
Allan langsung menoleh ke arah sang kakek yang berjalan ke arahnya. Ibram berhenti di depan Allan dan langsung memukul belakang kepala Allan.
Plakk
“Oh c’mon grandpa, jangan panggil aku bocah” ucap Allan menatap kesal kakeknya sambil mengusap belakang kepalanya yang terasa sakit.
Padahal dia sendiri yang lebih dulu memanggil kakeknya tua walau memang benar adanya sih. Tapi tetap saja tidak sopan kan.
“Nenek bawakan kue madu kesukaan Vivi” ucap Hannah pada Elle yang sedang duduk dan menaruh kue yang dia bawa di atas meja, menghiraukan perdebatan Ibram dan Allan yang masih berlanjut.
“Thank you grandma” jawab Elle, saat akan memasukkan kue itu ke dalam mulutnya perhatiannya tak sengaja terarah pada bunga mawar putih yang terlihat mati karena patah.
“Ada apa sayang?” tanya Hannah saat melihat Elle yang tidak fokus.
Elle yang ditanya hanya diam dan tiba-tiba berdiri melangkah ke arah bunga mawar yang menjadi perhatiannya diikuti Ibram, Hannah dan Allan di belakangnya berjaga-jaga khawatir jika Elle kembali seperti malam itu.
Elle sedikit berjongkok di dekat bunga itu dan memegang tepat di batangnya yang patah, muncul cahaya biru dari genggaman tangan Elle mengalir ke arah batang bunga yang membuat bunga itu perlahan-lahan kembali tumbuh dengan bunganya yang bermekaran segar. Mereka yang melihat kejadian itu secara langsung takjub dengan keajaiban itu.
“Kekuatan ini tidak boleh diketahui oleh siapapun jika tidak Vivi mungkin akan dalam bahaya” gumam Ibram tapi masih di dengar oleh Allan dan Hannah begitu juga Elle.
“Kekuatan besar akan memiliki tanggung jawab yang besar pula dan juga akan selalu diincar oleh orang-orang serakah untuk dimanfaatkan, karena itu kekuatan Vivi harus tetap dirahasiakan,” timpal Jack yang sedari tadi berdiri diam di belakang mereka dan juga ikut melihat kejadian tadi.
“Tapi aku tidak tahu apa tujuan diriku memiliki kekuatan ini, aku bukan manusia dan bahkan tidak tahu apa diriku sebenarnya.” Lirih Elle.
“Kamu pasti akan tahu tapi mungkin belum saatnya, yang bisa Vivi lakukan sekarang hanya menunggu dan mencari jawaban dari pertanyaan mu, serta cobalah menguasai kekuatan di dalam dirimu mungkin di masa depan itu akan bermanfaat untuk banyak orang,” nasehat Ibram.
“Benar sweetie, dan apapun yang kamu butuhkan kami akan selalu ada di sampingmu” timpal Allan.
__ADS_1
“Terima kasih” ucap Elle terharu.
“Jangan berterima kasih sayang, kita adalah keluarga dan itu sudah semestinya untuk selalu menjaga princess kami” ucap Ibram.
“Selain bisa menumbuhkan tanaman apakah Vivi juga bisa menyembuhkan luka?” tanya Jack saat mengingat informasi yang diberikan dulu oleh anak buahnya tentang Elle yang terluka, karena ia yakin informasi itu tidak pernah salah apalagi informasi itu diberikan oleh anak buahnya yang paling ia percayai.
Elle pun segera mengangguk “ benar dan waktu itu aku memang pernah terluka tapi langsung sembuh saat itu juga, maaf karena berbohong saat itu aku tidak ingin membuat kalian khawatir.” Ucapnya menyesal.
“Hebat.” Komentar Allan tanpa sadar.
“Oh cucuku yang cantik sangat hebat dan menakjubkan, benar-benar limited edition” puji Hannah sambil memeluk erat Elle.
