The Outcast : Heroes Of Beginning

The Outcast : Heroes Of Beginning
Chapter 16 Isolated in Astorian Village


__ADS_3

Seminggu kemudian, di kota Azer “Oh ini kota Azer ya, tempat Philiandra san tinggal.


” Charlotte bepikir dalam hati sambil turun dari kereta kuda.


“Charlotte sama, kita sudah sampai ke kota Azer, aku akan cari penginapan dulu supaya kita bisa istirahat.” Franz berkata kepada Charlotte.


“Iya Franz, aku mau jalan2 dulu sekitar sini ya, sekalian mau lihat akademi di depan itu.” Charlotte membalas Franz.


Tiba2 terdengar teriakan dari jauh “Charlotte san…..” Charlotte pun menengok dan melihat Philia sedang


berlari menghampiri nya di ikuti oleh Lori.


“Philiandra san……apa kabar ?” Charlotte pun lari mendekati Philia.


Mereka pun berpelukan dan melompat2 kegirangan seperti dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu. “Hallo Charlotte mana Franz….” Tanya Lori. “Itu di belakang, dia lagi menurunkan barang2 dari kereta.


Tadinya dia mau cari penginapan, tapi tdak jadi karena Philiandra san sudah datang.” Kata Charlotte menjawab Lori.


 “Oh ok, kalau begitu kita kesana saja. Ayo….” Ajak Lori kepada Charlotte dan Philia.


“Oh Lorianne sama dan Philiandra sama, sebentar lagi aku selesai menurukan barang.” Kata Franz.


“Kereta kuda ini milik mu Charlotte ?” Tanya Lori kepada Charlotte.


“Iya, Franz yang mengemudikannya.” Jawab Charlotte.


“Ok, Franz, jangan di turunkan. Ayo kita berangkat…” Lori mengeluarkan cermin nya dan langsung menteleport semuanya termasuk kereta kuda nya dan tiba di pintu gerbang desa.


“Charlotte dan Franz, selamat datang di Astorian Village.” Lori memberikan salam selamat datang.


“Haaaaah aku kira jantung ku berhenti.” Kata Franz yang kaget karena tiba2 berpindah tempat.


“Hahaha asik2 benar2 menarik Philiandra san, jadi ini desa mu ya.” Charlotte


berkata dengan riang dan senang. “Iya, ini desa kita bersama, selamat datang.”


Philia memberi salam. “Loh yang lain kemana ?” Tanya Charlotte. “Itu, Cecilia,


Ronanta dan Mabel lagi di ladang, Feirus dan Matthew ni san lagi memperbaiki


rumah di bantu oleh Evan kun, ** senpai dan Hagel senpai. Weny senpai lagi


berburu dan Sasa senpai lagi di dapur.” Jawab Philia. “Oh oh oh Mabel ? Evan ?


Mereka di sini ?” Tanya Charlotte kepada Philia. “Iya, ayo keliling desa, kita


cari rumah buat km dan Franz.” Ajak Philia riang. “Eh serius nih, aku dapat


rumah  ?” Tanya Charlotte kaget tapi senang.


“Yap, ayo jalan, dan pilih.” Kata Philia lagi. Mereka pun keliling Desa.


“Wah desa sebagus ini kenapa di tinggal ya ? aku mau coba masuk rumah itu ya.”


Charlotte pun berlari menuju rumah yang terletak di sayap kiri desa dekat


dengan lahan kosong tempat Evan menanam apel. “Wah aku suka rumah ini, tidak


terlalu jauh dari taman, dekat ke alun2 dan sepertinya di depan ku ada


penghuninya.” Charlotte mengamati satu rumah yang terlihat cukup bagus. “Iya, di


sebrang  rumah ini, persis di alun2, rumah ** senpai dan lainnya.” Philia menerangkan.


“Mabel san, apa kabar ?” Charlotte memanggil Mabel yang kebetulan lewat kembali dari ladang.


