The Outcast : Heroes Of Beginning

The Outcast : Heroes Of Beginning
Chapter 8 Church Intervention in the academy


__ADS_3

Keesokan harinya, banyak orang berkumpul di depan mading berita. Ternyata latih tanding kemarin menjadi berita utama dengan headline ‘Calon saint kalah oleh calon student council dan ada  magic painting  (Photo)  Philia yang sedang menginjak Robert yang bertelungkup di tanah arena. Dua hari setelah berita itu, Count Dietrich ayah Robert datang bersama dengan beberapa orang berbaju putih seperti pendeta menuju kantor kepala akademi. Kemudian pengumuman kandidat calon student council pun di ganti dengan yang


baru dan nama Robert di cabut dari daftar dengan cara di coret. Siang nya,


Pelatih Lenton memanggil Philia yang sedang berada di kelas untuk keluar


sebentar. “Philiandra kun, pemilihan nanti hanya tersisa tiga kandidat termasuk


kalian, tadi pagi ayah robert datang bersama beberapa orang gereja, untuk


mencabut gelar calon saint dari Robert dan kelima lain nya juga membatalkan


pencalonan  sebagai student council nya, mereka juga meminta maaf kepada kepala sekolah tapi tetap kita tidak tahu apa yang mereka rencanakan. Sekarang aku minta kalian berhati2, kita tidak tau apa


yang akan di lakukan Robert nanti. Dan soal princess sudah aman, mereka tidak


meng endus kita.” Pelatih Lenton menjelaskan apa yang terjadi pagi ini. “Baik


pak, semoga Robert bisa menerima dengan lapang dada.” Jawab Philia. Kemudian


Philia masuk kembali kedalam kelas dan duduk di antara Fei dan Charlotte.


“Philiandra, tadi km di panggil mengenai apa ?”  Bisik Fei . “Oh pak Lenton hanya memberitau kalau Robert sudah bukan calon saint lagi dan pencalonan nya di cabut.” Jawab Philia berbisik kepada Fei


dan Charlotte. “Oh karena kejadian kemarin ya ? Bagus bagus memang harusnya


begitu.” Bisik Fei  lagi. “Huh Rasain, tapi aku agak khawatir Philiandra san, sampai terakhir dia tidak menyerah kan ?” Bisik Charlotte. “Iya, tadi juga pak Lenton bilang kita harus hati2, takutnya dia berakhir seperti Chris katanya. Makanya dia minta kita jangan terlalu menonjol dulu.” Bisik Philia lagi. “Yang di katakan pak Lenton benar, kita ga tau langkah gereja apa, siapa tau mereka menggunakan Robert untuk


macam2 dan akhirnya seperti Chris.” Bisik Fei . “Aku sih yakin, dengan oji san


dia sudah mengambil langkah duluan sebelum ada kejadian apa2. Saat ini pasti


ada yang mengawasi Robert diam2,untuk pencegahan. Tapi kita tetap harus


waspada.” Charlotte berbisik kepada Fei dan Philia. “Berarti kandidat yang


mencalonkan diri tinggal tiga kelompok dan salah satunya kita.” Bisik Fei . “Iya,


kita harus mencari tau tentang mereka juga.” Bisik Philia. “Nanti selesai


kelas, kita ngobrol sama Matthew ni san dan Lorianne ne san.” Bisik Fei . Bel


pun berbunyi “Baiklah pelajaran sudah selesai, silakan kalian istirahat.” Guru


wali kelas bicara kepada siswa siswi di kelas dan kemudian dia keluar.


“Baiklah, ayo Philia, Charlotte kita ke kelas tiga.” AJak Fei . “Sebentar Feirus


san, aku jemput Franz ke kelas satu sekalian aku ajak Cecilia dan Ronanta.


Kalian duluan saja” Charlotte berkata kepada Fei dan Philia. “Baiklah, terim a


kasih ya Charlotte san.”Kata Philia kepada Charlotte. Kemudian Charlotte segera


menuju kelas satu dan Fei bersama dengan Philia menuju kelas dua. Sesampainya


di depan kelas tiga tempat Matt dan Lori, mereka melihat banyak yang berkerumun


di depan dan ** pun ada di sana, lalu terdengar suara bising dari dalam kelas.


