The Elves Secret

The Elves Secret
46. Dendam Amel


__ADS_3

Sarah yang sedari tadi terdiam karena masih terkejut saat Elle menyiramnya dan juga cemburu melihat William yang menggendong Elle.


Sarah tersadar saat Felix dan Sam sudah pergi lalu dia segera membantu Amel berdiri yang masih terduduk di lantai dan terlihat menyedihkan, mereka pun pergi meninggalkan kantin dengan emosi dan menghiraukan berbagai macam tatapan murid-murid lainnya.


Di ruang kesehatan, Elle untuk kedua kalinya di periksa oleh dokter wanita itu tak lupa ditemani Lily sedangkan yang lainnya berada di luar karena mereka semua tadi diusir secara kasar oleh Lily.


Karena Lily kesal melihat tingkah kekanakan mereka yang tidak mau meninggalkan Elle sendirian, padahal Elle harus segera diobati punggungnya yang terluka dan mana mungkin Elle membuka seragamnya di depan Alvaro serta yang lainnya.


“Ayo lepas bajumu Elle” pinta Lily.


Elle melepas baju seragamnya menyisakan dan hanya menyisakan tangtop hitam di tubuhnya. Luka memar di sekitar punggung Elle sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.


Lily dan dokter wanita itu terkejut melihat tubuh Elle yang sempurna untuk seorang gadis seusianya, dengan kulit halus dan putih serta tubuh ideal yang terlihat kencang menambah kesan seksi pada Elle.


“Lain kali harus hati-hati ya agar tidak terluka lagi, kasihan kulit mulusnya jika ternoda karena bekas luka” nasihat dokter wanita itu sambil mengoles salep ke luka memar di punggung Elle tepat di samping tato sayap itu.


“Terima kasih dok, saya akan hati-hati sekarang.” Jawab Elle tersenyum tipis dengan wajah tenang tanpa ekspresi kesakitan ataupun meringis.


Sedangkan Lily yang melihat itu menjadi ngilu dan tanpa sadar meringis karena luka memar di kulit putih Elle yang pasti sangat sakit, apalagi dia juga sempat terpukau melihat tato di punggung Elle tadi.


Aku baru tahu jika Elle mempunyai tato tapi semakin cantik terukir di kulit mulusnya. Aaah aku jadi pengen ikutan bikin pikir Lily tersenyum dengan usulannya.


“Sudah selesai, sekarang kamu bisa memakai seragammu kembali.” Ucap dokter itu setelah menyelesaikan tugasnya lalu membereskan salep yang dia gunakan tadi.


Setelah Elle memakai kembali seragamnya dia dan Lily langsung keluar dari ruang kesehatan terlihat Alvaro, William, Emma, Stella, Sam dan Felix berdiri menunggu.


“Vivi tidak apa-apa kan?” tanya William yang langsung menghampiri Elle.


“Hanya luka kecil sudah diobati kok” jawab Elle.


“Kenapa kalian tidak masuk kelas?” tanya Lily heran memandang mereka semua.


“Kami hanya ingin tahu keadaan Elle.” Jawab Felix.


"Cih, bilang aja mau bolos" timpal Stella memutar bola matanya malas.


“Mana mungkin aku meninggalkan calon masa depanku sendirian saat terluka” ucap Sam yang langsung mendapat tatapan tajam dari Lily, Alvaro dan William.

__ADS_1


“Hehehe bercanda, seram amat sih” lirih Sam di akhir kalimat.


“Salah, bukan masa depan” timpal Felix.


“Terus apa?” tanya Samuel dengan tampang bodohnya.


“Masa dengkulmu!! Bangun bro, jangan terlalu mimpi.” Ucap Felix langsung tertawa yang terlihat menyebalkan di mata Sam.


Sam yang mendengar itu pun memasang wajah cemberut terlihat merajuk.


"Jangan memasang wajah begitu, jijik tahu!" ujar Emma.


“Kenapa tidak istirahat saja di dalam?” tanya Alvaro datar namun tersirat nada khawatir dalam suaranya.


“Tidak perlu, lagipula ini tidak terlalu sakit,” ucap Elle tenang.


“Ayo sebaiknya kita kembali ke kelas saja.” ajak Emma.


“Yuklah adikku yang cengeng ikutin kakakmu yang tampan ini, kita tinggalin aja manusia gila itu” ucap Sam merangkul pundak Emma.