“Eh Charlotte san  ? apa kabar ? kok km bisa kesini ?” Tanya Mabel riang.


“Iya, aku tidak bisa pulang soalnya, Philiandra san sudah tau kondisi ku, dia mengajak aku ke sini barusan.” Jawab Charlotte.


“Wah asik nih, jadi ramai desa nya.” Mabel berkata kepada Charlotte dengan


ceria. “Haha asik kan, sekarang kita sama2 lagi.” Philia berkata kepada


Charlotte dan Mabel riang. “Huf huf….Charlotte sama…..ini rumah nya ya ? aku


masukkan barang2 dulu ya.” Franz datang dengan ter engah2 sambil membawa


barang2. “Aduh Franz, kok ngos2an, payah ah km.” Lori berkata di belakang Franz


sambil membawa sebagian barang2. “Lorianne sama, rupanya rumah nya jauh


dari pintu masuk ya.” Kata Franz lagi.


“Ah ayo masukkan barang, habis ini kita latihan, aku jadi gatal.” Kata Lori kepada Franz.


“Ampun……” Jawab Franz lemas.


Mereka kemudian masuk bersama2  dan membantu Charlotte dan Franz merapikan barang2 mereka. Setelah itu,


“Charlotte san, ayo kita lihat2 lagi desa nya, Mabel san juga yuk.” Ajak Philia kepada


Charlotte dan Mabel. “Iya, aku mau lihat ladangnya ya.” Kata Charlotte. Mereka


bertiga pun menuju ladang dan melihat Cecil dan Rona sedang menanam gandum di


sana. “Hoiii Charlotte senpai…..apa kabar ?” Cecil berteriak sambil melambai2.


“Baik Cecilia san…..” Teriak Charlotte sambil melambai.


“Disini kita menanam apa saja Philiandra san ?” Tanya Charlotte kepada Philia. “Kita menanam kentang


dan tomat dari Mabel san, lalu gandum dan jagung. Di sana masih ada lahan


kosong belum tau mau di pakai buat apa.” Kata Philia menjawab pertanyaan


Charlotte. “Oh kalau begitu boleh aku menanam Anggur ? Aku bawa benih nya.” Tanya Charlotte.


“Oh boleh sekali Charlotte san, aku sendiri tidak tahu mau di gunakan sebagai apa.” Jawab Philia.


“Baik, aku mulai bekerja yaaa.” Jawab Charlotte dengan semangat.


“O iya, Evan kun menanam beberapa pohon apel di pekarangan belakang.” Tambah Mabel.


“Oh bagus dong, aku juga bawa beberapa tanaman obat yang bisa di tanam di sana, nanti aku minta Franz untuk menanam nya.” Kata Charlotte lagi.

__ADS_1


“Yo Philiandra, oh ada orang baru lagi ya ?” Sapa Weny kepada Philia sambil membawa beberapa kelinci bertanduk (Horn Rabbit).


“Oh Weny senpai, kenalkan ini Charlotte san.” Philia mengenalkan Charlotte ke Weny.


“Salam kenal Weny senpai.” Charlotte memberi salam. “Iya salam kenal, oya


Philiandra, ini hasil buruan hari ini untuk makan malam.” Kata Weny sambil menyerahkan


buruan nya.


“Eh Philiandra san, di sini ga ada peternakan ya ?” Tanya Charlotte.


“Oh di belakang sih ada kandang ayam kosong dan peternakan kosong. Kenapa ?” Tanya Philia.


“Oh Franz bisa memelihara ayam petelur untuk menghasilkan telur dan memelihara babi. Mungkin bisa kita gunakan.” Tambah Charlotte memberi ide.


“Wah ide bagus tuh, aku akan bilang ke Feirus untuk membetulkan kandangnya.” Philia menyetujui.


“Franz mengurus peternakan, aku mengurus kebun anggur, jadi kita berkontribusi di sini.” Charlotte berkata


kepada Philia.


