The Elves Secret

The Elves Secret
63. Kemarahan Sarah


__ADS_3

Berbeda dengan keadaan Sarah dan Amel yang terlihat berantakan, di gudang tempat alat-alat olahraga dua gadis itu berdiri menyandar di tembok sambil menahan amarah.


“Aaargh! Gadis sialan! Kenapa semua menjadi berantakan” jerit Sarah frustasi.


Niat Sarah ingin mempermalukan Elle dengan kedatangan orangtuanya yang miskin itu ke sekolah agar membuat semua orang menghinanya malah membuatnya hampir mati.


Sarah lalu menatap tajam Amel yang masih diam berdiri di sampingnya. “Bukankah kamu bilang ini adalah rencana yang bagus untuk mempermalukan gadis miskin itu Amel, tapi kenapa menjadi seperti ini sekarang?!"


"Bahkan kamu tidak melakukan apa-apa tadi saat si miskin itu mencekik ku! Kamu juga tadi lihat, William dan Alvaro malah membela gadis sialan itu!” bentak Sarah melempar barang yang ada di gudang itu.


Seandainya kamu tidak bisa aku manfaatkan, sudah lama aku menyingkirkan mu batin Amel mengepalkan tangannya menatap Sarah tajam.


Amel menghela nafas kasar sambil mengepalkan tangannya erat, “aku juga sudah muak pada gadis sialan itu yang terus menjadi pusat perhatian di sekolah ini terutama perhatian dari Alvaro dan teman-temannya." Desis Amel tajam.


"Aku sangat membenci gadis murahan itu karena dia juga yang membuat pertunangan ku batal! Aku juga saat ini masih memikirkan cara lain agar dia dibenci oleh semua orang!” Geram Amel menggertakkan giginya.


Aku harus segera menyingkirkan Elle karena dia akan menjadi penghalang dalam rencanaku, tapi aku butuh bantuan seseorang untuk menyingkirkannya dan aku harus hati-hati karena gadis sialan itu mengetahui rahasiaku pikir Amel.


“Kita harus keluar sebentar lagi rapat dimulai, mommy ku akan segera datang. Tenang saja, besok aku akan meminta solusi pada kenalanku untuk membantu rencanaku selanjutnya” ucap Amel.


“Rencana? Dan siapa kenalan yang kamu maksud?” tanya Sarah.


“Tunggu dan lihat saja” Amel tersenyum miring dengan rencana liciknya.


Setelah Amel dan Sarah pergi dari gudang, keluarlah seseorang dari balik tembok dekat gudang tersebut sambil menatap ke arah perginya kedua gadis itu lalu tersenyum miring.


Di dalam kelas Lily, Emma dan Stella menunggu dengan gelisah kedatangan Elle. Setengah jam yang lalu mereka sudah mencari keberadaan Elle di seluruh bagian sekolah ini namun Elle tidak juga mereka temukan.


“Bagaimana ini, aku khawatir dengan keadaan Elle” ucap Lily menggigit kuku nya gelisah.


“Aku juga. Apalagi tadi Elle pergi dalam keadaan marah” ujar Emma terlihat menghela nafas panjang.


“Semoga saja Elle baik-baik saja” timpal Stella.

__ADS_1


Hanya mereka bertiga saja yang saat ini berada di dalam kelas, karena murid-murid lain sudah berada di koridor menunggu para orangtua mereka yang akan segera datang.


Suara langkah kaki memasuki kelas mengalihkan perhatian mereka. Dan terlihat Elle berjalan menuju ke arah mereka bertiga.


“Elle!” panggil Lily berjalan ke arah Elle lalu memeluknya, begitupun dengan Emma dan Stella yang juga ikut memeluk Elle.


“Kau tahu aku sangat khawatir padamu, kamu darimana saja ha!?” ujar Lily dengan perasaan lega.


Elle tersenyum melihat temannya yang terlihat khawatir. “Maaf karena membuat kalian khawatir, aku hanya ingin menenangkan diri tadi."


Mereka melerai pelukan itu dan memandang Elle dengan perasaan lega.


Elle menatap ketiga temannya dengan perasaan haru, "aku kira kalian akan takut padaku."


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu Elle, apa karena kejadian tadi di kantin?" Membuat Elle langsung mengangguk.


