
“Vivi, daddy boleh bertanya” ucap David tiba-tiba. Karena sejak kemarin David ingin menanyakan sesuatu pada Elle, setelah dia melihat bentuk jasad para pria yang tewas karena kekuatan Elle dari foto dan juga sebuah informasi yang diberikan Jack tentang penyebab mereka tewas.
Saat ini Elle dan juga semua anggota keluarganya sedang duduk santai di ruang tengah sambil menonton televisi, mungkin tidak semua karena sebagian dari mereka sedang fokus bermanja pada Elle. Padahal malam ini Elle ingin bermanja pada Hannah dan Monica tapi mana mungkin dia menolak paman dan juga kakak kesayangannya.
“Tentu dad” jawab Elle cepat. menghiraukan Allan yang sedang memainkan jari lentiknya.
“Apa Vivi yang melakukan itu pada pria-pria yang menyerang kalian waktu itu?” tanya David membuat Elle langsung terdiam, karena menjadi teringat dengan kejadian pencegatan itu.
“Iya dad” jawab Elle pelan tenang menatap lurus ke arah David, “aku sedikit hilang kendali karena terlalu marah hingga tanpa sadar mengeluarkan kekuatan ku.”
“Jadi Vivi bisa menumbuhkan tanaman apapun dengan media apapun juga?” tanya Jack lagi.
Elle mengangguk. “Benar, tapi Vivi juga baru tahu jika Vivi bisa menumbuhkan tanaman di tubuh manusia namun Vivi tidak sadar saat melakukannya. Vivi akan lebih berhati-hati mulai sekarang dan sebisa mungkin mengontrol emosi Vivi” ucap Elle.
Hannah yang duduk di samping Elle langsung menggenggam tangan sebelah kanan Elle karena sebelahnya sudah di pegang oleh Allan.
“Tidak apa-apa sayang, untung saja kekuatanmu tidak keluar terlalu besar kemarin dan kalian juga baik-baik saja berkat kekuatanmu” ucap Monica menenangkan sambil mengelus rambut perak Elle.
“Aku ingin sekali membalas mereka karena telah melukai Vivi” geram Allan.
“Telat, mereka semua sudah tewas” ucap Jack santai.
“Aku belum membalasnya, kenapa daddy langsung membunuh mereka semua sih” dumel Allan menyalahkan Jack.
“Bukan daddy, mereka semua memang sudah tewas saat daddy datang” ucap Jack membela diri.
__ADS_1
“Memangnya apa yang membuat mereka semua tewas?” tanya Ibram penasaran.
“Racun.” Jawab Jack serius, “ditemukan tumbuhan beracun yang tiba-tiba tumbuh di kaki mereka hingga membuat dokter kepercayaanku yang menganalisis salah satu mayat itu pun menjadi heran karena baru pertama kali menemukan kasus tumbuhan racun yang tumbuh di tubuh manusia.” Jelasnya yang membuat mereka semua langsung tertuju menatap ke arah Elle.
“Dan keluarga Anderson juga sekarang sudah mempersiapkan penjagaan di sekitar putri mereka untuk berjaga-jaga jika kejadian itu terulang kembali. Termasuk Vivi juga akan kita perketat penjagaan nya.” Timpal David.
Sedangkan Elle hanya diam saja, membiarkan keluarganya membuat keputusan karena itu juga untuk kebaikan dirinya. Walaupun sebenarnya dia ingin protes dengan penjagaan yang ketat itu tapi asalkan mereka tidak terlalu mencolok itu tidak masalah untuknya.
“Iya, bisa saja kejadian itu terulang kembali tapi jika ada setiap penjaga disisi mereka kita bisa sedikit tenang tapi tetap saja harus waspada.” Ucap Ibram.
“Benar, kemarin saja saat kejadian itu ada penjaga yang mengawasi Vivi dari jauh hingga kami bisa segera datang” ucap Jack.
“Kenapa mereka tidak keluar membantu Vivi jika anak buahmu ikut mengikuti Vivi waktu itu Jack, bukankah anak buah kalian itu sangat kuat?” tanya Monica bingung. Memang normalkan jika Monica berpikiran seperti itu, karena jika seorang penjaga melihat tuannya kesulitan pasti ia akan langsung turun tangan, itu logikanya.
“Jika mereka keluar maka situasi akan semakin kacau, akan terjadi tembak menembak dan mereka pun akan sulit mengamankan Vivi dan kedua temannya karena yang akan mereka selamatkan bukan hanya satu orang dan kita tidak bisa mengambil resiko itu. Apalagi setelah kami periksa ada senjata api di mobil orang-orang itu, untung saja mereka hanya melawan Elle tanpa senjata karena menganggap Elle dan kedua temannya sangat mudah untuk diurus.” Jelas Jack, membuat yang lainnya mengangguk mengerti.
