
Elle, Lily, Emma dan Stella sudah ada di parkiran bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.
“Guys, aku duluan ya jemputan aku udah nunggu” ucap Stella pamit saat melihat mobil jemputannya sudah datang.
“Kalau kalian pulang naik apa? Mau bersama?” tanya Lily pada Emma dan Ell, yang dijawab gelengan kepala keduanya.
“Aku bawa mobil” ucap Emma.
"Aku juga." Timpal Elle ikut.
“Elle.” Panggil Alvaro yang sudah berdiri bersama Will, Felix dan Sam di samping mereka bertiga.
“Malam ini kamu ada acara?” tanya Alvaro gugup dengan wajah yang tetap datar.
Yang semakin membuat mereka kaget adalah melihat pipi Alvaro yang bersemu merah terlihat jelas walaupun berusaha ditutupi olehnya, ayolah kapan mereka melihat reaksi Alvaro seperti itu jawabannya tidak pernah.
“Tidak.” Jawab Elle singkat.
“Aku ingin mengajakmu keluar lagi malam ini,” ajak Alvaro menghiraukan tatapan tajam dari William.
“Hey, kau urus dulu calon tunanganmu itu baru mengajak Elle kencan.” Ucap Lily sinis dan menunjuk Amel dan Sarah yang sedang menuju ke tempat mereka berdiri dengan dagunya.
“Al, aku ikut kamu ya pulangnya?” suara yang dibuat semanja mungkin membuat Lily mengernyit jijik.
“Tidak bisa, aku ada urusan.” Alvaro melepaskan tangan Amel dari lengannya.
“Aku kan calon tunangan kamu Al, kenapa lebih mementingkan yang lain,,!?” lirih Amel dengan wajah yang dibuat sedih.
“Heh, ini pasti karena kamu kan yang membujuk Al mengantarmu pulang! Sudah miskin tidak tahu malu lagi!” Bentak Sarah menunjuk tepat di depan wajah Elle. Yang semakin membuat mereka menjadi pusat tontonan di parkiran itu.
Elle hanya melongo mendengar perkataan Sarah padahal kan dia hanya diam saja sedari tadi. Lily dan Emma sudah sangat kesal dengan Sarah yang terlihat sengaja memojokkan Elle.
Sedangkan William sedari tadi berusaha menahan emosinya dengan mengepalkan erat kedua tangannya.
__ADS_1
Seandainya mereka semua sudah tahu siapa Elle aku yakin tidak ada yang akan berani menghina Elle batin Emma.
Amel memasang wajah polosnya, “namamu Elle kan mulai sekarang jangan dekati Al ya, karena Alvaro adalah tunanganku. Kamu kan cantik pasti kamu bisa mendekati pria-pria kaya lainnya.” sahut Amel dengan suara yang dilembutkan namun tersirat kehinaan untuk Elle.
Lily dan Emma semakin geram mendengar ucapan Amel namun mereka hanya diam saat menatap wajah cantik Elle yang tenang, menunggu dan melihat bagaimana cara Elle menghadapi Amel dan Sarah.
Elle mengambil sesuatu di saku jas sekolahnya lalu mengeluarkannya. Tepat di depan Amel dan Sarah, Elle memegang sebuah kunci mobil Porsche mewah yang berhasil membuat keduanya terdiam.
Bukankah dia hanya murid beasiswa bagaimana bisa ***-*** ini memiliki mobil mewah pikir Amel tak percaya.
Tiiit
Suara klakson mobil membuat Amel tersadar dari keterkejutan nya.
Elle berjalan santai menuju Amel, lalu berbisik tepat di sampingnya. “Aku memang cantik tapi aku tidak akan pernah mengemis perhatian orang lain. Dan mungkin pria-pria yang kamu ucap tadi lebih cocok untukmu.” Lalu kembali melangkah melewati Amel dan masuk ke mobilnya.
Elle sempat berpamitan kepada kedua temannya sebelum dia pergi meninggalkan kawasan sekolah.
Setelah kepergian Elle, mereka pun yang masih di parkiran juga bersiap pergi dengan kendaraan masing-masing menghiraukan kedua gadis yang sudah dipermalukan oleh Elle.
“Aku tidak perlu izinmu.” Alvaro pergi dari sana melajukan motornya diikuti Felix, Sam serta William meninggalkan parkiran.
“ALVARO!!?” teriak Amel.
