The Outcast : Heroes Of Beginning

The Outcast : Heroes Of Beginning
Chapter 6 The Princess and School life part 2


__ADS_3

Keesokan harinya, mereka ber enam, mulai mengikuti kelas nya masing2. Kehebohan pada hari pertama


sudah mereda. “Sekarang kita akan melanjutkan untuk latihan pertempuran,


silahkan semua siswa kelas dua meniju arena.” Guru pembimbing berkata kepada


murid2 di kelas. “Km okay Philia, kalau memang km tidak mau ikut tidak apa2,


aku akan memberitahu Pelatih kalau km tidak ikut.” Tanya Fei kepada Philia.


“Tidak apa2 Fei , justru aku malah khawatir sama kamu, tolong jangan


berlebihan. Kita tidak boleh terlalu menonjol. Lagipula, seperti nya ada juga


yang menggunakan senjata busur dan panah, jadi aku rasa tidak masalah. Kalaupun


tidak bisa, aku masih bisa menggunakan pedang pendek (Short sword)” Jawab


Philia. “Kalau km merasa seperti itu tidak apa2, aku akan berusaha untuk tidak


menonjol. Km jangan memaksakan diri ya.” Kata Fei lagi. “Iya aku tau, terima


kasih ya.” Philia tersenyum kepada Fei . “Ayo kita pergi.” Ajak Fei . Mereka


pun berdiri dari duduk nya dan pergi ke arena. “Baiklah, selamat datang di


arena. Pertama2 perkenalkan sy Pelatih beladiri di akademi ini, nama saya


Leton. Di sebelah kanan saya ada rak2 senjata yang beraneka ragam terbuat dari


kayu untuk sarana latihan. Untuk pertama, silahkan ambil senjata yang kalian


kuasai dengan baik dan kembali baris di depan saya. Ayo bergerak.” Pelatih


Leton memberi pengarahan awal kepada seluruh siswa. Para Siswa pun segera


menuju rak2 senjata untuk mengambil senjata yang di kuasainya. Fei mengambil


sepasang gauntlet dari kayu dan memakainya. “Sepertinya ini cukup bagus,


baiklah, kurasa cukup.” Katanya dalam hati sambil kembali ke barisan. Dia


melihat rak berisi busur dan panah. Cukup banyak juga siswa yang menggunakan


busur dan panah, dia melihat philia mengambil satu set dan kembali ke barisan.


“Baiklah, semua sudah ya, sekarang buatlah barisan untuk yang memiliki senjata


serupa. Kita buat pengelompokan.” Pelatih Leton mengarahkan siswa. Mereka pun


segera membentuk barisan. Mayoritas siswa menggunakan pedang. Pengguna pedang


langsung membentuk sebuah barisan, begitu juga yang menggunakan tombak, kapak,


busur dan tongkat. “Hey, lihat itu, Astoria kun hanya sendirian, sebab hanya


dia yang menggunakan gauntlet.” Para siswa lain berbisik. Beberapa siswa pria


melihat Fei dengan  senyuman sinis dan


meremehkan. “Hah dasar rendahan, dia benar2 tau diri, dia sadar tidak sebanding


dengan kita, kita elit di antara elit.” Ujar mereka. Di antara siswa lain hanya


Fei seorang yang menggunakan gauntlet kayu. Setelah semua berbaris rapi,


pelatih Leton menghampiri Fei yang Cuma seorang di barisannya.”Km hanya memakai


itu ?” Tanya Pelatih Leton. “Iya pak” Jawab Fei singkat. “Hmm menarik, baiklah,


cari teman berpasangan untuk sparring. Untuk yang menggunakan busur dan panah,


silakan ke lapangan sebelah yang sudah di pasang sasaran tembak. Untuk yang


tidak dapat sparring partner, bisa bersama dengan  Astoria kun yang ada di sini.” Pelatih Leton


memberikan pengarahan. “Astoria kun, km tunggu dulu di sini ya, sebab km hanya


sendiri di barisan mu, kalau tidak ada yang belum dapat pasangan, aku akan


menjadi pasangan mu.” Tambah pelatih Leton sambil menepuk pundak Fei . “Baik


pak.” Jawab Fei singkat. Pelatih pun meninggalkan Fei dan mengatur siswa lain


nya. “Fei , aku kesana dulu ya, aku nanti ke sini lagi kalau sudah selesai.”


Philia menghampiri Fei . “Iya, bersenang2 lah.” Fei tersenyum. “Hehe baik.”


Jawab Philia sambil tersenyum. “Philianda san, ayo cepat, kita sudah mau


mulai.” Beberapa siswi yg menggunakan busur, memanggil Philia. “Baik, sebentar


aku kesana.” Philia berteriak membalas. “Aku pergi dulu ya” Philia pun lari


meninggalkan Fei dan menuju ke arah para siswi yang menunggunya. “Hmm


sepertinya dia senang. Aku bersyukur” Pikir Fei sambil melihat Philia yang


lari. “Hey Astoria kun, karena semua siswa jumlah nya pas, aku akan menemani


mu. Kebetulan kita memakai senjata yang sama. Ayo kita kesana.” Pelatih Leton


mengajak Fei . “Baik pak.” Jawab Fei . “Sepertinya aku juga bersenang2” Pikir Fei


semangat. Setelah itu, Fei langsung berhadapan dengan Pelatih Leton. “Baik kita


mulai pada hitungan ke tiga. 1…2….3” Mereka pun maju bersama dan langsung


melontarkan tinju masing2. “Boom” Bunyi dan angin kencang pun keluar ketika


tinju mereka beradu. “Haha menarik sekali Astoria kun.” Pelatih Leton menjaga


jarak. “Iya pak.” Fei pun menjaga jarak. Terlihat wajah nya sangat senang. “Hey


lihat itu, hebat sekali.” Para Siswa yang berlatih di tempat lain berhenti dan


melihat ke arah Fei dan pelatih Leton akibat bunyi dan angina kencang tadi.


“Ayo Astoria kun, majulah..” Pelatih Leton berkata kepada Fei . “Baik pak, sy


permisi.” Fei pun segera maju melesat dengan kecepatan yang tinggi dan langsung


meninju ke arah pelatih leton yang langsung menangkis dan membalas dengan


tendangan. Fei menangkis dengan tendangan juga dan melanjutkan serangan di


teruskan dengan pukulan dan tendangan. Mereka pun saling tangkis dan saling


pukul dengan kecepatan yang luar biasa. Pertarungan mereka sangat indah dan


enak untuk di lihat. “Hey…hey luar biasa, dia bisa mengimbangi pelatih Leton.”


Gumam para siswa yg melihat nya. Mereka terpana oleh pertandingan itu. Untuk


beberapa siswa pria yang sempat meremehkan Fei  terdiam kesal. “Kyaa Astoria kun berjuanglah.”


Teriak para Siswi yang menonton. “Boleh juga astoria kun, untuk kekuatan km


jelas di atas saya, tapi kam hanya bertarung melawan monster, untuk pengalaman km


masih kurang.Aku akan ajarkan km nanti” Pelatih Leton berkata sambil terus


melancarkan pukulan dan tendangan, sekaligus menangkis serangan Fei . “Baik


pak, mohon bimbingan nya.” Fei menjawab sambil menghindar, menangkis dan


melancarkan pukulan dan tendangan. Sementara itu, Philia yang sedang di


lapangan menembak. “Semoga Fei baik2 saja, itu suara apa ya ?” Pikir nya dalam


hati. Suara pertandingan di tempat Fei berada terdengar sampai ke tempat


Philia. “Hmm aku agak khawatir sih, tapi sepertinya dia sedang bersenang2.”


Pikirnya lagi. “Philiandra san, Philiandra san, sekarang  giliran mu loh.” Seorang siswi di belakang


philia menegurnya. Namanya ada lah Charlotte Henz.  “Oh iya maaf Charlotte san, aku akan maju.”


Philia pun maju ke tempat menembak. Tiba2 ada seorang siswi lari menuju mereka.


“Eh di sebelah seru loh, Feirus sama lagi bertanding dengan pelatih Leton.


Pertandingan mereka indah sekali.” Siswi itu mengabari ke siswi pemanah yang


lain nya. “Aduh, aku mau melihat….sekarang giliran ku lagi.” Pikir Philia. “Ada


apa Philiandra san, kamu khawatir ya dengan Feirus sama, tenang saja, km focus


saja di sini.” Charlotte menepuk pundak Philia yang ragu2. “Oh iya, maaf aku


lama, aku akan menyelesaikan secepatnya.” Jawab Philia. Dia pun langsung


menghadap ke sasaran. “Aku kan selesaikan dengan cepat lalu kesebelah.”


Pikirnya. Dia pun berkonsentrasi sebentar dan kemudian mengangkat busur nya.


Philia melepaskan sepuluh anak panah beruntun dan semuanya tepat sasaran di


tengah papan sasaran. “Wow, hebat sekali Philiandra sama, semuanya kena di


tengah dan menembaknya pun cepat sekali.” Semua siswi yang ada di sana berdecak


kagum, mereka mengerubungi papan sasaran tempat Philia menembak. “Hebat, apakah


keluarga Astoria hebat2 semua ya. Philia sama dan Feirus sama keduanya hebat.”


Para sisiwi berkomentar. “Philiandra san, hebat sekali, bisa km mengajari aku


untuk memanah cepat dan tepat…..eh Philiandra san ? Kemana dia ya ? hihi pasti


lari ke sebelah.” Charlotte menoleh setelah memanah untuk mencari Philia tapi


Philia sudah tidak ada. Charlotte Cuma tersenyum. “Aku susul dia ah.” Katanya


dalam hati. Charlotte adalah seorang siswi yang duduk di sebelah Philia, dan satu


kamar dengan Philia di asrama akademi. Dia berteman dengan Philia. “Hufh hufh Fei


….” Philia sampai ke lapangan sebelah ter engah2 karena dia lari dari tempatnya


ke lapangan itu. “Nah benar, ternyata dia di sini.” Charlotte sudah berada di


belakang Philia. “Eh Charlotte san, kenapa ke sini. ?” Tanya Philia. “Hehe, aku


kagum sama km Philiandra san, km hebat sekali memanah nya dan aku lihat Feirus


sama hebat sekali ya, bisa bertarung seimbang dengan pelatih Leton. Kalian


hebat. Eh apa kalian suami istri  ? aku melihat gelang kalian.” Charlotte menunjuk gelang Philia. “Umm iya….” Jawab Philia dengan wajah merah. “Haha tidak usah malu Philiandra san, tunangan ku


juga di akademi kok, hanya saja kita belum resmi. Kalian sangat cocok dan


kalian hebat.” Charlotte menepuk nepuk pundak Philia yang malu. “Suatu hari


nanti ajari aku memanah ya Philiandra san. Aku juga ingin jadi hebat seperti


mu.” Kata Charlotte. “Iya, nanti kita sama2 belajar.” Jawab Philia. Mereka


terus melihat pertarungan Fei dari balkon. Sementara itu, pertarungan semakin


sengit dengan adu pukul dan adu tending. Setelah itu, Fei dan pelatih Leton


menjaga jarak masing2. “Feirus Astoria kun, hebat sekali, aku benar2 senang.


Aku akan mengajarkan km satu tips. Sekarang, km serang aku dengan pukulan


terbaik mu.” Pelatih Leton berkata pada Fei . “Apa tidak apa2 pak ? aku boleh


sekuat tenaga ?” Tanya Fei ragu. “Silahkan, aku siap.” Pelatih Leton memasang


kuda2 seperti seorang pegulat. “Baik pak, mohon petunjuk nya.” Fei menarik


tangan kanan nya, dan memasang kuda2 menyerang. Dia berkonsentrasi dan


mengumpulkan tenaga di tinju kanan nya, sehingga tinjunya bersinar. Lalu dengan


kecepatan tinggi dia maju dan memukulkan tinjunya ke pelatih Leton. Sementara


itu pelatih Leton tersenyum melihat nya dan memejamkan matanya, dia menarik


nafas dan menangkap tinju Fei , kemudian pelatih Leton membanting tubuh Fei ke


lantai hingga lantainya hancur berantakan dan menciptakan lubang yang besar.


Walaupun tidak terluka, Fei sangat kaget, dia tidak menyangka  pukulan nya bisa di patahkan oleh Pelatih


Leton bahkan dia menjadi kalah karena di banting. “Sudah mengerti ? Gunakan


kekuatan lawan untuk membuat lawan merasakan kekuatan nya sendiri, seperti yang


aku lakukan barusan, dengan menggunakan seper empat kekuatan ku. Pakai badan mu


untuk menyalurkan tenaga mu dan gunakan bantingan untuk menghabisi lawan mu yg


lebih kuat darimu.” Kata pelatih Leton sambil menjulurkan lengan untuk menarik Fei


. “Fei iii….” Philia berlari menghampiri Fei karena khawatir di ikuti oleh


Charlotte. “Haha Philiandra Astoria kun, tenang saja, kekasih mu tidak apa2.”


Pelatih Leton melihat Philia yang datang.Dia menarik tangan Fei dan mendekatkan


wajah nya ke telinga Fei . “Aku dapat perintah dari Drax untuk melatih mu.”


