The Outcast : Heroes Of Beginning

The Outcast : Heroes Of Beginning
Chapter 22 Alliance formed, Escape from capital to the northern forest


__ADS_3

Tiba2, ada Cahaya terang menyoroti mereka dan mereka langsung tiba di alun2 kota Flying Castle.


“Err….kami pulang.” Kata Fei grogi.


“Uoooooohh hidup para pahlawan, hidup harapan baru selamat datang kembali para


pahlawan.” Semua bersorak sorai dengan wajah ceria dan bahagia.


“Huh…huh….aku pulang….huh.” Cecil pun menitikkan air mata melihat itu dan mulai menangis.


“Syukurlah Cecilia, syukurlah….” Fei memeluk Cecil sambil menitikkan air mata.


“Hey, aku tau isi pikiran kalian, kalian pasti berpikir kita semua akan takut


kan sama kalian karena kalian membantai lima ribu pasukan musuh tanpa berkedip.


Dan hanya sebentar lagi. Belum lagi membersihkan undead yang maju dan yang ada


sebelum nya.” Valia berbicara di belakang mereka. “…….” Fei dan lainnya pun


terdiam. “Lama kita tidak berjumpa ya. “ Terdengar suara lagi di belakang


mereka. “Sab oji san……” Mereka serentak barkata dalam hati. “Aku benar2 bangga


pada kalian, aku yakin orang tua kalian pun merasa sama dengan ku.Ga usah takut


dan khawatir, kami semua di sini rela mengikuti kalian.” Kata Sab yang langsung


mendekati mereka. “Sab oji san….” Mereka semua bersujud di hadapan sab. “Haha


kalian sudah ku anggap anak2 ku sendiri, terima kasih sudah menyelamatkan aku


yang sudah tua ini.” Katanya sambil mengelus kepala Fei dan lainnya satu


persatu. “Philiandra san……..” Mabel dan Charlotte mendekati Philia. “Kalau mau


nangis sini….” Kata Charlotte sambil membuka tangan nya. Philia pun memeluk


Charlotte dan Mabel. “Hehe sekuat apapun kamu, semengerikan apa bentuk mu,


tetap, kalau mau nangis, cerita, tertawa, kesini aja, kita berdua pasti


menyambut mu.” Kata Charlotte kepada Philia yang menangis.


Matt kemudian menggandeng tangan Fei dan Lori, begitu juga Lori dan Fei langsung menggandeng


tangan Cecil dan Rona, Cecil memanggil Philia dan langsung menggandeng nya.


“Hidup New Astorian Empire.” Matt berteriak sambil mengangkat tangan nya yang


bergandengan, di ikuti oleh Fei dan lainnya. “Uooooooh” Semuanya pun bersorak


dan bertepuk tangan. Setelah semuanya tenang, mereka membersihkan diri dan


mandi kemudian berkumpul di singgasana. “Ada masalah, energy kita sudah


terpakai cukup banyak, kita harus mengisi tenaga. Aku akan pindahkan istana ini


ke atas hutan di utara ibu kota.” Kata Rona. “Berarti kita tidak bisa bergerak


bebas dulu ya.” Kata Matt. “Iya tapi paling tidak kita menjauh dulu dari


ibukota. Supaya tidak ketahuan oleh musuh.” Kata Rona. “Aku setuju, kita pindah


ke hutan di utara saja, dari sana masih kelihatan istana Vanadis.” Kata


Valia.”Baiklah, kalau semua sudah setuju, aku mulai bergerak.” Kata Rona.


“Sebentar Ronanta chan, aku dapat usulan dari Sab oji san, supaya kita menaruh


satu Doll di singgasana istana Vanadis yang di bentuk seperti Ratu Valia yang


sudah meninggal, di dudukan di singgasana.” Kata Matt. “Baiklah” kata Rona “aku


tunggu sebentar.” Katanya lagi. “Jr, persiapannya sudah ok ?” Tanya Matt. “Siap


aniki, sudah ok, terlihat seperti ratu Valia yang wajah nya terbakar oleh


magic.” Kata **. “Ok, Valia setuju kan, sebaiknya selama kita mengisi energy


kita palsukan kematian km sambil terus memantau lewat mata Doll itu keadaan di


istana.” Matt menjelaskan ke Valia. “Ya, aku setuju, lakukan saja.” Kata Valia.


