
Jam Istirahat pun berbunyi, setelah guru keluar beberapa murid pun ikut keluar menuju kantin. Elle menghela nafas pelan, ada beberapa murid yang ingin menyapanya ataupun berkenalan namun urung saat melihat wajah Elle yang datar.
“Haii.”
Elle menoleh saat mendapati seseorang menyapanya antusias, “senang bertemu denganmu, perkenalkan namaku Stella Cornelia dan yang di sebelahku ini Emma Stone.”
“Senang bertemu denganmu” timpal Emma ramah.
Mereka berdua mengulurkan tangan bergantian dan dengan senang hati Elle menjabat tangan Stella dan Emma.
“Kalian bisa memanggilku Elle.”
Stella tersenyum senang “baiklah, kau mau ke kantin?”
Elle mengangguk, Stella tanpa ragu menarik tangan Elle dan Emma keluar dari kelas.
Sepanjang jalan Stella tak henti-hentinya berbicara banyak hal mengenai sekolah ini, dan sedikit tour keliling sekolah. Di dalam kantin mereka mengambil sendiri makanan masing-masing lalu melangkah ke arah meja kosong untuk duduk dan meletakkan makanan mereka di atas meja.
“Terima kasih kalian tidak seharusnya melakukan ini, menjelaskan semua info sekolah ini ” ucap Elle tak enak.
Emma menggeleng “anggap saja sebagai salam pertemanan kita.”
Stella pun mengangguk membenarkan. “ Benar, kalian tunggulah di sini aku ingin mengambil minuman dulu dan ada yang kalian inginkan?"
“Oh iya, tolong juga susu madunya satu ya” pinta Elle.
“Oke” jawab Stella lalu pergi.
“Elle, boleh aku bertanya” ucap Emma.
“Katakan” Elle pun menatap Emma menunggu pertanyaan darinya.
“Kamu tahu aku penasaran dengan rambutmu yang unik ini, dimana kamu mewarnainya hingga rambutmu begitu indah dan terlihat alami” tanya Emma antusias. Sedangkan Elle hanya tersenyum kecil membuat murid yang sejak tadi memperhatikannya terpesona. Bagaimana mungkin ia bilang kalau ini rambut aslinya bingung Elle.
“Elle, kau jangan tersenyum ku mohon jangan tersenyum!!” heboh Stella tiba-tiba datang sambil membawa minuman di tangannya.
“Kenapa?” tanya Elle.
“Kau terlalu cantik Elle! Astaga, Elle tenang saja aku akan menjagamu dari para predator sekolah ini.” Stella memegang pundak Elle membuatnya langsung menghentikan kegiatan makannya.
__ADS_1
“Oh Stella kau terlalu berlebihan” ucap Emma yang mulai jengah dengan temannya itu.
“Sudah, sebaiknya kita makan dulu nanti jam istirahatnya habis.” Ucap Elle menengahi perdebatan kedua teman barunya itu.
Selesai makan mereka pun saling bercerita, Elle pun hanya menyimak sambil meminum susu madu favoritnya dan sesekali menimpali jika Stella atau Emma bertanya padanya.
“Ayo kita kembali ke kelas” ajak Elle.
“Tunggu dulu” ucap Stella.
“Ada apa?” tanya Elle penasaran.
“Tunggu sebentar lagi pasti akan ada tontonan menarik.” Elle hanya mengangkat sebelah alisnya tanda tidak mengerti.
Terdengar pekikan dari murid-murid di kantin. Terlihat empat lelaki berparas tampan memasuki area kantin.
“Akhh astaga William! Dia semakin tampan saja” pekik Stella tertahan, sedangkan Elle hanya bersikap acuh hanya melirik sebentar ke arah Stella lalu kembali menyibukkan diri dengan ponsel di tangannya.
“Ckk, Stella diamlah” decak kesal Emma.
“Aku kembali ke kelas.” Ucap Elle yang sudah tidak menyukai kebisingan di kantin. Ia pun beranjak pergi keluar kantin diikuti Emma.
“Kok aku ditinggal sih” dumel Stella tapi ia tetap mengikuti kedua temannya itu.
Saat ini Elle sedang duduk di kursi depan gedung sekolah menunggu Jack datang menjemputnya sedangkan kedua temannya sudah lebih dulu pulang, ia menunggu sambil membaca buku favoritnya yaitu biologi.