Bisik nya.”Terima kasih pelatih, ini pelajaran berharga. Aku akan ingat tips


ini.” Jawab Fei . “Bagus, aku permisi dulu, kekasih mu khawatir tuh.” Dia


membersihkan seragam Fei yang kotor dan beranjak pergi sambil melambaikan


tangan nya. “Heeei yang lain, teruskan latihan jangan nonton saja.” Petlatih


Leton teriak kepada siswa lain nya. Fei membungkuk ke pelatih Leton berterima


kasih. “Km tidak apa2 Fei , ada yang terluka, aku akan menyembuhkan dengan


healing magic ku.” Philia mendekat dengan panic. “Tenang Philia, aku tidak


apa2, dia memusatkan tenaga nya ke lantai bukan badan ku, sehingga lantai nya


jadi seperti ini.” Kata Fei sambil mengelus kepala Philia yang terlihat sangat


cemas. “Ehem….aduh kalian mesra sekali ya. Jangan lupakan aku dong.” Charlotte


yang ada di belakang Philia meledek mereka. “Charlotte san…..” Philia dan Fei saling


membuang wajah nya yang merah. “Hihi, kalian sangat menggemaskan.” Tambah


Charlotte riang. “Kalian sudah selesai ?” Tanya Fei kepada Philia dan


Charlotte. “Aku sudah menembak sih, tapi sepertinya belum sebab hampir semua


melihat pertandingan kamu barusan.” Jawab Philia. “Iya benar, pertandingan nya


sangat bagus dan indah, km hebat Feirus san.” Tambah Charlotte. “Ayo kita ke


sana, aku mau lihat kalian.” Tambah Fei . “Waaaa Feirus san mau melihat ku


memanah awawaw.” Charlotte langsung berlari tersipu2. “Ngg dia kenapa .” Bisik Fei


ke telinga Philia. “Aku tak tahu.” Jawab Philia sambil berbisik. Mereka pun


menuju lapangan tempat menembak, terlihat Pelatih sedang mengawasi para


penembak sambil melirik ke yang berlatih tanding. “Ayo terus, jangan berhenti.”


Teriaknya. Fei , Philia dan Charlote tiba. “Philiandra samaaa…” Para siswi


penembak langsung mengerubungi Philia dan membawa nya ke tengah lapanngan. “Eh


eh eh aduh.” Philia kaget. “Charlotte ada apa ini ? kenapa Philia jadi idola.”


Tanya Fei . “Hehe tadi dia saking cemas nya ke Feirus san, dia buru2 menembak


dan langsung sepuluh panah tepat sasaran. Mereka yang menarik dia yang


melihat  dan kagum.” Jawab Charlotte.


“Baik aku tinggal dulu ya, aku ikut kesana dulu.” Charlotte pamit dan langsung


berlari ke tengah. “Hei Feirus kun, sini nonton sama aku.” Pelatih Leton memanggil


Fei . “Bagus semuanya, sekarang gunakan magic kalian masing2 ke panah dan


tembak sasaran di depan.” Teriak pelatih Leton. Fei melihat Philia urutan ke


dua dalam barisan. “Fire Arrow.” Pemanah di depan Philia menembak sasaran.


Hasil nya kurang kuat karena magic nya masih dalam kategori lemah. Sekarang


giliran Philia. “Lihat, kuda2 nya bagus dan indah. Kekasih mu hebat Feirus


kun.” Pelatih Leton berkomentar. Wajah Fei pun menjadi merah. “Wind Arrow”


Philia pun melepaskan panah yang di enchant dengan wind magic. Hasilnya sungguh


luar biasa, panah nya berhasil menembus sasaran dan menghancurkann ya lalu


panah nya melesat ke tembok dan membuat lubang besar di tembok. “Woow


Philiandra samaaaa….” Para siswi bersorak dan meng elu2kan Philia dan langsung


mengerubungi nya. Fei menutup wajah nya dengan tangan “Tadi dia bilang jangan


berlebihan dan menonjol huh, dia sendiri sangat menonjol. Tapi syukurlah,


sepertinya dia bersenang2.” Pikir nya dalam hati sambil tersenyum kecil. “Hebat


kekasih mu, memang kalian yang sudah terbiasa di lapangan berbeda dengan lain


nya.” Gumam pelatih Leton kepada Fei . “Terima kasih pak, kami akan terus


bekerja keras.” Jawab Fei .  Latihan pun


selesai. Fei , Philia dan Charlote pun kembali ke kelas untuk bersiap pulang ke


dorm. “Philia san, aku kembali agak malam ya, mau jalan2 dulu sama tunangan


ku.Aku mau menunggu di depan kelasnya, dia sekelas dengan Cecilia dan Ronanta.


Aku pamit ya, dadah.” Charlotte pun pergi meninggalkan Fei dan Philia. “Dia


benar2 ceria ya, teman sekamar mu itu.” Fei berkomentar melihat Charlotte.


“Haha iya. Syukur aku sekamar dengan nya.” Jawab Philia. Tiba2, kepala Fei dan


Philia di jitak dari belakang. “Kalian ini, sudah ku bilang jangan menonjol


malah sengaja membuat heboh. Aku juga lihat loh aksi kalian. Bangunan arena


jadi rusak” Ternyata Matt sudah di belakang mereka. “Hahaha maaf Matt, aku


terbawa suasana karena Pelatih Leton sangat kuat. Sangat menyenangkan. Aku


dapat pelajaran banyak.” Jawab Fei . “Hehe, maaf aku juga terlalu senang campur


cemas.” Jawab Philia. “Ya sudah lah, ada hal yang mencurugakan ?” Tanya Matt.


“Sejauh ini tidak ada, km sendiri gimana Matt  ?” Tanya Fei . “Sejauh ini belum ada pergerakan apa2.” Jawab Lori. “Matt


ni, Lori ne mana ?” Tanya Philia. “Oh dia sedang ke lapangan, ada beberapa


siswa  dan siswi sekelas mengajak dia


latih tanding.” Jawab Matt. “Apa tidak apa2 tuh..” Tanya Fei . “Dia gampang


sekali bergaul di kelas, teman nya lebih banyak dariku, semua memanggil dia


‘aneki’. Benar2 seperti ketua preman.” Matt menjawab sambil geleng2 kepala.


“Dasar Lori ne.” Philia bergumam. “Kenapa dasar Lori ne…km ini.” Lori langsung


merangkul Philia dari belakang. “Waaaaaa, aku kaget Lori ne.” Philia tersentak.


“Lori, sudah latih tanding nya ?” Tanya Matt. “Sudah, mereka payah. Ga ada yg


sekuat sayangku ini hehe. Tapi arena hancur ya, ulah kalian kan ? teman kalian


bercerita kepadaku tadi.” Lori menjawab. “Teman kami” Fei dan Philia bertanya


serentak, “Iya, yang rambut nya di kepang dua dan seperti bor.Dia juga menonton


latihan ku tadi dan bersorak2.” Jawab Lori. “Oh Charlotte….” Jawab Fei dan


Philia kompak. “Siapa dia Fei ?” Tanya Matt. “Dia teman sekelas kami dan teman


sekamar Philia di asrama.” Jawab Fei . “Charlotte teman ku, Cuma dia yang


mengajak aku bicara di kelas. Dia juga berkata tunangan nya ada di kelas Cecil


dan Rona” Tambah Philia.  “Oh begitu, baiklah, kita mau kemana sekarang ?” Tanya Matt. “Bagaimana kalau kita pulang ke rumah, aku mau mengunjungi makam.” Tanya Fei . “Boleh juga, aku juga mau.”


Lori menambahkan. “Baiklah, kita tunggu Cecil dan rona, lalu berangkat, dan


malam nya kita kembali kesini.” Kata Matt kepada lain nya. Mereka pun pergi dan


menunggu di depan  kelas Cecil dan Rona yang belum selesai.  Kemudian Charlotte pun datang menghampiri mereka. “Halo, philiandra san, Lorianne san, menunggu di sini juga.” Sapa Charlotte ke Phlia dan Lori. Langsung Lori merangkul Charlotte “Hey, kesini juga kamu.” Lori membalas sapa Charlotte. “Charlotte san, km


menunggu tunangan mu ?” Tanya Philia. “Iya, lama sekali kelasnya. Eh Lori san, itu


Matthew san ya ?” Tanya Charlotte. “Wow, keren ya dia, terlihat kuat, badannya


lebih besar dari Feirus dan terllihat kekar.” Tambah nya. “Hey hey jangan jatuh


hati padanya ya. Dia sudah ku namai.” Lori mendekap Charlotte sambil bercanda.


“Lori ne, Charlotte san ga bisa bernafas tuh.” Philia menegur Lori. “Ups maaf


charlotte, aku keringatan nih gara2 latihan tadi.” Lori melepaskan Charlotte.


“Ah tidak apa2 Lori san, keringat nya wangi kok haha.” Jawab Charlote riang.


Mereka terus berbincang2 sambil tertawa. “Hei Fei , dia ya yang bernama


Charlotte ?” Tanya Matt yang melirik. “Iya betul, orang nya menarik kan.” Jawab


Fei . “Orang nya kecil ya ternyata, sama Cecil aja mungkin masih lebih tinggi Cecil.”


Matt berkata lagi. “Aku tidak kecil.” Charlotte menjawab Matt. Tiba2 dia sudah


ada di depan Matt. “Salam kenal, aku Charlotte Henz.” Katanya sambil


menjulurkan tangan ke arah Matt. “Ah maaf aku berkomentar yang tidak2, namaku


Matthew Von Astoria, anak pertama keluarga Astoria.” Jawab Matt sambil menjabat


tangan Charlotte dan menggaruk kepalanya. Lalu, kelas pun terbuka dan para


siswa berhamburan keluar. “Oniii…..” Cecil berlari keluar kelas dan langsung


memeluk Fei melewati Charlotte dan Matt yang bersalaman. Rona pun menyusul, dia


melihat Matt dan langsung memegang tangan Matt. “Matt oni chan, siapa dia ?”


Tanya Rona sambil melihat Charlotte.”Perkenalkan, aku Charlotte Henz, Ronanta


san.” Charlotte memperkenalkan diri.  “Dia teman Philia.” Matt menambahkan. “Oh begitu, salam kenal Charlotte senpai.” Rona membalas menjabat tangan Charlotte. “Oh siapa ini, km teman Rona


chan, siapa nama mu ?” Cecil menghampiri charlotte dan mengajak nya berbicara.


“Hey Cecil, dia teman sekelasku, walaupun kecil dia senpai mu tau.” Fei menegur


Cecil. “Haaaah maaf maaf maafkan aku senpai.” Kata Cecil sambil menunduk.  “Haha perkenalkan aku Charlotte teman sekelai Feirus san dan Philiandra san.” Charlotte menjabat tangan Cecil. “Ooo Charlotte


senpai, maaf aku tidak sopan.” Cecil menjawab. “Tidak apa2, memang aku kecil


soalnya.” Kata Charlotte sambil tersenyum lebar. “Charlotte sama, aku sudah


keluar.” Seorang siswa bertubuh ramping dan memakai kacamata menemui Charlotte.


“Oh iya, perkenalkan, ini tunagan ku, nama nya Franz. Dia teman masa kecil ku,


kita sama2 tumbuh di desa.” Charlotte memperkenalkan tunangan nya. “Salam


kenal.” Franz menunduk memperkenalkan diri. Tiba2, Franz terjatuh dan


kacamatanya lepas karena di tending seseorang yang baru keluar kelas, ternyata


dia adalah Chris yang kemarin bertarung dengan Fei . “Hei, commoner rendah


jangan menghalangi jalan.” Kata Chris sombong. Dia tidak melihat ada Fei dan


lain nya di situ. “Hey jangan sembarangan ya, kalian benar2 keterlaluan.”


Teriak Charlotte sambil memeluk Franz yang terjatuh dan memakaikan kacamatanya.


“Hah, berani bicara dengan tuan Chris ya, tidak tau diri.” Seorang siswa yang


berjalan dengan Chris menjawab Charlotte. Chris pun berbalik dan menghampiri


Charlotte, dia mengambil kacamata Franz dan menginjak nya. “Rasakan, jangan


menghalangi jalan ku mahluk rendah.” Katanya lagi dengan sombong nya. Chris pun


berbalik jalan dengan sombong nya. Tiba2 pundak chris di pegang. “Hoi minta


maaf.” Fei berkata kepada Chris. “Kurang ajar” Chris pun berbalik dan melihat Fei


, Matt, Lori, Cecil, Philia, dan Rona berdiri di depan Franz dan Charlotte. “Ah


ah ah….Astoria.” Chris pun terjatuh dan merangkak mundur. “Ayo…minta maaf.”


Perintah Fei lagi. “Chris sama” dua orang temannya mulai maju menutupi


Chris.  Tiba2 kedua orang itu terangkat. “Hush diam jangan ikut campur, adik ku lagi bicara dengan Chris sama mu. Kalian hadapi aku saja” Kata Matt geram sambil mengangkat kerah kedua orang itu.


“Aaaaaa” Mereka berdua berteriak ketakutan melihat Matt dengan mudahnya


mengangkat mereka. “Ayo, minta Maaf. Atau km  mau nya apa ?” Tanya Fei sambil mendekatkan wajah nya ke wajah Chris. “Hiii…aa….aku….aaaaaaaa” Chris berteriak histeris. Dari tubuh nya mengeluarkan


aura hitam. “Hati2 Fei ada yg aneh” Lori berteriak. Cecil, Philia dan Rona


membawa Charlotte dan Franz menjauh. Matt melempar kedua orang yang di angkat


nya dan menghampiri Fei . “Hati2 Fei , aku merasakan kekuatan kegelapan dan


nafsu membunuh.” Kata Matt sambil bersiaga. “Ya aku juga merasakan nya” Fei sedikit


menjauh dari Chris. “Hahaha….aku menemukan kalian Demon.” Ucap Chris dengan


suara yang mengerikan dan berat. Badan Chris pun terangkat dan mulai berubah


menjadi mahluk aneh. Badannya menjadi besar dan bengkak hingga merobek pakaian


nya, dari punggung nya keluar dua tangan. Kepalanya menjadi botak dengan


tenggorokan yang bengkak. Chris pun menangis menahan sakit perubahan itu,


matanya menjadi merah total tanpa pupil. Kemudian tangan di belakang nya


menyambar kedua teman nya yang di lempar Matt. “Ah toloooong. Jangan Chris


samaaa.” Kedua nya berteriak dan meresap ke dalam tubuh chris yang bengkak.