Lily tertawa kecil, "kau tahu Elle, sebenarnya aku sangat senang waktu itu walau sedikit terkejut namun faktanya jika orangtuaku juga dihina seperti itu pasti aku akan melakukan hal yang sama bahkan mungkin lebih" jawab Lily santai.


Emma pun mengangguk tanda setuju dengan pemikiran Lily.


“Aku dari taman belakang sekolah” jawab Elle.


“K-kau apa? Dari taman belakang sekolah?” tanya Stella lagi dan Elle langsung mengangguk.


“Eh, bukannya kita juga kesana tadi tapi langsung dihadang oleh bodyguard berbadan besar-besar, jadi kita mana berani menerobos” ucap Emma.


“Benar, kami kira ada sesuatu disana hingga tempat itu dijaga” ucap Lily.


“Iya, tapi bagaimana kamu bisa disana Elle? Tempat itu kan dijaga?” tanya Stella lagi, dan Elle hanya mengedikkan bahu saja membuat ketiga temannya bingung.


“Sudahlah, yang penting Elle sudah disini. Kita keluar yuk siapa tahu orangtua kita sudah datang” ajak Lily.


Di koridor Elle dan ketiga temannya berdiri menunggu kedatangan orangtua mereka masing-masing, dan entah angin darimana Amel dan Sarah berani bergabung dengan mereka setelah apa yang terjadi tadi pagi di kantin.

__ADS_1


Awalnya Lily dan Emma sangat menolak keras kehadiran dua cewek itu bahkan mengusir mereka dengan kasar, tetapi kedatangan Alvaro dan teman-temannya membuat mereka langsung diam apalagi saat melihat tatapan tajam Alvaro.


“Al, mereka sepertinya tidak menyukai kedatangan kami, padahal Sarah hanya ingin minta maaf tentang tadi pagi” ucap Amel lembut dengan nada suara sedih.


“Apa lihat-lihat hah!” ketus Lily pada Alvaro yang melihat mereka dengan pandangan tajam.


“Biarkan mereka berdua disini, lagipula mereka hanya ingin meminta maaf” ucap Alvaro datar.


“Minta maaf dengkulmu! padahal dari tadi mereka hanya diam saja sejak tadi! Lalu tiba-tiba mengadu saat kalian datang. Mau cari perhatian, maaf disini bukan tempat untuk spesies yang punya banyak muka” sinis Lily.


Amel dan Sarah diam-diam mengepalkan tangan mereka menahan emosi.


“Sudah, kita jangan ribut disini apalagi kita sudah jadi tontonan oleh yang lain” tegur Felix dan mereka pun diam tak berdebat lagi.


“Lama banget, ini mami lagi kemana sih?” gerutu Stella tak sabar.


“Sabar Stella, mungkin mami kamu kena macet di tengah jalan” ujar Felix.


“Atau mami kamu lagi dandan berjam-jam sama sepertimu” sahut Emma.


“Iiih Em, nggak gitu juga kali” dengus Stella kesal.


Sedangkan Elle hanya fokus pada ponselnya yang sedang mengirimkan pesan pada sang paman jika dia sudah menunggu di koridor, dan jangan lupakan pesan dari Theo yang terus menyuruh Elle untuk jaga jarak dari para pria terutama Alvaro dan William.


“Yaa siapa tahu kan, seorang anak pasti akan menuruni sifat orangtua nya. Sama sepertimu kalau dandan sangat lama, bahkan aku sampai pernah ketiduran menunggumu” ujar Emma, sambil menatap kedatangan seorang wanita dengan pakaian modis dan make up naturalnya.


Cantik sih namun entah mengapa melihat wajahnya aku tidak suka pikir Emma bahkan yang lain pun berpikiran seperti itu.


Bahkan mereka semua juga menatap pada wanita itu yang berjalan dengan gaya anggun namun terlihat kesombongan di raut wajah wanita itu, dia berjalan ke arah tempat mereka berdiri.


“Amel sayang” panggil wanita itu, Amel membalas dengan tersenyum manis padanya.


“Mommy” ucap Amel.

__ADS_1


Pantas saja ternyata spesies yang sama


batin mereka.


__ADS_2