
Suatu hari, di sebuah desa di perbatasan wilayah kerajaan Vanadis, seorang
wanita beserta anak nyadatang untuk tinggal dan menetap. Wanita tersebut
merupakan seorang manusia dengan anak nya yg masih berumur 6 bulan. Penduduk
desa menyambut dengan hangatwanita tersebut dan mengijinkan dia untuk tinggal
di desa. Nama wanita tersebut Wiena, dia adalah seorang magician yang
berfokus pada sihir penyembuhan. Keseharian Wiena bekerja sebagai dokter
desa dan guru yang mengajarkan sihir kepada anak2.
Dia juga sangat akrab dengan penduduk desa. “Selamat pagi.” Wiena menyapa
siapa saja penduduk desa yg dia temui “Selamat pagi, wah sekarang mau kemana
nih ?” Sapa kepala desa kepada Wiena.“Biasa pak kepala desa, mau mengunjungi
nenek Sopie untuk membawakan obat mingguan nya”jawab wanaris ramah. “Eh si
kecil ikut juga ya, sudah berapa umur nya ?” Pak kades melihat anak yg di
gandeng oleh Wiena. “Ayo perkenalkan diri kamu” Kata Wiena sambil melihat anak
nya. “Umm nama saya Fei, umur saya 2 tahun….” Jawab Fei anak dari Wiena. Fei
bersembunyi di belakang ibunya.“Hahaha Fei kamu kan laki2, hayo ke sini, jangan
di belakang ibu mu, sini salaman sama om.” Kata Pak Kadessambil menunduk dan
menjulurkan tangan nya ke arah Fei .
Perlahan Fei mulai bergerak maju, tapi masih ragu2 dan menoleh ke arah ibu
nya. “Ayo, jangan malu2.” kata ibu nya memberi keberanian untuk Fei. Akhirnya
Fei pun maju dan memberi salam kepada pak kades. “Nah hebat, anak pintar” Pak
kades berkata kepada Fei dengan tersenyum lebar. “Wiena, boleh aku mengajari
Fei bela diri ketika dia sudah agak besar.” Tanya pak kades kepada Wiena. “Wah
pak kades terima kasih, tapi nanti kan kalau sudah agak besar, kalau sekarang rasanya
belum bisa.” Jawab Wiena. “Tentu saja, tidak harus sekarang, sy duluan ya,
mau menjenguk ladang di depan dulu, sampai jumpa lagi.” Kata pak kades
sambil berjalan menuju pintu masuk desa. “Baik pak, terima kasih ya pak.” Wiena
membungkuk memberi salam.
Kepala desa tersebut adalah seorang mantan grandmaster bela diri
kerajaan dan juga mantan petualang, dia suka menceritakan kisah mudanya kepada
para pemuda di desa tersebut. Setelah selesai dengan pekerjaan nya, Wiena pun
kembali ke rumah nya bersama Fei .
Lima tahun pun berlalu, Fei sekarang sudah ber umur 6 tahun. “Ibu, sy main
di luar dulu ya” Kata Fei kepada ibu nya sambil berlari keluar. “Eh iya, hati
hati ya, pulang jangan terlambat” jawab ibu nya yang sedang menjemur pakaian.
“Baiiiik” Jawab Fei sambil terus berlari menjauh. Ketika hari menjelang
sore, Wiena mulai bersiap untuk menyediakan makan malam. “Braak” tiba2 pintu
depan terbuka kencang dan Fei berdiri di depan pintu dengan wajah yang merah
padam dan baju yang kotor. Wiena yang melihat Fei diam dengan kondisi seperti
itu segera menghampiri Fei . “Ada apa Fei , kenapa km bisa kotor begini dan
kenapa sampai terluka begini ?” Tanya Wiena cemas. “Aku berkelahi bu, dengan
anak pedagang dari kota sebelah, dia mengejek ku, katanya aku anak aneh dan
anak keturunan Demon, dia juga menghina ibu, makanya aku pukul dia. Lalu kita
berkelahi sampai tercebur ke sungai.” Jawab Fei yang masih geram dan menahan
kesal nya. “Apa aku anak aneh ya bu ?” Tanya Fei kepada ibunya. “Warna mata ku
sebelah merah dan sebelah nya hijau, lalu di dalam mulut ku ada taring nya.
Apakah aku demon bu ?” Baru selesai Fei bertanya, Wiena langsung memeluk Fei
dengan erat.
“Tenang saja Fei , kamu normal kok, ibu pun ga masalah kalau di ejek, kamu
jangan berkelahi lagi ya.” Wiena berkata sambil memeluk Fei . “Baik, bu. Maaf”
Jawab Fei sambil tertunduk. Tiba tiba pintu di ketuk “Permisi, Wiena.” Ternyata
pak kades sudah berdiri di depan pintu yang belum tertutup rapat. “Oh pak
kades, ada apa Pak.” Wiena menyambut pak Kades. “Ah tidak, saya sudah
dengar cerita lengkap nya dari penduduk tadi tentang pertengkaran Fei dan anak
pedagang dari kota sebelah, Fei tidak salah, kita semua sudah tau kalau
membicarakan Demon itu adalah hal yg tabu. Begini Wiena, boleh sy mulai
mengajarkan bela diri kepada Fei mulai sekarang ?” Tanya pak Kades kepada
Wiena.
