
“Philiandra san dan Cecilia san, terima kasih sudah membantu ku beres2, aku akan buatkan teh ya, kalian duduk dulu di meja makan.” Kata Mabel. “Iyaaa terima kasih ya Mabel ne, aku senang teh.” Kata Cecil riang. “Cecilia km tidak sopan.” Philia berkomentar. “Ah gpp kali, kan Mabel ne sekarang
tetangga. Philiandra ne bawel” Kata Cecil cemberut.
“Enak aja bawel, km tuh suka seenaknya.” Balas Philia.
“Hihi, kalian lucu ya, benar2 deh, waktu di akademi, aku merasa keluarga Astoria itu susah di
jangkau dan sulit di dekati, baru di pindah masuk sudah langsung populer dan
kelasnya sangat berbeda, tampan dan cantik maksudnya. Tapi ternyata sama ya
seperti keluarga pada umumnya.” Mabel membawakan teh ke meja. “Ah masa kita se
populer itu.” Tanya Philiandra. “Iya, teman sekelas ga ada yang berani
mendekati km Philiandra san khususnya laki2 dan Feirus san juga di segani siswa laki2 sedangkan yang perempuan cuma bisa melihat dari jauh.” Tambah Mabel. “Haha palingan itu gara Feirus oni di
temple terus sama Philiandra ne kan ? Feirus oni juga nempel mulu sama
Philiandra ne, bikin aku cemburu huh.” Gumam Cecil sambil meminum the nya. “Hah
kenapa km cemburu kan kita sudah janji di kelas bagian ku dan kalau istrirahat
bagian mu.” Philia membalas Cecil. “Oh tunggu dulu, aku jadi bingung, hubungan
kalian sebenarnya gimana ? Sesuai kertas yang di temple itu ?” Tanya Mabel
penasaran. “Hmm iya, Philiadra ne adalah istri pertama Feirus oni dan aku
adalah istri kedua. Lorianne ne istri dari Matthew oni dan Ronanta chan adalah
adik Matthew oni dan Feirus oni berarti adik kita semua.” Cecil menjelaskan ke
Mabel. “Yah begitulah, seperti yang di katakana Cecilia.” Tambah Philia.
“Oalah, pantas, aku baru jelas sekarang. Tapi bagus ya, kalian bisa kompak.”
Kata Mabel. “Iya, aku harus menjaga anak manja ini.” Kata Philia sambil
mengelus kepala Cecil. “Enak saja, aku ga manja kok.” Balas Cecil tapi tetap
senang kepalanya di elus Philia. “Charlotte san pernah cerita juga sih ke
aku, kalau km Philiandra san adalah mommy mereka hihi.” Mabel berkata kepada Philia sambil tertawa kecil. “Ah Charlotte san ceritanya berlebihan.” Jawab Philia malu. “Mabel chan, sudah
selesai berberes nya ? aku masuk ya.” Lori masuk ke dalam. “Oh Lorianne ne san,
silakan masuk.” Mabel mempersilahkan Lori masuk. “Loh kalian masih di sini ?”
Tanya Lori kepada Cecil dan Philia. “Masih dong, kita baru ngobrol2.” Jawab Cecil.
