan Jack.
“Paman juga minta maaf karena datang terlambat.” Ucap Jack sambil melerai pelukan mereka.
“Paman disini saja itu sudah lebih baik, kami juga tidak apa-apa” ucap Elle.
“Syukurlah kalau begitu. Ayo kalian masuk ke mobil biar paman yang mengurusnya” ucap Jack menyuruh mereka bertiga ke mobil.
Saat akan menyusul kedua temannya, Elle kembali berbalik ke arah Jack dan berbisik. “Paman, aku lepas kendali,” beritahu Elle.
“Tidak apa-apa, kedepannya kamu pasti bisa” ucap Jack menenangkan sambil mengusap lembut rambut perak Elle.
“Terima kasih paman” ucap Elle lalu pergi menyusul kedua temannya.
“Emma!” panggil salah satu dari keempat pria itu lalu dengan cepat melepas helm dan segera berlari memeluk Emma.
“Kakak,,,” ucap Emma membalas pelukan pria itu yang tak lain adalah Samuel Jarvis Anderson.
Benar, Samuel si playboy dan salah satu anggota Prince Harvest adalah kakak dari Emma. Selain Samuel ketiga pria lainnya juga adalah Alvaro, William dan Felix ikut datang dan berjalan ke arah mereka.
Mereka berempat langsung meluncur ke lokasi yang dikirim oleh Emma setelah mendapat telepon untuk meminta bantuan tadi dengan perasaan khawatir dan takut jika terjadi sesuatu pada Emma, Elle dan Stella.
“Kamu tidak apa-apa kan?” tanya Sam khawatir.
“Aku tidak apa-apa kak, beruntung ada Elle yang menahan mereka dan juga Jenderal Jacob datang menolong kami.” Jawab Emma.
“Vivi terluka, kita ke rumah sakit saja ya,” ucap William saat melihat memar dan bengkak di pipi Elle.
“Aku tidak apa-apa sebaiknya kita pulang saja.” Ucap Elle.
__ADS_1
“Benar, kalian pulang saja biar mereka aku yang mengurusnya” timpal Jack dengan wajah datarnya.
“Terima kasih Jenderal Jacob.” Ucap Samuel sopan. Begitulah memang panggilan Jack jika di luar.
“Aku antar.” Ucap William dan Elle pun mengangguk tanda setuju, tidak mungkin kan ia menyuruh yang lainnya untuk mengantarnya ke Mannor Caldwell sedangkan mereka belum mengetahui identitas Elle sebagai nona muda Caldwell.
Emma dan Stella memasuki mobil kecuali Elle yang diboncengi William. Sam, Alvaro dan Felix mengikuti di belakang mobil Emma.
Walaupun Alvaro sedikit tidak terima saat melihat William yang akan mengantar Elle tapi tidak mungkin ia akan berdebat dalam suasana ini.
Setelah Elle dan teman-temannya pergi wajah lembut yang hanya tadi diperlihatkan pada Elle kini berubah menjadi datar dan tegas juga sedikit aura menyeramkan karena Jack sangat marah. Beraninya mereka menyakiti kesayanganku.
“Bereskan dan temukan orang yang memerintahkan mereka” perintah Jack dengan dingin.
“Baik Jenderal” jawab anak buahnya.
Motor sport warna putih itu pun memasuki kawasan mansion Caldwell, Elle yang berada di jok belakang langsung turun setelah sampai di depan pintu utama.
“Terima kasih Liam karena mengantar ku” ucap Elle setelah melepas helmnya.
“Tentu, Vivi masuklah ke dalam dan ingat jangan lupa obati lukanya ya,” ucap Liam sambil merapikan rambut Elle.
"Mmm." Elle pun hanya mengangguk “Liam nggak masuk dulu?” tanya Elle saat melihat William kembali menyalakan mesin motornya.
“Lain kali saja, masuklah dan langsung istirahat.” Ucap William lalu pergi melajukan motornya meninggalkan kawasan Mannor Caldwell.
Setelah bayangan William menghilang Elle pun masuk ke mansion disambut dengan wajah khawatir keluarganya.
“Vivi, kamu tidak apa-apa kan atau ada yang luka?” tanya Monica sambil memutar tubuh Elle.
“Stop sayang, Vivi jadi pusing jika seperti itu” ucap David membuat Monica langsung berhenti.
“Oh, maafkan mommy sayang. Mommy terlalu khawatir tadi” ucap Monica menyesal.
“Tidak apa-apa mom lagipula Vivi hanya luka kecil saja” balas Elle.
“Sini sayang nenek obati ya” pinta Hannah.
“Nanti saja nek, saat ini Vivi ingin ke kamar untuk membersihkan diri soalnya tubuh Vivi rasanya sangat lengket” jawab Elle.
__ADS_1
“Ya sudah Vivi istirahat saja dulu sebentar, nanti kami panggil jika saatnya makan malam” ucap Ibram.
“Okey, Vivi ke kamar dulu ya semuanya” pamit Vivi lalu melangkah ke lift untuk ke kamarnya.