
Di markas tempat ruang kerja pribadi Jack, tiga orang lelaki dewasa dengan umur berbeda duduk di sofa ruangan itu.
“Apa benar, kamu mendapat informasi keberadaan orang itu Jack?” tanya David.
“Benar, orang itu sudah berada di negara ini dan hanya itulah informasi yang diberikan oleh anak buahku” jawab Jack.
David menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sambil memijit pelipisnya.
“Kita harus semakin perketat penjagaan di sekitar Vivi mulai sekarang” ucap David datar namun terselip kekhawatiran di suaranya.
“Apa kita harus memberitahu informasi ini juga pada aunty Monic dan nenek, paman?” tanya Allan.
“Biarkan ini menjadi rahasia kita dahulu” ucap David.
Jack berdiri dan berjalan menuju jendela yang memperlihatkan pemandangan hutan yang luas.
“Yang perlu kita lakukan saat ini adalah harus tetap waspada dan jangan sampai lengah untuk yang kedua kalinya” ucap Jack sambil menerawang kejadian beberapa tahun yang lalu.
David pun hanya diam melamun, ada rasa amarah dalam dirinya jika teringat dengan kejadian itu sedangkan Allan hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
Di mansion Caldwell, di ruang tengah Elle duduk di karpet tebal dan lembut dengan laptop serta beberapa buku di atas meja.
Dia fokus mengumpulkan soal-soal yang mungkin akan menjadi soal Olimpiade nanti, datang seorang maid dengan membawa segelas jus dan cemilan untuk Elle.
“Terima kasih” ucap Elle dengan tersenyum manis.
“Sudah tugas saya nona muda” ucap maid itu lalu pergi menuju dapur.
Seorang pria tampan memasuki pintu utama mansion Caldwell dengan seorang maid di depan mengarahkannya menuju ruang tengah dimana Elle berada.
Elle yang sedang fokus menulis langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat.
“Liam” ucap Elle lalu berdiri menyambut William. “Ayo duduk dulu.”
ajak Elle.
“Vivi sendirian saja?” tanya William karena tidak melihat keberadaan anggota keluarga Elle sejak memasuki mansion.
“Tidak juga, aku kan bersama para maid dan penjaga” ucap Elle polos.
__ADS_1
William tertawanya mendengar jawaban Elle yang terlalu polos menurutnya, “maksudku keluarga mu, Vivi.”
“Oh. Daddy, paman dan kakek masih di kantor mungkin kalau mommy dan nenek ada kok, lagi minum teh di taman samping sedangkan kak Allan masih di kampus mungkin.” Jawab Elle.
William pun hanya mengangguk lalu teringat tujuannya datang ke sini. “Oh iya. Ini adalah contoh soal Olimpiade Sains kita nanti, aku sudah mempelajarinya sedikit jadi Vivi juga mempelajarinya ulang lalu kita hanya harus menghapal nya saja” jelas William.
“Oke” Elle mengangguk tanda mengerti.
Sore itu Elle habiskan dengan belajar bersama William diselingi dengan sedikit candaan hingga malam pun tiba.
Pertama kali bertemu William anggota keluarga Caldwell cukup terkejut apalagi ini pertama kalinya Elle membawa teman cowok ke mansion, namun mereka lega saat Elle memperkenalkan William sebagai sahabat kecilnya. Dasar keluarga posesif.
Dan mereka pun langsung teringat anak kecil yang dibawa oleh pengusaha Darren Harvey pemilik perusahaan Harvey Group yang juga rekan bisnis perusahaan CLCorporation, saat Elle, David dan Monica masih berada di negara I.
Setelah makan malam, William pun langsung pamit pulang, karena dia sudah ditunggu di camp khusus tempat dia biasa berkumpul bersama teman-temannya siapa lagi kalau bukan Alvaro, Felix dan Samuel.
Elle dan keluarganya saat ini duduk di ruang tengah, mereka membicarakan tentang undangan dari sekolah Elle untuk wali murid yang harus dihadiri besok.
“Jadi, siapa yang akan hadir dalam pertemuan besok dad?” tanya Elle pada David.
“Kami sudah mendiskusikannya, yang akan datang besok adalah paman kamu Vivi” jawab David.
“Yes sayang, paman yang akan datang besok dengan style baru” ucap Jack tersenyum.
“Ck, padahal aku lebih baik dari daddy kenapa bukan aku aja sih” dumel Allan dengan wajah cemberut.