“Ok **, luncurkan Doll nya.” Kata Matt. “Siap Aniki, Doll meluncur.” **


langsung meluncurkan Doll nya dan mendudukkan nya di singgasana dengan pedang


yang tertancap di jantung nya dan wajah yang rusak. “Semua sudah ok aniki.” **


melaporkan kepada Matt. “Baiklah, ok Ronanta chan kita bisa berangkat.” Kata


Matt. “Ok Matthew oni chan.” Kemudian Rona pun mengatur arah istana supaya


menuju hutan di utara dan mengisi energy.”Aku akan turun sebentar untuk


berburu, sepertinya dengan orang sebanyak ini, persediaan kita kurang.” Kata Fei.


“Aku ikut ya Fei ni…” Kata Cecil. “Aku juga ikut…” Philia menambahkan.


“Kok tumben kalian mau ikut ?” Kata Fei yang heran melihat Philia dan Cecil.


“Feiruss kamu lupa ya ? tadi kan kamu hampir menelantarkan mereka….paham ga ? Payah ah


satu2 nya adik ku yang laki2 ini. Peka sedikit dong, aku sebagai perempuan juga


geram melihatnya.” Kata Lori menjelaskan. “Oh….iya….Maaf….” Kata Fei kepada Cecil


dan Philia dengan wajah merasa bersalah. “Iya ga apa2, tapi pokok nya aku ikut


ya.” Kata Philia. “Iya oni, aku sama kayak Philiandra ne.” Tambah Cecil. “Iya


ok, begitu sampai kita turun.” Kata Fei . “Rasanya kalau kalian yang berburu


tidak enak, aku akan mengutus beberapa ksatria ku untuk membantu kalian


berburu, banyak orang pasti banyak hasil.” Kata Valia. “Baik, terima kasih Valia


sama.” Kata Fei lagi. “Ah jangan pakai sama dong, panggil Valia saja kita kan


sederajat.” Kata Valia cemberut. “Iya tapi kan Valia sama lebih tua.” Jawab Fei


santai. Mendengar jawaban Fei , Matt menutup mata. “Aaaahhhh aku ga tua, masih


cantik dan sexy aaaaaahhhh. Lorianne senpai dia bener2 ga paham perempuan ya.”


Valia jadi marah di bilang tua.”Loh aku salah ya ?” Kata Fei dengan polos nya.


“Aduh Feirus…..jitak nih.” Kata Lori. “Heee aku kan bilang sebenernya.” Kata Fei.


“Sini Fei , ikut aku, aku jelaskan ke km.” Matt menarik Fei masuk ke ruangan

__ADS_1


baca. “Haduh ada2 saja….” Gumam Lori. “Ha ha ha” Philia dan Cecil cuma bisa


tertawa grogi. Tak lama kemudian, Fei pun keluar bersama Matt. “Maaf kan aku


Valia. Aku lupa perbedaan waktu yg kita jalani.” Fei menunduk di hadapan Valia.


“Jangan di ulang, aku maafkan.” Kata Valia ketus. Istana pun sampai di hutan.


“Ayo kita turun.” Ajak Fei  kepada Philia dan Cecil.


Mereka pun turun bersama beberapa ksatria dari kerajaan dengan


menaiki hover bike dan membawa kereta untuk mengangkut hasil buruan.  Valia trus memandangi istana Vanadis yang terlihat jauh memakai teropong di balkon di temani Lori. Sesekali melihat ke


bawah. Para pengungsi sudah mulai beraktivitas dan sudah mendapatkan tempat


masing2. Anak2 yatim piatu di tempatkan di timur kota di sebuah rumah yang


berlantai empat yang cukup besar. Sab, Lenton dan Rude masuk ke gedung lembaga


militer dan di sambut oleh Ron dan Drax, tak lama kemudian Matt juga masuk


kesana. Terlihat juga banyak yang membantu Franz mengurus ternak. Dan banyak


juga yang membantu Marianne dan Mabel di ladang dan kebun. Beberapa ksatria


terlihat membantu Evan di dermaga pelabuhan udara. Floren pun masuk ke sebuah


gedung besar tepat di sebelah istana yang merupakan perpustakaan bersama


beberapa warga.Rona tidur di depan konsol di kasur yang sudah di sediakan Sasa.