“Apa kamu mau Fei ?” Tanya Wiena kepada anak nya. “Tentu saja mau, aku mau
jadi kuat dan akan melindungi ibu dan desa ini ketika sudah kuat nanti.”
Jawab Fei semangat. “Hahaha, mantap, sy jamin kamu pasti jadi super kuat Fei .
Besok datang saja ke rumah saya pagi, kita mulai latihan nya. Latihan nya keras
loh, bersiap ya.” Jawab pak kades senang.
Pak Kades bernama Ronan, namanya sudah terkenal di pelosok ibu kota. “Baik
guru Ronan, saya pasti datang.” Jawab Fei riang. “Baiklah saya pamit dulu, mari
Wiena.” Kata Pak Ronan, sambil menutup pintu. “Baik pak, terima kasih sekali
ya.” Wiena membungkuk memberi ucapan terima kasih. “Baik lah Fei , sekarang
makan yang banyak, lalu kita tidur supaya besok bisa bangun pagi2” Kata Wiena
kepada Fei . “Baik bu” Jawab Fei sambil berlari dan duduk di kursi meja maka.
Malam itu, Ketika sudah waktu nya untuk tidur, Fei menatap langit2 “Aku akan
menjadi kuat dan aku akan membalas orang2 yang mengejek Ibu dan aku.” lalu Fei
pun tertidur.
4 tahun kemudian, Fei masih berlatih di bawah ajaran Pak Ronan. Suatu hari,
pak Ronan menyuruh Fei untuk bermeditasi di halaman rumah nya, Fei pun
melakukan dengan sungguh2 sesuai dengan yang di ajarkan dan tenggelam dalam
meditasi nya. Tiba2 Tubuh Fei mengeluarkan asap bercahaya berwarna merah darah
yang sangat terang, Fei tersadar dan sangat ketakutan, karena hari masih pagi
jadi tidak ada seorang pun yang menyadari nya. Ronan segera menghampiri Fei dan
menempelkan telapak nya ke punggung Fei . “Tenang Fei , tarik nafas panjang
lalu hembuskan.” Ronan mengarahkan Fei agar tenang dan tidak panik. “Hah” Ronan
menghentakkan telapak nya yg di tempelkan ke punggung Fei . Fei merasa badan
nya sangat lemas dan akhirnya dia pingsan. Ronan segera membawa nya masuk ke
dalam rumah. “Ngg…..ini dimana ?” Fei mulai siuman. “Seingat ku tadi aku
bermeditasi di halaman lalu…” Katanya dalam hati. Segera dia teringat kabut
merah darah yg sangat terang dan dia melihat sosok hitam yg besar seperti
kelelawar. Fei pun mulai gemetar dan memegang kepalanya ketika mulai teringat
hal itu.”Apa yang terjadi dengan ku ?” Tidak lama kemudian masuk lah ibu nya
Wiena dan Ronan kedalam kamar. Wiena langsung memeluk Fei
“Syukurlah kamu tidak apa2.” Wiena berkata sambil memeluk erat anak nya.
Setelah keadaan tenang dan Fei juga sudah tenang “Ibu, guru, apa yang
terjadi padaku hari ini ?” Tanya Fei ke ibu nya dan gurunya. Wiena melirik ke
arah Ronan, lalu Ronan pun mengangguk. “Fei , ada yang ingin ibu ceritakan ke
kamu, ibu rasa ini sudah waktunya ibu menceritakan tentang ayah mu.” Wiena
menatap Fei dengan serius. “Tentang Ayah…” Kata Fei bingung, karena sampai dia
berumur 10 tahun ibu nya tidak pernah menyinggung soal ayah nya.
“Ayah mu sudah pergi, tapi yang ingin ibu ceritakan bukan itu, ayah mu
adalah seorang pangeran vampire yang tergolong dalam ras Demon, penguasa malam.
Dan hari ini kamu mengeluarkan magic yang merupakan magic ayah mu. Yaitu blood
fire Magic.” Kata Wiena. Fei hanya terdiam mendengar kata2 ibu nya. “ Kamu tidak
kaget Fei ?” Tanya ibu nya. “Aku sudah menduga sedikit bu, sebab banyak anak yg
sebaya dengan ku mengejek ku dan aku tidak mempunyai teman.” Jawab Fei tenang.
“Maaf kan ibu Fei , semua salah ibu” Wiena memeluk anak nya sambil menangis.
Ronan menepuk pundak Wiena. “Ibu, boleh ibu menceritakan lebih banyak tentang ayah
?” Tanya Fei kepada Ibu nya “Baiklah, besok kita pergi ke bukit bersama pak
Ronan, di sana ibu akan bercerita semuanya.” Jawab Wiena. Kemudian Wiena membawa
pulang Fei ke rumah nya.
Keesokan hari nya, Wiena dan Fei pergi ke bukit di hutan dekat desa dan di
temani oleh pak Ronan. Bukit itu berlokasi di belakang rumah Fei dan Wiena.
“Kenapa kita harus ke sini bu?” Tanya Fei penasaran. “Nanti kalau sudah sampai
kamu akan mengerti.” Sesampai nya di bukit, Fei melihat ada sebuah batu
yang berdiri tegak, kira2 2 meter tingginya. Dari bukit itu juga bisa melihat
hamparan tanah luas di sebrang nya karena setelah bukit itu ada jurang yang
sangat besar dan di bawah nya hutan yang lebat, benar2 tempat yang tinggi
seperti di atas gunung melihat ke bawah.
