
Di dalam kamarnya, Elle termenung di balkon setelah selesai membersihkan tubuhnya. Dia memikirkan kejadian tadi saat dirinya berkelahi dengan para gorila itu sebutan dari Elle untuk para pria-pria besar itu, dan membuat mereka semua tewas dalam sekejap dengan kekuatannya.
Dia melihat telapak tangannya yang mengeluarkan buliran cahaya biru, dulu saat di hutan asalnya ia hanya bisa mengeluarkan sedikit cahaya saja bahkan belum bisa menyembuhkan luka tanpa bantuan daun obat.
Namun sekarang dia bisa menyembuhkan luka serius bahkan bisa menumbuhkan tanaman hanya lewat pikirannya saja tapi jika ia lepas kendali dan Elle belum cukup kuat untuk mengontrol semua kekuatan itu. Semakin lama kekuatan ini semakin besar batinnya.
Karena tidak mau terus memikirkan semua itu untuk sekarang, yang hanya bisa membuat kepalanya semakin pusing. Elle keluar dari kamarnya berniat turun menemui keluarganya di ruang tengah agar bisa mengalihkan pikirannya yang sedari tadi membuatnya pusing ditambah dengan kejadian tadi.
Saat ini di ruang tengah, Elle dan semua anggota keluarganya sedang duduk di sofa membicarakan tentang kejadian yang menimpa Elle dan kedua temannya tadi sore.
“Apa masih sakit sayang?” tanya Monica sambil mengelus pipi Elle yang memar.
“No mom, ini sudah tidak apa-apa nanti juga sembuh sendiri lagipula Vivi kan kuat apalagi paman Jack yang melatih Vivi sejak kecil jadi mom tenang saja.” Jawab Elle.
"Tetap saja kami sangat khawatir sayang, lihat pipi kamu jadi memar karena para penjahat itu," ucap Hannah sambil mengelus pipi Elle yang memar, Elle memang duduk diantara Monica dan Hannah.
"Sampai lupa kalau Vivi juga terluka di sini, beruntung belum disembuhkan jika tidak teman-teman Vivi akan curiga jika luka Vivi cepat sembuhnya," gumam Elle tertawa kecil memperlihatkan gigi taringnya yang imut.
"Hadap sini sayang biar nenek tutup dengan plester luka ini" ujar Hannah memegang plester luka di tangannya lalu menempelkan plester itu tepat di luka memar di wajah Elle.
"Nah, kalau begini kan lukanya tidak terlalu terlihat" timpal Monica.
“Sebenarnya apa yang terjadi son?” tanya Ibram pada Jack.
“Aku sudah menyelidikinya, ternyata yang menjadi target utama mereka adalah putri bungsu keluarga Anderson seperti biasa karena persaingan bisnis” jelas Jack.
“Berarti yang mereka targetkan itu Emma, paman?” tanya Elle.
“Benar, aku juga sudah memberitahu masalah ini pada keluarga Anderson agar mereka bisa mempersiapkan penjagaan untuk putrinya” ucap Jack.
“Dan juga aku sudah memberitahu keluarga Anderson pelaku sebenarnya dari penyergapan anaknya, serta sedikit memberi hadiah pada orang yang telah memerintahkan mereka karena orang suruhannya telah berani menyakiti Vivi.” Lanjut Jack.
“Baguslah, biar bagaimana pun itu urusan keluarga Anderson kita hanya sedikit membalas saja karena mereka sempat melukai Vivi” ucap Ibram dengan aura tegas yang masih melekat di tubuhnya.
Sedikit, apanya yang membalas sedikit bahkan David dan Jack meledakkan semua perusahaan beserta mansion milik musuh bisnis keluarga Anderson itu karena anak buahnya telah membuat Elle terluka, sedangkan sang pemiliknya sendiri beserta keluarganya masih disiksa oleh keluarga Anderson.
Dan satu mayat dari ketujuh orang yang sudah tewas itu masih berada di markas Jack untuk diotopsi tubuhnya karena Jack penasaran bagaimana kekuatan Vivi hingga membuat mereka bisa mati dengan cara sangat mengenaskan ini. Sedangkan mayat yang lainnya sudah dibakar habis.
__ADS_1
“Beruntung kamu segera datang Jack, jika tidak mommy tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi pada Vivi. Vivi memang kuat tapi yang aku takutkan jika Vivi kembali ke wujudnya seperti malam itu, dia pasti akan ketahuan dan diburu oleh orang-orang jahat apalagi jika mereka tahu tentang kekuatan Vivi” ucap Hannah sedih sambil tetap mengelus rambut perak Elle.
“Itu memang benar, tapi ini juga berkat Vivi yang bisa menahan orang-orang itu hingga kami bisa tepat waktu dan syukurlah Vivi juga bisa menekan kekuatan nya kembali.” Ucap Jack.
“Kerja bagus sayang.” Puji David untuk Elle.
“Kau hebat sweetie” timpal Allan.
“Oh iya, tadi Emma menelepon dia bilang orang tuanya ingin mengundang Vivi makan malam di mansion Anderson sebagai ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan Emma, dan Vivi juga sudah menerimanya. Apa Vivi boleh datang?” izin Elle pada keluarganya.
