
“Ya iyalah Elle kan permata Harvest yang berharga selain cantik dia juga pintar dan cerdas, favorit semua guru lagi. Tidak ada yang bisa menandingi Elle.” ucap Lily bangga. Benar-benar Lily simbol dari sahabat impian.
Lily selalu merasa bangga karena memiliki
Elle sebagai sahabatnya karena dia sangat mengagumi Elle sejak pertama kali dia berkenalan dengan Elle waktu di kantin. Melihat sikap dewasanya yang tenang juga parasnya yang cantik bahkan mungkin jika dia seorang lelaki, dia juga akan langsung jatuh cinta pada pesona Elle karena itulah yang juga Lily lihat pada diri Alvaro sekarang.
“Kalian sudah selesai bicaranya.” Ucap Elle tiba-tiba sambil menatap Lily, Emma dan Stella tajam karena telah mengganggunya yang sedang fokus membaca.
Mungkin bukan hanya Elle saja karena murid-murid lain yang sedang membaca di perpustakaan juga merasa terganggu tapi tidak ada yang berani menegur. Siapa yang berani menegur para primadona sekolah, apalagi Emma yang sudah mereka ketahui sebagai putri bungsu keluarga Anderson ditambah dengan Lily mana ada yang berani kecuali mereka yang setara dengan kepopuleran dan kekayaan kedua putri konglomerat itu.
“Hehehe sorry Elle, jangan natap kita kayak gitu ih serem tahu seperti si kulkas berjalan saja” ucap Lily tertawa kaku sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Elle mengerutkan alisnya bingung. “Siapa itu kulkas berjalan?” tanyanya.
“Yah siapa lagi kalau bukan si Alvaro” bukan Lily yang menjawab tapi Emma.
“Ohh.” Jawab Elle singkat lalu kembali membaca buku.
“Kamu membaca buku apaan sih Elle, kenapa serius sekali?” tanya Emma sambil membuka salah satu buku di atas meja. “ Makhluk Tersembunyi Dalam Bumi, ternyata kamu suka yang mistis ya?” tanya Emma setelah membaca judul buku itu..
“Mmm ya, aku suka membaca buku yang bertema mistis” jawab Elle asal.
“Eh sepertinya bel masuk berbunyi, ayo kita ke kelas nanti kita dapat hukuman jika masuk terlambat apalagi jam pertama adalah mata pelajaran Miss Laura” ucap Emma setelah jam mata pelajaran nanti.
Stella pun langsung mengangguk. “Benar sekali, bisa lelah batin lelah fisik kita jika mendengar ceramah panjang nan lebar dari Miss Laura apalagi jika ditambah dengan hukumannya. Wow, siksa manakah yang paling menyakitkan” ucap Stella dramatis.
Mereka bertiga pun kembali ke kelas kecuali Lily yang berjalan ke arah lain menuju kelasnya sendiri, karena Lily akan pindah ke kelas XI IPA2 besok tempat kelasnya Elle dan juga kedua temannya setelah dia mendapat persetujuan dari orang tuanya yang masih berbicara dengan kepala sekolah.
__ADS_1
Sebelum keluar dari perpustakaan Elle juga meminjam keempat buku yang ia ambil dan baca tadi untuk dibawa pulang selama dua minggu dan akan dikembalikan setelah ia puas membacanya.
Selama jam pembelajaran mereka semua fokus menatap ke depan dimana Miss Laura menjelaskan di depan papan tulis, selain takut terkena hukuman dari sang guru killer itu mereka juga takut akan mendapatkan nilai jelek dalam ujian nanti.
Setelah bel istirahat berbunyi, di sinilah Elle duduk sendirian di bangku lebih tepatnya di bangku penonton. Elle menolak ikut dengan Emma dan Stella menuju kantin karena saat ini ia butuh untuk sendirian agar bisa lebih berpikir dengan tenang. Jika dia curhat pada ketiga temannya pun itu tidak mungkin karena ini berhubungan dengan jati dirinya.
Apalagi beberapa hari ini setelah dia melatih kekuatannya beberapa kali Elle merasa dirinya sedikit berbeda. Tapi dia tidak tahu apa yang berubah dalam dirinya.
Elle melamun menatap depan lapangan basket yang kosong, kakinya berjalan melangkah turun ke arah lapangan lalu meraih bola basket yang berada di pinggir lapangan.