Wiena kemudian menghampiri batu tersebut dan berlutut. “Fei , ini makam ayah
mu, dulu ayahmu, ibu dan pak ronan adalah petualang yang sudah berkeliling
dunia. Ayahmu menyamar sebagai manusia walaupun dia adalah seorang vampire Waktu
itu ibu jatuh cinta dengan ayahmu dan akhir nya kita menikah dan setelah itu
ibu melahirkan kamu. Waktu itu ibu sangat bahagia. Ayahmu menitipkan kamudan
ibu kepada pak Ronan sahabat nya, lalu dia menghadang pasukan yang mengejar kita,
dia berhasil mengalahkan pasukan itu, tapi karena terluka parah akhirnya dia
meninggal. Ketika seorang vampire meninggal, maka jasad nya langsung menjadi
abu dan hilang terhembus angin, maka ketika ibu sampai di desa ini, ibu bersama
pak Ronan membuatkan makam untuk ayahmu. Jadi Fei , karena kamu adalah anak
ayahmu yg seorang vampire dan ibu yang manusia, kamu setengah vampire dan setengah
manusia, half demon (vampire). Kamu bisa keluar di siang hari tanpa menggunakan
pelindung apapun, kamu juga tidak jadi melemah karena terkena sinar matahari,
ayahmu menyebut nya daywalker.” Wiena bercerita kepada Fei sambil menitikkan
air mata.
“Maka dari itu Fei , guru mengajarkan bela diri, sekaligus mengeluarkan
semua potensi mu. Karena waktu ayahmu masih hidup, dia merupakan sahabat dan
rival terberat ku.” Ronan berkata sambil menundukkan kepala, raut wajah nya
menunjukkan kesedihan yg dalam. “Ayah ku ternyata hebat….” Fei bergumam sambil
menangis memeluk ibu nya. “Aku ingin sekali bertemu dengan nya hiks” Fei melanjutkan.
“Oh Fei ….” Wiena memeluk Fei sambil menangis. Setelah suasana penuh tangisan
dan sudah mulai tenang, Wiena mengambil sebuah kotak di belakang batu tersebut.
“Fei , ambil ini, ini warisan dari ayahmu.” Kata Wiena sambil menyerahkan
kotak tsb kepada Fei . Fei pun menerima nya dan kemudia membuka kotak tersebut.
Di dalam nya terdapat sepasang gloves yg pernah di gunakan sebagai senjata oleh
ayah nya. “Apa ini bu, ini senjata ayah ?” Tanya Fei . “Benar, ini bukan
sembarangan senjata, gloves ini bisa mengeluarkan cakar di punggung tangan nya.
Senjata ini adalah relic dari suku vampire yg di namakan Blood Claw.” Wiena
menjelaskan. “Aku akan mengajarkan km memakainya Fei.” Ronan menambahkan.
“Jadi Fei , kamu tidak perlu takut akan kekuatan mu, sebab ayahmu
tidak pernah menyakiti orang lain dengan kekuatan nya, bahkan untuk kebutuhan
darah nya, dia menggunakan darah monster dan binatang.” Wiena memberi keyakinan
kepada Fei . “Apa aku membutuhkan darah juga bu seperti ayah ?” Tanya Fei .
“Tidak, karena kamu half, kamu hanya mendapatkan kekuatan dan perubahan fisik
saja dari ayahmu, sisanya kamu manusia.” Wiena menjelaskan. “Terima kasih ibu,
terima kasih guru, sekarang aku mengerti siapa aku dan apa kekuatan ku. Dan
juga terima kasih Ayah.” Kata Fei sambil berdiri dan membungkuk memberikan
penghormatan kepada ayah nya.
Tiba2 dari ada sesuatu yang jatuh di dekat mereka. “BLUGHH” dengan bunyi yg
cukup kencang. Mereka bertiga mengengok ke belakang. “Eh siapa ini ?” Ronan
__ADS_1
berkata heran karena posisi jatuh nya persis di belakang nya. Yang jatuh adalah
seorang gadis kecil yang mempunyai sayap burung berwarna hitam. “Hey, apa dia
mati ?” Tanya Fei sambil jongkok mengamati. Ronan segera menjulurkan jari ke
hidung gadis kecil itu. “Dia masih hidup, tapi siapa anak ini, dan dari mana
dia jatuh dan juga kenapa dia punya sayap ?” Gumam ronan heran sambil memeriksa
kondisi gadis kecll itu.
Mereka terus memperhatikan gadis kecil itu, tiba2 sayap hitam nya mendadak
mengecil dan akhirnya hilang. “Hmm sepertinya dia sama seperti mu Fei, Half
Demon, sebab sekarang dia tidak ada bedanya dengan manusia ketika sayapnya
hilang. Tapi wajah nya…..” Kata ronan kepada Fei. “Sebaik nya kita harus
bagaimana guru ? Wajah nya kenapa ?.” Tanya Fei kepada ronan. “Ah tidak apa2…Sebaiknya
kita bawa dulu ke desa, biar di rumah ku saja.” Kata ronan. “Wiena bisa kasih
sedikit healing magic dulu untuk luka2 nya supaya bisa di angkat ?” Kata
ronan sambil menoleh ke arah Wiena.
