The Elves Secret

The Elves Secret
04. Caldwell Mannor


__ADS_3

Bandara Internasional negara A, kota N.


Elle beserta kedua orang tuanya akhirnya sampai di negara A tepatnya di kota N setelah menempuh perjalanan panjang menggunakan pesawat pribadi. Mereka keluar bandara lewat pintu khusus, sebuah mobil Alphard Vellfire sudah menunggu saat mereka sampai di luar bandara. Terlihat Harris dan empat bodyguard berdiri di samping mobil dan dengan sigap Harris membuka pintu mobil untuk David dan keluarganya.


Perjalanan menuju Caldwell Mannor begitu memakan cukup banyak waktu. Sesampainya di daerah tempat pemukiman elit Circle Gold, mobil pun memasuki gerbang utama Caldwell Mannor lalu melewati lapangan hijau dan taman bunga yang cukup luas hingga sampailah di depan mansion mewah.


Elle serta kedua orang tuanya pun keluar dari mobil dan melihat beberapa pelayan dan penjaga berbaris menyambut kedatangan mereka. Elle menghela nafas gugup karena sedari bandara sudah banyak orang yang menyambut kedatangan mereka apalagi ini pertama kalinya ia bepergian jauh dari Villa.


Mereka pun berjalan masuk ke dalam mansion. “Oh cucu kesayangan nenek sudah datang, kemarilah nenek sangat merindukanmu” ucap Hannah sang nyonya besar Caldwell sambil merentangkan tangannya.


“Nenek” Elle berlari kecil dan langsung memeluk Hannah.


Lalu ia beralih menatap Ibram kakeknya “Vivi juga merindukan kakek” dan langsung memeluk Ibram, “oh cucu kakek semakin besar saja” balas Ibram memeluk Elle sang cucu tersayang.


“Apa perjalanannya melelahkan sayang?” tanya Hannah.


“Mmm tapi menyenangkan.” Jawab Elle dengan riang.


“Sepertinya tidak ada yang merindukan paman” potong Jack dengan suara merajuk agar mendapat perhatian dari keponakannya.


“Daddy udah tua tidak ada yang akan mau merindukanmu” timpal Allan.


“Heh. Daddy masih tampan ya, di luar sana masih banyak kok yang mau sama Daddy.”


“Maunya sama duit daddy doang” sambung Allan dengan wajah tengilnya.


“Sudah, menunggu kalian berdebat pasti tidak akan selesai-selesai. Al sekarang antar Vivi kek kamarnya ya untuk istirahat.”


“Baik nek.” Kedua anak itu pun berjalan menuju lift untuk naik ke lantai dua tempat kamar Elle.


“Kalian berdua juga istirahatlah perjalanan jauh pasti membuat kalian lelah”


“Baiklah dad, kami ke kamar dulu” ucap Monica.

__ADS_1


“Dave, ada yang ingin ku bicarakan nanti. Ku tunggu di ruang kerjamu.” Pinta Jack.


“Baiklah.” David dan Monica pun berjalan masuk ke dalam lift menuju lantai dua meninggalkan kedua orang tuanya beserta adiknya yang masih duduk di sofa ruang tengah.


Mansion utama keluarga Caldwell sangat besar dan mewah bergaya modern classic terdiri dari tiga lantai. Dan hanya di lantai dua dikhususkan tempat kamar semua anggota keluarga Caldwell. Dan untuk kamar pelayan dan penjaga sudah terdapat villa yang berdiri tak jauh dari mansion utama.


Terlihat dua pria dewasa duduk saling berhadapan di sebuah ruangan, mereka adalah David dan Jack.


“Apa kau sudah menemukan keberadaannya?”


“Belum orang yang kita tangkap itu hanya suruhannya, dia sangat hebat dalam bersembunyi. Kau tahu kan hanya dia yang selalu mengincarmu dan aku tahu selama ini kau juga mencarinya sejak kejadian itu” terang Jack


“Tidak masalah jika dia menargetkanku tapi yang aku takutkan jika dia mengetahui tentang Vivi, sudah cukup aku kehilangan anakku dulu aku tidak ingin kehilangan Vivi juga” terselip nada khawatir dari ucapan datar David.


“Karena itulah aku berpikir ingin mempersiapkan Vivi dari sekarang agar ia juga bisa menjaga dirinya, sama seperti Allan agar bisa juga menjaga adiknya dan aku sudah mempersiapkan beberapa penjaga bayangan di sekitar mereka.”