“Ah sepertinya Charlotte san mau menetap di sini selamanya hehe.” Mabel berkata kepada Charlotte.


“Iya, aku suka suasana desa nya soalnya, boleh kan Philiandra san ?” Tanya Charlotte.


“Dengan senang hati Charlotte san.” Philia menjawab. Mereka lalu pergi ke rumah Philia dan melihat progress


perbaikan nya.


”Wah rumah mu besar ya Philiandra san, paling besar di desa ini.” Kata Charlotte kepada Philia.


“Yah, memang paling besar sih, tapi banyak yang harus di perbaiki.” Kata Philia.


Tiba2 Fei  dan Matt melompat turun dan mendarat di depan mereka.


“Halo Charlotte san, akhirnya sampai di sini.” Sapa Fei . “Apa kabar Charlotte, gimana menurut mu desa ini ?” Tanya Matt.


“Desa ini indah sekali Matthew san, banyak pemandangan bagus. Iya aku sudah sampai Feirus san.” Kata


Charlotte menjawab Fei dan Matt.


“Feirus, sini, lap dulu, kamu keringatan.” Philia menyeka wajah Fei dengan sapu tangan nya.


“Matthew nih, air minum nya, kamu keringatan banyak sekali.” Lori memberikan botol minumnya kepada Matt dan menyeka keringat nya dengan sapu tangan.


“Waw, masih mesra sekali ya semuanya.” Charlotte berkata melihat Fei dan lainnya.


“Hahaha iya dong.” Lori menjawab. “Iya Charlotte san, km juga begitu kan sama Franz ?” Tanya Philia.


“Haha ga semesra kalian sih, dia masih menganggap aku majikannya dan dia pelayanku


padahal aku sudah bilang jangan begitu.” Kata Charlotte sedikit kesal. “Nanti


ku bantu tatar dia. Dan harus di rubah kebiasaan memanggil ‘sama’ nya.” Lori


berkata kepada Charlotte. “Charlotte samaaa….” Franz berlari ke arah Charlotte.


“Nah dia datang. Biar ku sambut.” Lori mendekati ...Franz. “Franz sini, ikut


“Jangan panggil sama, panggil Lorianne saja, di sini tidak ada noble, tidak ada


pelayan, tidak ada budak. Mengerti ?” Kata Lori sambil mendekatkan wajah ke


Franz. “Hiiii iya Lorianne sama…eh….Lor” Franz menjawab dengan grogi.


“Kayaknya bakal lama nih. Suiiiiit” Lori bersiul.


“Aneki, memanggil kami ?” Weny dan Sasa datang kepada Lori.


“Bawa dia, ajari kalau di sini tidak ada noble, tidak ada pelayan, tidak ada budak. Tatar dia sampai ngerti.” Kata Lori ke mereka.


“Siap Aneki.” Weny dan Sasa pun menyeret Franz.


“Hadeh…susah memang dia itu. Tapi gpp, biar belajar, aku juga kan mau di manja sama dia bukan aku harus


memerintah dia terus2an.” Charlotte bergumam sedikit kesal.


“Haha aku ngerti Charlotte san. Aku ngerti.” Philia menanggapi sambil memegang pundak Charlotte.


“hihi iya, aku saja memanggil evan langsung nama walaupun dia noble dan evan pun


memperlakukan ku tidak sebagai hamba dan lainnya, tapi sederajat. Bahkan dia


minta pendapatku terus kalau mau melakukan sesuatu.” Kata Mabel menambahkan.


Fei dan Matt yang melihat nya saling menoleh satu sama lain. “Maksud mereka tuh apa


ya Feirus .” Tanya Matt polos. “Entahlah ni san, aku ga ngerti.” Jawab Fei.


“Padahal menurutku perhatian Franz ke Charlotte sangat bagus, masih kurang rupanya,


maksudnya di manja itu apa ?” Tanya Matt berbisik kepada Fei.


“Aku ga ngerti perempuan ni san, jangan tanya aku.” Jawab Fei berbisik.