“Ayo masak, sebentar lagi suami mu datang bawa wild boar bersama suami mereka
berdua ini.” Kata Lori sambil memegang kepala Cecil dan Philia. “Matthew ni san
kemana Lorianne ne san ?” Tanya Philia kepada Lori. “Oh dia lagi menemani
Ronanta chan tidur.” Kata Lori santai. “Oh dasar lolicon.” Celetuk Cecil. “Heh
ga boleh gitu, dia sayang banget sama Ronanta chan tau.” Kata Lori lagi. “Hihi
aku senang bisa melihat sisi lain keluarga Astoria, beneran deh ga di sangka
sama sekali.” Kata Mabel. Mereka pun terus mengobrol sampai Fei dan Evan kembali. Malamnya, mereka semua pergi ke alun2 desa dan makan bersama di sana sambil menari2 dan berpesta merayakan
kedatangan Evan dan Mabel. Beberapa hari kemudian datang seekor burung merpati
membawa sepucuk surat di tujukan kepada Philia. Rona yang menerima surat itu
memberikan nya kepada Philia yang sedang berada di ladang. “Philia one chan,
itu surat dari siapa ?” Tanya Rona melihat Philia yang serius membacanya. “Dari
Charlotte san, dia dan Franz sekarang sedang menuju kota Azer dan kira2 seminggu
lagi sampai, di surat ini dia bercerita, kalau siswa akademi di utus ke garis
pertahanan di kota labirin, karena di beri pilihan mau ikut berperang atau
tidak, dia dan Franz memilih tidak. Dia di persilahkan pulang, tapi karena
rumah nya dekat dengan perbatasan Xenobia, jadi daerah nya terisolasi dan
tidak bisa masuk, walaupun perang tidak masuk dari sana. Akhirnya dia dan Franz
pergi ke kota Azer untuk bertemu dengan ku.” Kata Philia. “Oh begitu, asik
ketemu Charlotte senpai lagi.” Kata Rona tersenyum. “Iya, aku akan menyampaikan
kepada yang lain.” Philia berkata kepada Rona dan menuju rumah di ikuti Rona. “Fei
, Matt ni san, Charlotte san sedang menuju ke Kota Azer, ini baca surat ini.”
Kata Philia sambil memberikan surat nya kepada Matt dan Fei . “Hmm Keadaan di
kota labirin sudah gawat ternyata kalau sampai siswa akademi di kerahkan ke
sana.” Matt berkata sambil berpikir. “Ya, sepertinya kerajaan Vanadis kekurangan personel.” Tambah Fei . “Aku dan Lori akan kesana melihat keadaan, sekaligus mengecek keadaan guru dan papa Rude.
Kita akan kembali sore hari.” Kata Matt kepada Fei . “Baik, hati2 Matt ni san.”
Jawab Fei . “Baik, aku keluar mencari Lori dan langsung berangkat.” Matt pun
langsung keluar dan mencari Lori. “Baik Philia, seminggu lagi kita ke kota
Azer. Kita jemput Charlotte san dan Franz.” Kata Fei kepada Philia. “Iya,
thanks Fei .” Balas Philia. “Aku kembali ke ladang dulu ya. Bantu Cecil” Kata
Philia sambil pamit. “Iya, aku mau berlatih saja di belakang.” Kata Fei . “Rona
ikut ya Fei nii chan.” Tanya Rona. “Iya Rona chan, ayo kita jalan.”Ayo Fei nii
chan.” Mereka pun keluar rumah dan pergi ke tujuan nya masing2. Philia dan Cecil
mulai bercocok tanam di ladang di dampingi Mabel yang lebih berpengalaman.
Mereka menanam tomat, jagung, gandum dan tanaman lainnya dengan memanfaatkan
ladang yang ada. Fei dan Rona pun menuju tanah kosong untuk berlatih, di sana
dia bertemu Evan yang sedang menggali dan menanam sesuatu. “Halo Evan kun, apa
yang km sedang kerjakan ?” Tanya Fei . “Ah Feirus kun, aku sedang mencoba
menanam pohon apel dan menumbuhkan nya dengan menggunakan magic yang ku
pelajari di akademi.” Jawab Evan. “Wah Ronanta suka apel, nanti kalau sudah
berbuah boleh Ronanta coba ?” Tanya Rona. “Boleh dong, tapi aku masih mau
menggali beberapa lubang lagi untuk menanam pohon nya.” Kata Evan lagi. “Oh
Ronanta bantu….Chappy keluarlah, gali lubang jangan terlalu dalam untuk menanam
pohon.” Rona mengeluarkan Chappy dan menyuruh nya untuk menggali. “Woof” Chappy
pun langsung menggali beberapa lubang dengan cepat. “Ah…ah monster Fenrir…..” Evan yang melihat bentuk Chappy yang besar pun terduduk dan gemetaran ketakutan. “Tenang Evan kun, dia teman kami,
namanya Chappy, dia membantu kita.” Kata Fei sambil menarik tangan Evan untuk
membantunya berdiri. “Mengagetkan sekali…. Aku ga tau kalau Ronanta chan seorang beast tamer.” Kata Evan sambil bernafas lega. “Oh Ronanta bukan beast tamer, tapi Chappy sudah menemani
Ronanta sejak kecil. Kita selalu berdua dari dulu.” Kata Rona sambil mengelus2
Chappy. “Baiklah, aku mau berlatih dulu di sebelah sana. Ronanta chan, km bantu
Evan kun ya.” Kata Fei dan kemudian dia menuju ke arah hutan. “Umm Ronanta chan,
boleh aku elus Chappy.” Tanya Evan yang sebenarnya dia senang binatang. “Boleh
__ADS_1
kok, iya kan Chappy…” Rona menjawab sambil berbicara sama Chappy. “Woof…Woof”
Chappy pun maju ke arah Evan, ekornya bergoyang kencang. “Wah, bulunya
lembut….Good boy…” Evan berkata kepada Chappy dan terlihat bahagia sekali.
