The Elves Secret

The Elves Secret
08. Terluka


__ADS_3

Grace langsung terjatuh ke lantai akibat tamparan keras pada pipinya hingga bibirnya sobek dan berdarah, sang pelaku yang tak lain Alvaro hanya diam dan menatap rendah wanita itu lalu beralih menatap Elle yang masih santai berdiri lalu memegang tangan Elle membawanya ke ruang kesehatan untuk mengobati tangannya yang terluka.


Sedangkan semua murid langsung tersadar dari keterkejutan saat melihat Alvaro dan Elle yang sudah pergi, mereka pun hanya diam dan kembali melakukan aktivitas masing-masing tanpa ada niat membantu Grace yang masih duduk di lantai karena mereka sudah biasa melihat Alvaro main tangan pada pria maupun wanita yang berani mengusiknya.


Tapi yang mereka kejutkan, ini pertama kalinya Alvaro sang Prince Ice lebih dulu berinisiatif memegang tangan seorang cewek apalagi mereka semua tahu Alvaro tidak pernah mau disentuh oleh perempuan. Sedangkan Emma, Stella, William, Felix dan Sam langsung pergi ke ruang kesehatan menyusul Elle dan Alvaro.


Di ruang kesehatan Elle dan Alvaro sama-sama diam tidak ada yang bersuara, Elle yang masih di obati oleh dokter yang dipekerjakan khusus sekolah sedangkan Alvaro duduk di sofa di ruangan itu.


“Sudah selesai, tapi ingat lukanya tidak boleh terkena air dulu hingga tiga hari kedepan dan ganti perbannya setiap pagi dan malam.” Ucap dokter wanita itu.


“Terima kasih.” Ucap Elle.


“Sama-sama, kalau begitu aku permisi dulu.” Jawab dokter itu, lalu keluar meninggalkan Elle dan Alvaro di dalam.


“Sorry.” Setelah beberapa saat terdiam, Alvaro lebih dulu bersuara.


“It’s okey.” Ucap Elle.


“Kita akan memeriksanya lagi di rumah sakit nanti.” Ini adalah pertama kalinya ia menawarkan diri pada seorang perempuan hingga Alvaro pun bingung pada dirinya sendiri apalagi tadi ia meminta maaf, wow sungguh menakjubkan.


“Tidak perlu.”


“Tapi,,,”


Saat Alvaro akan melanjutkan ucapannya datang teman-temannya beserta teman gadis itu yang belum ia tahu namanya.


“Astaga Elle bagaimana lukamu, apa parah sudah diobati bagaimana kalau kita ke rumah sakit sekarang” ucap Stella dengan mata yang suda berkaca-kaca siap menumpahkan air matanya.


“Sudah tidak apa-apa, hanya luka kecil sudah diobati.”


“Itu bukan luka kecil Elle, aku yakin itu pasti dijahit.” Ucap Emma meringis menatap perban di tangan Elle.


“Hiks hiks huwaa Elle ini salahku seandainya aku tidak berdiri di sana” pecah sudah tangis Stella yang merasa bersalah.


“Stella tenanglah, kita juga tidak akan bisa memprediksi sesuatu yang akan terjadi dan Elle juga sudah diobati.” Ucap Emma menenangkan Stella dengan memeluknya.

__ADS_1


Sedangkan keempat pria itu masih berdiri dan melihat interaksi ketiga sahabat itu yang masih saling berpelukan.


“Aku akan membawamu ke rumah sakit.” Ucap Alvaro.


“Aku sudah bilang tidak perlu.” Jawab Elle.


“Tapi lukamu harus diperiksa lagi.”


“Dan aku tidak suka dipaksa.” Tekan Elle menatap Alvaro dengan dingin tanpa ada yang mau mengalah dari keduanya.


Membuat mereka yang ada di ruangan itu terkejut melihat pertama kalinya seorang Alvaro berdebat dengan perempuan apalagi Alvaro yang begitu lancar mengeluarkan suara langkanya karena biasanya ia hanya akan diam dan berwajah datar.


“Oh iya, kita sampai lupa berkenalan aku yakin kalian sudah mengenal kami tapi aku akan mengenalkan diri secara pribadi. Perkenalkan namaku Felix Oliver Weitzman, panggil saja Felix.” Ucap Felix mencoba mencairkan suasana yang terasa dingin di ruangan itu.