“Jr senpai, ada apa kok semua berkumpul di sini, termsuk guru2.” Tanya Fei kepada


**. “Ah Feirus san, jadi begini Lorianne aneki sedang marah dan berkelahi


dengan Matthew aniki. Makanya kelas jadi berisik. “Hah, kenapa , kok bisa,


jarang2 mereka ribut. Tau masalah nya ga senpai ?” Philia bertanya kepada **.


“Ngg aku jelaskan ya, jadi begini, kemarin sehabis latih tanding kan kita


bubar, Feirus dan Franz langsung kembali ke asrama, nah aniki mengajak aneki


dan aku juga ke kota, bilang nya mau cari makan dan ngobrol. Akhirnya kita


pergi dan makan di sebuah restoran sambil ngobrol2. Nah masalah nya mulai di


sini, setelah selesai dan keluar restoran, di depan ada seorang anak yang wajah


nya mirip dengan aniki sedang menangis. Aneki mendekati anak itu, dan ketika


melihat aniki anak itu memanggil nya papa. Aneki langsung bertanya macam2


kepada aniki. Tapi aniki kesulitan menjawab karena dia harus memegangi anak itu


sambil mencari orang tua nya. Aneki yg merasa di cuekin, marah dan langsung


pergi. Aniki menyuruh ku mengejar aneki, akibat nya aku di pukul aneki. Setelah


aku cerita ke aniki dia langsung lari mengejar aneki dan anaknya di titipkan ke


aku. Tak lama kemudian, ayah anak itu datang dan memang wajah nya sedikit mirip


sama aniki tapi badannya lebih kecil.  Aku mau menjelaskan ke aneki yang sebenarnya


tapi tadi pagi dia diam seribu bahasa, aniki juga jadi cuek dan kesal karena


aneki ga mau mendengar  penjelasannya. Mereka diam2an saja selama kelas, dan setelah kelas selesai keduanya adu argument dan sekarang berkelahi, aku sebenarnya ingin menjelaskan kejadian


sebenarnya, tapi tadi aku di panggil guru dan ketika kembali sudah seperti


ini.” ** menjelaskan kepada Fei dan Philia. “Haduh, Matthew ni san dan Lorianne


ne san, kalau terlalu dekat ya gini, kayak anak kecil keduanya, ** senpai  ayo masuk bareng kita, nanti tolong jelaskan ya ke mereka.” Ajak Fei kepada **. “Aku tunggu di sini aja ah, Cecilia dan


Ronanta ga ku biarinin masuk dulu. Ada mereka repot.” Kata Philia. “Ok, km


tunggu sini ya, ayo ** senpai.” Kata Fei lagi. “Ozsu” Jawab **. Mereka lalu


menerobos masuk. Di dalam Matt dan Lori masih saling bentak dan saling


menyalahkan. “Km ga pernah mau jujur, kemarin aku tanya km ga mau jelaskan,


urus saja anak km sana.” Kata Lori membuang muka. “Km ini,  aku mau jelasin, tapi kalau tanya nya bertubi2


gitu gimana ? aku sudah bilang berkali2 itu bukan anakku, kenapa km ga percaya,


malah searang aku di cuekin.”  Balas Matt sambil marah. “Matthew ni san, Lorianne ne san. Ada apa lagi…ayo sini duduk dulu kita bicarakan baik2.” Fei yang baru masuk langsung menengahi mereka. “Tuh


ni san km, ga pernah mau jujur.” Kata Lori sambil duduk. “Sama tuh ne san km,


bisanya marah2 mulu, ga mau dengar penjelasan.” Kata Matt sambil duduk. “Sudah


sudah, aku sudah dengar dari ** senpai, cerita kemarin ada lanjutan nya, **


senpai silakan jelaskan.” Kata Fei kepada **. “Ozsu, jadi kemarin ketika aniki

__ADS_1


sedang mengejar aneki, ayah dan ibu anak itu datang mencarinya dan memang wajah


ayah nya mirip sama aniki, menurut mereka anak itu terpisah dari mereka di


pasar dan mereka sibuk mencari nya. Aku tau tempat tinggal mereka karena aku


mengantarkan mereka kemarin, kalau aniki dan aneki mau kesana, aku bisa antar.”


** menjelaskan ke Matt dan Lori. “……” Lori diam wajah nya mulai merah tapi


tetap buang muka. “…….” Matt juga diam, wajah nya juga mulai merah dan tetap


buang muka. “Baiklah, kelas sudah mau mulai lagi, aku kembali dulu, nanti ada


yang mau ku bicarakan, berita bagus pokok nya. Dah, ku tinggal ya Matthew ni


san dan Lorianne ne san.” Fei pun berdiri dan menepuk pundak ** “Senpai, tolong


bantu awasi mereka ya. Maaf nih jadi merepotkan senpai.” Bisik Fei kepada **.