“Baiklah, tolong permisi” Wiena segera menggunakan healing magic nya kepada gadis
kecil itu, perlahan nafas gadis itu mulai teratur. “Baiklah, sekarang pokok nya
kita ke dekat desa dulu.” Ronan segera mengangkat gadis itu dan mulai berjalan
menuruni bukit menuju desa di susul oleh Fei dan Wiena. Setelah sampai di desa,
mereka segera menuju ke rumah ronan. Lalu ronan meletakkan gadis kecil itu di
kamar dan membiarkan nya tidur. Wiena berpikir, dia merasa pernah melihat gadis
kecil itu. “Hei Ronan, apa kau ingat Rosa ? kita ber empat dulu berpetualang
bersama kan, kalau tidak salah dia ras demon juga suku fallen angel, apa
mungkin anak ini adalah anak nya, sebab setelah kuperhatikan ada sedikit
kemiripan, seperti warna rambut nya yg sama2 merah…dan sedikit mirip kamu.”
Wiena bertanya kepada ronan.
“Oh ya, Rosa, masa sih ? rasanya tidak mungkin.” Ujar Ronan. “Bukankah Rosa
adalah tunangan mu dulu ? dan ketika kalian bubar, dia segera meninggalkan party.”
Wiena menegaskan. “Ah ya, waktu itu memang seperti itu kejadian nya, tapi
setelah kita bubar aku sempat mencari dan menemukan dia, kira2 ketika kalian
sedang dalam pelarian. Kita memang sempat bersama sebentar setelah bubar.”
Ronan mengenang masa lalu. “Benar, waktu itu aku lebih dulu tiba di desa ini
dan setahun kemudian baru km datang ke sini.” Jawab Wiena. “Tunggu dulu, waktu
Fei berumur 1 tahun, kamu pernah menyinggung kalau km punya anak ya, tapi aku
heran sampai sekarang tidak ada.” Tambah Wiena. “Ah masa, apa iya ?” Ronan
mulai bingung. “Jangan jangan…..” Ronan mulai pucat. Tiba2 terdengar suara
pintu terbuka kencang, dan seorang gadis kecil berlari
“Papa Ronan, akhirnya kita ketemu huaaaaaa” Gadis itu berlari menuju ronan
dan langsung memeluk nya. “Hah…..papa ?” Ronan kaget dan wajah nya sangat
merah. Wiena yang melihat itu tersenyum dan ketawa kecil. Gadis itu terus
menangis sampai akhir nya dia tenang. “Nak, minum teh nya dulu, tenang dulu.”
Kata Wiena sambil menuangkan teh untuk gadis itu. Fei yang melihat semua itu
bingung dan tidak tau harus berkata apa. Gadis itu menoleh kepada Fei dan
menghampiri nya. “Km siapa ? apa km oni chan ku ?” Tanya gadis itu kepada Fei .
Fei pun bingung dan bertanya kepada ibu nya “Ibu, apa aku punya adik.” Katanya.
Wiena dengan wajah merah menjawab “Bukan, tidak ada, kamu tidak punya adik.”
Katanya. “Nama kamu siapa ?” Tanya Fei kepada Gadis itu. “Cecil, namaku
Cecil. Aku adalah anak mama dan papa ronan, umur ku 9 tahun, aku terbang dari
gunung menuju desa ini untuk mencari papa.” Cecil menjawab sambil senyum
senyum. “Loh siapa nama ibu mu Cecil ?” Tanya Ronan kepada Cecil. “Nama mama
adalah Rosa” Jawab Cecil. Ronan tersentak kaget dan langsung menghampiri Cecil.
“Sekarang di mana mama mu, dia baik2 saja kan ? Kenapa dia tidak kesini
sekalian ?” Ronan berkata dengan panik sambil memegang pundak Cecil.
“Aku tidak pernah bertemu mama, karena kata biarawati, mama meninggal ketika
melahirkan aku, aku cuma dengar cerita dari biarawati panti asuhan tempat aku
tinggal, lalu mereka berkata kalau papa ada di desa ini, makanya aku langsung
kesini, biarawati juga pesan supaya aku membawa tombak ini, supaya papa bisa
mengenali aku.” Cecil menjawab sambil tertunduk, wajah nya terlihat
sedih. Ronan langsung memeluk Cecil dan menangis tersedu2, Cecil pun ikut
menangis. Wiena yang melihat kejadian itu memeluk Ronan dan Cecil sambil
menitikkan air mata.
Setelah tenang, Ronan melihat senjata yang di bawa Cecil, senjata itu berupa
tombak yang bisa di lipat sehingga mudah di bawa nya. “Benar ini senjata relic
milik rosa, sky spear. Oh rosa, kalau saja aku tidak meninggalkan mu waktu
itu.” Gumam Ronan sedih. “Papa, aku lapar.” celetuk Cecil sambil memegang perut
nya yang berbunyi keras.
“Hahaha maaf anak ku, sebentar ya papa sediakan makanan.” Ronan dengan
senang berlari ke dapur. Akhirnya Wiena , Fei , Cecil dan ronan makan malam
bersama di tempat Ronan. Saat makan ronan terus melihat Cecil sambil senyum
“Kamu sangat mirip mama mu Cecil, makan nya banyak dan rakus haha.” Kata Ronan
sambil tersenyum. Cecil tidak menghiraukan nya dan terus melahap makanan nya.