“Kyaaaaaah…….” Mabel yang datang dengan maksud memanggil Evan karena sudah
selesai mengerjakan ladang, kaget melihat Chappy dan berteriak. “Ada apa Mabel
san ?” Philia lari menyusul Mabel karena mendengar teriakan. “Mabel ne, kenapa
?” Cecil pun ikut menghampiri Mabel. “Itu…itu….Fenrir….kok Evan berani….” Mabel
berkata sambil menunjuk ke arah Chappy. “Oh Maksud mu Chappy. Dia peliharaan
kami, tidak apa2 kok.” Philia menjelaskan kepada Mabel masih kaget. Cecil pun berlari menghapiri
Cahppy dan Evan. “Kok bisa ya….Ronanta Chan itu tamer ya....sebab aku pernah
baca, Cuma tamer level tinggi yang bisa membuat Fenrir menjadi familiarnya.”
Kata Mabel lagi sambil terheran2. “Oh tidak, dulu Ronanta chan hidup sendiri
dan hanya di temani Chappy, dari kecil mereka selalu bersama jadi kalau di
bilang familiar, kurang tepat, lebih ke sahabat mungkin.” Philia menjelaskan
kepada Mabel. “Hebat….banyak hal menakjubkan di sini, mengagetkan tapi aku
senang.” Mabel berdiri sambil mengebas2 bajunya dan membereskan kacamatanya. “Hehe
di biasakan saja Mabel san. Kalau km lihat kesana, banyak pohon tumbang
berterbangan dan terlihat kilatan cahaya, berarti Feirus lagi berlatih. Nanti
biasanya dia bawa pulang kayu bakar dalam jumlah besar.” Kata Philia
memberitahu Mabel sambil menunjuk ke arah hutan.”Astaga….benar2 deh, aku ga tau
harus berkata apa, semua ini baru buatku, kalian bukan orang sembarangan…aku
yakin itu.” Kata Mabel berdecak kagum. “Bagaimana kalau kita makan siang di
sana, enak loh duduk di bawah pohon sambil menikmati angin. Aku akan membawa
makanan ke sini, km kesana saja dulu bersama Evan, Mabel san.” Philia mengajak
Mabel makan siang bersama. “Baik Philiandra san, aku ke sana dulu.” Mabel pun
berjalan mendekati Evan. Philia pun pergi ke rumah dan kembali membawa
makanan untuk makan siang. “Ayo semuanya makan dulu.” Kata Philia sambil
menyiapkan makanan di bantu oleh Mabel. “Iyaaa…makan apa kita Philiandra ne ?”
Taya Cecil sambil mendekati Philia. “Aku bawa daging bakar yang kemarin, roti
yang baru di panggang dan sup daging. Ayo, Ronanta chan sini, makan dulu dan
berikan daging ini untuk Chappy.” Kata Philia. “Iya…Philiandra one chan.” Rona
pun datang dan membawakan daging segar untuk Chappy. “Ayo Evan kun, ini ambil. Mabel
san, km duduk saja, ini aku ambilkan.” Philia memberikan piring kepada Evan dan
Mabel. “Baik Philiandra san terima kasih, tapi Feirus kun gimana ? dia masih di
sana ?” Tanya Evan sambil duduk dan memegang piring nya. “Nanti aku
panggil….Sudah Mabel san, silahkan duduk dan ini piring nya.” Jawab Philia.