“Dan namaku adalah Samuel Jarvis Anderson panggil saja Sam yang tampan atau sayang juga boleh.” Ucap Sam sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda.


“William Stanley Harvey, William.” Ucap Will yang sejak tadi menatap Elle tanpa mengalihkan pandangannya.


“Alvaro Loderick Parker.”


“Hai namaku Stella, Stella Cornelia.” Ucap Stella malu.


“Aku Emma.”


“Ellevia.” Ucap Elle singkat.


Apakah dia Vivi, tidak ini belum saatnya aku bertanya tunggu waktu yang tepat batin salah satu pria di dalam ruangan itu.


“Sebaiknya kita kembali ke kelas, kita sudah melewati jam pelajaran.” Ucap Elle.


“Tapi Elle apa sebaiknya kamu istirahat saja di sini” pinta Emma yang khawatir jika Elle tidak bisa fokus mengikuti pembelajaran apalagi dengan tangannya yang terluka akan susah untuk digunakan menulis.


“Benar, kamu tidak akan bisa menulis dengan tanganmu yang terluka.” Imbuh Felix


“Masih ada tangan kiriku. Sudahlah, ayo kembali ke kelas dan kalian juga.” Jawab Elle pada teman-temannya termasuk para Prince Harvest.

__ADS_1


“Astaga, Elle sangat perhatian. Tenang saja aku pasti akan belajar dengan semangat agar bisa menjadi suami yang cerdas untukmu kelak” ucap Sam percaya diri.


“Mulai lagi” gumam Felix menatap malas temannya yang satu itu.


“Aku hanya kasihan pada guru yang akan lelah memikirkan hukuman untuk kalian jika membolos.” Ucap Elle santai.


“Hahahaha” pecah sudah tawa Stella yang sejak tadi berusaha ditahan diikuti tawa Felix senang melihat Sam ternistakan.


“Kasihan” ejek Felix pada Sam.


“Kami tidak akan membolos.” Ucap Will tiba-tiba dengan senyuman tipis hingga membuat temannya terkejut seorang William Stanley Harvey tersenyum si prince ice kedua.


“Kita kembali ke kelas.” Pinta Elle pada Emma dan Stella.


Mereka pun keluar dari ruangan kesehatan diikuti para Prince Harvest di belakang yang juga akan kembali ke kelas mereka atau mungkin membolos.


Seperti biasa Elle saat ini sedang menunggu kedatangan Jack menjemputnya sambil duduk menatap ke arah depan. Hingga terdengar suara mobil berhenti di depannya,


Elle pun segera menyembunyikan tangannya yang diperban di balik jas sekolahnya dan bersikap seperti biasa. Ia pun berjalan mendekati mobil dan langsung masuk setelah itu mobil pun pergi meninggalkan kawasan sekolah.


Sesampainya di mansion Elle langsung masuk ke kamar setelah berpamitan pada pamannya. Di dalam kamar Elle langsung melepas jasnya lalu ikut melepas perban yang melilit di pergelangan tangannya yang terluka, terlihat kulitnya mulus tanpa adanya bekas luka.


Ini sudah dimulai dan aku takut tidak bisa mengendalikannya batin Elle.


Elle pun keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe lalu melangkah ke arah walk in closed mengambil kaos oversize dan celana pendek lalu mengenakannya. Setelah selesai Elle berjalan menuju balkon kamarnya berdiri sambil melihat langit malam yang indah dihiasi bintang dan bulan.


Tok tok tok


Suara ketukan pada pintu mengalihkan pandangan Elle ke arah pintu kamarnya. Ia pun berjalan menuju pintu lalu membukanya terlihat Monica berdiri sambil tersenyum lembut padanya.


“Mom,”


“Sayang, mau ikut dengan mommy dan daddy ke suatu tempat?”


“Maksud mom?” tanya Elle tak mengerti.

__ADS_1


“Ayo, tapi sebelum itu mommy akan membuat Vivi menjadi semakin cantik” ucap Monica membawa Elle menuju meja rias diikuti seorang pelayan memegang sebuah gaun biru di tangannya.


__ADS_2