The Elves Secret

The Elves Secret
22. Kedatangan Jane


__ADS_3

Bel istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu namun Elle, Emma dan Stella masih berada di dalam kelas untuk mencatat pelajaran yang ada di papan tulis yang belum mereka selesaikan, kecuali Elle tentunya yang sudah sedari tadi selesai tidak seperti Stella yang sebentar nulis sebentar bilang capek.


Hingga Elle pun hanya menunggu kedua temannya sambil ia membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan.


Setelah selesai mencatat kini ketiganya ditambah Lily yang datang ke kelas mereka tadi memutuskan untuk pergi ke kantin karena perut mereka sudah meronta minta diisi. Hingga di koridor terlihat masih ramai karena jam istirahat masih cukup lama.


"Ckk, kalian kenapa sih lama sekali di kelas?" decak Lily kesal karena lelah menunggu kedatangan mereka di kantin hingga ia pun datang ke kelas menemui mereka.


Stella memutar bola mata malas "lagian siapa juga yang menyuruh kamu menunggu kami Ly" ucapnya.


"Siapa juga yang menunggu kamu, aku itu menunggu Elle" ujar Lily.


"Ini juga karena Stella, lama benar nulisnya kita nunggu dia nggak selesai-selesai" ucap Emma.


"Mmm, salahin aja terus" kesal Stella menghentakkan kakinya lalu berjalan lebih dulu.


Tapi kan ucapan Emma memang benar bahkan karena menunggu Stella yang terus mengeluh capek menulis membuat Emma kesal sendiri apalagi Emma yang sudah sangat lapar, akhirnya setelah menyelesaikan catatan nya Stella pun mengajak Emma dan Elle keluar menuju kantin.


"Lah dia ngambek? Tapi emang benar kan ucapan ku," ucap Emma


"Udah, ayo cepat susul. Stella nanti malah tambah marah" ucap Elle.


Sesampainya di kantin mereka mengambil makanan masing-masing dan duduk bersama di satu meja, seperti biasa.


“Aku ingin pindah ke kelas kalian saja, aku nggak mau sendirian di sana membosankan apalagi jika terus menunggu kalian keluar kelas sangat melelahkan,” keluh Lily dengan wajah cemberutnya.


“Pindah saja, minta pada orang tuamu pasti langsung disanggupi apalagi dengan reputasi orangtuamu sebagai salah satu donatur di sekolah ini. Benar kan nona muda Anderson?” ucap Stella jahil sambil menatap menggoda ke arah Emma.


Emma tadi membujuk Stella agar tidak marah lagi padanya dengan cara mentraktir nya hingga Stella pun sekarang balik menjahili Emma karena ia ingat Emma adalah seorang nona muda keluarga Anderson.


“Telat, mereka semua sudah tahu dari dulu kecuali kamu yang otakmu ini loading nya lama” ucap Emma sambil menyentil dahi Stella dengan jari.


Stella pun langsung mengusap dahinya yang lagi-lagi kena sentilan maut dari Emma. “Issh, sakit Em. Ya maaf, habisnya di nametag kamu kan hanya Emma Stone A ya mana aku ngerti. Kamu kan juga tahu otakku nggak bisa diajak berpikir apalagi kamu dan Sam jarang berinteraksi layaknya adik dan kakak di sekolah. Ya jangan salahkan aku dong,,,” dumel Stella membuat Lily tertawa kecuali Emma yang kesal dengan kelemotan temannya itu.


“Kamu jadi ingin pindah kelas Ly?” tanya Elle.


“Benar, mungkin saja besok aku bisa langsung pindah ke kelas kalian” senang Lily. “Oh iya aku sampai lupa, apa kalian baik-baik saja? Aku mendengar tentang kejadian itu tadi pagi, pasti kalian sangat takut aku saja yang tidak berada di lokasi ikut merasa ketakutan.” Lanjut Lily dengan suara khawatir.


“Kami tidak apa-apa. Beruntung ada Elle yang berusaha menahan orang-orang itu karena itulah sekarang Elle menggunakan plester di pipinya yang terluka, hingga bantuan dapat datang tepat waktu sebelum terjadi sesuatu pada kami. Namun anehnya orang-orang yang mencegat mobil kami kemarin tiba-tiba teriak kesakitan dan tubuh mereka membiru, sangat mengerikan.” ucap Emma merinding jika mengingat kejadian kemarin.

__ADS_1


Itu memang aneh untuk kalian tapi untunglah tidak ada yang curiga batin Elle lega.


“Mmm mungkinkah ada yang menolong kalian?” tanya Lily.


“Mungkin saja,,,” ucap Emma dan Stella hampir bersamaan lalu memandang ke arah Elle.


Karena mereka tahu seorang nona muda dari keluarga Caldwell tidak mungkin luput dari penjagaan ketat keluarganya, namun mereka tidak tahu saja bahwa kejadian kemarin adalah ulah Elle sendiri.


“Haah jika mengingat kejadian kemarin aku jadi merasa ketakutan lagi.” Timpal Stella ngeri.


“Tunggu, Elle menahan orang-orang itu? Maksudnya melawan mereka semua? Sendirian!?” tanya Lily tak percaya setelah menyadari ucapan Emma tadi.


