
Sesampainya di rooftop mereka melihat Alvaro dan teman-temannya yang sudah berganti seragam sedang duduk dengan kesibukan masing-masing.
Kedatangan Elle, Lily, Emma dan Stella membuat perhatian mereka teralihkan.
“Aduh, Elle cantik perhatian sekali sampai bawa makanan dan minuman segala, sudah cocok menjadi calon istri Samuel yang tampan” ucap Sam memuji diri sendiri, tidak menyadari dua tatapan mengerikan ke arahnya.
“Siapa juga yang bawain ini untuk kamu percaya diri sekali, kalau mau beli sendiri sana,” sinis Lily pada Sam.
“Hahaha kocak,” ejek Felix pada Sam mendengar ucapan Lily diikuti tawa Stella.
Menghiraukan percakapan yang unfaedah itu setelah menaruh minuman dan sandwich yang ia bawa, Elle duduk di sofa single dekat pembatas rooftop lalu meminum susu madu yang dia bawa juga tadi sambil melihat perdebatan antara Sam dan Lily serta Felix yang masih berlanjut.
Melihat pipi mulus Elle yang menggembung saat sedang minum membuat ia terlihat semakin imut di mata Alvaro dan William.
****, dia sangat menggemaskan batin Alvaro.
Viviku masih tidak berubah dari dulu tetap menggemaskan batin William.
“Selamat untuk kalian karena memenangkan pertandingan tadi, kalian hebat.” Ucap Elle setelah menghabiskan minumannya dan kembali membuka susu madu satunya yang akan ia minum juga.
“Astaga, sampai lupa tujuan aku ke sini” ucap Lily sambil menepuk jidatnya “selamat kalian telah memenangkan pertandingan! Aku bangga menjadi supporter kalian, tidak sia-sia aku capek bersorak tadi di lapangan hingga suaraku hampir hilang. Oh iya jangan lupa traktir juga ya” lanjutnya sambil menaik turunkan sebelah alisnya.
"Lah kok kebalik sih, yang seharusnya kan kamu yang mentraktir kita Ly” bantah Sam tak terima.
“Makan tuh traktiran, udah aku bawain juga ya giliran kalian lah.” Balas Lily sambil menunjuk minuman dan sandwich yang mereka bawa tadi.
“Kalau ini sih mana cukup kita” ikut Felix bersuara.
“Aku yang traktir.” ucap Alvaro dan William bersamaan.
“Wih, kalau ini sih jelas aku mau” timpal Felix.
“Kalian sudah miskin ya,” julid Stella.
“Heh, enak aja mau ku perlihatkan blackcard limited edition ku hmm.” Ucap Sam sombong.
“Kalau ada yang gratis kenapa harus ditolak, benarkan?” timpal Felix sambil merangkul pundak Sam.
“Ayo kita party!!” sorak Sam heboh.
Pletakk
“Sakit bodoh!” umpat Sam merasa sakit di belakang kepalanya akibat pukulan Lily.
__ADS_1
“Makanya jangan berteriak berisik sialan!" ucap Lily kesal karena teriakan Sam tepat di sebelah telinganya.
"Ekhem, bagaimana kalau nanti pulang sekolah kita ke mall hangout bareng. Mumpung si dua kutub utara lagi dalam mode baik,” ucap Lily lagi.
“Tidak bisa” ucap Emma dan Stella bersamaan.
“Yaah, kalian kok gitu sih?” tanya Lily.
"Iya, mumpung ada yang gratisan ini. Kenapa kalian tidak ikut saja?" tanya Felix heran.
“Karena aku, Elle dan Emma ada tugas kelompok hari ini apalagi besok harus langsung dikumpulkan jadi sepertinya kami tidak bisa ikut” jelas Stella.
“Tunda saja, biar weekend kita pergi bersama” ucap William.
“Oh benar juga” timpal Sem.
“Setuju.” Ucap Felix sedangkan yang lainnya menganggukkan kepala kecuali Elle yang masih bingung bagaimana caranya meminta izin pada keluarganya. Mungkin besok saja cari solusinya pikir Elle.
Di dalam sebuah mobil merah yang melaju, Stella tak berhenti berbicara serta Emma yang sedang fokus menyetir sedangkan Elle hanya melihat ke luar lewat jendela kaca mobil memperlihatkan gedung-gedung tinggi.