Sesudah
makan, Ronan menghampiri Cecil “Cecil, maukah kamu tinggal di sini bersama
ayah ?” Kata Ronan penuh harap. “Mau dong papa, kalau tidak aku ga perlu repot kesini
dong.” Cecil menjawab dengan senyuman yg lebar. “Eh papa mau Tanya, kok km bisa
langsung mengenali papa ?” Tanya Ronan heran. “Biarawati yang bercerita ciri2
papa, karena dia setiap hari mendengar mama cerita tentang papa ketika mama
masih di sana.” Jawab Cecil sambil meminum teh nya.
lagi. “Papa, sudah nanti mama malah marah kalau papa nangis terus.” komentar
Cecil. Mendengar itu semua yg berada di ruangan tertawa, kecuali Fei yang masih
tampak kebingungan. “Kenapa oni chan ?” Cecil menghampiri Fei yg terlihat bingung.
“Tidak apa apa” jawab Fei sambil menoleh. “Kenapa kamu panggil aku oni chan
?” Tanya Fei heran. “Karena kamu lebih tua dari aku dan aku juga dengar
cerita ttg kamu karena mama sering juga cerita ttg teman mama Wiena yg baru
saja punya anak. Sudah pasti itu oni chan kan hehe.” Jawab Cecil sedikit
meledek Fei . “Huh…dasar sok akrab.” Fei sedikit tersenyum menanggapi nya.
Melihat tingkah mereka berdua, Wiena dan ronan senyum2 satu sama lain.
“Fei dan Cecil bagaimana nanti masa depan mereka ya.“ gumam Wiena kepada
ronan. “Haha kita hanya bisa melihat.”
Ronan menjawab nya. Kemudian mereka pun mengobrol sampai larut malam. “Ronan,
lihat mereka, kedua nya sudah tertidur, seperti sedang melihat Vans dan Rosa,
hiks.” Wiena berkata sambil menitikkan air mata. “Iya benar2 seperti mereka
sewaktu kita masih bersama.” Ronan berkata sambil tersenyum sedih.
“Ronan, kita harus jaga masa depan mereka, aku akan mengajari Cecil beberapa
skill magic supaya nanti dia bisa bertahan di luar sana suatu hari nanti.”
Wiena serius menatap ronan. “Baiklah, sementara itu aku akan terus mengajari
Cecil menggunakan senjata dan tubuh nya, sekaligus membekali Cecil sedikit bela
diri.” Jawab Ronan tegas. “Saat nya kita turunkan milik kita ke anak2 kita
Wiena.” Tambah nya.
“Betul Ronan, terima kasih. Jangan biarkan mereka tau yang sesungguhnya,
rahasia harus tetap kita jaga.” Jawab Wiena. “Sama2 dan terima kasih juga
Wiena. Ya kita jaga rahasia kita.” Mereka lalu bersalaman. Setelah malam itu
pun waktu cepat berlalu, 5 tahun kemudian, Fei sudah berumur 15 tahun dan
Cecil 14 tahun.
Suatu hari mereka pergi berburu ke hutan. “Cecil, pancing boar itu kesini, gunakan
kecepatan dan magic mu.” Ujar Fei sambil berlari mengejar Boar yg mau kabur
itu. “Siap Fei nii, langsung di terima ya.” Cecil menjawab sambil melompat dari
satu pohon ke pohon lain nya, sampai akhirnya dia berada di depan boar itu.
“Wind slash” Cecil menggunakan wind magic ke tanah supaya boar itu kaget dan
berbalik. Rencana nya berhasil dan Fei segera mengahdang boar yg berlari
kencang ke arah nya dan siap menyerang nya. “Power Claw.” Fei langsung megarahkan
serangan ke kepalanya dan mengeluarkan cakarnya. Boar itu terjatuh dan sekarat,
Cecil lalu melemparkan tombak nya ke badan boar itu untuk menghabisi nya. Boar
itu pun mati.
“Kerja bagus Cecil.” puji Fei sambil
mengacungkan jempol dan tersenyum lebar. “Fei nii kerja bagus.” Balas Cecil
sambil tersenyum lebar. “Ayo kita sembelih hewan ini lalu kita pulang, sudah
agak jauh dari desa nih kita.” ujar Fei . “Ok siap Fei ni.i” Cecil pun
mengeluarkan pisau nya dan mulai menyembelih di sisi kanan sedangkan Fei di
sisi kiri. Setelah selesai mengumpulkan daging dan batu Kristal pada hewan itu,
mereka bersiap untuk pulang.
“Aduh, rasanya ingin mandi, sebab badan
penuh keringat dan rasanya menjijikan.” Cecil berkata sambil sedikit membuka
bajunya. “Hei, kamu ngapain…..jangan buka baju di sini, kalau ada yg lihat
bagaimana. Dasar adik bodoh.” Fei berkata sambil menutup wajah nya. “Eeeeh
ternyata Fei nii ku yg kikuk ini tertarik dengan tubuh sexy ku yaaaaaa….hehe.”
Cecil menggoda Fei yg tidak berani melihat ke arah nya. Fei dan Cecil tumbuh
menjadi pemuda yg tampan dengan postur bagus dan cantik dengan postur yang sexy
(buah dada yg besar).
“Ini factor keturunan Fei nii, kata papa buah dada mama juga besar
hehe.” Goda Cecil sambil meremas2 buah dada nya sendiri. “Aaah bapak sama anak
sama aja….tidak ada yg beres.” Fei menjawab sambil menutup muka Karena sudah
sangat merah. “Ahahahah sudah ah Fei nii bodoh, ayo kita jalan, nanti malah
keburu malam.” Cecil mengakhiri canda nya. Mereka pun bergegas menuju ke arah
desa, kondisi sudah sore menjelang malam. Sesampainya di pinggir hutan,
“Fei nii lihat, kenapa banyak asap dan banyak yg terbakar itu…” Cecil berkata
sambil sedikit panik.