Kemudian kepala mereka pun keluar mengapit kepala Chris. Akhirnya Chris pun


menjadi mahluk undead yang mengerikan bernama abomination. “Ugh menjijikkan, Fei


kita harus kalahkan dia di sini, supaya tidak memakan korban.” Matt menganalisa


situasi. “Fei , Lori kalian serang dari kedua sisi, aku akan menahan dia di


sini dengan skill taunt ku. Philia bersiaplah gunakan Holy magic mu. Cecil jaga


Charlotte dan Franz dan Rona chan keluarkan Chappy untuk menutup hall ini


supaya tidak ada yang masuk ke sini. Jangan sampai ada yg melihat. Ini senjata


relic kalian.” Matt memberi perintah sambil mengeluarkan item box dan


melemparkan senjata relic ke Fei dan lain nya. “Maju….” Matt langsung maju


menghadang mahluk itu dan berteriak menggunakan skill Taunt. Mahkluk itu


berbalik dan melihat matt yang menjadi sasaran nya. “Fei , lori serang.” Teriak


Matt. Fei dan Lori segera menyerang dengan claw dan double long sword nya dan


berhasil menebas bagian2 tubuh makhluk itu. Luka yg di sebabkan serangan Fei dan


Lori segera menutup dan daging yang terpotong langsung menyatu kembali. “Astaga


mengerikan sekali, bagaimana cara melawan nya.” Fei dan Lori kebingungan. “Ugh


serangan nya keras sekali walaupun sangat lambat, aku menahan sekuat tenaga


padahal.” Pikir Matt dalam hati. Philia melepaskan beberapa panah ke badan


makhluk itu, panah yang mengenai nya terserap masuk ke dalam tubuh nya. “Ugh


menjijikkan.” Philia mual melihat nya. Tiba2 dari atas Pelatih Leton turun


sambil mengayunkan sebilah pedang besar dan membelah makhluk itu menjadi dua,


tapi makhluk itu masih berdiri dan berniat menyatukan kembali badan nya. “Cepat


serang intinya yang berupa Kristal hitam di dalam badan nya.” Teriak Leton. Fei


dan Lori segera menyerang dan menghancurkan Kristal yang sudah terbelah dua.


Kristal pun hancur dan menjadi debu. Badan Makhluk itu pun meleleh menyisakan


kepala Chris dan dua teman nya yang sudah menyatu.”Bagus, Feirus dan Lorianne


serangan kalian tepat sasaran. Matthew pertahan mu sangat kuat dan tenaga mu


bisa menyamai tenaga makhluk itu.” Leton memuji mereka. “Umm pelatih kok bisa


tau.” Tanya Fei heran kenapa Leton bisa di sana. “Aku juga sama seperti Drax…”


Jawab nya sambil mengedipkan mata. “Oh…aku mengerti.” Fei merasa lega. “Kepala


ini aku bawa, aku menunggu kalian di kantor ku, oh ya, sekalian Charlotte dan


Franz ya.” Kata Leton lagi sambil mengambil kepala Chris yang sudah menyatu


dengan dua teman nya dan membawanya pergi. “Oh ya, tolong jangan cerita apapun,


kejadian cukup kita yang tau.” Tambahnya. Fei dan lain nya pun bengong melihat


Leton yang santai. “A….apa sudah berakhir ?” Tanya Charlotte ketakutan. “Sudah


tidak apa2 Charlotte senpai.” Jawab Cecil sambil tersenyum. “Ka…kalian


sebenarnya siapa.” Tanya nya lagi. Tiba2 sebelum Fei dan lain nya menjawab


Franz berdiri “Terima kasih Feirus sama, Matthew sama, Lorianne sama,


Philiandra sama, Cecilia sama dan Ronanta sama, terima kasih sekali…hiks kalian


sudah menyelamatkan aku dan charlotte.” Kata Franz sambil membungkuk  di depan Fei dan lain nya sambil menangis. “Franz….” Charlote memegang pundak Franz. “Aku juga berterima kasih.” Charlotte


membungkuk bersama Franz dan menangis. “Charlotte sama….” Franz menoleh ke arah


Charlotte. “Sudah, tolong angkat kepala kalian, seperti yang pelatih Leton


bilang, kita sama2 harus ke kantornya.” Matt memegang pundak keduanya. “Baik”


jawab keduanya. Fei dan lain nya memasukkan senjata mereka ke item box dan


memberikan item box nya kepada Matt. Lalu mereka bersama2 dengan Charlotte dan


Franz menuju kantor pelatih Leton. “Ah kalian sudah sampai. Silahkan duduk.”


Sapa Leton santai ketika Fei dan lain nya tiba. “Oji san, bisa jelaskan ini ?”


Tanya Charlotte ke Leton. “Hah Oji san ?” Fei dan lain nya pun kaget. “Ya,


Charlotte adalah keponakan ku, dan Franz adalah teman masa kecil sekaligus


tunangan nya. Dia berasal dari desa perbatasan dengan kerajaan  Beastman kingdom. Dan satu hal lagi, aku dan Charlotte bukan penganut gereja.” Leton menjelaskan. “Oh begitu, Syukurlah.”


Mendengar itu Philia merasa lega, sebab Charlotte adalah teman pertamanya di


akademi itu. “Nah, aku harap kalian bisa menunjukkan diri kalian yang


sebenarnya. Tidak usah khawatir, Charlotte dan Franz di pihak kita.” Leton


berkata kepada Fei dan lain nya. Fei dan lain nya saling memandangi satu sama


lain. “Baiklah, aku yang pertama.” Matt langsung melepas penyamaran nya, di


ikuti oleh Philia dan Rona. Karena Fei , Cecil dan Lori memiliki sisi manusia


jadi mereka tidak melepas penyamaran demon nya.  “Philiandra san, km seorang Elf ?” Charlotte


bertanya kepada Philia. “Umm iya, maaf aku membohongi mu.” Jawab Philia lesu.


Charlotte segera mendekati Philia dan memeluk nya dengan ceria. “Berarti kita


sama ya…..” Ketika Charlotte melepaskan pelukan nya, telinga nya menjadi


panjang. Ternyata dia adalah half elf. “Ibu ku adalah manusia dan papa ku


adalah Elf. Dan ibu ku adalah one chan dari oji san.” Jelasnya kepada Philia.


Mendengar penjelasan Charlotte, Philia yg merasa lega langsung memeluk kembali


Charlotte. Leton mendekati Matt dan berbisik pada Matt. “Untuk half demon nya


ga usah di ceritakan, identitas kalian masih rahasia.” Katanya. Matt pun


mengangguk dan memberi tahu yang lain nya. “Nah baiklah, karena semua sudah


terbuka, Feirus, Cecilia, Philiandra, Ronanta, Lorianne. Kemudian Charlotte dan


Franz, kalian boleh pergi, tapi tolong rahasiakan kejadian ini dan tetaplah


menyamar sebagai manusia. Terima kasih kerjasama nya. O ya Matthew aku mau


bicara, jadi km tinggal dulu di sini.” Kata Leton. “Baik terima kasih pelatih


Leton.” Mereka membungkuk dan melangkah keluar. Hanya Matt yang tinggal di


dalam. “Philiandra san, bagaimana kalau kita ke cafetaria dulu, aku masih ingin


ngobrol sama km.” Ajak Charlotte. Philia menoleh ke Fei dan menatap nya, Fei mengangguk


setuju. “Baiklah ayo Charlotte san, aku juga mau bicara banyak sama kamu.”


Philia dengan senang menyetujui ajakan Charlotte. “Aku duluan ya Fei , Lori ne,

__ADS_1


Cecil, rona chan.” Pamit Philia yang tangan nya di tarik oleh Charlotte. “Feirus


sama, Lorianne sama, aku pamit dulu untuk kembali ke asrama. Cecilia sama dan


Ronanta sama sampai besok di kelas. Aku senang melihat Charlotte sama mempunyai


teman.” Kata Franz. “Baik Frans san, sampai besok yaa.” Jawab Cecil. “Iya,


sampai besok.” Rona menambahkan. Franz pun berbalik dan meninggalkan mereka.


“Kamu kenal dia Cecil ?” Tanya Lori. “Iya Lori ne, aku kenal dia, satu2 nya


siswa laki2 di kelas yang tidak pernah mendekatiku, dan kasihan dia selalu di


bully oleh Chris dan kawanan nya. Sekarang dia bebas, aku bersyukur.” Jawab Cecil.


“Iya benar, rona juga kasihan lihat dia, kadang dia di jadikan pelayan oleh


Chris dan kawanan nya. Padahal dia itu paling pintar di kelas” Tambah Rona.  “Philia ne kelihatan senang sekali dan bersemangat, Charlotte senpai adalah teman pertama nya.” Cecil senang melihat


Philia yang senang. “Iya, Rona juga senang melihatnya, biasanya Philia one chan


tidak banyak bicara dan jarang tersenyum, baru kali ini Rona lihat dia senang


dan bersemangat, bersyukur bersyukur.” Rona menambahkan. “Semua sama ya berarti


sebab aku dan Fei juga pasti sama. Tapi jangan cemburu ya Fei .” Lori meledek Fei


. Wajah Fei pun merah. “Baiklah sekarang kita kemana, aku sebenarnya ingin


makan, perutku lapar.” Tanya Fei mengalihkan pembicaraan. “Bagaimana kalau kita


ke pasar, aku ingin membeli pakaian, dan sekalian kita makan.” Usul Lori.


“Boleh juga, ayo, aku dan rona juga lapar.” Tambah Cecil. “Aku ga lapar kok”


Kata rona dalam hati. “Baik, ayo kita ke pasar. Cecil tolong kabari philia dan


matt pakai alat komunikasi ya.” Kata Fei menyetujui usulan Lori. “Baik oni. Ayo


berangkat.” Cecil pun mengabari Matt dan Philia. Mereka pun segera berangkat ke


pasar. Sementara itu, Matt dan Leton mulai berbincang2. “Langsung saja Matt,


aku adalah ksatria dari empat ksatria pelindung Princess Valia. Drax dan aku


sama. Drax sudah memberitahu ku soal kalian semua. Aku harap kita bisa berkerja


sama. Nah, untuk kejadian ini aku akan melaporkan kepada Princess Valia dan


akan meminta Leslie mengawasi beberapa professor di akademi ini. Rencana kita


berubah karena melihat kejadian tadi. Kita perlu memancing mereka untuk keluar


dan bergerak, aku minta kalian harus menonjol supaya gereja tertarik kepada


kalian. Begitu gereja mulai merekrut kalian, kita mempunyai celah untuk bisa


masuk ke dalam gereja. Bagaimana Matt ?” Tanya Leton serius. “Hmm jadi kita


sudah tidak perlu lagi menyelidiki diam2 ?” Tanya Matt. “Tidak perlu, karena


sudah ada korban dari siswa yaitu Chris dan kawanan nya yang kepala nya ada di


meja ku. Mereka memang suka membuly  yang lemah, contoh nya Franz dan sombong sebagai Noble juga meremehkan orang lain. Tapi mereka tidak sejahat yang kita kira. Dan mereka sangat patuh kepada


gereja. Karena korban hanya mereka, kita tidak terlalu masalah dan masih bisa


lega, tapi coba bayangkan kalau yg lain menjadi korban misal orang yang


tertekan atau banyak masalah karena  hatiyang lemah bisa di kendalikan oleh kegelapan seperti yang terjadi pada Chris hari ini. Kita harus secepat nya membongkar rencana gereja dan menghentikan


nya.” Leton menjelaskan kepada Matt. “Hmm benar pelatih, karena kali ini yang


menjadi makhluk itu adalah manusia seperti Chris jadi kita malah senang melawan


nya. Benar, kalau yg menjadi makhluk itu adalah orang yang tidak bersalah hanya


karena mempunyai hati yang lemah, akan sangat mengharukan. Tapi bagaimana


caranya supaya kita bisa menonjol ?” Tanya Matt. “Sebentar lagi aka nada


pemilihan student council, aku mau Fei , Philia, Cecil dan Rona berpartisipasi


dan menang. Untuk kelas tiga seperti km dan Lori tidak bisa ikut. Karena jumlah


pencalonan harus enam orang, maka aku berniat mengikutsertakan Charlotte dan


Franz.” Jawab Leton. “Tapi apa tidak masalah melibatkan Charlotte dan Franz ?


mereka bisa dalam bahaya.” Matt  berargumen dengan Leton. “Kalau kira2 sudah


mulai masuk bahaya, km dan Lorianne harus mengambil alih tugas Charlotte dan


Franz. Jadi kamu dan Lorianne harus tetap bersiaga walaupun tidak ikut


pencalonan.” Jelas Leton kepada Matt. “Aku mempertaruhkan nyawa keponakan ku


dan tunagan nya  untuk masalah ini. Sebetulnya aku juga tidak ingin mereka terlibat, tapi mereka sudah terlibat akibat kejadian hari ini.” Tambah Leton. “Baiklah, aku akan membicarakan dengan


Feiruss dan lain nya mengenai usulan ini. Apa kata Philiandra nanti kalau kita


melibatkan teman nya.” Tambah Matt. “Haha aku rasa tidak masalah, melihat sifat


Charlotte, dia pasti mau kalau di mintai tolong membantu Philiandra, kalau di


singkirkan dan melihat teman nya dalam bahaya dia malah marah. Philiandra


adalah teman pertama nya di luar desa.” Jelas Lenton yang mengenal sifat


Charlotte. “Iya, bagi Philiandra juga  Charlotte adalah teman pertama nya, tapi sifat nya sangat bertolak


belakang, dia malah mau temannya tidak terlibat bahaya. Kecuali kalau Charlotte


bisa meyakin kan nya. Apa pak Lenton bisa bantu bicarakan kepada Charlotte dan


aku akan bujuk Philiandra tanpa mengatakan kalau Charlotte akan terlibat.” Matt


menjelaskan kepada Lenton. “Baik, aku akan bicara dengan Charlotte dan Franz,


Kita ketemu lagi dalam dua hari, sebab aku akan menghadiri rapat akademi dua


hari ini.” Jawab Leton yang setuju dengan Matt. “Baiklah pak Leton, aku pergi


dulu, sebab aku harus menyampaikan ke mereka tentang hal ini.” Matt berdiri dan


pamit kepada Leton. “O iya Matt, aku dapat kabar dari Princess Valia, minggu


depan dia akan kembali ke sini bersama Drax untuk membantu kita. Penyelidikan


di sana, di tangani oleh ibu Floren. Sekarang beliau sedang dalam perjalanan.