Elle terus membaca berbagai macam buku bahkan buku yang dia pinjam di perpustakaan sekolah namun tidak ada satupun yang sesuai dengan yang dia cari, membuat Elle hampir menyerah mencari jati dirinya tapi dia juga ingin tahu dirinya sebenarnya makhluk apa.
Tubuhnya memang mirip dengan seorang elf dan sayap serta kekuatannya seperti seorang peri namun masih lebih besar dan itu belum cukup menjawab segala pertanyaannya.
Sebenarnya Elle ingin sekali kembali ke hutan tempat ia tumbuh sejak kecil dulu, untuk mencari petunjuk juga di sana. Tapi itu tidak mungkin dan ia juga belum tahu caranya terbang bahkan hanya bisa mengendalikan sebagian kekuatannya. Apalagi sebelum terjadi kebangkitan itu Elle sudah mempersiapkan semuanya di hutan, namun karena terjadinya badai semuanya menjadi kacau.
Jika menggunakan pesawat untuk kesana itu juga tidak mungkin karena ada semacam barrier yang melindungi hutan itu sejak dulu hingga manusia luar pun tidak pernah tahu akan keberadaan hutan itu.
Hutan itu hanya hutan biasa seperti pada umumnya terdapat banyak hewan dan juga tumbuhan, namun bedanya tumbuhan dan pepohonan di sana akan bercahaya jika malam hari karena mendapat energi dari sebuah air terjun yang airnya berwarna pelangi. Karena itulah Elle menyebutnya air terjun pelangi.
__ADS_1
Dan karena saat kebangkitan itu terjadi, Elle tidak sadar membuat dia tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan kembali kekuatannya. Coba saja dia di hutan pasti dia akan memanfaatkan energi air terjun pelangi.
“Haah melelahkan, Besok aku harus pergi ke perpustakaan negara mungkin disana terdapat informasi yang kucari karena disana terdapat banyak sekali buku.” Ucap Elle mengingat banyaknya buku di perpustakaan itu.
Elle lalu keluar dari ruangan perpustakaan menuju kamarnya untuk istirahat karena merasa lelah dan juga jam menunjukkan sudah hampir tengah malam.
Sedangkan di kamar bernuansa putih, Jack sedang membaca bermacam-macam buku dengan tema elf, peri, bidadari bahkan dewi hingga ranjangnya berantakan karena banyaknya tumpukan buku bahkan juga terdapat buku kuno yang usianya mungkin bertahun-tahun yang ia dapat di sebuah pelelangan barang antik.
Jack fokus membaca sambil menyandar di dashboard ranjang dengan sebuah kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.
“Haah Vivi, kau membuat paman semakin bingung dan penasaran dengan jati dirimu, juga aku sedikit takut akan sesuatu yang belum bisa aku prediksi ” lirih Jack sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing.
“Vivi memang menakjubkan tapi aku yakin ada maksud lain dengan kemunculan Vivi di dunia ini. Tapi apa?” ucap Jack bingung sendiri.
“Benar aku harus mendapatkan semua jawabannya agar bisa melindungi Vivi dari apapun yang akan terjadi kedepannya.” Tekad Jack.
Elle dan kedua temannya ditambah Lily yang sudah pindah dan sekelas dengan mereka berkat pengaruh keluarganya. Sekarang mereka sedang melangsungkan pembelajaran dengan Miss Laura yang masih menjelaskan materi di depan kelas dan mereka pun yang berada di dalam kelas juga fokus memperhatikan walaupun dalam hati mereka menggerutu kesal dengan waktu yang terasa sangat lama, atau mereka saja yang pemalas.
Bel istirahat akan berbunyi sekitar lima belas menit lagi namun Elle, Lily, Emma dan Stella juga beberapa teman sekelasnya sudah lebih dahulu berjalan keluar menuju kantin karena guru mereka keluar lebih cepat. Membuat mereka yang sudah merasa bosan di dalam kelas sangat senang lalu langsung meluncur ke arah kantin juga karena perut mereka yang sejak tadi berdemo ingin diisi.
“Ayo cepat dong jalannya, kalian lemot sekali sama seperti otak Emma pas pelajaran fisika” ceplos Stella yang sudah merasa sangat lapar namun ketiga temannya ini sangat lambat sekali berjalan.
Main menyindir saja, padahal di juga sama sepertiku. Masih mending aku hanya di fisika, dia di semua mata pelajaran batin Emma kesal.
Emma mendelik tajam menatap Stella lalu memukul bahunya. “Aww, sakit Em” kesal Stella.
__ADS_1
“Kamu kalau ngomong suka jujur ya Stella, kasihan otak Emma jadi tertohok” ujar Lily tertawa sambil merangkul pundak Emma. Sedangkan Emma hanya diam saja dengan wajah cemberutnya.