“Waduh iya, ayo kita segera pulang. Lari Cecil.” Jawab Fei sambil langsung melompat
menuju desa. Sesampai nya di desa ternyata banyak rumah yg sedang terbakar.
Desa tersebut sedang di serang oleh sekelompok Goblin. Dari kejauhan Fei dan
Cecil melihat Ronan dan Wiena sedang bertahan melawah gerombolan goblin. “Fei nii
cepat, aku melihat papa dan tante sedang bertarung.” Cecil menunjuk.
“Cecil, cepat naik ke punggung ku aku akan melesat dan lompat sampai kesana.”
Tanpa jeda Cecil langsung melompat naik ke punggung Fei dan Fei segera melesat
kemudian langsung melompat ke arah pusat desa tempat ronan dan lain nya
bertarung.“ Ketika sampai langsung kamu hajar yg kiri aku urus yg kanan.” Ujar
Fei . “Ok, semoga papa dan tante ga apa2” Akhirnya mereka pun sampai, dan
langsung menyapu bersih goblin2 yang mereka lewati dan akhirnya sampai kepada
Ronan dan Wiena.
“Ibu, guru, kalian tidak apa2” Tanya Fei . “Tidak apa2 Fei , untung kalian
cepat datang, langsung bubar goblin nya” Jawab Wiena . “Hayoo kita giring
mereka keluar desa” teriak penduduk yg bertarung. “Fei nii lihat, itu ada
goblin king di belakang.” Cecil memberitahu Fei . “Ayo Cecil kita habisi ketua
nya.” Jawab Fei sambil menyiapkan senjatanya. “Hati2 kalian, jangan anggap
__ADS_1
remeh lawan” Pesan Ronan. “Okey papa, tenang aja.” jawab Cecil sambil memberi
hormat. Mereka langsung menuju tempat Goblin king tersebut. “Cecil, kamu serang
dari atas ya, aku akan bertahan di bawah.” Fei mengarahkan Cecil. “Baik oni
chan, aku duluan ya” jawab Cecil.
Dia langsung melompat dari punggung Fei ke atas dan segera mengeluarkan
sayap nya kemudian langsung menuju ke atas goblin king itu. Cecil langsung
menyerang dengan tombak dari atas di iringi menembakkan wind magic ke arah
mahluk itu. Fei pun tiba dan langsung meninju dengan cakar nya ke perut goblin
king itu. Kesakitan, goblin itu membalas dengan mengayunkan pedang nya ke arah
Fei, Fei pun mengelak sambil menendang dan terus memukul nya. Perhatian goblin
king terpecah karena di serang dari dua arah yaitu udara dan darat. “Cecil,
ajak main dia dulu sebentar, sementara aku siapkan magic ku.” Fei pun mundur
sedikit dan mengumpulkan tenaga, aura terang berwarna merah darah pun keluar
dari tubuh nya.
Fei memusatkan serang pada tangan nya dan memasang kuda2 untuk memukul.
“Cecil minggir, terbang ke atas yg agak jauh. Aku mau menembak.” Ujar Fei .
“Oke Fei nii, tolong di urus ya” Cecil pun naik ke atas sambil terbang ke arah
Fei . “Blood Fire” Fei langsung melakukan pukulan dari jarak jauh. Pukukan nya
mengeluarkan api berwarna merah darah ke arah goblin king. Ketika api itu
mengenai sasaran, tubuh goblin itu langsung terbakar dan dia mati seketika.
Untuk memastikan Cecil melemparkan tombak nya ke kepala goblin itu dan akhir
nya selesai. Karena pemimpin nya sudah mati, maka pasukan nya pun kocar kacir
kabur ke arah hutan.
Cecil pun mendarat di sebelah Fei dan menjulur kan telapak nya, “Yey
Berhasl. Fei nii toss.” Kata Cecil riang. “Iya, berhasil, toss.” Jawab Fei
sambil menepuk tangan Cecil. Mereka pun kembali menuju tempat ronan dan Wiena
yg menunggu di alun2. “Kalian tidak apa2 ?” Tanya Ronan ke kedua anak itu.
“Tidak ada masalah guru, ibu.” jawab Fei . Penduduk yg bersembunyi dan yg
selesai bertarung mulai menujualun2. Fei merasa heran, kenapa mereka masih
waspada dan seperti ketakutan.
Para penduduk mulai berbisik, “Ternyata mereka Demon, pantas mereka kuat dan
berbeda” “Benar2 menakutkan, tidak bisa di percaya selama ini mereka
tinggal dengan kita.” “Mereka berbahaya, apa sebaik nya kita tindak saja ?” dan
banyak lain nya. Fei mendengar bisik2 tersebut dan mengepalkan tangan nya
karena geram. “Heeeei, kalian bukan nya berterima kasih kepada kami malah takut
sama kami, bagaimana sih ?” Teriak Cecil geram. “Huh tidak sudi kita berterima
kasih sama monster, kalian sama saja, kalian demon.” seorang pemuda berteriak
kepada mereka berdua sambil melempar batu.