Membuat mereka disana sontak tertawa dengan kalimat terakhir Hannah yang memang benar adanya. Elle adalah satu-satunya makhluk menakjubkan yang pernah mereka lihat.
Pagi harinya, hari ini Elle akan mulai berangkat sekolah setelah empat hari tidak masuk.
Elle berjalan menuruni tangga walau terdapat sebuah lift, mungkin sekarang Elle akan sering menggunakan tangga sekedar olahraga dan akan menggunakan lift jika malas. Setelah sampai di ruang makan ia langsung ikut bergabung dengan keluarganya yang sedang sarapan.
Di koridor sekolah ia langsung di sambut pelukan hangat dari kedua temannya. “Oh Elle kami sangat merindukanmu, kau tahu sekolah terasa membosankan saat tidak ada dirimu” ujar Stella.
“Apalagi saat kita berdua diteror terus-terusan oleh si kedua Prince Ice tak lupa juga Lily yang setiap hari menanyakan keadaan mu” lanjut Stella merinding jika mengingat tatapan Alvaro.
“Hah?”
“Sudahlah, ayo masuk ke kelas” ajak Emma yang tahu akan tidak kepekaan Elle itu.
Jam istirahat pun berbunyi seperti biasa mereka sudah berada di meja kantin dan keadaan pun semakin heboh karena kedatangan Lily dan anggota Prince Harvest.
__ADS_1
“Elle!” panggil Lily lalu duduk di sebelah Elle dan langsung memegang tangannya.
“Elle untunglah kau sudah datang, kau tahu aku sudah bosan mendengar semua pertanyaan dari kedua cowok datar itu sejak kamu tidak sekolah. Apakah Elle sudah sekolah, Elle sakit apa, dan bla bla bla. Haah membosankan lebih baik mereka tetap datar saja melihat mereka cerewet seperti itu membuatku hampir jantungan, dan juga aku sangat merindukanmu.” Keluh Lily pada Elle.
Sedangkan kedua pria yang dibicarakan, Alvaro dan William hanya mencoba acuh padahal di dalam diri mereka sangat gugup tapi mata mereka tetap menatap ke arah Elle dengan wajah mereka yang sedikit memerah malu.
“Aku?” tunjuk Elle pada dirinya sendiri “aku sudah baik-baik saja, terima kasih telah mengkhawatirkan ku” ucap Elle menatap Alvaro dan William.
Sedangkan yang ditatap semakin salah tingkah. "Mmm,,," gumam Alvaro dan William hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis.
"Haaah,," Lily yang melihat itu hanya menghela nafas.
“Sudah aku bilang jika tentang itu dia tidak akan peka” ucap Emma pada Lily.
"Kenapa?" tanya Elle melihat Lily, Emma dan Stella menatapnya dengan tatapan yang tidak ia mengerti.
"Tidak apa-apa." Jawab ketiganya serempak.
“Kasihan, kalian berdua harus lebih berjuang lagi” ucap Lily sambil menepuk bahu Alvaro dan William.
“Diamlah.” Desis Alvaro dan William bersamaan, yang langsung membuat Lily terkekeh kecil.
Sedangkan yang lainnya berusaha menahan tawa takut kena amuk dua monster kecuali Elle yang sedari tadi diam dengan wajah kebingungan.
Di koridor yang cukup sepi karena sebagian murid masih berada di kantin serta jam istirahat masih cukup lama membuat mereka masih betah berlama-lama disana.
Elle berjalan sendirian untuk kembali ke kelas setelah dari toilet. Tadi ia berpamitan pada kedua temannya untuk ke toilet saat mereka baru keluar dari kantin.
__ADS_1
Di pertengahan jalan ia tiba-tiba di hadang oleh seorang pria bertubuh tegap dengan rambut coklat yang tak lain adalah William.
“Bisa,,, bicara sebentar tapi tidak di sini” pinta William. Elle pun mengangguk lalu mengikuti William yang berjalan lebih dahulu ke arah taman sekolah.