
Tok tok tok
“Masuk.”
Mendengar persetujuan dari tuannya Hansel berjalan masuk ke sebuah ruangan bernuansa hitam khas kamar seorang Theodore Alexander Black lalu berdiri tepat dihadapan Theo yang sedang duduk santai di sofa single depan kaca jendela memperlihatkan pemandangan lampu-lampu taman dengan gelas berisi wine di tangannya.
“Informasi yang anda inginkan sudah kami dapatkan master.” Ucap Hansel.
Theo yang mendengar itu langsung menegakkan badannya dan langsung menaruh gelas yang semula ia pegang ke atas meja.
“Berikan padaku.” Pinta Theo, dan Hansel langsung memberikan sebuah berkas berisi identitas seseorang pada Theo.
Theo membaca dengan teliti satu persatu informasi yang tertulis di dalam berkas itu beserta sebuah foto seorang gadis yang sepertinya dipotret secara diam-diam.
“Ellevia White De' Caldwell.” Lirih Theo membaca deretan nama yang tertulis.
“Benar-benar sebuah kejutan” ucap Theo dengan sebuah senyuman tipis tepatnya seringaian.
“Buat kerjasama dengan perusahaan CLCorporation.” Perintah Theo yang langsung dilaksanakan oleh Hansel. CLCorporation adalah nama perusahaan milik keluarga Caldwell yang sekarang dipegang oleh Davidson Smith De' Caldwell.
Elle yang berada di dalam kamarnya duduk menyandar di dashboard ranjang, dia terus menghela nafasnya berusaha menghilangkan pikiran tentang pria asing itu. Ia meraih ponselnya di atas nakas lalu menelepon seseorang. Mungkin keluar sebentar cukup bagus pikirnya.
Hanya dalam deringan pertama langsung dijawab oleh si penerima. “Halo.” Suara berat seorang pria lebih dahulu terdengar.
“Sepertinya hari ini aku ada waktu luang.” Ucap Elle to the point.
“Baiklah, aku jemput sekarang!?” ucap orang di seberang sana dengan nada suara bersemangat dan terdengar buru-buru mungkin.
“Tidak perlu aku tunggu di cafe, nanti aku kirim alamatnya” ucap Elle.
“Tentu, aku akan segera datang.”
"Mmm." Dan sambungan panggilan pun diputuskan oleh Elle.
Elle keluar dari kamarnya setelah bersiap-siap lalu menuju tangga. Di ruang tengah Ibram, Hannah dan Monica masih duduk di sana sambil menonton televisi dan mengobrol.
__ADS_1
“Lho sayang, kamu mau keluar lagi bukankah kamu baru pulang?” tanya Monica yang melihat Elle baru turun dari tangga dengan pakaian rapi.
“Iya mom, aku izin keluar ya sama teman.” Ucap Elle.
“Ekhem, cowok atau cewek nih?” tanya Hannah menggoda Elle.
“Cowok nek.” Jawab Elle cepat dengan muka biasanya.
“Tidak boleh.” Sentak Ibram tiba-tiba.
“Tapi kek, Vivi udah janji lho sama temen Vivi” ucap Elle lembut.
“Sudah biarkan saja, lagian tidak baik jika Vivi ingkar janji pada temannya nanti Vivi disangka pembohong lagi” ucap Hannah pada suaminya.
“Baiklah, tapi Vivi tidak boleh pulang lebih dari jam sembilan malam.” Ucap Ibram tegas.
“Siap kek.” Jawab Elle sambil hormat seperti seorang tentara.
Setelah meminta izin dengan keluarganya, Elle keluar dari mansion langsung menuju cafe tempat tujuannya menggunakan mobilnya sendiri tanpa bantuan seorang sopir.
Setelah menemukan letak meja yang cukup nyaman dan tenang yang berada di dekat jendela Elle pun duduk di sana lalu memesan segelas jus buah sebagai pendamping untuk menunggu kedatangan seseorang yang ia telepon tadi.
“Maaf membuatmu menunggu lama.” Suara berat menyapa Elle yang sedang fokus memainkan ponselnya.
Elle langsung mengangkat kepalanya. “Tidak apa-apa, aku juga baru sampai tadi” jawab Elle saat melihat Alvaro sudah duduk di hadapannya.