Emma pun mengangguk cepat “Benar sekali, kau tahu Elle sendirian melawan tujuh orang yang bahkan semuanya berbadan besar-besar.” Ucap Emma heboh.


Lily menggeleng kepalanya pelan. “Wow! Elle hebat sekali!” puji Lily menatap berbinar ke arah Elle, ia jadi penasaran ingin melihat langsung aksi keren Elle.


Sedangkan yang dibicarakan hanya diam melanjutkan memakan makanannya.


“Benar. Mmm, Elle kamu jadi datang nanti malam?” tanya Emma memandang ke arah Elle.


“Iya," jawab Elle sambil menyedot minuman sekotak susu madu di tangannya.


“Tidak perlu. Aku datang sama sopir nanti malam, mungkin jam tujuh aku sampai.” Tolak Elle, karena Hannah dan Ibram menyuruhnya untuk pergi dengan sopir saja.


Mereka hanya tidak ingin Elle kelelahan jika menyetir sendirian. Sungguh berlebihan memang tapi itulah bukti begitu sayangnya mereka pada Elle.


“Untuk apa Elle datang ke mansion mu?” tanya Lily penasaran.


“Orang tuaku mengundang Elle makan malam,” jawab Emma sambil menyuap makanannya yang belum habis.


“Kenapa aku juga tidak kau undang, pilih kasih sekali” gerutu Lily mendelik kesal ke arah Emma.


“Elle diundang oleh orang tuaku karena sangat berterima kasih pada Elle yang ikut berperan penting dalam menghalangi orang-orang kemarin yang ternyata suruhan musuh bisnis papi untuk menculik ku. Lagipula kalau kalian mau datang, datang saja sendiri.” Balas Emma santai.


“Hehehe bercanda, walau aku diundang pun aku juga tidak akan bisa datang kalau malam ini.” Ucap Lily.


“Yang sabar teman, kita juga sama biasa urusan keluarga padahal aku juga ingin ikut bergabung.” timpal Stella.


“Kasihan,,,” Ucap Emma prihatin membuat Lily dan Stella langsung cemberut sedangkan Elle hanya tersenyum kecil melihat itu.

__ADS_1


Di sebuah ruangan bernuansa gold terdapat seorang pria gagah nan tampan sedang duduk berkutat dengan dokumen yang ada di atas meja kerjanya, dia adalah Theo sang Master X.


Terdengar suara pintu dibuka lalu kemudian ditutup diikuti langkah kaki yang mendekat ke arah Theo yang masih fokus dengan berkas-berkas yang ada di depannya


“Apakah ada informasi?” tanya Theo tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumen yang sedang ia tanda tangani.


Ia pikir itu adalah Hansel karena biasanya hanya asistennya itu yang berani masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.


Karena tidak mendengar jawaban, Theo pun mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya ia melihat siapa orang tersebut.


“Mama? Mama ngapain disini?” tanya Theo langsung berdiri dan berjalan ke arah wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik berdiri di depannya yang tak lain adalah Janeta Asteria Black, mama kandung Theo.


“Ohh jadi kamu nggak suka mama kesini, iya?” tanya Jane sambil berkacak pinggang menatap Theo.


“No ma, bukan gitu” ucap Theo tenang mendengar pertanyaan Jane.


Begitulah sikap Theo jika di hadapan sang mama tercinta ia akan bersikap hangat tapi akan berubah menjadi dingin tak tersentuh jika berada di luar.


“Kenapa nggak pernah pulang setelah sampai disini, lupa sama mama ya? Dan pasti gara-gara dokumen-dokumen ini kan?” tanya Jane dengan suara lembut sedikit menyindir dan juga tersirat nada khawatir di dalamnya.


Theo yang melihat kekhawatiran mamanya hanya tersenyum lalu mengajak mamanya duduk di sofa tanpa melepas genggaman tangan mereka.


“Nggak ma, Theo nggak akan pernah lupa sama mama karena mama adalah prioritas penting Theo” ucap Theo lembut lalu memeluk Jane dengan erat. “I miss you ma,”


lirihnya.


Jane menguraikan pelukannya “I miss you too. Gimana, kapan kamu akan bawakan calon menantu untuk mama?” tanya Jane pada Theo.


Melihat keterdiaman Theo, Jane menghela nafas lelah. “Pasti belum ada ya? Apa mama bantu carikan? Umur kamu sudah matang untuk menikah Theo.” Ucap Jane.


“Mama sudah ya, jangan bahas ini lagi” ucap Theo dengan muka kesal.


“Ya udah kalau begitu, mama nggak akan memaksa.” Ucap Jane. “Oh iya, ini mama bawakan makan siang untukmu. Mama tahu kamu pasti belum makan jika sudah fokus dengan pekerjaanmu itu, kamu seperti papamu saja jika sudah di hadapkan oleh dokumen-dokumen yang membuat sakit kepala itu” omel Jane sambil membuka bekal makanan yang dia bawa tadi.


“Theo kan anak papa ma, karena itulah sifat papa dan Theo pasti sama” ucap Theo lalu menyuap makanan yang dibawa Jane.


“Iya-iya ambil saja semua sifat papa mu itu” ucap Jane kesal


Sedangkan Theo hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Jane yang memang benar adanya karena semua sifat Theo diturunkan dari sang papa, Arthur Jonathan Black.

__ADS_1


__ADS_2