Kemudian Philia pun berdiri dan mengeluarkan busur nya. Dia mengarahkan
busurnya ke atas dan menembakkan panah nya ke udara. Kemudian panah nya meledak
dan muncul tulisan dari asap ledakan nya. “Feirus, sini makan dulu.” Begitu isi tulisan nya.
“Boom” Fei pun datang, melompat dari hutan dan turun persis di sebelah Philia.
“Nih, kalau kurang nanti ambil sendiri.” Philia langsung memberikan piring itu kepada Fei.
“Ok, terima kasih Philiandra, mari kita makan. Itadakimasu.” Fei langsung
menyantap makanan nya. “……” Evan dan Mabel yang melihat itu bengong dan
terheran2 sehingga berhenti makan. “Eh Evan san, Mabel san, kalian kenapa ? kok
bengong ayo makan lagi.” Tanya Cecil santai. “Eh ini ga mau ya, boleh buat
Ronanta ?” Kata Rona sambil mengambil daging di piring Mabel. “Hey Ronanta
chan, ini masih banyak, jangan ambil punya Mabel san. Maaf Mabel san, ini aku
ganti dengan yang baru. Mabel san ?” Philia menaruh daging ke piring Mabel yang
tak bereaksi. “Anoo….kok seperti tidak merasa ada apa2 ya ? Kamu apa ga kaget Cecilia
Chan ? Cara Philiandra san memanggil Feirus kun” Tanya Evan dengan wajah yang
masih pucat karena kaget. “Oh….itu sudah biasa…..selama ini kita ya seperti
itu, nih Evan oni, tambah lagi.” Jawab Cecil santai. “Benar2 di luar nalar
kehidupan sehari2 mereka….” Pikir Evan dalam hati. “Mabel, mabel sadar mabel,…”
Evan menggoyang2 Mabel. Wajah Mabel pucat pasi karena kaget dan dia pingsan
sesaat mendengar bunyi yang keras. “Fiuuh kenyang, sini aku bantu bereskan.”
Kata Fei kepada Philia. “Ok, ini tolong di masukin ke nampan lagi.” Jawab Philia.
“Walaupun aneh….tapi mereka kompak dan mesra ya.” Pikir Evan dan Mabel dalam hati melihat Fei dan Philia. “Aaaah ngantuk, sini Chappy, tiduran….” Cecil menyuruh Chappy tiduran dan dia pun langsung tidur di perut
Chappy. “Cecilia, jangan tidur habis makan, nanti gendut loh.” Kata Philia. “Ah
biarin, paling nanti lemaknya larinya ke sini.” Jawab Cecil sambil memegang
dadanya. “Huh dasar gendut…” Fei meledek Cecil. “Hehe tapi suka kan…dah ah aku
mau tidur.” Jawab Cecil santai. “Mereka benar2 unik.” Pikir Evan dan Mabel dalam hati.
“Ronanta juga ah….huaaam.” Rona pun mendekati Chappy dan tidur di sebelah Cecil.
Fei dan Philia pun kembali ke rumah membawa piring dan makanan yang tersisa meninggalkan Cecil, Rona dan Chappy yang tertidur. Juga meninggalkan Evan dan Mabel yang masih bengong.
Hari pun semakin sore, Matt dan Lori yang pergi ke kota labirin pun kembali, tapi ada satu orang lagi
yang ikut mereka kembali. “Kami pulang, Fei , Philia, Cecil , Rona chan.” Matt membuka pintu.
“Oh kalian sudah kembali, loh senpai ?” Fei melihat ** yang ikut bersama mereka.
“Ozsu Feirus apa kabar ?” ** langsung menyapa Fei .
“Kok ikut kesini, ada apa senpai ?” Tanya Philia yang baru keluar kamar. “Tadi di kota
labirin ketemu sama Aniki dan Aneki, lalu mereka mengajak ku ke sini.” Jawab
**. “Ya, kota labirin aman, pasukan Xenobia sudah mundur dan sepertinya perlu
waktu lama untuk mengumpulkan pasukan untuk menyerang lagi. Tidak ada korban
tewas di pihak kerajaan Vanadis, tapi banyak yang terluka.” Kata Matt menjelaskan.
“Oh syukurlah,Rude oji san dan Sab oji san baik2 saja ?” Tanya Fei.
