
Sementara itu di gedung militer, “Jr senpai, boleh aku coba berburu pakai Doll ? Aku mau coba lihat tembakan nya.” Kata Cecil.
“Boleh tapi aku yang gerakkan ya dan kita pakai satu Doll saja.” Kata **.
“Eeeh jangan, aku kan yang mau kendalikan, coba minggir dulu senpai.” Kata Cecil.
“Aku ga brani kasih km Cecilia sama, nanti aku di marahi aniki,” Kata **, diam2
** menyalakan alat komunikasinya. “Gpp, nanti aku bilang ke Matthew oni.
Lagipula aku kan sudah belajar.” Kata Cecil. “Aduh gimana ya… Coba tanya Pak
Sab di sana dulu, aku beneran takut salah.” Kata ** pucat.
“Sab oji. Aku boleh kan coba mainin Doll satu buat berburu ?”Teriak Cecil ke Sab.
Kemudian merasa di panggil, Sab mendekati Cecil dengan kursi Rodanya.
”Eh…memang km bisa ?” Tanya Sab. Ron yang duduk di depan ** pun berbalik.
“Cecilia, kalau Doll nya rusak atau hilang gimana ?” Kata Ron.
“Aku bisa kok, lagipula kan ada banyak jadi ga masalah.” Kata Cecil.
“Bukan masalah banyak nya, tapi kalau km memang bisa, ga ada salah nya kan mencoba ?” Kata Sab kepada **. “Ok ini, aku kasih, tapi kalau ga ngerti tanya ya.” ** mewanti2 Cecil.
“Ok…..aku duduk.” Cecil langsung melompat duduk di kursi ** yang sudah kosong.
Cecil langsung memegang pengontrolnya. “Pertama tekan ini, kemudian ini……lalu ini supaya meluncur,
sekarang tinggal di gerakkan.” Kata Cecil sambil menekan2 panel kontrol dan mengendalikan nya dengan pengontrol.
Doll yang di keluarkan Cecil dari dermaga langsung terbang dan menuju ke hutan di
bawah. “Blugh” Doll pun mendarat. “Nah sekarang aku cari sasaran nya.” Ucap Cecil
sambil mengendalikan Doll yang sedang berjalan di hutan. Di monitor tampak dari
pandangan Doll sehingga bisa terlihat Doll sedang berjalan di hutan. “Wah ada
rusa…..siap2….tembak.” Doll pun menembak dan mengenai rusa itu. “Hehe aku bisa
kan ?” Kata Cecil. Semua di sana bertepuk tangan kecuali ** yang masih serius
melihat monitor. “Umm Cecilia, rusanya masih hidup dan mengarah ke km, ngg itu
bukan Rusa tapi monster Deep Horn. Mundur Cecilia….Doll nya pasti hancur…..” Kata ** panik.
“Ahhh benar senpai….aku ga bisa mundur, nyangkut…..aaaaaaa” Monster itu mendekat dan
menyeruduk Doll. Gambar di monitor pun mati. “Yaah Doll nya hancur, padahal itu
monster lemah dan enak, gimana dong ?” Kata Cecil sedih. “Tidak apa2, kan
begitu hancur satu di dermaga langsung membuat yang baru lagi. Jadikan ini
pelajaran ya” Kata Sab. “Iya…Oji san.” Kata Cecil lemas.Dia langsung pindah
tempat duduk dan duduk di belakang sambil murung. Kemudian dia mendekati Hagel
yang bertugas mengontrol Drone. “Hagel senpai, boleh pinjam ? Aku mau coba
menerbangkan nya.” Kata Cecil. “Ini silakan, km sudah ngerti kontrol nya kan ?”
Kata Hagel. “Sudah kan tiap hari aku lihat. Baik, aku duduk.” Cecil langsung
duduk dan memegang kontrolnya.
Dia mengkontrol satu drone dari sepuluh drone yang tersebar di berbagai arah.
“Wah bagus ya kita bisa terbang dan melihatnya di monitor.” Kata Cecil sambil
menerbangkan naik dan turun. “Aku coba maju ya….” Cecil pun langsung mendorong
pengontrol nya supaya drone itu maju. “Awas, Cecilia sama, nanti kalau kejauhan
dan tidak dapat sinyal kontrolnya, drone nya jatuh.” Kata Hagel. Ternyata
peringatan Hagel terlambat, Cecil membuat drone nya maju terlalu jauh dan
kehilangan sinyal dan akhirnya jatuh, sehingga monitor yang menampilkan drone
itu langsung mati. “Aduh…maaf hagel senpai…” Kata Cecil. “Tidak apa2, kamu kan
masih belajar.” Kata Hagel dengan wajah pucat. Tiba2 Lenton yang datang entah darimana mendekati Cecil. “Hey Cecilia kun, kenapa km ga belajar dulu di mesin simulasi di lantai 2 itu ? Kan sama
saja, bisa belajar mengendalikan Doll, Golem dan Drone. Aku baru selesai
pakainya.” Kata Lenton sambil menunjuk ke tangga arah dia datang.