Mereka baru pulang hampir malam setelah dari perpustakaan negara mencari referensi untuk tugas kelompok mereka disana.
“Eh ini perasaanku atau tidak, sepertinya dua mobil di belakang terus mengikuti kita” ucap Emma secara tiba-tiba.
Elle yang mendengar itu segera menolehkan kepalanya ke belakang dan benar saja ada dua mobil yang sedang mengikuti mereka entah apa maksudnya tapi yang jelas firasatnya mengatakan bahwa itu tidak baik.
“Emma, tambah kecepatan!” perintah Elle.
“Oh astaga” lirih Stella ketakutan.
Emma dengan segera mempercepat laju mobilnya beruntung ia lumayan hebat dalam menyetir.
Dua mobil di belakang semakin terang-terangan mengikuti mereka dan beberapa kali mobil itu menabrak mobil Emma.
Emma dengan cepat berbelok saat mobil hampir menabrak pembatas jalan lalu kembali melajukan mobilnya.
Ckiit!
Emma mengerem mendadak saat satu mobil hitam tersebut menghadang jalan di depannya. Tak lama keluarlah empat pria berbadan besar menghampiri mobil Emma.
“Turun!” salah satu pria berbadan besar itu mengetuk kaca mobil dengan kuat.
“Guys, a-aku takut” ucap Stella dengan tubuh gemetar.
__ADS_1
“Stella, tenanglah oke. Astaga ponselku dimana sih” kesal Emma sambil menggeledah tasnya beruntung ia menemukan ponselnya dan langsung menelepon seseorang untuk meminta bantuan.
“Kak El tolong, kami di cegat orang di tengah jalan.” Ucap Emma memotong ucapan seseorang di seberang sana.
“Kirim kan lokasimu sekarang!” Ucap orang itu lalu mematikan sambungan telepon.
Setelah sambungan telepon terputus Emma langsung mengirimkan lokasinya sekarang kepada orang yang di telepon tadi.
Dan berharap orang itu segera datang sebelum terjadi sesuatu pada mereka bertiga.
Elle yang melihat itu berniat untuk turun karena ia tahu kedua temannya sudah bergetar ketakutan. Dan menunggu saja datangnya bantuan tidak akan membuat pria-pria besar itu untuk berhenti.
“Aku akan turun, jika ada kesempatan kalian pergilah” ucap Elle sambil akan membuka pintu mobil tapi di cegah Emma.
“Are you crazy. Elle, kamu tidak mungkin bisa menghadapi mereka semua sekaligus” ucap Emma.
“Awas!!” teriak Stella melihat salah satu pria itu akan menghancurkan kaca pintu mobil dengan sebuah kayu.
Dengan keras Elle menendang pintu mobil yang sudah sedikit terbuka membuat pria itu terpental jatuh ke tanah dengan keras.
Menghiraukan panggilan Emma dan Stella, Elle pun turun dari mobil.
“Ingat, jangan keluar dari mobil apa pun yang terjadi dan jika ada kesempatan kalian segera pergilah.” Perintah Elle dengan nada serius, sedangkan Emma dan Stella sudah menangis mengkhawatirkan Elle yang keluar sendirian.
Elle melangkah dan langsung berhadapan dengan tujuh orang pria berbadan besar itu.
Tanpa aba-aba pria-pria tersebut menyerang Elle sehingga mau tak mau ia harus melawan mereka.
Dengan gesit Elle menghindari tinjuan salah seorang dari mereka dan dengan berjongkok dan langsung mengambil kayu yang jatuh tadi untuk membalas dan memukul tepat mengenai kepala pria itu dengan keras hingga tumbang.
Dan Elle pun kembali melawan mereka semua hanya dengan memanfaatkan sebuah kayu yang sudah patah.
Bugg
Brakk
Arghhh
Suara jeritan dan pukulan memecah kesunyian di jalanan tersebut. Elle terus berusaha melawan walau tak seimbang, bayangkan seorang gadis melawan tujuh orang itupun seorang pria berbadan besar semua.
Sedangkan Emma dan Stella terkejut melihat kehebatan Elle dalam melawan pria-pria itu. Sehebat apakah Elle dalam bela diri sehingga bisa menyeimbangi lawannya.
Elle juga mendapat beberapa pukulan di beberapa tubuhnya termasuk pipinya hingga meninggalkan memar yang membengkak. Aku harus bisa bertahan batinnya.
__ADS_1