Tangannya dengan lihai mendribbel bola basket itu, mengangkat bola itu ke atas lalu melemparnya ke arah ring dan bola basket itu pun tepat sasaran memasuki ring.
Elle tersenyum tipis melihat itu apalagi saat mengingat waktu dia kecil, Allan dulu yang selalu berada di sampingnya dan mengajarinya dengan sabar cara bermain basket. Apalagi jika saat dia bosan selalu di dalam mansion, Allan akan mengajaknya bermain basket di lapangan pribadi kawasan Mannor Caldwell hingga sore. Menyemangatinya kala ia merasa kesal saat lemparannya tidak memasuki ring.
Dia jadi merindukan kakaknya itu, apalagi sekarang Allan sering pulang terlambat karena fokus membuat tugas skripsi sehingga mereka jarang ada waktu bersama.
“Al,,,” ucap Elle.
“Mau tanding ga?” tawar Alvaro masih memainkan bola di tangannya. “Yang menang bisa meminta satu permintaan” sambungnya lagi.
Elle masih diam namun dalam pikirannya sedikit tertarik dengan tawaran tersebut. Menarik juga batinnya.
“Oke.” Jawab Elle mengangguk pelan.
Keduanya berjalan ke tengah lapangan, lalu mengambil posisi masing-masing. Setelah keduanya siap, Alvaro langsung melambungkan bola ke atas.
Dengan cepat Elle melompat mengambil bola dan mendribbel nya ke depan mencoba menuju ke arah ring agar lebih dekat dengannya.
__ADS_1
Elle sedikit kesulitan saat Alvaro mencoba mengecohnya, Elle melompat tinggi lalu melempar bola dan itu tepat memasuki ring. Alvaro yang melihat itu tersenyum tipis lalu mengambil bola dan pertandingan pun kembali berlanjut dengan skor yang saling mengejar.
Di kantin Emma, Lily dan Stella sedang fokus makan makanan mereka diselingi celotehan dari Stella. Sedikit bosan memang karena Elle tidak ikut ke kantin, tapi perhatian mereka terusik karena keributan murid-murid lain yang tiba-tiba heboh berlari keluar dari kantin, entah apa yang mereka kejar.
“Ini ada apa sih?” tanya Stella penasaran.
“Jangan tanya aku, mana aku tahu” jawab Emma santai.
“Kalian dengar, mereka bilang ada pertandingan seru di lapangan basket. Mau lihat nggak?” tanya Lily menatap Emma dan Stella.
Stella mengangguk “boleh, aku penasaran juga.”
Lily berdiri lalu menarik tangan Emma dan Stella berjalan keluar kantin menuju lapangan outdoor, namun tidak mereka saja yang penasaran bahkan beberapa murid lain juga langsung keluar dari kantin. Sesampainya di lapangan, terlihat ada banyak murid-murid berkerumun di pinggir lapangan sambil berteriak heboh.
“Wow rame sekali disini.” Ucap Lily melihat sekeliling lapangan.
Lily, Emma dan Stella berjalan mendekati lapangan, seakan paham dengan situasi beberapa murid yang sedang menonton membuka jalan untuk ketiga gadis yang sangat terkenal di sekolah Harvest itu.
Emma, Stella dan Lily terkejut di tempat melihat Elle dan Alvaro sedang bertanding basket, terlihat seperti pertandingan profesional menurut mereka.
“Aku sebenarnya sudah lelah terkejut karena semua kejutan dari Elle.” Lily menatap Elle di depan sana, “tapi, bagaimana bisa Elle memiliki kemampuan sehebat itu!? Setelah cerdas dalam pelajaran dia juga hebat dalam bela diri lalu bermain basket, apa dia menyemil bermacam buku setiap hari. Terus apalagi setelah ini!?” ucap Lily heboh.
Jika diingat-ingat sejak pertama kali Elle masuk ke sekolah ini terlalu banyak kehebohan yang sering terjadi karena Elle. Setelah parasnya, kepintarannya lalu sekarang kemampuannya.
Ini masih belum semuanya, masih ada kejutan yang lain lagi menunggu untukmu Ly batin Emma dan Stella.
“Betul sekali, lama-lama aku pikir Elle bukan manusia saja. Karena Elle sudah mendekati sempurna melebihi seorang manusia,” gumam Emma ngelantur.
__ADS_1