
Bahkan di mansion mereka pun kedua barang itu paling hanya ada tiga atau yang paling banyak hanya lima buah saja yang berhasil mereka miliki karena begitu mahal dan edisi terbatas yang dibuat oleh tempat produksinya.
Elen langsung menutup mulutnya terkejut, “astaga sayang ini berlebihan sekali tapi terima kasih ya, hadiahnya sangat aunty suka.” Ucap Elen tersenyum.
“Syukurlah aunty menyukainya. Kalau aunty suka Elle bisa bawakan lagi untuk aunty lagipula di rumah, daddy masih memiliki banyak” ucap Elle polos, membuat mereka yang mendengarnya semakin menganga tak percaya.
Elen dan Edward langsung berwajah cengo, menganga tak percaya. Sekaya apa teman putrinya ini hingga bisa memiliki barang-barang yang sangat mahal ini pikir mereka.
“Hahaha, tidak perlu sayang ini sudah cukup kok” ucap Elen dengan tertawa canggung.
“Sudahlah papi mami ayo kita ke ruang makan, aku sudah sangat lapar dan juga Elle pasti capek jika diajak mengobrol berdiri terus disini,” timpal Emma cemberut melihat keterkejutan kedua orang tuanya yang berlebihan. Apalagi kakinya juga sudah pegal karena berdiri terus.
“Astaga maaf sayang, ayo Elle kita makan malam bersama sekarang,” ajak Elen menuju ruang makan diikuti yang lainnya.
Mereka pun duduk di kursi masing-masing yang di depan mereka sudah tersaji berbagai macam hidangan lezat di atas meja makan yang disiapkan tadi oleh para maid.
“Semoga Elle suka, aunty hanya bisa menyiapkan makanan sederhana ini. Dan ini semua adalah masakan aunty sendiri lho, yaah dengan sedikit bantuan dari pelayan juga,” ucap Elen tertawa kecil.
Sederhana? Bahkan mami hampir menghabiskan semua bahan masakan yang ada di dapur untuk dimasak semuanya sekarang batin Emma dan Sam tak percaya.
“Terima kasih aunty, Elle jadi tidak sabar untuk mencobanya.” Ucap Elle antusias dengan mata hijau emeraldnya yang berbinar.
“Tentu saja sayang, ayo cepat dimakan ya” ucap Elen sambil mengambilkan berbagai macam lauk yang ada di atas meja ke piring Elle hingga hampir penuh.
Apa aku bisa menghabiskannya batin Elle ragu.
“Mmm sudah cukup aunty, ini sudah terlalu banyak” ucap Elle tersenyum walau dalam hatinya meringis kecil dengan begitu banyaknya makanan di atas piringnya.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, makanlah yang banyak Elle” timpal Edward sambil menyuap makanannya.
“Ekhem, setelah ketemu Elle anak sendiri dilupakan” sindir Emma, membuat Sam menahan tawa.
“Mami sudah puas lihat kamu, sekarang mami ingin manjain Elle juga.” Ucap Elen menghiraukan tatapan kesal Emma.
Sedangkan Edward dan Sam hanya tertawa melihat tingkah Emma, benar-benar berbeda jika saat di luar. Mungkin bukan hanya Emma, Sam juga sangat berbeda jika bersama keluarganya terlihat sedikit kalem walau jahilnya masih ada.
“Sabar adikku yang manis, biar kakakmu yang tampan ini melayani mu” ucap Sam sambil menaruh brokoli di piring Emma, padahal dia tahu Emma paling tidak suka dengan sayuran yang satu itu.
“Kakak, jangan jahil deh. Makan tuh yang ada di piring kakak saja” kesal Emma menaruh kembali brokoli itu ke piring Sam.
“Sudah, ayo kembali makan” ucap Edward melerai perdebatan kedua putra dan putrinya.
Mereka pun kembali melanjutkan pembicaraan, bercengkerama dan saling bercanda di ruang tengah setelah selesai makan malam hingga sampai jam sembilan malam Elle bersiap untuk pulang.
Awalnya Elle terus dibujuk agar menginap di mansion Anderson oleh Jane dan Emma namun karena keluarganya tidak mengizinkan, Elle pun dibiarkan pulang dengan berat hati oleh mereka dengan syarat Elle akan sering bermain ke mansion Anderson dan Elle pun menyanggupinya.
