The Elves Secret

The Elves Secret
17. Gadis Misterius


__ADS_3

Keempat nama besar yang selalu dihormati di negara itu, jika kabar kedekatan anak mereka sampai di telinga semua orang maka sudah dipastikan akan sangat heboh.


“Jadi, nama lengkapmu?” tanya Stella.


“Ellevia White de Caldwell.” Jawab Elle.


“Tenang saja, kami akan selalu merahasiakan identitasmu” ucap Emma.


“Benar” timpal Stella setelah menenangkan diri dari rasa terkejutnya.


“Aku percaya. Baiklah berhenti membahas tentang diriku sebaiknya kita menyelesaikan tugas yang diberikan guru dahulu.”


“Yes, lady Caldwell!” jawab Emma dan Stella serempak, membuat mereka bertiga tertawa.


“Tapi setelah itu ajak kami untuk berkeliling mansion mu” ucap Stella.


“Sure.” Jawab Elle.


Dan hari itu mereka habiskan berkeliling mansion utama Caldwell


Malam harinya Emma dan Stella pulang setelah sempat makan bersama dan berkenalan dengan keluarga besar Caldwell membuat mereka berdua sangat gugup saat itu karena langsung berhadapan dengan Ibram tetua pebisnis pertama yang paling terkenal di negara A.


Di dalam ruang kerja David. terdapat Jack, Ibram dan David sendiri sedang duduk di sofa panjang dalam ruangan itu dengan saling berhadapan.


“Apa kau yakin mengizinkan Vivi untuk jujur pada kedua temannya?” tanya Jack.


“Iya, lagipula kita sudah mencari latar belakang mereka dan mereka berdua juga dari keluarga yang kita kenal.” Ucap David.


“Memang benar,,” lirih Jack dengan sedikit keraguan dalam hatinya.


“Sudahlah, bagaimana pun mereka berdua teman Vivi dan jika Vivi terus merahasiakan identitasnya pada kedua temannya aku takut mereka akan menganggap Vivi pembohong dan aku tidak ingin melihat Vivi bersedih karena itu.” Ucap Ibram. Membuat David dan Jack mengangguk pelan.


Mana mungkin mereka bisa melihat princess yang mereka sayangi bersedih tapi tetap saja mereka akan berjaga-jaga jika ada sesuatu yang akan terjadi dan tidak bisa mereka prediksi.


Sarapan pagi di mansion Caldwell seperti biasa terlihat hangat karena Jack yang sesekali menjahili Elle dan berdebat dengan Allan atau Ibram.


“Dad, aku izin pulang terlambat hari ini. Aku, Emma dan Stella mendapat tugas kelompok dari sekolah dan kami harus mencari referensinya di luar dan juga ada pertandingan basket di sekolah, kami diwajibkan harus menyaksikannya.” Ucap Elle meminta izin.


“Oke sayang tapi kamu tetap harus berhati-hati di luar dan daddy akan menyuruh bodyguard menjagamu.”


“Came on dad, ini hanya sebentar tidak usah ada bodyguard segala.” Pinta Elle.

__ADS_1


“No sweatheart, mereka tetap menjagamu dari jauh tenang saja itu tidak akan mencolok.” Ucap David tegas.


“Kami hanya takut terjadi sesuatu padamu di luar sana sayang” ucap Ibram.


“Baiklah.” Jawab Elle akhirnya.


Sementara di sisi lain, di sebuah perusahaan nomor satu terbesar di dunia seorang CEO muda bermuka datar tak lupa dengan tatapan tajamnya yang tak lain Theo sedang berkutat dengan dokumen-dokumen perusahaan yang tidak ada habisnya.


Tok tok tok


Bunyi ketukan pintu membuat Theo mengalihkan wajahnya sekilas lalu kembali fokus pada dokumen-dokumen di depannya.


“Masuk.” Ucap Theo singkat dengan nada suara dingin yang sayangnya terdengar berat dan maskulin.


Tak lama muncul seorang wanita cukup cantik yang menjadi pengganti sementara sekretarisnya yang sedang cuti, Theo memang memiliki satu sekretaris selain Hansel dalam membantunya di perusahaan.


Wanita itu membuka pintu dan memasuki ruangan dengan berjalan berlenggak lenggok, serta memakai baju yang cukup ketat hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya berharap Theo akan tergoda dengan penampilannya.


Dengan wajah malu-malu wanita itu menyerahkan beberapa berkas di tangannya ke depan Theo.