“Kakak lepas! Berat tahu, apalagi tangan kakak yang kebanyakan dosa itu.” Ujar Emma menepis kasar tangan Sam di pundaknya lalu berjalan pergi meninggalkan Samuel yang meringis menahan sakit. Dasar adik kurang ajar.


Di tempat lain, Amel menatap cermin toilet sekolah dengan tajam dia melihat penampilannya yang begitu berantakan dengan kedua matanya yang sembab.


Lalu pipi kirinya yang bengkak tak lupa dengan darah yang sudah mengering di dagunya serta terlihat bekas jari tangan disana yang sudah meninggalkan memar.


Apalagi saat dia melihat sudut bibirnya yang sobek masih mengeluarkan darah karena tamparan kuat dari Elle dan luka di dagunya yang masih perih akibat kuku tajam Alvaro.


Kedua tangannya yang ada di kedua sisi wastafel mencengkeram erat, matanya berkobar penuh amarah dan benci.


Masih lekat di ingatannya saat Alvaro yang menolak tegas pertunangan mereka, padahal dia begitu mencintai Alvaro.


Dirinya telah menunggu begitu lama agar bisa mencapai saat-saat bisa menjadi pendamping putra tunggal dari keluarga Parker itu namun semuanya hancur tak bersisa. Dan semua ini karena Elle.


“Aku akan membalasmu, Elle.” Ucap Amel dengan gigi gemeletuk menahan amarah.


Di dalam walk in closed yang penuh dengan pakaian serta barang-barang branded seperti tas, jam tangan dan perhiasan lainnya.

__ADS_1


Elle berdiri di depan cermin melihat pantulan dirinya, dengan celana jeans biru atasan tangtop coklat dipadukan dengan cardingan rajut warna senada.


Sesuai janjinya dengan Emma dan Lily tadi siang saat di kantin, malam ini mereka akan jalan-jalan keluar namun entah kemana temannya itu akan membawanya.


Bunyi notifikasi pesan mengalihkan perhatiannya ke arah ponsel di atas meja,


Emma :


Elle aku udah di depan nih:)


Elle yang melihat itu segera memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang berisi dompet, di dalam dompet itu hanya ada satu blackcard dan beberapa uang cash. Ia berjalan keluar dari kamar menuruni tangga, entah kenapa sekarang Elle lebih menyukai lewat tangga.


“Sayang, kamu mau kemana?” tanya Hannah yang melihat cucunya sudah terlihat rapi.


“Mau jalan sama Emma dan Lily nek, Vivi juga udah minta izin sama yang lain. Boleh kan nek?” tanya Elle.


Hannah yang mendengar itu menganggukkan kepalanya “boleh, tapi pulangnya jangan malam-malam ya” ucapnya.


Elle segera menjawab dengan tersenyum manis “yes grandma.”


“Ingat, Vivi harus tetap hati-hati jika sudah di luar” timpal Ibram baru datang menghampiri mereka.


Setelah berpamitan pada kakek dan neneknya Elle segera berjalan menuju depan mansion, disana ia dapat melihat mobil berwarna merah milik Emma yang sudah menunggu.


Elle langsung masuk ke dalam mobil, setelah itu mobil tersebut pun melaju keluar dari kawasan Caldwell Mannor menuju mansion Lily yang ternyata kediaman utama keluarga Hester juga berada di kawasan elit Circle Gold.


“Maaf membuat mu menunggu lama tadi.” Ucap Elle tidak enak.


“Tidak apa-apa aku juga baru datang tadi, setelah ini kita akan ke mansion Hester menjemput Lily.” Ujar Emma dan Elle pun hanya mengangguk.


“Oh iya tapi kamu beneran nggak apa-apa kan Elle? Apalagi punggung kamu terluka tadi saat di sekolah” tanya Emma sedikit khawatir.


“Aku tidak apa-apa kok, lagipula sudah diobati dan lagian kita sudah sepakat jalan-jalan malam ini.” Kata Elle dengan suara tenangnya.


"Syukurlah kalau begitu, sebenarnya aku dan Lily sempat ingin membatalkan janjian kita malam ini karena kami khawatir kamu yang terluka" ucap Emma.


"Kita tidak perlu memikirkan itu lagi, lagipula aku memang menunggu saat-saat ini, jalan-jalan keluar bersama seorang teman karena dari kecil aku belum pernah melakukannya" ucap Elle.

__ADS_1


Emma yang mendengar ucapan Elle merasa iba karena dia mengerti menjadi seorang putri tunggal dari keluarga terkaya di negara ini pasti dijaga sangat ketat oleh keluarganya.


__ADS_2