“Vivi datang saja, lagipula Emma kan teman Vivi jadi tidak baik kalau Vivi menolak” ucap Hannah
“Benar, Vivi boleh datang kok” ucap Monica.
“Thanks mom, nenek.” Ucap Elle.
“Sudah, ayo sebaiknya kita makan malam karena makanannya sudah siap dan juga Vivi pasti butuh mengisi tenaga lagi setelah menghajar para penjahat itu,” ajak Hannah pada mereka semua.
Mobil Porsche keluaran terbaru berwarna biru memasuki kawasan sekolah Harvest Internasional Highschool, sejak kedatangan mobil itu semua murid sudah berkerumun karena penasaran mereka bertanya-tanya siapakah pemilik mobil mewah yang hanya ada tujuh buah saja di dunia ini.
Ee eh mobil siapa tuh?
Mobilnya bagus banget cuy..
Begitulah bisik-bisik mungkin bisa dibilang suara, yang terdengar jelas dari murid-murid di parkiran saat melihat kedatangan mobil itu.
Bak slow motion Emma keluar dari mobil terlebih dahulu diikuti Stella dan terakhir Elle sang pemilik mobil dan juga yang menyetir.
Tadi, pagi-pagi sekali Elle datang ke rumah Emma dan Stella menjemput mereka untuk ke sekolah bersama karena tadi malam mereka sudah sepakat untuk berangkat ke sekolah bersama, lagipula Elle juga berniat ingin mencoba mengendarai mobilnya sendiri untuk pertama kalinya setelah diajarkan oleh Allan hingga ia bisa menyetir sendiri.
Seketika semua murid bertambah heboh, Elle yang melihat hanya diam dengan wajah kalemnya lalu berjalan melangkah untuk segera masuk ke kelas diikuti Emma dan Stella tetapi langkah mereka terhenti saat mendengar teriakan Lily dari jauh.
Tak lama datang empat motor sport dan sebuah mobil mewah yang baru memasuki kawasan sekolah. Empat motor itu yang tak lain adalah Alvaro, William, Sam dan Felix berhenti di parkiran khusus motor dan langsung membuka helm masing-masing serta Lily yang baru saja keluar dari mobil dengan dibukakan pintu oleh seorang sopir.
Seketika suara menjadi riuh oleh teriakan murid-murid terutama murid cewek saat melihat para Prince Harvest.
“Good morning guys, apa kalian merindukanku” ucap Sam pada semua murid sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan. Mode playboy nya sudah kembali.
__ADS_1
“Em, aku rasa aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu jika memiliki kakak seperti itu” bisik Stella pada Emma.
Jika itu Stella, dia mungkin tidak akan mau mengakui Sam sebagai kakaknya di depan umum karena malu. Kemarin bersikap normal layaknya seorang kakak mengkhawatirkan adiknya lalu sekarang sudah kembali menjadi buaya. Benar-benar mengherankan.
“Aku tahu kalian pasti menungguku kan, ayo kita masuk sama-sama” ajak Lily.
“Hello beautiful girls,,,” sapa Sam sambil berdadah heboh dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda segerombolan murid-murid cewek yang ada di parkiran.
“Penyakitnya mulai kambuh lagi” komentar Felix menggeleng pelan.
“Begitulah buaya darat jika keluar dari kandangnya” ucap Lily menimpali.
“Berhentilah, kak” jengah Emma melihat kelakuan kakaknya Sam.
"Fel, kamu bawa karung nggak?" tanya Lily tiba-tiba.
"Nggak, emang kenapa?" tanya Felix balik.
"Kasihan itu buaya kabur dari kandangnya, mau ditangkap dan dibawa kembali ke penangkaran para buaya" jawab Lily, membuat mereka semua yang mendengar ucapan Lily langsung tertawa terbahak.
"Nistain aja terus" dumel Samuel.
"Makanya jangan jadi buaya, jadi monyet aja biar dapat uang banyak nanti aku jual di pertunjukan sirkus" ucap Felix sambil merangkul pundak Sam yang sedari tadi mendumel kesal.
"Eh, buaya juga mahal lho?" ucap Stella dengan tampang polosnya lalu ikut tertawa.
“Jika sudah selesai, sebaiknya kita segera masuk karena bel sudah berbunyi.” Ucap William lalu berjalan ke arah Elle, “morning Vivi” sapanya lembut dengan senyuman.
“Good morning Liam” balas Elle sambil tersenyum tipis.
Sedangkan Alvaro yang melihat itu semakin menatap William tajam lalu berjalan ke arah Elle.
“Pagi Elle” ikut Alvaro menyapa Elle.
“Pagi juga Al” balas Elle masih dengan senyumannya.
Lah terus kami tidak disapa gitu, seperti kita tidak terlihat saja disini. Malangnya nasibku yang sudah di pertontonkan keuwuan pagi-pagi batin teman-teman Elle dan Alvaro yang melihat pemandangan itu.
__ADS_1
Mereka semua yang ada di parkiran pun segera ke kelas masing-masing setelah mendengar bel tanda masuk.