Silahkan, sampai jumpa dua hari lagi.” Leton menyampaikan pesan dari Princess


Valia dan mengijinkan Matt pergi. “Baik, aku permisi pak Leton.” Matt pun


keluar ruangan. Di cafetaria, Philia dan Charlotte sedang berbincang2.


“Philiandra san, km sudah berapa lama menikah dengan Feirus san.” Tanya


Charlotte polos. Wajah Philia menjadi merah mendengar pertanyaan itu. “Umm aku


sudah bertunangan lama dengan dia dan sekitar lima bulan lalu di resmikan


karena sudah berumur 16 tahun.” Jawab Philia malu2. Maksud Philia di resmikan


ketika dia, Fei dan Cecil di peluk oleh weina di penghujung hidup nya dan di


restui dan pada saat itu umur dia dan Fei sudah 16 tahun dan Cecil 15 tahun,


tapi dia tidak menjelaskan kepada Charlotte. “Oh menyenangkan sekali ya. Aku


masih menunggu Franz berumur 16 tahun baru kita bisa meresmikan.” Kata


Charlotte sambil cemberut sedikit. “Sabar saja Charlotte san, Franz san orang


yang baik ya.” Philia mencoba menghibur temannya. “Kalau Lorianne san dan


Matthew san sudah berapa lama mereka menikah ? soalnya mereka terlihat cuek


sama lain tapi saling memberikan dukungan tanpa di minta. Pasangan yang hebat


dan kompak.” Charlotte menyambung pembicaraan. “Kalau mereka sudah dari dulu


sekali tunangan nya dan baru di resmikan tahun lalu, saat mereka ber umur 16


dan 17 tahun. Sekarang mereka sama2 umur 17 tahun. Dua bulan lagi Lorianne ne


san akan berumur 18 tahun.” Philia menjelaskan. Yang di maksud Philia


betunangan sejak dulu adalah ketika sab oji san dan rude oji san berjanji akan


menikahkan murid kesayangan nya dan anak angkat kesayangan nya. “Wah pantas,


sudah sangat sehati dan kompak sekali mereka, seandainya aku juga begitu.”


Charlotte menanggapi. “Memang Charlotte san dan Franz kun sudah berapa lama


bertunangan, bukankah kalian teman kecil.” Tanya Philia penasaran. “Iya, kita


teman dari kecil, kira2 ya seperti Matthew san dan Lorianne san, Cuma aku dulu


jahil dan suka menjahili dia, aku Cuma takut sebenarnya perasaan ku hanya


sepihak. Dia tidak pernah menyatakan apa2 padaku jadi aku takut dia tidak


bahagia.” Jawab Charlotte. “Oh aku rasa ga masalah, Matthew ni san juga seperti


orang yang tidak mencintai dan cuek terhadap Lorianne ne san, tapi kalau terjadi


sesuatu kepada Lorianne ne san, dia turun tangan duluan, sama seperti Franz san


kan, lihat saja, seperkasa2nya Matthew ni san, pasti kalah kok sama Lorianne ne


san, apalagi kalau malam. Kalau pagi2 Matthew ni san lemas berarti malam nya


habis di bantai oleh Lorianne ne san karena pasti Lorianne ne san segar bugar hehe.”


Philia menerangkan sambil tersenyum geli. “Haha memang terlihat sih, kelemahan


Matthew san adalah Lorianne san, tapi aku lihat, Lorianne san benar2 mencintai


Matthew san sampai rela melakukan apa saja. Dia galak tapi ramah, seperti


preman tapi baik dan kuat lagi, aku lihat latih tanding nya tadi, pria maupun wanita


yg menjadi lawan tanding nya takluk sama dia,  akhirnya semuanya panggil dia aneki karena


menghormati dia dan menurut  padanya, aku kagum sih sama dia.” Charlotte menanggapi Philia. “Benar dan Matthew ni san menghampiri kita sambil geleng2 kepala. Tapi juga jangan salah, kalau Matthew


ni san udah marah Lorianne ne san pasti nurut. Mereka memang lucu.” Tambah


Philia. “Haha aku ingin jadi seperti Lorianne san.” Sahut Charlotte. “Eh


ngomong2,  Cecilia san juga istri Feirus kan, km gpp tuh Philiandra san ?” Tanya Charlotte lagi. “Oh Cecil adalah adik kita yang berharga, kita sangat menyayangi dia dan kita juga di resmikan


bersamaan, aku sangat rela dan bahagia kalau Cecilia yg jadi istri kedua Feirus,


sebab untuk bisa bersama seterusnya pernikahan itu diperlukan dan Cecilia


melihat Feirus sebagai pria bukan sebagai oni chan sedangkan dia melihat ku


sebagai one chan. Cuma untuk melaporkan kepada  Negara, masih beberapa bulan lagi karena saat ini Cecilia masih 15 tahun. Feirus adil membagi cintanya di antara kita berdua jadi aku bahagia”


Jawab Philia menjelaskan. “Hehe ternyata seperti itu. Keluarga kalian sangat


kompak ya, aku senang sekali melihat nya, sebab aku anak tunggal ingin rasanya


punya saudara seperti kalian.” Charlotte menjelaskan keadaan nya. “Ah tidak


juga, kadang kita bertengkar juga. Matthew ni  san dan Feirus kadang  berlatih


tanding berlebihan sampai akhirnya mau saling bunuh  dan begitu selesai akhirnya cuek2an selama


seminggu, Lorianne ne san kadang suka seenak nya, sering bikin masalah dengan


orang lain dan setelah orang itu dia hajar maka terpaksa kita semua minta maaf,


Cecilia kadang suka cuek, sembarangan buka baju, bandel dan sifat jahil nya ga


ketolongan, dan Ronanta chan yg pasif, diam saja walau melihat aku kerepotan


dan paling susah di tanya mau makan apa karena diam saja. Repot tau mengurus


mereka.” Keluh Philia. “Hahaha Philiandra san, itu tandanya km menyayangi


mereka dan cerita mu itu artinya keluarga mu itu akrab satu sama lain nya. Km


pantas jadi ibu Philiandra san.” Charlotte tertawa mendengar keluhan Philia.


“Haha kamu benar Charlotte san, aku bahagia sih mengurus mereka walau kadang


aku jadi kerepotan sendiri.” Philia pun tertawa.  Mereka terus berbincang2  sambil tertawa2 layak nya teman yang akrab. Setelah itu mereka berdua kembali bersama ke asrama. Mereka meneruskan


berbicara nya di kamar mereka. “Knock2” Pintu kamar di ketuk. “Siapa” Teriak


Philia. “Aku Philiandra ne…” Akhirnya Philia membukakan pintu. “Ada apa Cecilia,


kenapa km kesini ?” Tanya Philia. “Ng bisa bantu aku cari Matthew oni ga


Philiandra ne ?” Tanya Cecil kepada Philia. “Oh ada apa ??” Charlotte ikut


bertanya. “Begini, tadi di bar setelah kita makan, Lorianne ne san tidak sengaja


minum minuman keras, sekarang dia mabuk dan agak rusuh…Feirus oni menyuruh ku


memanggil  Matthew oni, karena dia dan Ronanta chan berusaha menenangkan tapi agak kewalahan, tadi aku ke kamarnya  dia tidak ada dan di kantor pelatih juga tidak


ada, bisa bantu aku  cari Matthew oni, Philiandra ne dan charlotte senpai ?” Cecil bertanya. “Aduh…kenapa bisa salah minum ?” Tanya Philia. “Iya pelayan salah mengantarkan gelas katanya, begitu


sadar sudah terminum. Aku Cuma berdoa semoga bar nya masih utuh. Tau kan Lorianne


ne san orang nya kayak gimana” Cecil menjelaskan. “Ya sudah, ayo kita cari


Matthew ni san, Charlotte san aku pergi dulu ya.” Philia pamit kepada


Charlotte. “Pfft memang susah jadi ibu. Aku bantu cari, jangan larang aku ya.”


Charlotte menanggapi. “Aku jadi ga enak, tapi ini darurat, ayo kita berangkat.”


Tambah Philia. “Coba kita ke arena, mungkin dia di sana.” Kata Philia. Mereka


pun segera keluar dari asrama dan menuju arena. Dugaan Philia benar, Matt


sedang menonton latih tanding. “Matthew Oni, cepat ikut aku…..Lorianne ne


sedang dalam keadaan gawat.” Cecil langsung menarik tangan Matt panic. “Hah ada


apa, kenapa Lorianne, ayo cepat tunjukkan jalan nya.” Matt langsung berdiri dan


berlari di belakang Cecil. “Ayo kita susul.” Charlotte menarik tangan Philia.


Tak lama, mereka pun sampai ke bar itu dan langsung masuk. Di dalam, meja dan


kursi berantakan dan tidak ada orang lain selain Fei , Rona, dan Lori yang


pingsan karena mabuk. “Aduh, terlambat.” Ujar Cecil. “Ada apa sebenarnya,


kenapa Lorianne.” Tanya Matt sambil menghampiri Lori dan memegang kepalanya.


“Aku jelaskan.” Fei lalu menjelaskan semuanya. “Hadeh, Feirus jaga lori


sebentar, aku mau bicara sama pemilik bar.” Matt langsung berjalan menuju belakang


bar. “Philiandra kamu kok di sini ? Bukan nya km sibuk ?” Tanya Fei . “Tadi Cecilia


minta tolong cari Matthew ni san, makanya aku jadi ikut ke sini bersama


Charlotte san.” Jawab Philia. “Charlotte san, maaf sekali ya, jadi menyaksikan


pemandangan tidak enak ini. Terima kasih sudah membantu” Fei meminta maaf


kepada Charlotte sambil menunduk. “Tidak apa2 Feirus san. Senang bisa


membantu.” Kata Charlotte. Tak lama, Matt keluar dan membungkuk di depan pintu.


“Terima kasih, sekali lagi mohon maaf. Saya pamit dulu” Katanya di depan pintu.


Dia langsung berjalan menuju tempat Lori terbaring dan menggendong nya. “Aku


duluan ya, maaf ya charlotte san jadi merepotkan.” Katanya sambil menggendong


Lori. “Iya gpp Matthew san, kita sama2 saja kembalinya,  sebab laki2 kan tidak boleh masuk asrama


perempuan, nanti sampai sana kita bisa gotong Lorianne san bersama dan membawa


ke kamar nya.” Sambil tersenyum. “Oh iya, maaf jadi merepotkan. Ayo kita jalan.”


Matt pun melangkah keluar sambil menggendong Lori yang tidur di punggung nya.


“Philiandra ne, kita beli sate dulu yu, aku mulai lapar.” Ajak Cecil. “Nanti,


siapa yg gotong Lorianne ne san nanti kalau kita pergi.” Jawab Philia. “O iya


lupa. Hehe maaf.” Jawab Cecil lagi. “Feirus oni chan, Ronanta mau beli itu.”


Rona menunjuk sate yg sedang di bakar. “Baik, Matthew ni san, kalian duluan ya,


aku sama Ronanta chan menyusul. “ Teriak Fei . “Feirus oni, titip belikan aku


sekalian, yang banyak.” Tambah Cecil. “Iya, tapi cepat kembali, ada yang mau


Ronanta tadi dia sempat ketakutan.” Jawab Fei kepada Matt. “Iya aku ngerti, yg


penting jangan lama2.” Matt setuju. Fei dan Rona pun berpisah dari mereka.


“Philiandra san, benar ya, ternyata mereka sama seperti yg km ceritakan hehe.”


Bisik Charlotte ke Philia. “Iya kan, makanya aku repot. Tapi, menyenangkan kan


?” Jawab Philia. “Haha iya.” Charlotte membalas. “Philiandra ne, Charlotte


senpai, kenapa kalian bisik2 ?” Tanya Cecil yang berjalan di depan mereka.