Karena ada yang memulai, semua orang
mulai ikut melemparkan batu. Pemuda yg berteriak adalah pemuda yg dulu mengejek
Fei waktu masih sama2 kecil . Fei dan Cecil Cuma bisa diam sambil menahan
geram. “Sudah Fei , Cecil. Mari kita pulang, sementara kita ke tempat ku dulu.”
Ronan berusaha menenangkan mereka. Tanpa sepatah kata pun mereka bergerak
meninggalkan alun2 sementara penduduk semakin beringas dengan kata2 nya dan
melempar batu. “Aw…” Wiena berteriak kemudian jatuh. Rupanya dia kena tertimpuk
batu di kepalanya. Dahinya mulai berdarah. “Ibu…” Fei kaget melihat ibu nya,
dan menoleh dengan geram ke arah pemuda yg melempar ibu nya dengan batu.
Perlahan dia berbalik dengan menggertakkan gigi, dia mulai berjalan ke arah
penduduk.
“Ahhh monster nya marah…..ayo kita usir dan bunuh sekalian.” teriak pemuda
yg di hampiri Fei . Cecil segera berlari menangkap dan memeluk Fei dari
belakang “Fei nii, sudah, stop Fei nii, jangan lukai mereka, tante ga apa2,
papa sudah membawa tante ke rumah nya, ayo kita pulang Fei nii, tolong Fei nii
jangan begini.” Cecil memeluk erat Fei sambil menangis. Melihat Cecil amarah
Fei mereda dan segera dia berbalik dan berjalan pulang di tengah cemooh para
penduduk yg terhasut oleh beberapa pemuda. Fei menahan marah sampai menangis,
Cecil terus memeluk lengan Fei sambil menebarkan sayap nya untuk
menangkis batu yg di lemparkan ke mereka.
“Terima kasih Cecil adik ku. Kalau ga ada kamu aku pasti sudah melakukan hal
yg buruk.” Kata Fei sambil terus memegang pundak Cecil. “Iya Fei nii, tenang
aja ada aku di sini.” Jawab Cecil sambil tersenyum kecil. Mereka pun sampai di
rumah Ronan, Fei melihat ibu nya sedang terbaring di ranjang sambil mengompres
kepala nya yg terkena batu. Fei menangis melihat kondisi ibu nya. “Maaf kan aku
bu, seandainya aku tidak mengeluarkan kekuatan ku pasti tidak akan begini.” Fei
menyesali aksi nya. “Tidak apa2 Fei , kamu sudah melindungi semua nya. Mereka
hanya kaget karena tidak tau yang sebenarnya. Kalau tidak ada kamu dan Cecil
desa ini sudah hancur. Ibu berterima kasih ke kalian.” Jawab Weina.
Cecil pun mulai mengeluarkan air mata
sambil memeluk papa nya. Setelah Weina membaik dan bisa duduk, mereka mulai
berbicara. “Fei sekarang apa yang mau kamu lakukan” Tanya ronan kepada
Fei . Fei Cuma bisa terdiam. Dia dalam posisi bingung di lain sisi dia
ingin meninggalkan desa demi ibu nya, tapi juga cemas meninggalkan ibu nya di
desa ini.
“Kalau ibu boleh usul, bagaimana kalau kamu pergi ke kota labirin dan
mendaftar di guild untuk menjadi petualang.” Weina memberikan masukan ke Fei
yg sedang bingung. “Tapi…apa ibu akan ikut dengan ku ?” Tanya Fei . “Ibu
akan tetap di desa ini, kita punya rumah di sini, tugas ibu akan menjaga rumah
itu sehingga kamu bisa pulang suatu hari nanti.” Jawab Weina sambil tersenyum.
“Tapi bu, bagaimana kalau penduduk desa bersikap kasar terhadap ibu ?” Kata Fei
Cemas.
“Kamu tidak usah khawatir, ibu ada om Ronan yang menjaga ibu.” Jawab Weina
tersenyum. “Maksud ibu ? Aku tidak mengerti.” Tanya Fei heran. “Fei , ketika
kalian sedang berburu, guru bicara dengan ibu kamu, setelah lama berputar2
akhirnya kita berdua memutuskan untuk menikah…Kita ambil keputusan ini supaya
kamu dan Cecil bisa tenang seandainya kalian mau mengejar impian kalian,
lagipula guru dan ibumu sudah tua, lebih baik menjaga satu sama lain kan” Ronan
menjelaskan kepada Fei . “Haaaaaaaaah papa dan tante mau
menikah……berarti…berarti tante jadi mama ku dong ya…..mamaaaaa.”
Cecil berkomentar dan langsung lari memeluk Weina.
“Asik aku jadi adik oni chan beneran, tolong jagaaa aku ya Fei nii yg
ganteng.” Cecil tertawa menceriakan suasana. Seisi ruangan menjadi penuh tawa
karena Cecil. “Fei , kenapa kamu diam saja….” Tanya Weina. “Tidak apa2, maaf
aku keluar dulu sebentar.” Fei pun melangkah keluar rumah. “Huh Fei nii,
selalu saja murung dan ga pernah jujur ama perasaan nya sendiri, ga
mungkin dia ga senang….aku panggil di balik ke sini..” Cecil berdiri dan siap
menyusul Fei . “Tunggu Cecil, biarkan dia sendiri dulu, banyak yg terjadi, kamu
di sini saja temani mama ya.” Weina menahan Cecil yg mau keluar.