“Papa dan Sab oji san baik2 saja, malah mereka sekarang memperkuat pasukan
pengamanan kota. Pas habis bertemu mereka, kita ketemu ** dan teman2 lain
sekelas, dan mereka lontang lantung di jalan tidak jelas, meresahkan masyarakat.” Lori menjelaskan sambil memandang sinis **.
__ADS_1
“Bukan begitu aneki, kita coba membantu, tapi entah kenapa kita malah di hindari seakan2 kita
penjahat. Bahkan penginapan pun tidak mau terima kita.” ** menjelaskan.
“Iya lah, sudah berapa kali ku bilang waktu di akademi, perbaiki atribut kalian,
sekarang rasain. Makanya kalau di kasih tau dengerin.” Lori memarahi **.
“Siap Aneki, maaf ga nurut sama Aneki.” Jawab ** lagi.
“Trus yang lainnya dimana ?” Tanya Fei . “Aku Cuma ber empat saja, kita di utus dari akademi sebagai
support. Tiga lainnya sekarang masih di guild.” Jawab **. “Oh siapa saja ?” Kata Matt.
“Oh Hagel, Weny, dan Sasa, aniki.” Jawab **.
“Astaga Mohawk semua…” Kata Matt sambil geleng2 kepala.
“Dah tunggu sini, aku jemput mereka.” Kata nya lagi. Dia langsung keluar rumah dan
menghilang. Tak lama kemudian, Matt kembali bersama ketiga teman nya.
“Aneki……apa kabar.” Ketiganya langsung menyapa Lori. “Hey…hey jangan dekat2.”
Lori menjauh. “Oiya kenalkan, ini Hagel, Weny dan Sasa.” Matt mengenalkan kepada Fei dan lainnya.
Hagel adalah seorang pria botak yang tinggi dan kurus sehingga badannya pun membungkuk.
Weny adalah seorang wanita berambut panjang sebelah dan sebelah nya
botak dengan tinggi sedang dan piercing di hidung, bibir, telinga, total sembilan buah di
wajahnya. Sedangkan Sasa seorang wanita berbadan sexy dengan tinggi sedang,
rambut lurus dan berkulit gelap dengan dandanan menor.
“Astaga…mahkluk apa ini yang di bawa Matt ni san.” Tanya Fei , Philia, Cecil dan Rona dalam hati.
“Mereka adalah teman2 sekelas kami di akademi.” Lori menambahkan.
“Terima kasih aniki, aneki, kami di ajak ke sini, kami tidak tau harus tidur dimana soalnya.”
Kata Hagel menunduk dengan badan yang bungkuk. “Aneki……” Weny dan Sasa langsung
mendekap Lori. “Heeeeh mundur, kalian berkeringat……jangan nempel2.” Teriak Lori panik.
“Hahaha” semuanya pun tertawa. Kemudian semuanya mengantar ** dan lainnya
keliling desa dan menyuruh mereka mengambil salah satu rumah. “Silahkan, kalian
mau tinggal dimana, langsung masuk saja.” Kata Matt kepada ** dan lainnya.
“Siap aniki.” Jawab semuanya. Evan dan Mabel pun keluar rumah melihat karena
melihat mereka dan menghampiri Philia. “Philiandra san, mereka bukannya preman2
kelas tiga ya di akademi ?” Tanya Mabel kepada Philia.m “Iya, mereka teman2
Matthew ni san dan Lorianne ne san.” Jawab Philia. “Wah mereka berbahaya ga ya
? Reputasi mereka terkenal di akademi soalnya.” Tanya Evan. “Tenang saja,
mereka ga brani macam2 selama ada Matthew ni san dan Lorianne ne san.” Kata
Philia. “Haha tenang Matthew ni san dan Lorianne ne san ketua geng mereka.”
Tambah Fei meyakinkan. Kemudian ** dan lainnya masuk ke salah satu rumah dekat
alun2 desa. “Kita di sini saja, aniki, aneki. Terima kasih sudah mau membantu
kita.” ** menunduk di hadapan Matt dan Lori, di ikuti Hagel, Weny dan Sasa.