“Haha tidak apa2.” Jawab Philia. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan


asrama putri. “Untuk sementara aku, Cecilia dan charlotte san akan di kamar


Lorianne ne san, sampai dia sadar. Nanti kalau sudah sadar, aku beritahu


Matthew ni san.” Philia berbicara kepada Matt. “Iya, tolong ya Philiandra,


jagain dia. Makasih ya” Balas Matt. Dia pun terus menunggu di depan asrama,


sementara Philia, Cecil dan charlotte menggotong Lori masuk ke kamarnya. Tak


lama kemudian Fei dan Rona pun tiba. “Semua ada di kamar Lori, mereka menunggu


Lori sadar.” Kata Matt di depan asrama putri. “Oh ok, kita bisa bicara di taman


depan sini saja.” Jawab Fei .  “Rona chan, tolong langsung ke kamar Lori ne, aku beli sate banyak, nanti bagi Cecil, philia dan charlotte ya.” Fei berkata kepada Rona. “Ayo Fei , nanti sekalian


aku minta tolong jelaskan ke Philia dan Cecil.” Kata Matt. “Ayo kita kesana,


sepertinya penting.” Tambah Fei . Mereka pun menuju kursi di taman di depan


asrama putri dan duduk di sana. Matt pun menjelaskan pembicaraan nya dengan


Pelatih Leton kepada Fei . Sementara itu di kamar Lori, “Ugh aku di mana ini.”


Lori tersadar. “Oh sudah sadar Lorianne ne san, tadi ne san pingsan di bar, dan


di bawa ke sini sama Matthew ni san.” Philia menjelaskan. “Oh begitu ya, trus


dia dimana sekarang, aku mau ketemu dia dulu.” Lori langsung mau turun dari


ranjang. “Eh jangan dulu ne san, nanti malah muntah, minum air dulu nih, km


mabuk tadi.” Philia mencegah Lori. “Oh iyaaa, trus yang jemput aku Matthew ?”


Tanya nya. “iya Lorianne ne, yg jemput ne san aku, Feirus oni, Matthew oni,


Philia ne, Ronanta chan dan Charlotte senpai.” Jawab Cecil ringan. “Aduuh, aku


malu, bahkan Charlotte san juga jemput,  dan aku berbuat apa di sana ? rasanya mau mati


ajaaa.” Lori langsung sembunyi di bawah selimut. ”Cecilia km kabari Matthew ni


san, kalau Lorianne ne san sudah sadar ya.” Philia minta tolong ke Cecil. “Ok,


aku keluar.” Cecil berdiri. “Eh jangan, nanti aku yang temui dia, jangan bikin


aku lebih malu dari ini.” Lori menarik tangan Cecil. “Aduh, sakit Lorianne ne.”


Cecil menjawab kaget. “Oh maaf, maaf, jangan ya Cecilia, Philiandra, please.


Aku sendiri yg bicara sama dia nanti.” Kata Lori bingung. “Tenang aja Lorianne


ne san, Matthew ni san ga marah, kan ga sengaja.” Philia berusaha menenangkan


Lori. “Iya aku tau, tapi aku malu.” Katanya lagi. “Knock2” Pintu di ketuk.


“Lorianne one chan, ini aku Ronanta, aku masuk ya.” Rona pun membuka pintu


sambil membawa sate yang lumayan banyak. “Asiiik Fei nii memang mantap. Aku


makaaaan.” Cecil mau mengambil sate dari kantong yang di pegang rona. “Eh


sebentar Cecil one chan, ini punya km, dan sisanya punya rona.” Rona memberikan


lima tusuk sate kepada Cecilia, karena terlalu lapar dan tergoda wangi sate dia


lupa dengan pesan Fei . “Loh kok gitu, kan aku juga titip sama Fei nii tadi.” Kata Cecil.


“Cecil one chan kan ga bilang titip berapa” Jawab Rona. “Ahhh sini, aku minta


lagi.” Cecil berusaha mengambil kantong di tangan Rona. Rona pun berlari dan


akhirnya mereka kejar2an memutari ranjang Lori. Sementara Lori masih di dalam


selimut dan bergumam “Aku mau mati….aku mau mati….aku mau mati….” Katanya ber


ulang2 saking malunya. Melihat Rona dan Cecil kejar2an dan Lori yg bergumam


sendiri, Philia menjadi stress dan akhinya naik pitam. “STOOOOP.” Philia


berteriak. “Cecilia, Ronanta berlutut sini, kalian ini jangan kayak anak kecil


ini bukan di rumah, kalian harus berbagi, Feirus beli buat di makan bersama,


jangan berebut, makan sekenyangnya, nanti kalau kurang aku beli lagi.” Philia


memarahi Cecil dan rona. “Maafkan kami Philiandra one chan.” Mereka berdua


meminta maaf. “Dan Lorianne ne san, udahlah, kamu kan ga sengaja, ga ada yang


menyalahkan kamu, ga perlu malu lagi, ayo keluar dari selimut dan makan


satenya.” Philia menarik selimut Lori. “Maaf Philiandra” Lori minta maaf kepada


Philia. “Ternyata memang benar dia itu mommy  mereka hehe, terlihat kalem, kalau marah hebat


semuanya takluk, nanti aku ledekin ah.” Charlotte yang melihat semua yang


terjadi, tertawa dalam hati melihat Philia dan dia kagum sama Philia. Akhirnya


mereka semua makan sate bersama sama. Sementara itu di luar, “Km sudah mengerti


Fei , tolong bilang ke Cecil, Rona dan Philia, Lori nanti aku yang jelaskan.


Tapi sementara, jangan katakan apa2 soal keterlibatan Charlotte kepada Philia.


Kamu tau kan Philia.” Matt menjelaskan kepada Fei . “Hmm jadi student council


ya, tapi apa ga apa2, aku ga pandai bicara, lagipula aku ga suka di tengah2


banyak orang.” Jawab Fei . “Ya, aku tau, tapi ini demi misi kita dan demi


menghancurkan kejahatan sekte dan gereja. Kalau aku bisa, aku yang maju Fei .”


Matt meyakinkan Fei . “Uhh baiklah demi misi kita dan mencegah korban


berjatuhan, aku akan berusaha.” Jawab Fei . “Terima kasih Fei , aku yakin kamu


pasti bisa.” Matt berkata sambil menepuk pundak Fei . “Iya Matt, aku akan


menyampaikan ke mereka sesegera mungkin.” Fei membalas Matt.”Matthew oni, Feirus  oni, dipangil Lori ne.” Cecil melambai sambil berteriak. Mereka juga melihat Lori dan lain nya keluar dari asrama.


“Matthew, Feirus, maafkan aku, aku menyusahkan kalian.” Lori membungkuk di


depan Matt dan Fei sambil menangis. “Aku sih tidak apa2 tenang saja Lorianne


ne.” Jawab Fei . “Dah Lorianne, sini, angkat kepala mu dan berhenti menangis.


Dah gpp ini Cuma kecelakaan, bukan salah mu.” Matt memeluk Lori yang menangis


sambil mengelus kepalanya. “Iya….makasih sayang.” Lori menjawab dan balas memeluk.


“Philiandra san, mereka mesra sekali.” Charlotte berbisik. “Hehe sudah biasa.”


Jawab Philia sambil berbisik juga. “Apanya yang sudah biasa Philiandra ?” Tanya


Fei yang tiba2 ada di belakang Philia. “Whaa…..tidak2…..kenapa km di sini.”


Philia kaget melihat Fei sudah di belakang nya. “Terima kasih ya Philiandra,


kamu sudah menolong walau km sibuk.” Fei mengusap kepala Philia. Wajah Philia


menjadi merah dan malu. “Iya….Feirus.” Jawab nya. “Ehem, mesra sekali ya hehe.


Philiandra san, km imut deh hehe.” Charlotte meledek Philia. “Aaah Charlotte


san, jangan meledek ku.” Balas Philia dengan wajah yang sangat merah. “Oniii


aku jugaaa.” Cecil langsung memeluk tangan Fei . “Iya iya km juga membantu Cecilia.”


Cecil juga di usap kepalanya oleh Fei . “Hehe makasih oni chayank.” Cecil


berkata kepada Fei dengan senang nya. “Kalau aku Feirus Oni chan ?” Tanya Rona.


“Iya Ronanta chan juga membantu, kerja yang bagus.” Fei jongkok dan mengelus


kepala Rona. “Matthew oni chan, Lorianne one chan, Ronanta membantu kan ?” Tanya


Rona setelah menghampiri Matt dan Lori. “Iya, sini di gendong.”  Matt langsung menggendong Rona. “Makasih ya Ronanta chan.” Lori mengelus kepala Rona. Rona pun tersenyum lebar. “Benar2


keluarga yang kompak, mereka saling menjaga satu sama lain, Philiandra san


sangat beruntung. Aku sedikit iri. ” Gumam Charlotte dalam hati melihat drama


di depan nya. “Charlotte samaa…” Franz berteriak sambil berlari menuju ke


tempat Charlotte berdiri. “Charlotte sama, kemana saja, aku dari tadi mencari


km, aku berencana makan sate ini bersama mu.” Franz berkata kepada Charlotte


dengan cemas. “Aku tadi membantu mereka” Jawab Charlotte sambil menunjuk ke


arah Philia dan lain nya. “Oh begitu, syukurlah, aku sempat cemas tadi.” Franz


berkata lagi. “Franz san, itu sate…?” Tiba2 Rona sudah ada di depan Franz dan


melihat kantong yang di bawa Franz. “Eh Ronanta sama, iya ini sate, km mau


?”Tanya Franz kepada Rona. “Iya mau, boleh minta ?” Tanya Rona sambil


menjulurkan tangan nya. “Ini Ronanta sama, aku kasih tiga tusuk.” Franz mengambil


tiga tusuk sate dan di berikan kepada Rona. “Lima….kurang dua” Kata Rona lagi


sambil menjulurkan lengan. “Ba..baiklah Ronanta sama.” Franz pun mengeluarkan


dua tusuk sate lagi. “Terima kasih Franz san.” Rona pun berbalik dan duduk di


kursi sambil menikmati sate nya. “Apa ya yang barusan ?” Pikir Franz dalam


hati. “Franz san….” Cecil berbisik di telinga Franz dari belakang.  “Hyaaaa…..Cecilia sama ?” Jawab Franz kaget.


“Apa itu Franz san yang ada di kantong itu…sate ya…..boleh aku minta….?” Tanya Cecil


dengan gaya sok imut. “i…ini Cecilia sama, aku berikan tiga buah.” Franz


mengeluarkan tiga tusuk sate. “Kamu kasih dia brp Franz san…?” Tanya Cecil


sambil menunjuk Rona. “Ng….lima tusuk.” Jawab Franz lemas. “Ok kalau begitu


…..samain hehe.” Kata Cecil sambil menjulurkan tangan. “I…iya Cecilia sama,


silakan….” Franz pun mengeluarkan dua tusuk sate lagi. “Terima kasih Franz san,


muah.” Cecil pun pergi dan duduk di sebelah Rona. Franz pun terduduk lemas


“Sepertinya aku sedang di bully.” Pikirnya. “Hehe tenang Franz, kasih saja


mereka,  aku tidak apa2, aku sudah makan punya mereka juga soalnya tadi hahaha.”  Cherlotte menghibur Franz. “Mereka mengerikan Charlotte sama.” Tambah Franz. “Franz san, maaf kan kelakuan adik2 ku, ini aku ganti uang satenya.” Philia menghampiri Franz dan membungkuk. “Tidak apa2 Philiandra sama, mohon


angkat kepala anda, benar tidak apa2, aku tidak bisa menerima nya.” Jawab Franz


sambil mengangkat tangan nya. “Franz, sudah terima saja ya, dan mohon maaf ya.”


Fei berkata di belakang Franz sambil memegang pundak nya. “Hiiii….ampun Feirus


sama, iya iya aku terima uang nya. Terima kasih.” Kata Franz sambil menyembah Fei.


“Charlotte san, dia kenapa ?” Bisik Fei kepada Charlotte heran. “Dah biarkan


saja Feirus san, tidak apa2. Tidak usah di pikirkan.” Bisik Charlotte ke pada Fei.


“Baik aku kesana dulu ya, sampai besok Charlotte san.” Fei pun berjalan ke


arah Matt dan Lori berdiri. “Mereka benar2 mengerikan Charlotte sama. Hiks”


Franz berkata kepada Charlotte sambil menangis. “Um maaf ya Franz san, aku jadi


benar2 ga enak.” Philia menunduk dan berkata kepada Franz. “Hiii Philiandra


sama….maaf…..” Franz pun belari kencang. “Yah lari deh dia hahaha.” Charlotte


melihat dengan geli. “Apa kami semenakutkan itu ?” Philia bertanya kepada


Charlotte heran. “Ah tidak, dia memang begitu sifatnya, makanya dia sering di


bully, tapi aku sayang dia. Btw kerja bagus mom, hebat km, semua bisa nurut


sama km ya Philiandra san eh mom.” Charlotte meledek Philia. “Hah siapa yang


mom, jangan meledek aku terus Charlotte san, aku malu.” Philia berkata dengan


wajah merah. “Sudah ya, aku mengejar dia dulu, terima kasih ya Philiandra san,


hari ini menyenangkan, sampai ketemu di kamar.” Charlotte pamit kepada Philia.