Elle tiduran di ranjangnya dengan telentang menatap langit kamar dengan tatapan kosong. Dia masih memikirkan bagaimana dan dimana tempat ia mencari jawaban dari semua pertanyaan tentang dirinya.
Apakah ia seorang peri seperti di buku atau seorang elf seperti di film tapi semua ciri-ciri mereka memang ada pada Elle. Tapi itu masih belum bisa membuat Elle puas karena ia yakin masih ada banyak rahasia yang ada pada dirinya dan harus ia ungkap segera.
Karena lelah memikirkan semuanya, Elle pun tanpa sadar perlahan tertidur terlelap.
Keesokan harinya, Elle terbangun dari tidur kemudian beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi, setelah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe lalu melangkah ke arah walk in closed untuk memakai seragam.
Setelah melakukan rutinitas setiap paginya Elle langsung menuju lift karena malas lewat tangga untuk ke lantai bawah. Ikut bergabung sarapan bersama keluarganya dengan diselingi candaan yang membuat suasana pagi semakin hangat.
__ADS_1
Elle mengelap bibirnya dengan sebuah serbet yang sudah ada di pangkuannya. “Aku sudah selesai, Vivi berangkat dulu ya. Bye semuanya” ucap Elle lalu pergi setelah sempat berpamitan pada keluarganya.
“Hati-hati sayang” ucap mereka hampir bersamaan.
Sesampainya di sekolah, Elle berjalan sendirian di koridor yang cukup sepi karena hanya sedikit murid yang sudah datang ke sekolah.
Elle berjalan melewati beberapa ruangan kelas menuju perpustakaan sekolah.
Di dalam perpustakaan cukup sepi hanya sedikit murid yang datang membaca atau pun hanya sekedar menumpang tidur. Elle berjalan perlahan sambil melihat sekelilingnya sembari menatap buku-buku yang berbaris rapi di lemari.
Di tangannya sudah ada empat buah buku dengan tema yang sama yaitu makhluk mistis, walaupun hanya cuma buku cerita itu sudah cukup penting untuk Elle karena dengan membaca berbagai cerita dia bisa lebih mengenal makhluk-makhluk mistis yang ada di bumi ini yang mungkin hanya di anggap mitos oleh manusia. Tapi Elle bisa merasakan kalau keberadaan mereka itu memang nyata, seperti dirinya.
Setelah puas berjalan mengelilingi perpustakaan mencari buku yang ia butuhkan, Elle duduk di sebuah kursi dan meja panjang yang sudah disiapkan di sana sambil menaruh buku yang dia bawa tadi ke atas meja lalu membaca buku itu satu persatu hingga beberapa saat kemudian datang Emma, Lily dan Stella memasuki perpustakaan dengan heboh.
Dari arah pintu perpustakaan Lily berlari menuju Elle, “Elle, kenapa kamu sembunyi disini tidak bilang-bilang!?” Panggil Lily heboh.
“Dilarang berisik di dalam perpustakaan!” tegur seorang wanita dewasa sang penjaga perpustakaan saat mendengar suara Lily yang begitu heboh.
Lily hanya menyengir lucu mendapat teguran itu. “Hehehe maaf Miss Bona.” Ucap Lily sambil menatap penjaga perpustakaan itu.
“Jika kalian hanya datang untuk membuat keributan di sini, lebih baik kalian keluar.” Ucap Miss Bona tegas.
“Tidak Miss, kami kesini ingin membuat tugas kelompok saja kok” ucap Lily berbohong.
“Awas saja, jika kalian membuat keributan lagi aku usir kalian bertiga” ancam Miss Bona sambil menunjuk Emma, Lily dan Stella.
“Lho terus Elle tidak ikut diusir juga Miss, dia kan teman kita juga” ceplos Stella.
__ADS_1
“Kalau untuk Ellevia dia pengecualian tidak seperti kalian” ucap Miss Bona lalu pergi meninggalkan Emma, Lily dan Stella dengan wajah bengong.
“Ckckck, benar-benar pilih kasih sekali” ucap Stella menggeleng pelan tak habis pikir.