“Ok, silakan bersihkan sendiri, selamat datang di Astorian Village.” Kata Matt
menyambut mereka. “Ozsu Aniki, Aneki.” Jawab mereka kompak. “Weny, Sasa, ikut
aku, kita mandi ke sumber air panas di belakang rumah ku. Kalian bau keringat.”
Ajak Lori sambil menarik Weny dan Sasa. “Siap aneki.” Dengan senang hati Weny
dan Sasa mengikuti Lori. “Ayo bawa makanan ke alun2, kita pesta menyambut
penghuni baru.” Teriak Matt. “Uoooh Aniki” ** dan Hagel berteriak. “Aku siapkan
dulu ya, Mabel san, bisa bantu aku ?” Ajak Philia. “Baik, aku bantu.” Mabel
menjawab. Fei dan Evan pun pergi menghampiri Matt dan lainnya. Sementara itu,
di sumber air panas, Lori, Weny dan Sasa pun tiba, mereka melihat Cecil dan
Rona sedang berendam bersama Chappy. “Eaaaaah” Weny dan Sasa lompat kebelakang
Lori melihat Chappy. “Hei tenang saja, tidak apa2 dia peliharaan kami.” Lori
meyakinkan mereka. “Benar nih aneki…aman ?” Tanya Weny gemetaran. “Aman, ayo
masuk.” Ajak Lori. “Loh…Lorianne ne, jangan diam saja, ayo masuk…enak loh.”
Kata Cecil. “…..” Rona diam menikmati berendamnya. “Ok, aku masuk….ayo Weny,
Sasa.” Ajak Lori sambil menarik keduanya. “Hiyaaa” Kedua nya pun tercebur ke
dalam kolam. “Wuaaah enak aneki, segar rasanya.” Sasa berkata sambil berdiri
dari jatuh nya. Cecil pun mendekati Sasa yang duduk di pinggir kolam. Lalu Cecil
menempelkan dadanya ke dada Sasa. “Hmm gedenya sama ya dengan punya ku….?”
Gumam Cecil kepada Sasa. “Iyaaa ya, km adik Lorianne Aneki ya, namanya siapa ?”
Tanya Sasa. “Aku Cecilia, wah kita juara nih…..hehe.” Kata Cecil sambil melihat
sekeliling. “Wah one san yang bermuka paku ini rata rupanya hahah.” Cecil
meledek Weny. “Ah nama ku Weny bocah kecil, bukan wajah paku.” Jawab Weny
ketus. “Bocah kecil…enak aja, mana ada bocah kecil segede gini….” Cecil
menjawab sambil mengangkat dadanya. “Huh bocah ya bocah. Aneki, dia ini siapa
?” Tanya Weny kepada Lori. “Ini adik ku Cecilia, km baru ketemu ya ? Dia suka
iseng, jangan di pikirkan.” Jawab Lori santai sambil berendam. “Oh ok Aneki,
hey boca…Cecilia, namaku Weny….aku ga suka bercanda.” Kata Weny galak. “Wah
kalau di sini harus bercanda….mau apa coba Weny ne….” Cecil menantang Weny.
“Cecilia, sudah, jangan goda dia lagi….km berendam saja sama Sasa. Lagipula dada kalian terlalu besar, bagusan ini proposional.” Kata Lori sambil bercanda dan mengangkat dadanya yg
sedang.”Haha aneki memang bagus badan nya.” Weny. “Biarin ah….yang penting
banyak yang suka, iya ga Sasa ne.” Canda Cecil riang. “Haha iya Cecilia chan.” Jawab
Sasa riang. “Kalian lagi bahas apa ?” Philia berada di belakang mereka dan
bersiap untuk masuk.
“Waaaah Philiandra ne, satu lagi yang rata datang hehe.” Cecil bercanda.
“Hus biar pun rata, kamu kalah kan ? Buktinya km nyerah duluan hehe.” Lori meledek Cecil.
“Ahhhhh Lorianne ne, jangan di ingatin lagi dong….” Cecil berkata malu dan kemudian menyelam.
“Maksudnya apa ya Lorianne ne san ? Aku ga ngerti ?” Tanya Philia polos.
“Hahaha bagus kalau ga ngerti…” Jawab Lori riang.
Mabel pun datang dan bergabung bersama mereka. Mereka pun berendam bersama
dengan ceria sambil mengobrol.
__ADS_1