“Ozsu, tenang aja serahkan padaku.” Jawab ** bangga. Fei pun langsung keluar


kelas. “H..ey, Maaf…..” Kata Lori kepada Matt tapi tetap buang muka. “Aku juga


maaf…..” Matt menjawab tapi tetap buang muka. “Aniki, aneki, gitu dong baikan


hehe.” ** menyela. “Diam….” Matt dan Lori serentak berteriak dan meninju **.


“Ozsu….” ** pun pingsan.  Setelah tenang, semua yang berada di luar kelas termasuk guru pun masuk ke dalam kelas. “Hoi **, bangun,  seyelah kelas selesai,


tolong laksanakan yg kemarin kita bicarakan.” Matt berkata sambil membangunkan


**. "Ozsu  siap aniki.” ** pun menjawab setelah sadar. Semeintara di luar kelas, “Eh kalian sudah datang, yuk


kita kembali ke kelas.” Ajak Fei kepada Philia, Charlotte, Cecil dan Franz.


“Loh Ronanta chan kemana ?” Tanya Fei . “Oh dia tidur di kelas nya tadi” Jawab


Philia. “Oh ya sudah gpp, ayo kita jalan.” Ajak Fei . “Eh ada apa sih


sebenarnya ?” Tanya Charlotte. “Gpp, Cuma pertengkaran suami istri biasa.”


Jawab Fei ringan. “Wah, aku masuk ah pasti seru….” Cecil berkomentar dan


bersiap masuk. Fei menangkap Cecil “Dah biarin aja mereka, km jangan nambah


keruh suasana….” Fei memarahi Cecil. “Baik….oni….” Cecil pun pasrah di bawa


oleh Fei . “Ya sudah, nanti saja kita jelaskan ke mereka tentang Robert.” Kata


Philia. “Iya ayo ke kelas, pelajaran sudah mau di mulai.” Charlotte


menambahkan. “Oni….turunkan aku…..aku mau ke cafetaria….” Cecil merengek minta


di turunkan. “Nanti di depan kelas km, baru aku turunkan.” Jawab Fei ringan.


“Huh….kejam…..” Kata Cecil dengan wajah cemberut. “Hahah” Semua nya pun


tertawa. Mereka pun kembali lagi ke kelas. Tak lama setelah itu, terdengar


keramaian dari kelas sebelah, “Ada apa ya ?” Guru pembimbing pun berhenti


mengajar dan keluar ruangan untuk melihat keramaian itu. Karena penasaran,


siswa siswi di kelas Fei semua nya keluar dan menuju kelas sebelah. “Hmm ada


mau kemana ?” Tanya Philia. “Aku akan keluar melihat keadaan sebentar, kalian


tunggu di sini.” Kata Fei kepada Philia dan Charlotte. Fei pun keluar dan


melihat kerumunan di kelas sebelah. Fei mencoba masuk melewati kerumunan, dia


pun melihat ternyata Primcess Valia sudah datang dan berdiri di dalam kelas.


Princess Valia datang satu hari lebih cepat dari seharusnya. “Halo semua….aku


sudah kembali.” Sapa Princess Valia di dalam kelas. “Selamat datang Valia


sama.” Semua pun menyapa Princess Valia. Fei yang melihat di dalam kerumunan


bersiap meninggalkan kelas itu dan kembali ke kelas nya. “Heeeey Feirus, apa


kabar..?” Pricess Valia memanggil Fei sambil berlari menghampiri Fei yang mau


kembali dan menarik tangan nya. “Lama tak bertemu ya Feirus, gimana senang ga


di sini ?” Tanya Valia lagi sambil tesenyum dengan ceria. Semua siswa dan siswi


di kelas itu terkejut melihat sikap Valia terhadap Fei yang seperti kawan lama


tidak bertemu. “Eh..ah..aku baik, permisi Valia sama aku mau kembali ke kelas.”