“Baiklah mama, aku tunggu di sini
aja” Jawab Cecil. Sementara itu di luar, Fel duduk di halaman tempat dia biasa
menyendiri dan bermeditasi. “Sekarang apa yang harus ku lakukan….aku ingin ibu
ku bahagia…..di lain sisi aku juga ingin bersama ibu….tapi aku juga mau
berkelana dan keliling dunia mengikuti jejak ayah….apa yang harus ku lakukan
ayah…” Fei merenung. Terus merenung sampai hampir terlelap. Tiba2 punggung Fei di tepuk
dengan keras “Hayooo….mikir apa Fei nii ku ini….” Cecil datang menjempu Fei .
“Cecil kamu ini…di saat seperti ini masih bercanda…ga tau aku lagi bingung
apa….dasar adik bodoh.” Fei yang kaget menegur Cecil tapi dia tersenyum.
Sebetul nya Fei sangat sayang sama adik nya ini. “Jangan terlalu di pikir
Fei nii, papa dan tante berhak bahagia, Fei nii bisa tenang skrg mau kemana
saja bebas. Lagipula kurasa tante sama papa cocok kok, mereka sudah kenal lama,
ayah oni chan sahabat papa, dan mama ku sahabat tante, kurasa ayah oni chan dan
mama ku merestui mereka, iya kan ? aku pintar kan ?” Cecil mengutarakan
pendapat nya sambil bercanda.
“Hah…apa hubungan nya dengan km pintar ? haha.” Goda Fei ke Cecil. “Yeeee
dasar Fei nii bodoh, tapi aku senang, Fei nii sudah tertawa lagi.” Cecil
tersenyum. “Terus apa rencana mu Cecil, kamu mau diam di sini ?” Tanya Fei ke
Cecil. “Kalau Fei nii bagaimana ?” Cecil bertanya balik. “Ini anak di Tanya
malah tanya balik….aku mau ke kota labirin, mendaftar ke guild dan jadi
petualang, mengikuti jejak orang tua ku dulu.” Jawab Fei santai dan tersenyum.
“Okeeeee, kalau gitu aku ikut Fei nii hehe.” Cecil menjawab sambil melompat ke
pangkuan Fei.
“Idih ikut2 an saja kamu….tapi baguslah aku jadi ada teman nya” Jawab Fei.
“Kita buat persiapan dua hari ini, untuk perjalanan, Karena jarak ke kotalabirin agak jauh.” Kata Fei yang sudah
mantap ingin pergi. “Wuih langsung ngatur, hebat, sudah kembali Fei nii
ku, siap Fei nii.” Cecil menjawab sambil memberi hormat. “Eh Cecil,
sebaik nya kita pergi secepat nya atau menunggu ibu dan guru menikah ?” Tanya
Fei ke Cecil. “Sebenarnya kalau aku, aku mau melihat papa dan tante menikah,
tapi dengan kejadian hari ini sebaik nya kita tidak muncul, sebab kalau tidak
kasihan papa dan tante nanti. Lagipula sehari hari mereka sudah seperti suami
istri, jadi sudah tidak kaget juga.” Jawab Cecil.
“Iya kamu benar Cecil, berarti sesuai
rencana, besok kita bersiap2 dan lusa kita berangkat oke.” Tegas Fei . “Ok Fei
nii.” jawab Cecil riang. “Yuk kita masuk papa dan tante eh mama sudah menunggu.”
ajak Cecil. Mereka pun masuk ke dalam dan menceritakan keputusan mereka ke
orang tua mereka. Dan malam itu mereka makan malam bersama dan sedikit
berpesta. 2 hari kemudian, pagi pagi sekali, di pintu gerbang desa.
Fei dan Cecil sudah siap untuk berangkat. “Huaaah…ngantuk.” Cecil menguap, karena
hari ini mau pergi semalam dia tidak bisa tidur seperti anak kecil. “Kalian
sudah siap ?” Tanya Ronan kepada mereka berdua. Ronan dan Weina mengantar
mereka pergi. Mereka sudah siap melepas anak2 mereka. “Sudaaaah siap.” jawab
Cecil riang, dia sudah lupa ngantuk nya. “Bagaimana Fei apa km sudah siap semua.“
Tanya Weina kepada Fei . “Sudah ibu, semua sudah siap.” jawab Fei . “Baiklah,
kita pamit ya, ayo Cecil.” Fei membawa tas nya. “Okaaay…..papa dan mama pamit
dulu ya…aku akan kembali.” Cecil memeluk papa dan mama nya. Fei Cuma
melihat saja. “Fei nii sini.” Cecil memanggil. “Iya sini Fei.” Weina memanggil
juga. Fei pun menghapiri dan mereka ber empat saling berpelukan.
“Baiklah, gu eh ayah dan ibu, saya dan Cecil pamit dulu…saya janji akan
pulang…..terima kasih selama ini sudah merawat kami.” Fei menunduk ke arah
Ronan dan Weina, di susul Cecil juga menunduk. “Hati2 di jalan ya Fei dan Cecil,
Fei tetap jaga adik mu ya….sampai jumpa lagi.” Ronan memberi pesan. “Oya Fei ,
Cecil, jangan lupa mengirim surat” Weina menambahkan. “Baik.” Mereka berdua
menjawab. Fei dan Cecil berbalik dan melambaikan tangan nya dan terus berjalan.
Ronan memeluk weina sambil melambaikan tangan nya. Berbahagialah dan bersenang2
lah kalian, itulah harapan Ronan dan weina sambil melambaikan tangan mereka.
__ADS_1