
Elle berjalan menuju meja resepsionis. Ada dua orang wanita yang Elle lihat di meja resepsionis, yang satu memakai pakaian sopan dengan rambut disanggul dan yang satunya lagi pakaiannya cukup kekecilan dengan rambut tergerai.
“Permisi.” Kata Elle dengan sopan walau wajahnya tetap saja datar.
“Ya, ada yang bisa kami bantu?” kata wanita berpakaian sopan.
“Bisa tunjukkan ruangan tuan Davidson?” tanya Elle, membuat wajah resepsionis berpakaian sempit itu langsung berubah sinis.
“Apakah nona sudah membuat janji dengan beliau?” tanya resepsionis berpakaian sopan itu dengan ramah.
“Belum.” Jawab Elle singkat.
“Maaf nona, kalau begitu anda tidak bisa menemui beliau. Bila anda ingin bertemu dengan beliau, harap buat janji terlebih dahulu sebelum anda datang ke sini” ucap wanita itu menolak dengan sopan sambil tersenyum.
“Bisa telepon beliau sekarang, karena ini sangat penting.” Ucap Elle masih dengan wajah tenangnya.
“Tidak bisa, beliau sedang sibuk.” Kata wanita berpakaian ketat itu dengan nada ketus.
“Jangan begitu, kita harus sopan pada tamu” tegur teman kerjanya dengan berbisik, yang tak lain si wanita berpakaian sopan.
Elle masih mencoba untuk bersabar karena tidak ingin membuat keributan di perusahaan daddy nya apalagi mengganggu ketenangan karyawan disini.
Apalagi sekarang mereka sudah menjadi perhatikan oleh karyawan yang lewat di lobby saat mendengar ucapan Elle yang ingin bertemu langsung dengan pemilik perusahaan.
Elle masih bersikap biasa saja walau telinga tajamnya sudah mendengar bisik-bisik para karyawan, padahal dia hanya ingin memberikan berkas dokumen ini untuk daddy nya kenapa dia harus dilarang.
Ingin menggunakan identitas keluarganya belum menyetujui, bahkan ponselnya yang sangat dibutuhkan saat ini tertinggal di rumah, jadi Elle semakin bingung harus apa untuk bertemu sang daddy.
“Berani sekali seorang gadis penggoda datang kemari untuk mencari tuan Davidson” gumam wanita yang rambutnya digerai.
Sebenarnya sejak Elle memasuki lobby wanita itu sudah tidak suka kepada Elle yang terlihat sangat cantik dan anggun, membuat semua orang langsung memusatkan memperhatikan nya pada Elle.
Berbeda dengan Elle, walau suara wanita itu sangat kecil tapi Elle dapat dengan jelas mendengar hinaan itu ditujukan untuknya, apalagi dengan pendengaran Elle yang tajam.
__ADS_1
“Kalau begitu bisa katakan dimana ruangannya, saya sendiri yang akan mendatanginya karena ini sangat penting.” Tekan Elle dengan nada suara datar namun tetap tenang walau dirinya sudah sangat emosi.
“Maaf nona, sudah menjadi peraturan di perusahaan ini. Bila ingin bertemu dengan tuan Davidson harus membuat janji terlebih dahulu” jelas wanita bersanggul itu, hanya dia yang menyambut Elle dengan sopan dan tetap bersikap profesional.
“Sudah di bilangin, nggak bisa ya nggak bisa! Maksa banget sih! Kamu mau goda beliau ya? Ngaku kamu! Masih kecil aja tahunya jadi *** ***.” Ujar wanita sinis.
“Kita nggak boleh bertengkar sama tamu, ingat harus sopan” lerai wanita bersanggul itu memperingati temannya, namun temannya itu tetap saja tidak mendengarkan.
Elle menutup matanya menghela nafas pelan mengontrol emosinya yang mulai tersulut.
“Shut up.” Desis Elle tajam dengan auranya yang mulai keluar, membuat kedua resepsionis itu langsung membeku dengan tangan gemetar.
Walau tubuhnya gemetar terlihat ketakutan wanita berpakaian ketat itu berusaha tetap berani, namun wajahnya yang pucat tidak bisa dibohongi.