“Heh bocah, kamu nggak usah memasang wajah kayak gitu, bikin mual saja lagipula kamu pasti hanya ingin melihat gadis-gadis sekolah disana kan” ujar Jack sinis.
“Wah, parah nih daddy. Hayo Daddy hamilin siapa hingga bisa mual gitu” kata Allan dengan mata memicing curiga menghiraukan perkataan Jack yang terakhir.
“Sembarangan kamu ya” ucap Jack melempar Allan dengan bantal sofa namun beruntung Allan menghindar.
“Apa maksud paman dengan style baru?” tanya Elle dengan wajah bingung.
“Vivi lihat saja besok” ucap Hannah dan Monica tersenyum.
“Ekhem, terus bagaimana Vivi bisa kenal dengan master Xander?” tanya Ibram dengan nada serius.
“Itu,,, karena Vivi membantu dia saat dikeroyok oleh musuhnya di tengah jalan” ucap Elle pelan sambil menunduk. “Maaf, karena Vivi tidak cerita” ucapnya lagi.
__ADS_1
“Tidak apa-apa sayang, tapi yang penting kamu baik-baik saja waktu itu” ucap Ibram mengelus kepala Elle lembut.
"Benar, bahkan mommy bangga pada putri mommy ini yang selalu berani membantu siapapun" ucap Monica tersenyum.
“Tapi sepertinya, master Xander itu menyukai Vivi” ujar Hannah tiba-tiba dengan nada jahil, membuat Elle terdiam dan langsung teringat kejadian saat di gazebo taman belakang.
“Benar, tapi kita awasi dulu sampai mana perjuangan master Xander itu” ucap Ibram penuh arti.
“Jangan dong dad, aku nggak setuju ya jika Vivi sama dia” timpal Jack.
“Benar kek, Allan juga nggak setuju apalagi usia mereka terpaut jauh dan master Xander itu sudah tua” ujar Allan.
“Tetapi cinta tidak memandang usia, sayang” nasehat Hannah pada Allan.
“Memangnya cinta itu apa nek?” tanya Elle tiba-tiba yang membuat mereka langsung terdiam.
Astaga, kami sampai lupa jika Vivi bukan manusia bahkan Vivi masih belum terlalu mengenal sifat manusia yang sebenarnya pikir mereka.
Mereka saling berpandangan dan Hannah mendekat ke arah sang cucu tercinta lalu mengusap lembut kepala Elle.
“Cinta adalah perasaan khusus pada seseorang yang akan membuat jantung kita berdebar jika di dekatnya” ucap Hannah.
“Cinta mampu memberi kebahagiaan dan kenyamanan karena didasari kasih sayang yang tulus dari hati” lanjut Hannah lagi sambil menunjuk pada jantung Elle.
“Jadi, seperti aku menyayangi kalian?” tanya Elle bingung.
“Itu berbeda sayang, maksudnya adalah cinta antara seorang pria dan wanita seperti kakek dan nenek. Karena kami saling mencintai makanya kakek dan nenek menikah, dan berjanji hidup bersama sampai maut memisahkan kami” ucap Ibram menjelaskan sedikit menggoda Hannah, hingga sang istri terlihat bersemu malu.
“Astaga sayang, malu ih di depan anak-anak” ucap Hannah memeluk suaminya.
Elle yang melihat itu terlihat berbinar dengan berbagai macam keingintahuan nya tentang cinta. Ternyata masih banyak yang aku belum ketahui tentang perasaan menjadi manusia pikirnya.
“Mommy yakin, pasti Vivi sebentar lagi akan merasakannya tapi Vivi belum tahu makna dari perasaan itu.” Ujar Monica saat mengingat interaksi Theo dengan Elle.
“Merasakannya” gumam Elle sambil tanpa sadar memegang dadanya.
Selepas dari mansion Caldwell, William langsung menuju ke camp di tempat biasa sahabatnya dan dia berkumpul.
Motornya memasuki kawasan sebuah rumah yang terlihat seperti megah, bangunan itu adalah villa yang tidak terpakai milik keluarga Parker yang sudah lama menjadi markas tempat mereka berkumpul, berlatih bela diri bahkan juga berlatih menggunakan senjata.
__ADS_1
Rumah itu memilki fasilitas lengkap bahkan terdapat gudang rahasia yang berisi senjata disana, apalagi mereka juga merekrut beberapa pemuda dari berbagai kota untuk menjadi anggota mereka serta untuk dilatih secara pribadi di tempat ini.