Ternyata ada mesin simulasi tertutup di lantai kedua gedung itu, yang di gunakan sebagai
sarana latihan untuk para Operator Doll, Golem dan Drone. “Oh ada ya, wah dari
tadi dong bilang nya, kenapa ga ada yang kasih tau aku, baiklah aku kesana
yaaa.” Cecil berkata dengan mata berbinar.
Dia pun langsung menuju lantai dua dan mencoba mesinnya. “Lenton, kenapa
km kasih tau dia, aku kasih dia coba maksudnya supaya dia kapok dan tidak
kesini lagi, dia itu kan salah satu Demon Lord juga soalnya. Walaupun kuat tapi
bukan tugasnya jadi operator.” Kata Sab kepada Lenton. “Ah tidak apa2, buat
aku, Cecilia kun itu murid di akademi, lagipula kalau dia mengerti kan dia
tidak akan mengganggu kita di sini lagi.” Kata Lenton. “Permisi, Cecilia ada di
sini ?” Lori masuk dan bertanya kepada semuanya.
“Oh Lorianne, Cecilia ada di atas lagi pakai mesin pelatihan operator, ada apa mencari dia ?” Tanya Sab.
“Oh tidak, tadi Matthew kasih tau aku, katanya Cecilia merusak satu Doll dan satu Drone ya, aku kesini di suruh jemput dia, karena Matthew dan Feiruss lagi bicara sama Papa Rude dan Drax di
istana. Kebetulan aku ada di sebrang, Matthew minta tolong padaku.” Kata Lori.
“Oh tenang saja Lorianne kun, biarkan dia latihan, nanti juga dia keluar
sendiri, tinggal saja tidak apa2.” Kata Lenton. “Duh, maaf ya pak Lenton, Sab
oji san, kalau adik ku bikin masalah.” Kata Lori sambil membungkuk. “Ah tidak
kok, tidak ada masalah, tenang saja ada aku dan Lenton di sini.” Kata Sab
menenangkan Lori. “Baiklah kalau begitu, aku permisi, aku ada di sebrang bersama Valia dan Charlotte.Terima kasih oji san, pak Lenton.” Kata Lori dan dia pun langsung keluar gedung lagi.
“Hmm kok bisa tau ya si Matthew ada Doll rusak dan Drone jatuh ?” Kata Sab.
“Maaf pak Sab, aku tadi nyalakan alat komunikasinya, sebab aku takut di marahi sama Aniki
dan Aneki.” Kata ** mengaku. “Oh hahaha, iya juga ya, ya sudah gpp, sekarang
biarkan saja Cecilia di sini. Anak itu sebenarnya pintar hanya saja masih
seperti anak kecil.” Kata Sab lagi sambil tertawa. Hari pun menjelang malam,
lampu2 di jalan mulai menyala. “Hmm Cecilia belum selesai juga ya ?” Tanya Sab.
“Jr kun coba km susul dia ke atas.” Kata Lenton. “Ok pak” ** langsung menuju
lantai 2 untuk memanggil Cecil. Tak lama kemudian dia turun lagi, “Kata Cecilia
sama, Sab oji san dan Pak Lenton pulang duluan saja gpp, nanti dia yang kunci
__ADS_1
pintunya. Begitu....” Kata **. “Waduh….repot juga ya.” Kata Sab. “Dah gpp, kita
percayakan saja sama dia.” Kata Lenton. “Bailklah pak Lenton dan Pak Sab, kami
duluan ya.” Kata Ron, ** dan Hagel. “Ya sudah kalian duluan saja, kami nanti dulu.”
Jawab Sab. “Ya, kalian silahkan duluan, sudah mau malam juga. Makan dulu sana.”
Kata Lenton. “Baik pak, terima kasih.” ** dan Hagel pun meninggalkan gedung.
“Kita tunggu sebentar lagi ya Lenton.” Kata Sab. “Ya Sab, kita tunggu saja.”
Jawab Lenton. Mereka pun duduk kembali sambil mengamati monitor. “Permisi Sab
oji san, Pak Lenton, mau tanya Cecilia ada di sini ga ya ?” Tanya Philia yang
baru masuk. “Oh Philiandra, dia ada di lantai dua, sedang mencoba simulasi
operator.” Jawab Sab. “Ok, sab oji san, aku susul ke atas ya.” Philia langsung
menyusul naik ke lantai dua. Terdengar suara ribut di atas. Tak lama kemudian,
Philia turun bersama Cecil. “Baik sab oji san, pak lenton, kami permisi dulu,
maaf kalau Cecilia merepotkan ya.” Kata Philia sambil menyuruh Cecil menunduk.