“Sama2 Charlotte san, aku senang berbincang2 sama km juga. Sampai ketemu di


kamar.” Jawab Philia. Charlotte pun segera pergi mengejar Franz. Philia


berkumpul kembali dengan Matt dan lainnya. “Nah semua bisa kumpul, baik aku


akan jelaskan isi pembicaraan ku dengan Pelatih Lenton.” Matt menceritakan


kepada Philia, Lori, Cecil dan Rona rencana untuk mengikuti pemilihan student


council dan alasannya.”Hmm aku dan Matt tidak boleh ya, jadi nanti siapa yang


menggantikan kita Matt.” Tanya Lori. “Oh nanti ada dua orang dari pelatih


Lenton  yang akan join grup kita, tapi kalau situasi mulai berbahaya, mereka akan di gantikan oleh kita berdua. Sebab tujuan nya bukan buat menang, tapi membuat gereja tertarik kepada kita.” Jawab


Matt. “Kira2 sudah tau belum Matt ni san, siapa orang nya ?” Tanya Philia.


“Um…dia tadi ada sebutkan nama, tapi memang aku belum kenal orang nya. Dia


minta dua hari lagi kita ketemu di kantor nya.” Jawab Matt. “Maaf baru


menyampaikan sekarang, tapi misi kita sekarang ada progress.” Tambah Matt.


“Uh…kepala ku pusing, aku masuk duluan ya sayang, Feirus dan lain nya. Maaf.


Sampai besok semua” Lori berkata sambil memegang kepalanya. “Iya gpp, aku antar


sampai ke pintu. Sampai besok semua” Jawab Matt sambi memegang pundak Lori.


“Kalau begitu aku kembali ke asrama ku ya, banyak yang terjadi hari ini.


Philia, Cecil dan Rona chan sampai besok ya. Matt Lori sampai besok” Fei pun


pamit dan kembali ke asrama nya. “Aku dan Rona chan di sini dulu ya Philia ne,


masih kenyang, sebentar lagi aku masuk.” Cecil berkata kepada Philia. “Baik,


kalau begitu aku masuk duluan, sampai besok ya.” Philia pun masuk kedalam


asrama. “Rona chan, philia ne jadi ceria ya sekarang, aku harus berterima kasih


pada Charlotte senpai nih.” Cecil mengamati Philia dari belakang sambil


tersenyum. “Iya, Rona senang Cecil one chan Kalau mau berterima kasih nanti


Rona  temani ya Cecil one chan.” Tambah Rona yang juga tersenyum melihat Philia.


Dua hari kemudian, setelah kelasselesai, mereka berenam berkumpul di kantor Pelatih Lenton. “Langsung saja, semuanya sudah mendapatkan pengarahan dari Matthew kun mengenai misi dan tujuan


kita ini ?” Tanya Lenton kepada Fei dan lain nya. “Sudah pak, Matthew ni sudah


memberi tahu kita mengenai tujuan misi kita dan apa yang harus kita lakukan.” Fei


menjawab. “Baik, untuk pemilihan ini di butuhkan enam kandidat yang terdiri


dari, Ketua, Wakil ketua, Sekertaris, Bendahara, Ketertiban dan keamanan,


Bagian umum. Untuk kelas tiga tidak bisa ikut dan ketua  juga wakil harus kelas 2. Ini susunan baku


nya, karena itu Matthew kun dan Lorianne kun tidak bisa ikut. Jadi saya mengusulkan


untuk memasukkan orang pilihan saya untuk mengisi kekosongan. Mengenai jabatan


nya sy serahkan kepada kalian. Bagaimana pendapat kalian ?  Tujuannya, tidak harus menang yang penting


menarik perhatian” Kata Lenton. “Kami rasa tidak masalah pak.” Jawab Fei .


“Bagus, kalau begitu, para kandidat silakan masuk.” Lenton membuka pintu di


samping. Charlotte dan Franz pun masuk ke dalam ruangan. “Charlotte


san…..kenapa ?” Philia kaget melihat nya. “Pelatih Lenton, apa maksudnya ini,


kenapa Charlotte san di libatkan, ini misi berbahaya.” Philia protes kepada


Lenton. “Philiandra san, tidak apa2, oji san sudah menjelaskan semua, aku ingin


membantu Philiandra san. Kumohon ijin aku membantu mu Philiandra san.”

__ADS_1


Charlotte menjawab Philia. Philia langsung menghampiri Charlotte  “Charlotte san, ini bukan main2, ini


berbahaya, aku ga mau km terlibat seperti kejadian kemarin.” Kata Philia sambil


memegang kedua tangan Charlotte. “Aku sudah terlibat sejak kemarin, kalian


sudah menyelamatkan aku dan Franz, ijin kan aku membantu sebagai ucapan terima


kasih ku.” Jawab Charlotte. “Pelatih, aku ga setuju, kalau terjadi apa2 dengan


Charlotte san bagaimana ? Tolong, aku mohon.” Philia protes kepada Pelatih


Lenton. Charlotte menghampiri Philia dan merangkul pinggang nya dari belakang.


“Philiandra san, tolong ijinkan aku membantu, atau km takut aku membebani mu ?”


Tanya Charlotte. “Bukan, bukan itu maksud ku, aku ga mau Charlotte san dan


Franz san terlibat bahaya.” Philia ketakutan. “Philiandra san, ikut aku yuk


kedepan, aku mau bicara sama kamu. Permisi sebentar oji san”  Ajak Charlotte. “Ya silahkan.” Jawab Lenton. Mereka berdua keluar di temani Franz. “Yah, aku sudah duga sih bakal begini. Philia ne


kan emang orang nya berperasaan halus ga kayak kita2 apalagi ini melibatkan


teman pertama nya dia” Cecil berkomentar. “Wah nyindir nya dalam banget nih,


maksud mu kita semua ga berperasaan gitu ?” Tanya Fei . “Bukaaaan, ih oni


salah, maksudnya dia ga bisa cuek kayak kita2, gitu loh.” Jawab Cecil lagi. “Oh


kalau itu mah km doing, aku dan Matt semalam sudah bertemu Charlotte dan Franz,


kita udah jelaskan semua ke mereka. Kita tanya apa mereka setuju, kalau tidak


kita tidak memaksa.” Tambah Fei . “Oh bagus, berarti kalian berdua membohongi


kami semua ya.” Lori menyela. “Bukan begitu, kita Cuma ga mau membuat Philia


khawatir. Km tolong ngerti ya sayang.” Matt menjelaskan kepada Lori. “Hey,


jujur, aku juga ga setuju sebenarnya, karena aku ga bisa ikut saja makanya jadi


aku mau ga mau. Tolong lain kali ngomong di depan, kasihan Philia.” Lori memarahi


Matt dan Fei . “Iya bener, Lori ne bener Matt  oni, Fei nii, aku sendiri juga kalau bisa mah jangan melibatkan orang awam. Dah tau Philia ne gampang panic” Cecil menambahkan. “Tadi km bilang km


cuek kan ?” Fei mengingatkan Cecil. “Tadi ya tadi, sekarang ya sekarang hehe.”


Jawab Cecil malu. “Sudah, ini adalah keputusan ku, dan Charlotte yang merupakan


keponakan ku memang dari awal penyelidikan sudah terlibat, jadi kalian jgn


bertengkar sendiri, aku yang bertanggung jawab di sini.” Pelatih Lenton berbicara


kepada semuanya. Fei dan lain nya pun diam. “Baik pak Lenton.” Jawab mereka.


Sementara di luar, “Philiandra san, jujur sebenarnya aku senang km khawatir


soal aku dan Franz, tapi aku juga kecewa km tidak percaya padaku. Memang secara


kemampuan, kita berdua kalah jauh dari km dan saudara2 mu. Tapi perjuangan kita


sama, aku di sini juga ingin menyelidiki kematian ayahku yg berhubungan dengan


gereja. Jadi memang ini keegoisan ku juga.” Charlotte menjelaskan ke Philia


maksudnya. “…..Tapi….” Kata Philia ragu. “Charlotte san, km adalah teman ku


yang berharga, aku ingin membantu km, aku juga senang kalau bersama km, tapi


ini lain, km tau kan apa yang kita hadapi ? Bukan nya aku meremehkan km. Aku


tidak mau km kenapa2, km teman pertama ku.” Philia menambahkan. “Sama


Philiandra san, km juga teman pertamaku, selama ini aku selalu di kurung di


rumah, teman ku hanya Franz dan aku tidak punya teman sebaya yang perempuan.


Jadi ayo kita berjuang bersama, Kita saling dukung satu sama lain, km setuju


kan Philiandra san ? Soal ini, oji san tidak memaksaku, ini keputusan ku,


karena sebenarnya aku juga gam au teman ku kenapa2.” Charlotte menjelaskan


kepada Philia. “Kalau memang ini keputusan mu sendiri, aku ga berhak melarang


mu, tapi ijinkan aku membantu ya Charlotte san.” Kata Philia sambil memegang


kedua tangan Charlotte. “Aku gam au. Aku mau nya kita berjuang bersama


Philiandra san, karena kita teman.” Charlotte memeluk Philia dengan ceria. “Iya…aku


setuju…” Philia tidak bisa berkata apa2 lagi. “Charlotte san, km bener2 mirip Cecilia,


kalau sudah mau tidak bisa di ubah.” Kata Philia sambil tersenyum dan menghapus


air matanya. “Haha, gitu ya. Memang biasanya mommy takluk sama anak manja nan


imut.” Ledek Charlotte. “Siapa yang mommy….” Philia  dan Charlotte pun tertawa. “Ayo masuk, oji


san sudah menunggu. Ayo Franz” Ajak Charlotte sambil menarik lengan Philia dan


Franz masuk kedalam. Mereka pun masuk. Fei dan Matt menghampiri Philia dan


menunduk. “Philiandra maaf kan kami ya, semalam sebenarnya kami sudah tau, dan


ketika bubar semalam kami menghampiri Charlotte dan Franz menjelaskan semua.


Maaf sudah membohongi mu.” Kata Matt yang di damping Fei . “Aku juga maaf ya


Philiandra…aku takut melukai mu” Tambah Fei . “Memang benar, ketika aku pergi


mencari Franz, mereka membantu mencari. Kemudian ketika bertemu Franz, mereka


menjelaskan semua.”  Charlotte menambahkan dan membenarkan.


“Iya Matt ni san, tidak apa, aku mengerti kalian melakukan ini demi aku.” Jawab Philia.


“Feirus, sini, makasih ya, udah melindungi perasaanku….aku sudah tidak apa2, tapi lain kali tolong jangan ada


rahasia lagi.” Philia memeluk Fei . “Iya..aku berjanjiPhiliandra.” Jawab Fei sambil


memeluk Philia. Akhirnya Charlotte dan Franz bergabung untuk pencalonan Student


Council dan memancing gereja. “Nah sekarang kalian berdiskusi, tentukan


jabatan2 nya di antara kalian, saya tunggu besok. Hari ini, sy harus menghadap


ke atasan, terima kasih atas kerjasama nya.Silahkan bubar.Dan semoga berhasil


”Kata Pelatih Lenton mempersilahkan semuanya keluar. “Baik pak, terima kasih,


kami pamit dulu.” Kata Matt. Mereka pun keluar dari ruangan.”Jadi, sekarang


bagaimana ?” Tanya Matt. “Kalian bisa menentukan sendiri ?” Tambahnya. Cecil


mengangkat  tangan nya “Usul, gimana kalau Ketua Philia ne, Wakil nya Charlotte senpai, aku bendahara aja.” Katanya.


“Hah, Cecilia bendahara ? berantakan dong, km seksi umum saja. AKu setuju  sih kalau Philiandra jadi ketua dan Charlotte.


” Lori menyela. “Lorianne ne jahat…..aku kan bisa hitung uang huee.” Cecil


cemberut. “Hehe, bercanda Cecilia chayank.” Lori mengelus kepala Cecil. “Feirus


aku serahkan padamu ya. Aku dan Lorianne Cuma mendukung saja. Sekarang aku dan


Lorianne pamit dulu, kita ada beberapa urusan di kelas.” Kata Matt sambil


menepuk punggung Fei dan langsung pergi bersama Lori. “Uhh….aku sebenarnya


malas urusan begini….” Fei bergumam. “Jadi bagaimana ? yang lain gimana ?”  Tambah nya. “Gimana kalau ketua nya km saja Feirus.”


Philia mengusulkan. “Ga bisa, km kan tau aku ga bisa bersosialisasi apalagi di


suruh pidato. Dan aku ga suka kerumunan” Jawab Fei menolak. “Dasar, Charlotte


san saja ketuanya.” Tambah Philia. “Aku juga ga bisa, dulu aku selalu di rumah


jadi ga bisa dengan mudah bicara sama orang.” Jawab Charlotte menolak. “Nah


benar kan, pilihannya Cuma Philia ne hehe, aku sudah duga kok.” Cecil


menambahkan dan memilih Philia sebagai ketua. “Ronanta seuju dengan Cecilia one


chan, Philia one chan cocok.” Rona juga setuju. “Iya benar, km kan kalem


Philiandra, trus juga kalau bicara lebut dan kadang keras. Sangat cocok, aku


dukung.” Kata Fei sambil mengeluarkan jempol nya. “Uhhhh apa ga ada pilihan


lain ? Km sendiri maunya jadi apa Feirus.” Tanya Philia ke Fei . “Aku keamanan


dan ketertiban.” Jawab Fei bangga. “Hahaha sudah aku duga Feirus san, posisi


itu sangat cocok dan aku juga setuju dengan Philiandra san yang menjadi


ketuanya. Karena kelas dua Cuma Feirus san, Philiandra san dan aku, aku jadi


wakil gpp membantu Philiandra san.” Charlotte menambahkan. “Philiandra sama


mohon di terima.” Tambah Franz. “Uhh ya sudah, aku terima tapi tolong bantu ya


semuanya.” Kata Philia. “Berarti sudah sepakat ya, Philiandra ketua dan


Charlotte wakil ketua. Untuk bendahara, sekertaris belum ada.” Feirus


menambahkan. “Loh aku ? Lorianne ne kan Cuma bercanda tadi.” Cecil protes.