Dari kejauhan terlihat empat lelaki berdiri di samping motor sportnya memperhatikan Elle sejak tadi, mereka adalah para Prince Harvest sebutan yang didapat dari para murid karena ketampanan, kepintaran dan juga keempatnya yang berasal dari keluarga terpandang di negeri ini sehingga membuat mereka semakin populer.
“Gila, itu cewek cantik banget ingin sekali kujadikan kekasihku apalagi wajahnya yang imut dan rambutnya yang unik membuatnya semakin cantik” ucap Sam si pria rambut merah yang terkenal playboy.
“Heh dasar playboy cap galon, terus mau di apakan kekasihmu yang sudah menumpuk itu mau dijadikan pajangan dan aku yakin dia juga tidak mau bersamamu apalagi tampangmu yang pasaran” timpal Felix.
“Ya pasti maulah aku kan tampan, tapi jujur sih ini pertama kalinya seorang gadis cuek terhadap kita apalagi sama si Varo yang biasanya tempat para cewek cari perhatian tapi tadi bahkan gadis itu melewati kita dengan wajah biasa tanpa melirik sedikit pun saat di kantin. Apa standar ketampanan kita mulai berkurang ya.” Jelas Sam.
“Benar juga” ucap Felix sambil memegang dagunya.
“Dan itu yang membuatku semakin penasaran padanya, kau tahu yang misterius itu yang lebih menggoda” timpal Sam dengan mata berbinar menatap ke arah Elle.
“Kalau urusan cewek cantik semuanya mau diembat, ku doain biar kena karma.” Sinis Felix.
__ADS_1
“Kamu tega banget sih,” ucap Sam sambil menggandeng lengan Felix.
“Menjijikkan.” Felix langsung mendorong tangan Sam dengan kasar hingga ia terjatuh ke tanah dengan keras.
“Shit, ini sakit sialan!” umpat Sam.
“Berangkat.” Ucap lelaki dengan wajah datar yang sedari tadi diam mendengar perdebatan temannya dia adalah Alvaro. Sedangkan lelaki yang memakai helm berwarna silver masih menatap Elle dengan tatapan yang sulit diartikan lalu pergi mengikuti teman-temannya.
Elle dan Jack sampai di mansion dengan tangan Elle yang penuh dengan kotak berisi cookies dan susu madu kesukaannya, karena tadi di tengah perjalanan mereka sempat berhenti sebentar di toko kue.
Elle keluar dari lift dan melihat hanya ada kakek dan neneknya yang sedang duduk di sofa ruang tengah sedangkan Monica dan David keluar menghadiri pesta bisnis.
“Sayang kemari duduklah” pinta Ibram.
“Bagaimana hari pertama sekolahmu Vivi?” tanya Hannah.
“Not bad, di sekolah sangat menyenangkan. Oh iya kakek, aku juga mempunyai teman baru.” Jawab Elle.
“Apa ada yang mengganggumu?” tanya Ibram.
“Tidak ada.”
“Wah lagi membicarakan apa ini kelihatannya seru sekali” timpal Jack yang ikut bergabung.
“Paman mau pergi?” tanya Elle melihat pakaian Jack yang terlihat rapi.
“Iya, paman ada pekerjaan di luar mungkin akan pulang terlambat.” Jawab Jack.
“Terus kakak di mana?” tanya Elle karena sejak tadi ia tidak melihat Allan.
“Mungkin itu bocah lagi kencan sama mainan barunya.” Jawab Jack malas jika mengingat putranya itu yang selalu berdebat jika bertemu dengannya, yang dimaksud mainan oleh Jack adalah sebuah senjata terbaru yang didapat Allan dari Jack.
“Ya sudah aku berangkat dulu.” Pamit Jack.
“Berhati-hatilah.” Ucap Ibram yang mengerti pekerjaan apa yang akan dilakukan putranya. Jack pun pergi setelah mencium kedua pipi Elle sebentar.
“Kakek nenek, aku ke taman dulu.”
“Baiklah” jawab Ibram dan Hannah bersamaan.
__ADS_1
Di lain tempat, seorang pria dengan tubuh atas telanjang hanya menggunakan celana training hingga memperlihatkan tubuh atletisnya sedang terlentang di atas kasur. Ia melihat langit kamarnya sambil mengingat seorang gadis berambut perak yang menarik perhatiannya di sekolah tadi.
Apakah itu kamu Vivi, aku sangat merindukanmu batinnya.