Wanita itu lalu mengangkat tangannya untuk memanggil security, seorang pria berseragam hitam datang mendekat ke arah meja resepsionis.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pria itu.
Pria itu mengangguk patuh dan berjalan ke arah Elle untuk di bawa keluar. Saat pria itu akan memegang lengan Elle, Elle lebih dulu memelintir tangan pria itu ke belakang tanpa melepasnya.
Hingga pria itu teriak kesakitan bahkan semua orang disana menganga tak percaya seorang gadis bertubuh kecil bisa melumpuhkan pria berbadan besar sendirian.
“Aku sudah bilang. Diamlah.” Tekan Elle yang semakin membuat kedua resepsionis dan security itu bahkan semua orang yang ada di lobby langsung sesak dan gemetar karena aura yang dikeluarkan Elle.
Seorang pria berkacamata baru saja keluar dari lift dia adalah Harris Ford asisten sekaligus sekretaris David, saat berjalan menuju lobby dia merasa aneh dengan lobby yang terasa sunyi biasanya akan banyak karyawan yang sedang mengobrol.
Harris melihat ke depan, terlihat para karyawan yang terdiam dengan menatap fokus ke satu arah, tepat di dekat meja resepsionis seorang gadis sedang mendorong seorang security hingga terjatuh ke lantai.
Harris dengan cepat melangkah untuk memastikan apa yang terjadi.
“Ada apa dengan keributan ini?” tanya Harris dengan suara dingin.
“Sir Harris, gadis penggoda ini memaksa ingin menemui tuan Davidson.” Ucap wanita berpakaian ketat itu sambil menunjuk ke arah Elle yang berwajah datar, astaga wanita satu itu tidak kapok juga.
__ADS_1
Harris pun langsung menoleh ke arah yang ditunjuk wanita itu. Astaga! nona muda! batin Harris kaget melihat keberadaan Elle.
“N-nona?” ucap Harris masih dengan keterkejutan nya.
“Uncle, aku ingin menemui daddy.” Ucap Elle yang sudah tidak mood beramah tamah pada siapapun.
Harris ingin berucap namun, wanita resepsionis berpakaian ketat itu mendahului.
“Heh! Kamu menyebut tuan Davidson daddy!? Dasar *** *** murahan!” ucapnya kasar.
Harris melotot marah pada wanita yang berani menghina anak atasannya.
Tak tahan lagi, Elle diam-diam menggunakan kekuatannya membuat tanaman merambat di kaki wanita itu hingga dia tersandung, dan tepat sekali menyenggol seseorang yang akan lewat dengan membawa sekotak tinta printer.
Bahkan tanaman yang Elle tumbuhkan itu akan memiliki efek gatal parah jika tersentuh dengan kulit. Memikirkan wanita itu yang akan menggaruk tubuhnya seperti monyet membuat Elle tersenyum samar.
Wanita resepsionis itu terjatuh ke lantai dengan tinta yang langsung mengenai wajah dan tubuhnya hingga para karyawan di lobby menertawakannya.
Tak lama kemudian, wanita itu terlihat menggaruk seluruh tubuhnya menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang yang menontonnya.
Sedangkan resepsionis yang satunya hanya diam dengan wajah terkejut melihat teman kerjanya dipermalukan. Elle yang melihat itu diam-diam tersenyum miring tanpa ada yang menyadari.
“Uncle, tolong antar aku ke ruangan daddy.” Ucap Elle menyadarkan Harris dari keterkejutannya melihat adegan yang cukup memalukan untuk resepsionis itu.
“Mari nona” ucap Harris dengan sopan.
Harris membawa Elle memasuki lift yang khusus untuk orang-orang penting. Setelah lift itu tertutup semua orang di lobby langsung bernafas lega.
Berbeda dengan wanita resepsionis yang masih asik menggaruk tubuhnya seperti orang gila, bahkan sampai teriak-teriak karena tidak tahan dengan tubuhnya yang terasa sangat gatal.
Dua security langsung datang mengamankan wanita itu dan membawanya pergi karena mengganggu ketenangan perusahaan, dan mungkin saja sudah dipecat.
Mulai saat itulah para karyawan berpikir untuk tidak mengusik Elle, jika dia datang lagi kesini.
__ADS_1