“Tapi aku pikir cocok Cecilia, soalnya km susah kan kalau berhitung, dan


menulis mu tidak cepat, jadi sepertinya bagian umum cocok buat km, km energik


dan bisa lari kesana kemari dengan cepat.” Kata Philia. “Beneran nih Philia ne,


wah kemampuan ku di akui, ok aku terima posisi bagian umum.” Kata Cecil riang.


“Fiuuh untung Cecil gampang orang nya.” Kata Philia dalam hati. “Untuk


sekertaris aku usul Ronanta dan bendahara Franz, gimana ?” Tambah Philia.


“Ronanta setuju, sekertaris ga perlu banyak bicara, Cuma mencatan dan


memperhatikan.” Rona setuju dengan usulan Philia. “Aku merasa terhormat


Philiandra sama, tapi untukmemegang keuangan, memang aku bisa, tapi aku lemah,


aku takut kalau di intimidasi oleh club2 dan lainya aku tak bisa melawan.” Kata


Franz tidak percaya diri. “Tenang Franz, ada aku, km tinggal lapor.” Fei memegang


pundak Franz. “i..i..ya Feirus sama, mohon di bantu.” Jawab Franz. “Baik,


berarti semua sudah setuju ya.” Tanya Fei . “Besok kita daftarkan pencalonan


kita, sekarang kita cari Mattew ni dan Lorianne ne dulu dan memberitahu


mereka.” Tambahnya. “Charlotte san, kalau kita ke perpustakaan bagaimana ? Kita


pelajari dulu tugas2 dari student council dan membuat pidato pencalonan.” Ajak


Philia ke Charlotte. “Ok, ayo Philiandra san, kita ke perpustakaan.” Jawab


Charlotte. “Feirus aku pergi dulu ya, Cecil dan Rona ku tinggal ya.” Philia


pamit. “Ok, selamat bersenang2 ya Philiandra.” Jawab Fei .”Iya makasih,


walaupun aku ga tau bagian mananya yg bikin senang. Sudah lah, aku pergi dulu.”


Philia pun pergi bersama Charlotte. “Hei Philiandra san, km tertekan ya, Feirus


san benar tuh, km harus bersenang2.” Charlotte mengajak bicara Philia. “Ga tau


deh, aku sebenarnya pusing, takut dan lain nya jadi satu.” Jawab Philia. “Km


ternyata ada sisi seperti ini juga ya Philiandra san, sisi yang kaku tapi tetap


imut hehe.” Charlotte mulai meledek Philia. “Ah Charlotte san, jangan meledek


ku terus…” Jawab Philia. “Hehe makanya bersenang2. Ingat tujuan kita tidak


harus menang kok, jangan di bawa stress.” Tambah Charlotte. “Iya, ayo kita


bersenang2 Charlotte san.” Philia menggandeng tangan Charlotte. Mereka pun


berjalan menuju perpustakaan bersama2.  Sementara itu, Fei mengajak Franz, Cecil dan


Rona untuk menyusul ke kelas Matt dan Lori. Franz yang ikut dengan mereka


merasa risih masuk ke wilayah kelas tiga. “Santai Franz san, jangan tegang


begitu, ayo2 semangat.” Cecil menepuk2 punggung Franz. “Iya semangat2.” Rona


juga menyemangati Franz. “Terima kasih Cecilia sama, Ronanta sama, aku hanya


merasa, aku ga pantas di sini.” Jawab Franz.”Loh kenapa ? kita kan teman


sekelas, kenapa tidak pantas ?” Tanya Cecil heran. “Bu..bukan itu maksudku, Cecil


sama, dari tadi aku merasa banyak tatapan tajam ke arah kita, karena ini daerah


kelas tiga.” Jawab Franz. “Oh kalau itu sih, karena dia hehe. Semuanya melihat Feirus


oni. Jadi tenang saja ya.” Balas Cecil Riang. “Oh iya ya, Feirus sama memang


luarbiasa. Dia kuat dan keren. Kalau saja aku bisa seperti dia.” Franz berkata


kepada Cecil. “Ah jangan gitu Franz san, Feirus oni memang lain dari yang lain.


Franz san punya banyak kelebihan kok, di kelas km selalu bisa menjawab


pertanyaan guru, datang tidak pernah terlambat dan lain nya. Jadi jangan rendah


diri ya Franz san, aku saja ga bisa kayak km.” Cecil menghibur Franz sambil


menepuk2 punggung nya. “Kalau itu mah kewajiban setiap murid Cecilia sama, aku


sering di bully, aku juga lemah dan selalu saja di lindungii. Huuuh.” Keluh


Franz. “Franz san, nunduk.” Rona berdiri di depan Franz. Franz pun menunduk dan


Rona menepuk kedua pipi Franz. “Jangan begitu, Ronanta ga suka melihat nya.


Charlotte senpai mengandalkan Franz san loh.” Rona sebal melihat Franz yang


pesimis dan menyemangatinya. “i..iya, terima kasih Ronanta sama.” Jawab Franz.


“Ayo, Feirus oni chan sudah di depan kelas Matthew oni chan dan Lorianne one


chan.” Ajak Rona sambil menarik tangan Franz dengan wajah nya yang cuek  tanpa ekspresi.  “Haha…..Ronanta benar Franz san…ayo lekas2.” Cecil mendorong Franz dari belakang. Mereka pun sampai dan menunggu bersama Fei .


Kelas pun selesai, ketika pintu di buka. “Sampai jumpa besok aniki, aneki,


selamat jalan. “ Satu kelas berteriak mengiringi Matt dan Lori keluar. “Wow,


mantap sekali, Matthew ni dan Lorianne ne punya anak buah ya ?” Tanya Cecil


polos. “Benar2 sepeti gangster.” Tambah Fei . “Hei, kalian, sudah lama menunggu


?” Tanya Matt yang menghampiri mereka bersama Lori. “Oh ada Franz, apa kabar


Franz ?” Lori menyapa Franz. “Oh…Lorianne sama, aku baik, terima kasih sudah


bertanya, apa kabar Lorianne sama.” Balas Franz sopan. “Hey, bicara sama aku ga


usah pakai nada formal, biasa saja.” Lori berkata sambil mendekatkan wajahnya


dan memegang pundak Franz. “Lorianne sama……terlalu dekat…” Franz menjadi grogi.


“Oh Maaf2, btw km kemarin menggunakan pedang kan waktu kita melawan makhluk


jelek yang menjijikan waktu itu ?” Tanya Lori lagi. “Iya benar Lorianne sama.”


Jawab Franz bingung. “Matthew honey, aku mau ke arena ajak Franz ya, untuk


keperluan misi juga kan. Aku mau coba latih tanding.” Lori menengok ke Matt dan


bertanya. “Ok, Franz berjuang ya. Feirus ayo kita ke cafetaria, sekalian


jelaskan hasil diskusi kalian.” Jawab Matt santai. “Ya, maaf Franz aku tidak


menemani, aku ke Cafetaria bersama Matthew ni san.” Feirus melambaikan


tangannya. Mereka pun berbalik dan pergi. “Cecilia dan Ronanta kalian mau ikut


?” Tanya Lori. “Iya Lorianne ne. aku dan Ronanta akan menonton.” Cecil


menjawab. “Ok, ayo Franz kita berangkat. Loh Franz ?” Lori bingung melihat


Franz diam saja. “Lorianne one chan, Franz san sudah pingsan sambil berdiri


lima menit yang lalu.” Rona menyampaikan kepada Lori dengan wajah tanpa


ekspresi dan menunjuk ke arah Franz. “Ya ampun deh, belum berlatih sudah


begini.” Kata  Lori sambil  menutup wajah nya dengan tangan . “Aku ambil


air sebentar, tolong jaga dia ya Lorianne ne.” Kata Cecil dan dia seger


bergegas mengambil air. Philia dan Charlotte baru selesai dan keluar dari


perpustakaan. Ketika mereka sedang berjalan di hall, mereka melihat Cecil


berlari ke arahnya. “Eh Philiandra ne dan Charlotte senpai. Sudah selesai ?”


sapa Cecil. “Iya baru saja, km mau kemana ? kok terburu2 gitu ?” Tanya Philia.


“Ng..mau ambil air, buat Franz san. “ Jawab Cecil. “Franz kenapa ?” Tanya


Charlotte. “Ah gpp, dia Cuma pingsan karena di ajak latih tanding sama Lorianne


ne, tuh di depan, aku jalan dulu ya Philia ne dan Charlotte senpai. Dadah.” Kata


Cecil yg kemudian melesat. “Aduh Franz, benar2 deh.” Charlotte geleng2 kepala.


“Ahahaha” Philia Cuma bisa nyengir dan tidak bisa berkata apa2. Di cafetaria,


Matt dan Fei memesan makanan lalu duduk bersama di meja. Setelah makan, Fei memberitahu


Matt hasil diskusi mereka dan Philia yang menjadi ketua nya. Dia juga


menjelaskan posisi masing2 dan persiapan nya. Ketika mereka sedang berbincang2,


pelatih Lenton datang ke cafetaria. “Matthew kun, Feirus kun, kalian di sini,


bagaimana progress diskusinya, aku baru saja selesai ke atasan.” Lenton


langsung duduk bersama mereka dan bertanya. “Sudah selasai diskusinya pak, kita


sedang membahasnya juga.” Jawab Fei . Lalu mereka menceritakan kepada Lenton


perkembangan nya. “Bagus, kerja bagus. Pemilihan akan di adakan tiga bulan dari


sekarang, aku akan mendaftarkan kalian besok. Sebelum pemilihan, ada dua acara


penting di sekolah ini. Pertama sports festival, perlombaan antar kelompok


untuk olah raga seperti lari estafet, lari tiga kaki, dan lainnya. Acara  kedua adalah Curtural Festival, acara


kedua  ini biasanya perkelas atau per club.


Tapi karena pemilihan sudah dekat, maka calon yang terdaftar bisa membuat


acara sendiri. Kalian manfaatkan kedua acara ini untuk mendapatkan dukungan dan


nama yang akhirnya terdengar oleh gereja. Asal jangan  sampai membongkar identitas kalian.” Pelatih


Lenton menjelaskan. “Oh begitu ya pak, ide yang bagus supaya kita jadi di


ketahui.” Matt setuju. “Ano kalau bertanding seperti itu apakah nanti banyak


penonton nya ? “ Tanya Fei . “Ya sudah pasti dong, bahkan siapa saja bisa


menonton, tidak harus orang akademi juga.” Jawab Lenton santai. “Uhh ini yang


aku ga suka.” Keluh Fei . “Hahaha jangan lemah, kemarin sewaktu kita berlatih


tanding di arena, banyak juga kan yang menonton.” Lenton menepuk2 pundak Fei .


“Tapi kemarin kan Cuma teman sekelas, dan aku konsen di latih tanding jadi ga


terlalu memperhatikan pak.” Kata Fei lagi. “Tidak apa2 nanti kalau km konsen


semua itu hilang.” Tambah Lenton. “Baiklah, aku akan berusaha.” Tambah Fei .


“Aku dukung Fei , tenang saja.” Kata Matt. “Iya Matthew ni san, aku akan


berusaha.” Jawab Fei . “Yang lain kemana ?” Lenton bertanya kepada mereka. “Oh


tadi Lorianne ne san mengajak Franz latih tanding, Cecil dan Ronanta ikut


mereka, Philia dan Charlotte sedang di perpustakaan untuk membuat pidato.” Fei menjawab


pertanyaan Lenton. “Maaf pelatih Lenton, boleh aku bertanya ?Aku sudah melihat


kekuatan Charlotte kemarin di arena sewaktu Feirus dan Pelatih berlatih


tanding, memang masih di bawah Philiandra tapi kurasa cukup kuat. Sejujurnya


aku khawatir sama Franz, tadi di kelaspun Lorianne bilang mau mencoba kemampuan


Franz karena sama2 menggunakan pedang. Dia sama sepertiku, khawatir juga.”


Tanya Matt kepada Lenton. “Oh Franz, kemampuan berpedang nya bagus, dia sebenarnya


kuat, Cuma memang dia kurang pengalaman dan sifat nya itu yg agak


mengkhawatirkan, tapi tenang aku yakin dia bisa di andalkan di saat genting.”


Jawab Lenton santai. “Oh bagus kalau begitu, nanti aku tanya Lorianne gimana


hasilnya.” Kata Matt lagi. Philia masuk ke cafetaria dan menuju ke counter


untuk membeli minuman. “Philiandra” Fei memanggil Philia. Kemudian, Philia


menghampiri meja mereka. “Kamu sudah selesai ? Sedang apa di sini.” Tanya Fei .“Matthew


ni san, Feirus, oh ada pelatih Lenton, Aku baru dari infirmary ( ruang


kesehatan ). Aku mau beli minuman dan kembali  kesana.” Jawab Philia. “Oh siapa yang sakit ?” Tanya Pelatih Lenton. “Ah tidak apa2, Cuma tadi sewaktu latih tanding, Franz san mencoba menahan serangan


serius Lorianne ne san, tangan nya patah dan badannya terluka, tapi sudah aku


sembuhkan dengan healing magic. Hanya saja sakit nya masih terasa walau sudah


sembuh, jadi dia tidur dan beristirahat sekarang di jaga oleh Charlotte san.