Jawab Fei grogi. “Ih jangan grogi gitu Feirus, kita kan teman.” Valia berkata


menggoda Feirus sambil merangkul tangan nya. “Ehem…..apa kabar princess Valia,


apa kabar….?” Philia ternyata sudah di depan kelas dan kesal melihat Valia


merangkul Fei . “Eh Philiandra, apa kabaar ? aku baik2 saja. Btw Feirus makin


keren ya, jadi naksir nih hehe.” Ledek Valia kepada Philia yang terlihat


cemburu. “Ah bisa aja Valia sama, kan ku maintenance terus, makanya jangan


dekat2 ya Valia sama.” Philia menjawab sambil tersenyum kesal. “Hehe”  Valia dan Philia bersalaman sambil tersenyum kesal, suasana pun berubah. Tiba2 Fei menoleh ke arah tempat duduk di belakang.


Ternyata Robert dan mantan calon saint lainnya melihat mereka dengan nafsu


membunuh yang tajam. “Pnicess, Philia, sebaiknya kita keluar dulu dari sini.”


Ajak Fei kepada Valia dan Philia. “Ya..aku merasakan nya” Princess Valia


berkata kepada Fei . “Aku juga merasakan nya, kita menghindar dulu sekarang.”


Philia menambahkan. Kemudian Princess Valia pergi menemui guru dan keluar


bersama Fei dan Philia. “Mereka pasti menyusul kita, sebaik nya kita cari


tempat yang tidak ada orang lain.” Ajak Fei kepada Valia dan Philia. Dugaan Fei


benar, tak lama mereka keluar, Robert dan teman2nya pun ikut keluar kelas. Fei dan


Philia bersama dengan Princess Valia pun lari ke belakang gedung akademi yang


hanya ada gudang peralatan dan tidak ada orang. “Kita tunggu mereka di sini.”

__ADS_1


Kata Fei kepada Valia dan Philia. Robert pun datang bersama teman2 nya dan


langsung mengepung Fei , Philia dan Princess Valia. “Apalagi mau kalian….”


Tanya Philia kepada Robert. “Aku akan membalas semua nya hari ini, aku


mendapatkan kesempatan untuk menjadi  calon saint kembali dengan cara membunuh kalian.”Siapa yang menyuruh kalian ?” Tanya Princess Valia kepada Robert. “Hah ini kemauan ku sendiri dan


tidak ada yang menyuruh”  Jawab Robert dengan keras. “Percuma, km tidak akan menang.” Kata Fei lagi. “Hahaha itu kemarin, aku mendapatkan kekuatan baru dari Kardinal Cobaint berupa air suci ini, km


tidak akan sombong lagi sekarang.” Ucap Robert Sombong sambil mengeluarkan


botol berisi cairan berwarna hitam. “Jangan Robert, itu kan……” Teman2 nya


mencegah Robert dan memegangi Robert yang sedang kehilangan akal. “Diam kalian,


berani kalian menentangku….” Kata Robert kepada teman2 nya yang belum selesai


bicara. “Jangan Robert, sudah, sebaiknya kita pergi dari sini.” Kata teman2 nya


sambil terus mencegah dan memegangi Robert.Wajah mereka sangat ketakutan.


“DIAAAAM…..” Robert pun meminum cairan itu dan teman2 nya pun terpental seiring


teriakan Robert. “HAHAHAHA…….Kubunuh kalian.” Robert berteriak, tubuhnya


mengeluarkan asap hitam, rambut dan kulit nya mulai rontok di susul oleh daging


nya yang ikut rontok. Badan nya membesar dan dari dalam badan nya keluarlah


armor berwarna hitam yang menyelimuti seluruh badan nya dan dari tangan nya


keluar sebilah pedang besar. Kepala nya berubah menjadi tengkorak yang terbakar


api berwarna hitam, Robert pun berubah menjadi undead. “Maaf menunggu, sekarang


matilah…” Robert langsung maju menyerang Princess Valia. “Princess..mundur.” Fei


menghadang serangan Robert. Philia menarik Valia mundur dan bersiap2 melepaskan


holy magic nya. Fei terus bertahan dan menghindari serangan Robert yang membabi


buta. “Ugh , kuat sekali, hawa kegelapannya begitu kental, aku harus menahan


nya tanpa menggunakan senjata relic”  Katanya dalam hati. “Feirus, awas…..Holy Arrow.” Philia berteriak dan


melepaskan panah holy nya dengan tangan kosong tanpa senjata relic nya kepada


Robert. Fei melompat mundur, sementara Philia menembak. Robert pun terkena


telak serangan Philia di dadanya dan serangan nya pun terhenti. “Hahaha tidak


mempan” Teriak Robert dengan suara mengerikan. Dia pun kembali menyerang ke


arah Fei . Tiba2 dari belakang Fei muncul bayangan yang melompat ke depan nya


dan menahan serangan Robert. Ternyata bayangan itu adalah Matt yang menahan


dengan senjata relic nya. “Lorianne…….” Matt berteriak. Lori pun muncul dan


langsung memenggal kepala Robert menggunakan senjata relic nya.