“Ckckck kasihan” ejek Lily dan masuk ke mobil jemputannya lalu melambai pergi mengejek Amel dan Sarah diikuti mobil Emma di belakangnya.
“Sialan” desis Amel geram.
Elle berada di sebuah cafe sendirian duduk di meja paling pojok yang jarang dilewati orang karena tidak ingin menjadi pusat perhatian.
Tadi saat dalam perjalanan pulang dia merasa sedikit lapar apalagi saat di kantin ia hanya makan sedikit itulah sebabnya Elle berhenti disini dan juga karena moodnya yang sedang buruk.
“Hai amour.” Sapa suara serak yang terdengar familiar di telinga Elle.
__ADS_1
Elle langsung menoleh dan bertemu tatap dengan mata gelap tajam seorang pria tampan bertubuh tegap berbalut jas hitam yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
Dia adalah Theo yang sejak tadi diam-diam mengikuti Elle karena tidak tahan ingin menemui dan merindukan gadisnya. Sedangkan Hansel berdiri tak jauh dari meja Elle yang sejak tadi ikut dengan Theo sebagai sopir. Kasihan.
Theo langsung duduk di depan Elle dengan wajah khasnya yang datar bahkan hanya orang teliti yang dapat melihat pancaran kelembutan pada tatapannya.
“I miss you, amour” ucap Theo langsung mengulurkan tangannya menyentuh pipi Elle dengan lembut.
Sementara Elle yang mendapat perlakuan lembut itu hanya diam terkejut.
“Amour,,,” panggil Theo saat melihat Elle yang melamun.
Tersadar dari lamunannya Elle langsung menepis tangan Theo dari pipinya lalu menatap Theo tajam.
“Kamu kan yang waktu itu.” Ucap Elle refleks sambil menyipitkan matanya dan menunjuk wajah Theo geram jika mengingat kejadian itu.
Namun bukannya takut Theo malah terkekeh pelan, melihat wajah Elle yang terlihat imut saat sedang marah. Apa dia gila pikir Elle.
Elle menghela nafas untuk meredakan emosinya. “ Maaf tuan, kita tidak saling kenal dan tidak punya urusan untuk saling menyapa.” Ucap Elle formal menatap datar Theo.
“Jangan panggil aku tuan amour. My name is Theodore Alexander Black, remember that,,,” ucap Theo dengan senyuman yang masih terpatri di bibir seksinya.
Hansel yang sejak tadi mendengar dan melihat dari kejauhan terkejut dan tak percaya dengan sikap lembut Theo yang terkenal dingin, datar dan kejam. Apalagi Theo memperkenalkan dirinya secara langsung, memangnya gadis itu tidak tahu siapa master pikirnya bingung.
“Bisakah anda pergi, karena disini anda sangat mengganggu.” Ucap Elle yang lagi-lagi berusaha mengusir Theo.
Karena tidak mendapatkan respon Elle berdiri berniat untuk pergi tapi tangannya tiba-tiba dicekal oleh Theo, Elle dengan segera berusaha melepaskan tangan Theo tapi karena tenaga Theo yang lebih besar darinya alhasil usahanya sia-sia saja.
“Lepas!” Ucap Elle.
Theo dengan cepat menarik Elle dan membawanya ke dalam dekapan hangat tubuhnya. “Biarkan seperti ini amour, sebentar saja” lirih Theo sambil mengecup kepala Elle dan menghirup aroma lembut tubuh Elle yang mungkin sekarang menjadi candunya.
Rasanya dia ingin gila saat tahu bahwa gadis di dekapannya inilah yang selama ini ia cari-cari dan untunglah dia menemukan Elle tepat waktu karena dia tidak akan rela jika Elle bersama pria lainnya. Setelah bertemu dengan Elle, bayangan Elle terus ada di pikiran Theo. Setiap hari dan setiap saat ingin sekali ia menemui gadisnya yang akan menjadi pendampingnya kelak pikir Theo.
__ADS_1
Elle yang awaly berniat untuk memberontak langsung terhenti mendengar ucapan lirih Theo. Dia bisa mencium aroma maskulin yang menenangkan apalagi dengan detak jantung Theo yang kencang membuat Elle merasa nyaman dalam dekapan hangat Theo.
Padahal sering dia dipeluk oleh keluarganya tapi Elle tidak pernah merasakan perasaan seperti ini dan kenapa tubuhnya tidak menolak sentuhan pria asing ini.