Weny dan Sasa sesekali membawakan snack ke atas untuk mereka.


Mereka juga melihat anak2 yang di tolong Fei sedang


berjalan2 di kota di gandeng oleh Charlotte. Mereka juga melihat toko yang


selalu ramai. “Untuk sementara kita bisa tenang ya di sini.” Kata Valia kepada


Lori. “Iya, sekarang sementara aman, kita di lindungi oleh selubung yang


membuat hilang kalau di lihat dari luar, juga penghalang untuk menangkis


serangan musuh. Di dalam sini, waktu juga terhenti, jadi walaupun sepuluh


tahun mendatang umur kita tetap sama. Seperti yang kita alami sepuluh tahun


terakhir.” Kata Lori. “Iya, aku iri sedikit, seharusnya aku lebih muda dari km


senpai. Tapi sekarang malah lebih tua, sudah dua puluh tujuh tahun. Hiks,


padahal aku harus nya sama dengan Feiruss dan Philiandra.” Kata Valia lesu.


“Loh masih kepikiran yang di bilang Feiruss tadi ya ?” Kata Lori. “Sedikit…..”


Jawab Valia. “Tenang saja, sekarang kan tetap dua tujuh ga berubah lagi.” Kata


Lori, “Tapi tetap lebih tua dari senpai  kan ?” Kata Valia lebih lesu.


“Ha ha ha” Lori hanya bisa tertawa juga karena tidak


bisa membantah lagi. “Sudahlah Valia, kita ke toko itu yu, ada minuman enak, aku


traktir.” Kata Lori sambil menunjuk toko di alun2 (convenient store). “Ok ayo


kita kesana.” Kata Valia. “Ronanta titip satu ya minuman nya bawa kesini.” Kata


Rona sambil memegang tangan Lori. “Iya, nanti one chan bawakan.” Kata Lori.


keluar ruangan menuju toko.Sore hari, Fei dan lainnya kembali, hasil buruan


mereka sangat banyak sampai beberapa kali mengangkutnya.


Keesokan harinya di ruang singgasana, Valia yang satu2nya kepala Negara yang masih ada, menobatkan Matt, Fei, Lori, Philia, Cecil dan Rona sebagai Demon Lord dan peminpin dari New Astorian


Empire. “Dengan ini, Matthew Von Astoria, Lorianne Von Astoria, Feiruss Von


Astoria, Philiandra Von Astoria, Cecilia Von Astoria dan Ronanta Von Astoria di


resmikan menjadi Demon Lords yang memerintah New Astorian Empire yang di akui


kedaulatannya sebagai sebuah Negara. Silahkan maju kedepan untuk menerima


pengesahannya.” Valia berkumandang. Mereka ber enam pun maju dan Valia


menyerahkan tongkat pemerintahan sebagai symbol, Kepada Matt dan Fei yang


mewakili semua. Kemudian, di balkon Valia, Matt, Fei , Lori, Cecil, Philia dan


Rona menandatangani pakta perjanjian aliansi antar Negara. Semua rakyat menyaksikan,


bertepuk tangan sambil bersorak ketika Valia dan keenamnya bersama2 mengangkat


pakta itu. “Fei ni, ga kebayang ya, sekarang kita jadi raja dan ratu hehe, kayak


mama dan papa.” Kata Cecil berbisik sambil mengangkat tangannya. “Iya, mama dan


papa pasti banggsa sama kita.” Kata Fei . “Iya…….hiks” Cecil pun mulai


menangis. Philia dan Lori pun menitikkan air mata bahagia. Mereka dengan kompak


melihat ke barat tempat makam orang tua mereka dan memberi hormat dari balkon.


Mereka melihat bayangan orang tua mereka yang berdiri di depan makam yang


kemudian menghilang. Ke enam nya menitikkan air mata melihat kejadian itu.