Benar sekali yang Elle telepon tadi saat di kamarnya adalah Alvaro, karena memiliki janji untuk mentraktir Alvaro di luar sekalian juga untuk jalan-jalan agar sedikit menenangkan pikirannya dari pria asing itu karena itulah sebabnya Elle mengajak Alvaro keluar.
“Aku juga minta maaf tadi meneleponmu tiba-tiba dan mengajak keluar, apa aku tidak mengganggu?” tanya Elle tidak enak.
“Tidak, awalnya kan aku yang memang mengajakmu keluar.” Jawab Alvaro tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Elle yang sejak tadi mengambil perhatiannya saat memasuki cafe.
Mungkin bukan hanya dia, bahkan pelanggan pria yang ada di cafe masih mencuri-curi pandang ke arah Elle membuat Alvaro sedikit geram karena cemburu.
“Baiklah, karena aku yang mengajakmu lebih dulu berarti aku yang akan mentraktir mu” ujar Elle.
__ADS_1
“Oke.” Jawab Alvaro tersenyum tipis. “Tapi, apa boleh tidak disini?” tanya Alvaro karena ia tidak ingin Elle terus menjadi perhatian para pemuda yang sejak tadi melirik Elle di tempat ini.
“Hah? Maksudmu kita keluar?” tanya Elle dan dijawab anggukan cepat oleh Alvaro.
“Mmm baiklah, biar kamu saja yang menentukan tempatnya” usul Elle.
Mereka pun keluar dari cafe menuju parkiran, awalnya Elle menolak dengan usulan Alvaro yang mengajaknya menggunakan motor tapi Alvaro tetap membujuk Elle dan akan menyuruh seseorang untuk mengambil mobilnya. Dan Elle pun terpaksa setuju lagipula untuk menghemat waktu juga, tapi dia bingung bagaimana cara menaiki benda itu karena ini pertama kalinya Elle akan menggunakan motor.
"Pakai helmnya dulu" ujar Alvaro memakaikan helm di kepala Elle. "Ayo naik" ucapnya lagi saat melihat Elle yang masih diam.
Elle yang mendengar itu segera naik tapi motor itu cukup tinggi untuknya sehingga ia tidak mampu mencapainya.
"Al, gimana cara naiknya?" lirih Elle dengan wajah bersemu malu, beruntung Alvaro tidak bisa melihatnya karena tertutup helm.
Alvaro yang mendengar perkataan Elle tersenyum tipis di balik helm full face nya. "Lagian kamu pendek sih." Ujar Alvaro santai.
Elle yang mendengar itu menjadi cemberut. Sependek itukah aku pikirnya.
Alvaro yang melihat keterdiaman Elle menghela nafas panjang "Maaf membuatmu tersinggung" ujar Alvaro lembut.
"Tidak apa-apa lagipula itu benar aku memang pendek" jawab Elle lagi dengan nada santai karena itu memang fakta.
Tubuh Elle memang sedikit pendek melebihi tubuh Alvaro, sehingga ia hanya sebatas dagu Alvaro tapi jika dibandingkan dengan tubuh cewek lainnya Elle memanglah lebih tinggi.
"Sini aku bantu" ucap Alvaro sambil menuntun Elle naik ke motornya.
Dengan bantuan Alvaro dia. akhirnya bisa duduk di jok belakang motor. "Pegangan." Perintah Alvaro saat akan menjalankan motornya.
Elle yang mendengar perkataan Alvaro pun kembali bingung untuk berpegangan dimana. Tiba-tiba ia merasakan kedua tangannya dipegang lalu dituntun untuk melingkar di pinggang Alvaro.
"Biar kamu tidak jatuh." Ucap Alvaro saat mengabaikan keterkejutan Elle.
Jalanan ibu kota saat ini sangat ramai, setiap jalan penuh dengan kendaraan berlalu lintas baik mobil ataupun sepeda motor.
Elle yang baru merasakan pertama kali menaiki motor sangat menikmatinya apalagi saat melihat lampu-lampu jalan dan gedung-gedung tinggi yang terlihat indah, dengan udara malam yang langsung membelai tubuhnya membuat Elle sedikit merasa bebas dari segala pikirannya. Jika dilihat dari atas mungkin akan semakin terlihat indah pikirnya jika saja ia sudah bisa terbang.
__ADS_1
Alvaro menghentikan motornya di parkiran sebuah restoran mewah di tengah ibukota yang mungkin hanya bisa di masuki oleh orang-orang yang khusus nya berdompet tebal.