Aku beli minuman sekalian untuk yg lain. Tapi Franz san cukup lumayan, bisa


bertahan melawan Lorianne ne san selama hampir lima menit ketika Lorianne ne


san serius.” Kata Philia menjelaskan. “Hooo, boleh juga, aku boleh kan ngetes


juga ?” Tanya Fei ke Philia. “Boleh tapi nanti kalau aku sudah bisa


resurrection.” Jawab Philia kesal. “Hahaha menarik2, ya sudah kamu kesana dulu


Philiandra kun, kasihan mereka menunggu minuman nya.” Pelatih Lenton menyuruh


Philia pergi mengantar minuman nya. “Baiklah, Pelatih Lenton, Matthew ni san, Feirus,


aku permisi dulu..” Philia pamit dan langsung pergi membawa minuman untuk yang


lain. “Hmm bisa bertahan melawan Lorianne yang serius hampir lima menit, boleh


juga anak itu, aku juga jadi tertantang nih.” Kata Matt. “Berarti tidak salah


kita memasukkan dia ke misi kita.” Tambah nya. “Ya, itulah kenapa aku


merekomendasikan mereka, baiklah, aku permisi dulu, ingat ya untuk mengikuti


acara. Sampai ketemu lagi, berjuanglah.” Pelatih Lenton pamit. “Baik pak, kami


akan berusaha.” Jawab Fei dan Matt. Pelatih Lenton pun meninggalkan mereka. “Feirus,


gimama kalau kita latih tanding di arena, rasanya aku jadi nafsu sedikit nih.”


Ajak Matt kepada Fei . “Ayo Matthew ni  san, aku pun sama.” Jawab Fei . Mereka pun segera meninggalkan cafetaria dan menuju arena. Di perjalanan mereka bertemu Rona yang sedang berjalan menuju


arah mereka. “Matthew oni chan dan Feirus oni chan, mau kemana ?” Tanya Rona


datar. “Kita mau latih tanding ke arena, km mau kemana Ronanta chan ?” Tanya


Matt. “Ronanta mau ke tolilet,trus kembali lagi ke infirmary.” Jawab Rona singkat.


“Baiklah, kami berangkat dulu ya Ronanta chan.” Fei pamit dan langsung


melanjutkan ke arena bersama Matt. “Ok…” Rona melihat mereka dengan wajah tanpa


ekspresi. Sementara itu di ruang kesehatan, “Uh badanku sakit semua.”Pikir  Franz yang baru bangun. “Kamu ga apa2 Franz ?” tanya Charlotte yang duduk di sebelahnya. “Tidak apa2 Charlotte sama. Hanya


sisa sakitnya saja, luka ku sudah di sembuhkan Philiadra sama. Dia kemana


Charlotte sama ? Aku mau berterima kasih” Tanya Franz. “Oh dia lagi ke


cafetaria sebentar membeli minuman untuk kita semua, nanti juga kembali.”Jawab


Charlotte. Tiba2 tirai terbuka “Lorianne ne, Franz san sudah bangun tuh.” Cecil


memberitahu Lori yang berada di sebelah setelah mebuka tirai. “Yo Franz, sudah


mendingan  ? “ Tanya Lori yang langsung menghampiri. “Sudah Lorianne sama, tapi aku kalah tadi.” Jawab Franz. “Km bagus Franz, harus nya lebih percaya diri. Selama di akademi baru kali ini aku


bertarung sedikit serius melawan orang lain.” Lori berusaha menyemangati Franz.


“Benar Franz san, Lorianne ne biasanya ga pernah serius sama sekali, aku juga


baru kali ini lihat dia serius melawan orang lain selain Matthew Oni dan Feirus


Oni. Besok sama aku ya, pedang lawan tombak hehe.” Cecil juga menyemangati. “Iya  Cecilia sama, besok kita latihan.” Jawab Franz yang mulai semangat. Pintu pun terbuka, “Oh Franz san sudah sadar,


Charlotte san bisa bantu aku membawakan minuman ini untuk Franz san dan ini


punya Charlotte san” Philia pun masuk kedalam. “Baik Philiandra san, terima


kasih ya.” Charlotte mengambil minuman untuk Franz dan dia sendiri. “Punya ku


mana Philiandra ne ?” Cecil berkata sambil menghampiri Philia. “Ini punya mu Cecilia.


Ini Lorianne ne san, minuman mu, dan Ronanta, kemana dia ?” Tanya Philia sambil


memberikan minuman kepada Lori dan Cecil. “ Trims Philiandra, oh tadi dia pamit


ke toilet katanya.” Jawab Lori. “Philiandra san, terima kasih sudah


menyembuhkan ku, aku benar berhutang budi.”  Franz berdiri dan menunduk kepada Philia. “Ah tidak apa2 Franz san, angkat kepalanya, ini memang sudah seharusnya kok.” Jawab Philia. “Iya, terima


kasih ya Philiandra san, aku sempat  takut juga tadi.” Charlotte menambahkan. “Maaf ya Franz, aku sedikit berlebihan juga sih, tapi benar, kemampuan mu hebat.” Lori berkata kepada Franz. “Iya, Lorianne


ne san, jangan samakan dia dengan Feirus dan Matthew ni san.” Tambah Philia


sambil tersenyum. “Hehe Maaf, makasih ya, untung ada kamu, kalau ga dia pasti


mati hehe.” Lori menggaruk2 kepalanya sambil tersenyum. “Dasar hehe.” Jawab


Philia sambil tersenyum. “Srekk” Pintu terbuka. Rona pun masuk kedalam. Di


belakang nya terlihat banyak siswa yang berlarian. “Ronanta sudah kembali,


Philiandra one chan, minuman Ronanta mana ?” Rona langsung menghampiri Philia.


“Ini minuman km, kok di luar rame ya.” Tanya Philia. “Iya ada apa ya ? apa ada


monster undead  lagi ?” Tanya Lori sambil melihat keluar. “Oh Ronanta tau, pasti mau nonton Matthew oni chan dan Feirus oni chan latih tanding, tadi mereka ketemu Ronanta dan bilang mau ke arena.”


Rona menjelaskan sambil  meminum minuman nya dengan wajah tanpa ekspresi. “Oh….” Philia, Lori dan Cecil menjawab serempak dan langsung duduk di kursinya lagi seakan2 tidak ada apa2.


“Philiandra san, Lorianne san, Cecilia san dan Ronanta san, kalian ga mau


nonton mereka ?” Tanya Charlotte heran yang melihat mereka biasa saja. “Oh


tidak usah, nanti saja Charlotte san. Tadi waktu aku membeli minuman di


cafetaria sempat menceritakan ke mereka hasil latihan Franz san dan Lorianne ne


san, ya paling mereka jadi nafsu setelah mendengarnya. Sudah biasa” Jawab


Philia. “Huh dasar otak berisi otot. Kedua nya sama saja.” Lori berkomentar.


“Kalau aku sih sudah bosan banget liat nya. Iya kan Ronanta chan” Cecil


berkomentar juga. “Iya, di rumah sudah sering.” Tambah Rona. “Astoria ini


keluarga macam apa, untung aku ga di lahirkan di keluarga seperti ini.” Franz


berpikir dalam hati melihat mereka dan mendengar komentar mereka. “Oh ya, tadi


mereka sempat bilang mau mencoba  kekuatan Franz san sih. Tapi aku larang, kecuali nanti aku sudah bisa


resurrection yang sedang ku pelajari.” Tambah Philia. “Philiandra sama,


resurrection itu magic apa ?” Tanya Franz penasaran dan ragu2. “Oh


membangkitkan orang mati, benar kan Philiandra, aku sempat membaca buku nya di


rumah haha.” Jawab Lori bangga. “Oi oi Philiandra ne, Lorianne ne, lihat Franz


san deh, dia pingsan lagi, kali ini sambil duduk.” Cecil berkata dengan santai


dan menunjuk Franz. “Astaga Franz, kamu ini.” Charlotte berkata sambil


menggeleng2 kan kepala. “Philiandra san, ada ga magic yang bisa menaikkan


keberanian dia ini.” Tanya Charlotte putus asa. “Ahahaha” Philia Cuma bisa


tertawa kecil. “Sreek” pintu di buka, “Lorianne aneki, Matthew aniki sedang


bertarung di arena.” Seorang teman sekelas Lori berambut mohawk mengabari Lori.


“Biarkan saja, dia bertarung lawan adiknya, santai saja, nanti aku kesana.”


Jawab Lori santai. “Ozsu, siap aneki.” Pintu langsung di tutup lagi. “Wah


Lorianne ne kayak ketua geng, hebat2.” Cecil berkata kepada Lori. “Aku sendiri


ga tau, ini gara2 waktu pelajaran bela diri, kita berlatih tanding bersama2 dan


semuanya roboh dan yg berdiri tinggal aku dan Matthew, lalu kita latih tanding


deh, trus selesainya aku di gendong Matthew, padahal ga ada yg kalah dan


menang. Trus tau2 mereka memanggil kita Aniki dan Aneki.” Jawab Lori santai.


“Pantes…..” pikir Philia, Charlotte, Cecil dan Rona dalam hati. “Tapi memang


pantes sih, Matthew san handal dalam memimpin dan Lorianne san cocok mendapingi


nya. Kalau kalian jadi pemimpin itu tidak heran.” Charlotte menilai mereka. “Oh


haha, begitu ya, bisa saja km Charlotte hahaha.” Lori tertawa keras sambil


tersipu malu. “Gaya nya juga memang kayak preman……” Pikir Philia, Charlotte, Cecil


dan Rona dalam hati melihat Lori. “Sreeek” Tiba2 pintu terbuka lagi, “Lorianne


aneki, gawat Matthew aniki dan lawan nya sama2 roboh dan terluka” Orangyang


tadi kembali lagi. “Baik, aku kesana, km duluan saja.” Jawab Lori santai.


“Ozsu, siap aneki.”  Dia pun pergi. “Ayo Philiandra, Charlotte, Cecilia dan Ronanta kita kesana. Biarkan saja Franz di sini beristirahat.” Ajak Lori sambil beranjak dari duduk nya. Mereka pun segera


menuju arena. Ternyata Matt dan Fei masih saling pukul sambil beteriak. “Aku


belum kalah, Feirus.” Teriak Matt. “Aku juga belum kalah Matthew Ni san.”


Teriak Fei . Mereka terus saling pukul. “SETOOOOOOP” tiba2 terdengar teriakan


yang menggema di arena, semua penonton menoleh ke pintu arena, ternyata yang


berteriak adalah Philia dengan wajah yang geram. “Philiandra….?” Matt dan Fei berhenti


dan menengok ke arah philia yang berlari mendekati  mereka di ikuti Lori, Cecil, Charlotte dan


Rona. “Feirus, Matthew ni san jangan berlebihan, kalau kalian jadi terluka


parah gimana ? Lihat, arena jadi berantakan gini, banyak senjata yang hancur,


lantai dan dinding pada bolong, sudah lupa ya kejadian di kota labirin sampai kita


di usir ke pinggir danau. Sini duduk, aku sembuhkan luka2 kalian.” Philia


memarahi mereka. Matt dan Fei pun duduk di depan Philia, dan philia mulai meng cast


healing magic nya. “Maafkan kami Philiandra…..” kata kedua nya yang menunduk


selagi di sembuhkan. “Wuoooooh hidup Philiandra sama. Memang hebat adik Aniki


dan Aneki” Teman2 Matt dan Lori mulai bersorak dan di susul oleh semua penonton


yang ikut  bersorak. Hampir semua siswa menonton latih tanding itu. Popularitas Philia pun langsung melonjak drastis karena tidak ada satupun yang berani menghentikan Fei dan Matt. “Eh eh kok


gini….” Philia kaget dan bingung, wajah nya mulai memerah. “Wah bagus nih, bisa


mendapat banyak pendukung saat pencalonan nanti. Permulaan yang bagus, misi


lancar haha” Lori berkomentar sambil tertawa senang. “Hahah iya benar, mantap


Philiandra ne, dia pasti main lari maju aja tadi, ga mikir panjang saking


cemasnya.  Gara2 itu dia jadi terkenal sekarang hahaha” Cecil tertawa senang. “Memang hebat  Philiandra san, dua monster lagi bertarung langsung berhenti  gara2 teriakan dia tadi, pasti menang nih waktu pemilihan nanti, langsung dapat banyak pendukung haha, nanti aku ledekin ah sebab sebentar lagi dia pasti sadar dan akhirnya malu hahaha” Charlotte menambahkan sambil tertawa. “….Sudah biasa” Rona berkata


dengan wajah tanpa ekspresi. Fei dan Matt saling melirik sambil tersenyum dan


mengangguk, kemudian mereka berdiri dan mengangkat Philia bersama2.


“Eh…eh…turunkan aku…..aduh.” Philia yang di angkat mereka bingung dan menutupi


wajahnya yang merah dengan kedua tangannya. Fei dan Matt membawa Philia


memutari arena dan mengarah ke pintu keluar di iringi sorakan dari para


penonton. Di sudut kanan tempat duduk paling atas, pelatih Lenton melihat


kejadian itu dan tersenyum. “Aduuhhhh………tolong……..turunkan aku.” Philia terus


menutup wajahnya sambil menangis. Keesokan paginya, ketika mereka datang,


mereka melihat kerumunan  orang sedang melihat mading, ternyata ada sebuah berita yang termasuk berita akademi berisikan magic painting (Photo yang di hasilkan oleh magic, hasil penelitian


divisi magic di akademi)  Philia yang sedang di angkat Matt dan Fei . Philia pun menutup wajah nya dengan kedua tangan nya karena malu.


– end ch 6-

__ADS_1


__ADS_2