“Kami berhasil” Pikir mereka semua dalam hati seakan berbicara kepada orang tua


mereka. Setelah itu pesta di gelar di alun2 kota, semua warga menari2 dan


menikmati makanan yang di sediakan.Para pelayan yang di arahkan oleh Weny dan


Sasa terus membawakan makanan. Pesta berlangsung  semalaman dan semuanya bersukacita.


Keesokan harinya, hari yang di janjikan pangeran Edgar, sesuai dugaan Sab, ada beberapa


penunggang wyvern undead yang terbang mengitari di atas istana Vanadis dan


mendarat. Fei dan lainnya bersama Valia bersiap di gedung  militer sambil melihat monitor Doll yang di taruh di singgasana.


Tiga orang pengendara wyvern pun masuk ke singgasana dan melihat mayat Ratu Valia yang sebenarnya


adalah Doll. Mereka mengamati dari dekat sampai wajah mereka terlihat jelas di


monitor. Kemudian setelah memastikan kematian Ratu, salah satu dari mereka


mengeluarkan suatu Magic yang di tembakkan ke langit. “Tidaaaaaak” Terdengar


lah suara menggema di luar istana. Lalu para penunggang itu pergi dan terlihat

__ADS_1


di kejauhan wyvern terbang menjauh dari istana. “Kita berhasil mengecoh


mereka.” Kata Fei . “Iya, sekarang walaupun kita tidak bisa kemana2 sementara


kita aman.” Kata Matt. “Tapi apa maksud, teriakan yang terakhir ya, aku jadi


penasaran.” Kata Lori.”…..” Valia diam saja seribu bahasa. “Sebelum nya maaf,


tapi mungkin ga Pangeran Edgar mengharapkan Valia selamat ? Mungkin masih ada


sisi kebaikan di hatinya.” Kata Philia.”Tidak mungkin. Aku tahu persis sifat


kakak ku, buat dia aku ini hanya alat.” Kata Valia tegas. “Mungkin karena Valia


di anggap sudah meninggal sehingga kerajaan meninggal bersamanya sehingga dia tidak


bisa mengambil alih, sebab kerajaan Vanadis sudah di anggap hilang dan musnah.”


Kata Philia lagi. “Itu mungkin, karena suatu kerajaan yang hilang atau musnah


maka akan di lupakan dan tanah nya jadi tanah tak bertuan. Seperti Astorian


Empire dulu.” Kata Valia. “Tapi kan km bisa mengambil kembali.” Kata Lori.


“Ya benar, karena memang aku adalah Ratunya dan aku masih hidup. Jadi aku bisa


kembali kapan pun.” Valia menjawab Lori. “Baiklah kita sekarang tenang dulu,


rencana berikutnya aku mau ke kerajaan Beastmen untuk melihat yang tersisa dan


mengajak yang selamat dan kemudian ke kerajaan timur jauh.” Kata Matt. “Iya,


aku setuju, kita harus mengumpulkan banyak sekutu dan tenaga untuk melawan


kakak ku.” Kata Valia. “Sekarang karena bahaya sudah terlewati sesaat,


sebaiknya kita beristirahat sekaligus isi tenaga. Doll akan terus di tinggalkan


di singgasana istana Vanadis. Baiklah sekarang kita bubar dulu.” Kata Matt


kepada yang lain. “Terima kasih semuanya, aku benar2 tertolong.” Valia menunduk


di hadapan Fei dan lainnya sambil menangis. Dia benar2 lega sekarang karena


merasa terbebas dari beban berat dan perjuangan selama sepuluh tahun terakhir.


“Sama2, dulu kita kan juga di tolong oleh Valia.” Kata Fei . “Iya, tidak usah


di pikirkan, kita teman.” Tambah Lori. “Ayo kita istirahat dulu.” Ajak Philia


ke Valia. “Baik…..” Kata Valia sambil manghapus air matanya. Mereka pun keluar


gedung dan kembali ke rumah masing2. “Sekarang km mau kemana Valia ? Ke rumah


ku yu, aku buatkan teh dan cemilan, kita ngobrol2.” Ajak Lori kepada Valia.