“Ini Master Xander, berkas-berkas penting yang harus anda baca dan tanda tangani hari ini.” Ucap wanita itu dengan senyuman manis yang tak pernah luntur dari bibirnya.


“Hmmm.” Jawab Theo.


“Keluar.” Perintah Theo dengan penuh penekanan membuat tubuh wanita itu tanpa sadar bergetar.


Namun wanita itu tetap berdiri menghiraukan ucapan Theo. “Bagaimana kalau Master nanti butuh sesuatu kalau saya keluar,” ucap wanita itu dengan suara menggoda sambil menyelipkan rambut ke telinganya hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih.


Mendengar ucapan wanita itu Theo langsung mendongakkan wajahnya sehingga wanita itu dapat melihat dengan jelas wajah tampan Theo.


Namun sayangnya Theo melihat wanita itu dengan tatapan tajam yang sangat mengerikan, membuat wanita itu langsung takut dengan wajah yang memucat sehingga tanpa sadar ia mundur beberapa langkah dan berniat untuk pergi dari ruangan yang memiliki aura gelap tersebut.


Namun, saat wanita itu hendak membalikkan badannya guna untuk pergi.


Dor


Sebuah peluru menembus sempurna di dahi wanita tersebut, hingga tubuh itu perlahan jatuh ke lantai dengan penuh bersimbah darah.


Beruntung ruang kerja Theo kedap suara jika tidak mungkin semua orang di perusahaan itu sudah ketakutan mendengar suara tembakan.


Theo sang pelaku, hanya menatap mayat wanita itu dengan ekspresi datar tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikitpun karena sudah menghilangkan nyawa seseorang. Seolah pemandangan itu sudah biasa baginya.

__ADS_1


Theo dengan santai mengarahkan tangannya ke telepon memanggil Hansel untuk membereskan kekacauan itu.


“Ke ruangan ku, sekarang.” Ucap Theo lalu memutus panggilan telepon tanpa mendengar jawaban Hansel dari seberang sana.


Sedangkan Hansel yang menerima panggilan dari tuannya segera bergegas pergi menuju ruangan Theo.


Hansel mengetuk pintu terlebih dahulu sebagai rasa sopan pada atasan, beberapa saat kemudian ia memasuki ruangan setelah mendengar persetujuan dari Theo.


“Master.” Ucap Theo setelah berdiri di depan Theo.


Hansel hanya bersikap biasa melihat pemandangan yang disuguhkan di depannya tanpa merasa jijik ataupun takut.


Karena itulah yang akan terjadi jika ada seseorang yang mengganggu ketenangan tuannya.


“Bereskan.” Perintah Theo.


Tanpa menunggu lama Hansel langsung menelepon bawahannya yang sudah bersiaga di dalam perusahaan dan memanggil mereka untuk mengurus mayat wanita itu tanpa diketahui oleh karyawan yang lainnya.


Setelah kekacauan itu dibereskan Theo tetap melanjutkan pekerjaannya ditemani Hansel yang dengan setia berdiri di sampingnya.


Theo tiba-tiba menyandarkan punggung di kursi kebesarannya sambil menekan-nekan pelipisnya yang terasa pusing karena terus memikirkan orang yang selama ini dia cari.


“Master tidak apa-apa?” tanya Hansel khawatir takut tuannya dalam keadaan tidak sehat.


“Mmm.”


“Hansel.” Panggil Theo tiba-tiba.


“Ya Master.” Jawab Hansel segera.


“Apa kamu masih belum menemukannya?” tanya Theo.


“Belum Master, setiap gadis yang kami temui dan sesuai kriteria yang anda cari langsung kami bawakan fotonya ke hadapan anda.”


“Kenapa gadis itu tidak bisa aku temukan, padahal semua wanita berusaha mendekatiku tapi kenapa dia tidak muncul di hadapanku? Apa gadis itu tidak mengenal siapa aku?” tanya Theo dengan nada suara frustrasi.


“Itu mustahil Master, tidak mungkin tidak ada yang tidak mengenal anda. Bahkan berita anda selalu tersebar hingga ke mancanegara Master.”


“Haah sudahlah, kau tetaplah cari keberadaan gadis itu.” Ucap Theo.


Keinginan yang kuat untuk bisa bertemu dengan gadis yang menolongnya membuat Theo terus memikirkan cara untuk menemukan keberadaan gadis itu.

__ADS_1


Hansel hanya diam namun dihatinya dia akan tetap berusaha memenuhi keinginan tuannya.


__ADS_2