Tiba2 Charlotte, Philia, Mabel dan Lori menoleh ke Fei dan Matt dengan wajah merah. “Pokok nya


kalian udah bener, jangan di bahas.” Teriak mereka kompak.


Setelah itu, Philia dan Lori mengajak Charlotte dan Mabel naik ke bukit dan melihat makam orang tua mereka. “Di sini makam orang tua kami semua.” Philia memberitahu Mabel dan Charlotte. “Oh begitu


ya, indah nya, makam orang tua kalian di atas bukit tebing dan pemandangan yang


bagus, tempat yang cocok untuk orang tua kalian.” Kata Charlotte.


“Iya, sangat cocok, seakan2 orang tua kalian memandang pemandangan indah ini.” Tambah Mabel.


“Benar, memang seperti itu kita mensetting nya.” Lori berkata kepada Mabel dan


Charlotte. Mereka ber empat kemudian memberikan penghormatan dan segera


menuruni bukit. Di bawah, di samping bukit terdapat sumber air panas yang biasa


mereka gunakan untuk mandi. “Nah biasanya kita kalau mandi di sini, berendam

__ADS_1


sampai puas.” Kata Lori sambil menunjuk sumber air panas itu. “Iya benar, nanti


rencananya kita mau buat pemandian di sumber air panas ini.” Tambah Philia.


“Wah asik dong, boleh aku coba ?” Tanya Charlotte. Dia kemudian memasukkan


tangan nya ke dalam kolam. “Wah hangat, jadi kepengen mandi nih.” Tambah nya.


“Haha nanti sore kita masuk ke sini ya Charlotte, Mabel chan juga.” Ajak Lori.


“Ok, sudah tak sabar aku.” Tambah Charlotte riang. Mereka pun berjalan melewati


ladang. Cecil dan Rona masih di ladang. “Cecilia, sini kita mau makan dulu


sudah siang.” Teriak Philia. “Baaaikkkk” Cecil pun menggandeng Rona menghampiri


Philia dan lainnya. “Kita mau duduk di bawah pohon di kebun apel.” Tambah


Philia. “Ok…aku juga sudah lapar, minta lap dong Philiandra ne, aku keringatan.” Cecil menjulurkan tangan nya ke Philia.


“Ini….sekalian Ronanta chan ya.” Kata Philia. “Iya….” Cecil menjawab sambil membuka bajunya yang


berkeringat. Philia langsung menghalangi Cecil dan Lori langsung menutup badan Cecil.  “Hoi adik bodoh, ngapain km, kalau kelihatan yang lain gimana ?” Lori menjitak kepala Cecil.


“Eeeh gpp kan, kita kan sama2 perempuan ?” Bantah Cecil sambil memegang kepalanya yg di jitak.


“Lihat ke bawah sana, ** dan hagel memelototi km tuh….” Tambah Lori.


“O iya hehe…” Kata Cecil malu. “Dasar ga berubah ya kamu.” Kata Philia.


“Iya maaf Philiandra ne dan Lorianne ne, aku khilaf…” Cecil bergumam minta maaf.


“Tapi….coba lihat deh itu….” Cecil menunjuk ke arah Rona.


Ternyata Rona sudah telanjang bulat sambil mengelap keringat nya dengan wajah tanpa ekspresi.


“Astagaaaaaa, Ronanta chan….sini.” Philia langsung menutupi Rona supaya tidak


terlihat. “Eh jangan nengok ke sini, kerja….” Lori berteriak ke arah ** dan Hagel yang menatap tajam dari jauh sambil melempar sandal ke arah mereka.


“Maaaf Anekiiiii.” Terdengar teriakan mereka yang terkena timpukan sandal oleh Lori.