“Loh, senpai tidak tinggal di istana ?” Tanya Valia. “Tidak, kita tidak ada


yang tinggal di istana kok, kecuali Ronanta chan, dia tetap di singgasana,


karena mau mempelajari konsol dan system istana terbang ini. Dia juga senang


menonton perjalanan dan mengamati situasi di luar dari monitor, makan tidur


disana, dah akhirnya tidak mau keluar, kadang aku kesal juga, beberapa hari


lalu aku sempat menarik dia untuk mandi haha.” Kata Lori sambil mengelus


kepalanya sendiri. “Kenapa ya ? padahal istana itu hak kalian.” Kata Valia.


“Kami tidak terbiasa saja mungkin, dan istana itu terlalu besar untuk kami. Dan


masalah Ronanta chan, aku minta Weny dan Sasa mengawasi dia.” Kata Lori.


“Nah, ini rumah ku dan Matthew, di sebelah ku adalah rumah Feiruss, Philiandra dan Cecilia.


Ayo masuk.” Ajak Lori sambil membuka pintu. “Terima kasih senpai, terus terang


kota ini banyak teknologi yang aku sendiri ga tau, sepanjang ingatan ku sampai


lima ribu tahun yang lalu. Waktu aku masih hidup limar ibu tahun yang lalu,


pernah ada legenda tentang dunia ini jauh sebelum aku lahir, katanya dulu semua


penghuni dunia ini adalah manusia, mereka tidak bisa menggunakan magic, dan


hanya mengandalkan teknologi, peradaban mereka sangat maju dengan gedung2


tinggi. Belakangan mereka mendapatkan sumber energy berupa magic mana yang di


gunakan sampai sekarang. Kemudian peradaban mereka musnah karena bencana dan


perang antar mereka, sebagian melarikan diri ke bawah tanah dan berevolusi


menjadi Demon. Suatu ketika Demon naik ke permukaan lagi dan mulai menguasai


permukaan dengan menggunakan teknologi dari peradaban sebelum nya. Itulah kami,


sebelum  lima ribu tahun yang lalu. Jadi bisa di bilang asal kami adalah manusia.” Valia bercerita.


“Berarti semua yang ada di sini adalah peninggalan peradaban manusia sebelum demon dan bukan


Dragonian ?” Tanya Lori. “Ada kemungkinan, kurasa dua ribu tahun yang lalu pun


kota ini masih terkubur di dalam tanah, dan merupakan peninggalan peradaban manusia.


Ketika Dragonian terdampar di  planet ini limaribu tahun yang lalu, awalnya mereka heran dan mencari manusia, lalu mereka berusaha menghidupkan lagi teknologi manusia kuno untuk bisa  pulang ke planet mereka, tapi tidak berhasil karena sudah banyak teknologi yang hilang, akhirnya mereka berpusat pada


penggalian peninggalan manusia. Baru ketika ras celestial datang mereka


menciptakan lagi manusia juga elf dan beastmen.” Kata Valia. “Berarti semua


rumah ini, kota ini lebih tua dari limaribu tahun yang lalu. Wow sulit di


percaya.” Kata Lori. “Benar, mungkin umur bangunan ini lebih dari sepuluh ribu


tahun yang lalu. Sebagai contoh, meja dari logam ini, teknologi ini bukan dari


demon atau dragonian. Dragonian membangkitkan dan mengembangkan teknologi  kuno  ini untuk mengatasi ancaman duaribu tahun yang lalu.” Kata Valia. “Kalau


untuk yang kamar mandi seperti shower itu adalah teknologi kuno ?” Tanya Lori.


“Dulu, sewaktu aku masih hidup sebagai demon, shower sudah ada, bahkan sebelum


Dragonian terdampar di sini sudah ada, tapi bukan kita yang menciptakan nya.”


Kata Valia. “Wah menakjubkan, harusnya kita ajak Mabel chan kesini, dia pasti


senang sekali dengan pembicaraan seperti ini.” Kata Lori. “Oh Mabel san ada di


sini ?” Tanya Valia. “Oh km belum bertemu Mabel chan ya, biasanya dia ada di

__ADS_1


kebun, mau kesana ?” Tanya Lori. “Boleh, ayuk kita ke kebun.” Jawab Valia.


Mereka pun keluar rumah dan menuju ke kebun.


__ADS_2