“Aku percayakan semua itu padamu.” Ucap David memegang pundak Jack.


Sedangkan di kamarnya, Elle masih berdiri di balkon sambil memandang ke arah bulan. Perlahan ia memejamkan mata beberapa saat kemudian membukanya terlihat netra hijau emeraldnya lebih bersinar dan cahaya samar berwarna biru muncul di belakang punggungnya.


"Ternyata masih belum saatnya” gumamnya lirih sambil memandang langit.


Tujuh tahun sudah berlalu, seorang gadis remaja dengan rambut peraknya yang panjang diikat ekor sedang terlibat perkelahian dengan seorang pria tampan di tengah ring tinju di dalam ruangan luas. Dengan gerakan gesit dan lincah mereka saling bertarung.


“Akhh.” Pekik Elle sambil memegang perutnya yang baru saja terkena pukulan dari Allan.


Elle kembali menegakkan tubuhnya bersiap mengarahkan pukulan serta tendangan pada Allan. Tidak ada yang mau mengalah, keduanya kembali terlibat pertarungan sengit Elle lengah hingga terhuyung setelah mendapat tendangan pada perutnya lagi.


“Awwh...” Ia menunduk sambil memegangi perutnya yang sekarang bergejolak karena merasa mual.


“Cukup.” Jack yang sedari tadi menonton terdengar bersuara.


Allan yang menjadi lawan Elle menepuk lembut kepala Elle, “Sudah lumayan sweetie, kamu hebat.”

__ADS_1


“Kak Allan harus tanggung jawab! perutku mual!” ujar Elle.


“Nanti aku traktir ice cream dan susu madu” celetuk Allan.


Elle menatap Allan sambil mendengus tapi terlihat netra hijaunya berbinar .”Aku bukan anak kecil lagi, tapi baiklah awas saja kalau bohong aku ingin ice cream dan susu madu yang banyak.”


Allan dan Jack hanya mengulum senyum mendapati wajah Elle yang menggemaskan.


“Aku kembali ke kamar dulu membersihkan diri, hari ini aku ada jam kuliah.” Sambil melirik jam di pergelangan tangannya lalu pergi setelah sempat mencium pipi Elle dan berjanji akan membawakan keinginan Elle nanti saat pulang.


“Astaga, itu anak langsung main pergi aja. Dia anak siapa sih” gerutu Jack. Sedangkan Elle hanya terkikik kecil melihat pamannya menggerutu.


Elle duduk di dekat Jack, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil mengusap peluh keringat dengan handuk kecil. Hampir setiap hari ia mendapatkan pelatihan baik menggunakan senjata ataupun tangan kosong, ini sesuai permintaan David agar Elle dapat menjaga keselamatan dirinya sendiri.


Ia pun juga tidak keberatan mendapatkan pelatihan ini karena cukup menyenangkan dan apalagi dia yang seorang putri dari keluarga terpandang akan sangat mudah menjadi target musuh keluarganya, jika suatu saat dirinya sudah diperkenalkan pada publik oleh orang tuanya.


Tapi beberapa tahun ini sudah tersebar kabar David mengadopsi seorang putri namun identitas Elle ditutupi oleh keluarganya dari mulai wajah hingga nama. Dengan begitu banyak kabar burung yang tersebar bagaimana rupa putri bungsu keluarga Caldwell.


“Kau masih kurang berkonsentrasi saat menerima serangan Elle. Tempo seranganmu pada lawan juga masih lamban.” Komentar Jack.


“Iya paman, aku akan berusaha lebih giat lagi.” Jack mengacak-acak rambut perak Elle dengan gemas.


“Paman.” Elle mencebikkan bibir sembari membuka ikatan rambutnya yang berantakan karena ulah Jack.


“Sudah, ayo kembali nanti paman diomeli karena memonopoli dirimu.”


“Itu kan urusan paman sama kakek dan nenek.”


“Itu karena dirimu yang menggemaskan sayang” ucap Jack mencubit pipi tembem Elle hingga memerah.


“Paman, awas saja aku aduin nanti sama nenek.” Ancam Elle sambil berlari mengejar pamannya.


Para bodyguard dan pelayan tersenyum dan sudah biasa melihat interaksi lucu keluarga itu sejak kedatangan Elle ke mansion ini apalagi terkadang mereka juga sering bermain bersama sang nona muda Caldwell.

__ADS_1


__ADS_2