“Philiandra……sekarang….” Teriak Lori kepada Philia dan langsung melompat


menghindar. “Holy Magic, Turn undead.” Philia mengangkat tangan nya dan  mengeluarkan holy magic nya  yang langsung membungkus tubuh Robert bersama dengan kepalanya yang terputus dengan cahaya terang. “AAAAAAAAAA” Robert pun berteriak kesakitan dan akhirnya menghilang. “Barusan itu  magic apa Philiandra ?” Princess Valia bertanya kepada Philia. “Holy Magic, Turn undead, magic yang baru ku pelajari


dari hasil menterjemahkan teks kuno. Lebih kuat dari Cleanse. Aku baru kali ini


mencobanya tanpa senjataku.” Jawab Philia. “Robert….” Teman2 Robert pun


mendekati sisa2 tempat Robert menghilang. “Matthew ni san, Lorianne ne san, kok


bisa kesini ?” Tanya Fei kepada Matt. “Tadi aku menyuruh ** dan anak buahnya


mengawasi dan menjaga kalian dari jauh dan diam2. Mereka lalu melaporkan


kejadian di sini, aku dan Lorianne langsung keluar kelas dan menuju ke sini,


untung tidak terlambat.” Jawab Matt. Kemudian Matt dan Lori mendekati teman2


Robert. “Kalian tidak boleh membicarakan kepada siapapun tentang kejadian ini.


Banyak yang akan aku tanyakan kepada kalian, jangan pergi dari sini. Feirus,


tolong awasi mereka.” Matt berkata kepada teman2 Robert. “Princess Valia,


selamat datang kembali ke sini.” Sapa Matt dan Lori kepada Princess Valia.


“Matthew senpai dan Lorianne senpai, terima kasih kalian datang menolong,


berarti sekarang sudah semakin jelas.” Jawab Valia. “Aku mengambil botol ini


dekat Robert menghilang tadi, silahkan di teliti.” Lori menyerahkan botol yg


kosong itu ke princess Valia. “Ini botol yang tadi katanya ber isi air suci


berwarna hitam.” Princess Valia berkata sambil mengamati botol itu. “Kerja


bagus, aku akan menyerahkan botol ini ke Lenton untuk di pelajari.” Tambah nya.


Tak lama kemudian,  beberapa ksatria bersama Lenton pun datang. Para Ksatria itu langsung menahan kelima teman Robert dan membawa mereka pergi untuk di interogasi. “Kerja bagus Feirus kun,


Matthew kun, Lorianne kun dan Philia kun. Princess Valia, km tidak apa2 ?


Kalian semua tidak apa2 ?” Tanya Lenton yang di damping Leslie. “Kami tidak


apa2, tidak ada korban lain selain Robert. Tadi, nama Kardinal Cobaint sempat


keluar dari mulut Robert sebelum dia meminum air suci dari botol ini, tolong


beritahu Drax dan lakukan penyelidikan segera.  Setelah ini, ayah Robert tidak akan tinggal diam, kita harus cepat. ”Kata Princess Valia kepada Lenton sambil menyerahkan botol air suci itu kepada


Lenton. “Baik, princess, saya langsung kerjakan, permisi. Feirus kun dan lain


nya, sementara tolong jaga Princess Valia. Aku pergi dulu. Sampai jumpa.”


Lenton berkata kepada Fei dan lainnya. “Baik pak Lenton, kami akan menjaga


Princess Valia.” Jawab Matt kepada Lenton yang langsung pergi. “Sebaiknya kita


kembali ke kelas, Princess Valia, aku dan Lorianne permisi dulu.” Matt dan Lori


pamit kepada Princess Valia. “Baik Matthew senpai dan Lorianne senpai, terima


kasih.” Princess Valia mejawab sambil tersenyum. “Ayo Feirus, Philiandra, kita

__ADS_1


juga kembali ke kelas.” Tambah nya. Mereka pun kembali ke kelas masing2 dan


mengikuti pelajaran seperti biasanya.


__ADS_2