“Ngg Philiandra san, Ronanta chan umur berapa ? Dia pendiam sekali ya.” Bisik Mabel


bertanya kepada Philia. “Sebenarnya dia umur dua belas tahun, tapi karena dulu


dia tinggal sendiri dan hanya di temani Chappy sampai umur sepuluh tahun, jadi


dia agak sulit berkomunikasi dan tidak mengerti norma2. Tapi dia sangat pintar


loh.” Jawab Philia berbisik. “Oh pantas kalau begitu.” Balas Mabel berbisik.


“Kamu masih sama ya seperti di akademi Philiandra san, aku senang melihat nya.”


Charlotte berkata kepada Philia. “Haha ya beginilah keseharian ku.” Kata


Philia. “Makanaan Siap….” Terdengar Weny berteriak di alun2. “Yuk kita ke alun2


saja, nanti habis makan baru kita ke kebun.” Ajak Philia kepada yang lain.


“Masakan Weny dan Sasa enak loh, kalian pasti ketagihan.” Kata Lori. “Ayo kita


kesana.” Mabel  membalas. “Iya ayo.” Tambah Charlotte.


Mereka semua pun pergi ke alun2. Fei dan lainnya juga ke alun2 untuk makan.


Suasana Desa sudah mulai hidup kembali dengan kehadiran teman2 mereka, Fei dan lainnya pun bersyukur. Malamnya mereka kumpul lagi di alun2 untuk berpesta menyambut kedatangan Charlotte dan Franz.


Hari demi Hari mereka hidup dengan santai, penuh tawa dan keceriaan, penuh kedamaian dan


ketenangan dan tetap melatih skill mereka. Barrier yang di pasang Rona tidak hanya melindungi dari gangguan luar dan menyamarkan daerah, tapi juga menghentikan waktu bagi mereka yang di dalam.


Tidak ada seorang pun yang menyadari karena tidak ada yang pernah keluar dan tidak pernah


ada yang datang.


Sampai sepuluh tahun berikutnya, pada suatu hari, mereka kedatangan tamu. “Tolong……tolong kami.” Terdengar teriakan di pintu gerbang desa.


Fei dan Matt segera berlari ke gerbang desa. Ternyata yang datang adalah Ron yang membopong Marianne yang pingsan dan terluka berat.


“Ron…? Ada apa ? kalian kenapa ?” Tanya Matt kaget melihat Ron yang terlihat sudah menua.


“Oh….Matt, kalian….. tolong kami.” Ron pun pingsan. “Ayo kita bawa mereka ke


dalam Fei .” Ajak Matt sambil membopong Ron. “Baik, aku bawa yang satunya.” Fei


kemudian menggendong Marianne. Di rumah, mereka ber enam mengamati Ron dan


Marianne. “Mereka Ron dan Marianne kan ? kok terlihat lebih tua ya seperti


sudah separuh baya. Apa yang terjadi ?” Gumam Lori bingung. “Iya ya Lori ne,


kok mereka sudah tua ya ?” Tanya Cecil yang bingung. “Sekarang aku sembuhkan


mereka.” Philia langsung mengeluarkan healing magic nya. “Apa yang sebenarnya


terjadi di luar ?” Tanya Fei . “Aku tidak tau, kita tunggu mereka sadar nanti


kita minta penjelasan dari mereka.” Jawab Matt. “Kok mereka Cuma berdua ya,


seharusnya party mereka ada lima orang kan ?” Tanya Philia. “Iya aneh, lagipula


kenapa mereka bisa kesini ya  ?” Lori menambahkan.


“Aku coba cek keluar desa, siapa tau ada petunjuk.” Matt langsung keluar.


“Aku ikut ni san.” Fei pun langsung pergi menyusul Matt.


Kemudian Matt dan Fei pun keluar desa sampai batas barrier yang di buat Rona.


“Oh Tuhan…..” Gumam Matt kaget sambil menutup mulutnya. “Aku ga percaya ini…..” Fei terbelalak


kaget.


Langit di luar barrier itu berwarna ungu dan gelap di penuhi miasma,

__ADS_1


Suasananya pun mencekam seperti tidak ada kehidupan.


__ADS_2