“Aku ga ngerepotin kok Philiandra ne, aku kan latihan, iya kan sab oji, pak
Lenton.” Kata Cecil protes dan menepis tangan Philia. “Iya, dia tidak
merepotkan kok, tapi lain kali jangan sampai malam ya.” Kata Sab kepada Cecil.
“Oh emang sudah malam ? Rasanya baru sebentar….kalau begitu maaf ya Sab oji dan
Pak lenton, aku lupa waktu.” Cecil menunduk. “Iya tidak apa2.” Kata Sab dan
Lenton. “Baiklah, kami pamit dulu ya. Selamat malam.” Kata Philia. Mereka pun
langsung meninggalkan gedung. “Baiklah Sab, aku cek ke atas sebentar, habis itu
kita pulang, mau beli sesuatu dulu di toko sebelum pulang ?” Tanya Lenton. “Oh
ide bagus, baiklah aku juga cek di bawah sini.” Kata Sab. Lenton pun naik ke
atas, dan melihat mesin yang di pakai Cecil. “Sab, km ga akan percaya nih,
nilai Cecilia kun benar2 tinggi, melebihi yang lain dan bukan cuma Doll, golem
dan drone juga. Dia mencoba semuanya sebanyak limapuluh kali” Teriak Lenton
dari atas.”Hahaha, dia rupanya benar2 tertarik dan senang ya menjadi operator.
Kita lihat saja besok, apa dia kembali kesini atau tidak.” Kata Sab. Mereka pun
mematikan dan melakukan cek terakhir dan akhirnya mereka pergi ke toko di
sebrang. Beberapa hari kemudian, pagi pagi, Lenton datang ke gedung militer dan
melihat pintunya tidak di kunci. Lenton yang penasaran segera masuk dan Melihat
Cecil sedang tidur di alat latihan di lantai dua. “Astaga anak ini, pasti dia
semalam menyelinap ke sini dan memakai mesin ini sampai pagi sehingga tertidur
dan seperti biasa skornya sangat tinggi. Kubiarkan saja deh, tapi kuselimuti
biar ga kedinginan.” Kata Lenton sambil menyelimuti Cecil. Sementara di istana,
Sasa membuka pintu singgasana, “Astaga pengap sekali, oh tidak Ronanta chan
benar2 tidak keluar dari sini, aduh baunya, gimana ya caranya supaya dia mau
mandi, ga mungkin ngandelin aneki terus. Benar2 deh, keluarga kerajaan ini
aneh2 semua.” Pikir nya dalam hati. “Oh aku tau, aku kayaknya melihat ruangan
sebuah Shower portable yang di tenagai oleh rune elemen air dari satu kamar
pelayan di istana. Kemudian dia memasang Shower Portable itu di sudut dekat
dengan kasur yang di pakai Rona. “Ronanta chan…..ronanta chan…..bangun dulu,
mandi dulu yuk, aku bawakan tempat mandi buat km, jadi km ga perlu bergerak
jauh2.” Kata Sasa sambil membangunkan Rona. “Nggg oh Sasa one chan, dimana one
chan ? itu ya ?” Kata Rona sambil menunjuk Shower Portable yang di pasang Sasa.
“Iya, sementara km mandi, aku bersihkan bekas makanan mu yang berserakan di
lantai dan kasur, juga kaleng2 bekas minuman mu ya, ayo cepat, mandi dulu.”
Kata Sasa sambil mendorong Rona. “Iyaaaaaa, Ronanta mau mandi……..Makasih ya
Sasa one chan.” Kata Rona. Dia pun langsung buka baju dan masuk ke shower.
“Aaaaaaaa dingin…….” Rona yang baru bangun teriak kedinginan karena tersiram
air. Sasa langsung dengan cekatan membersihkan semuanya dan membuang sampahnya
di luar ruang singgasana. Ketika kembali, Rona sudah duduk di kasur dengan
kondisi masih basah dan tidak pakai baju. “Ronanta Chan, pakai handuk dulu, kan
sudah ku letakkan di depan Shower tadi, lalu pakai baju dulu. Kalau ada yang
masuk gimana ?” Kata Sasa panik dan melap Rona dengan handuk. “Tapi baju
Ronanta sudah bau dan Ronanta tidak ada baju ganti.” Kata Rona polos. “Aduh,
pakai handuk dulu, sebentar aku bawakan baju.” Kata Sasa sambil membawa baju
kotor Rona, dia berjalan ke pintu singgasana. “Eh Sasa san, kebetulan, ini aku
bawakan baju buat Ronanta chan, baju kotornya sini, aku cucikan.” Philia
rupanya sudah di depan pintu. “Eeeh jangan Philiandra sama, masa km yang cuci
baju, udah gpp aku saja, aku minta tolong pakaikan baju ke Ronanta chan ya. Aku
bawa baju ini ke bawah.” Kata Sasa. “Oh ok, terima kasih ya Sasa san, km ngurus
Ronanta setiap hari. Maaf kalau adik ku merepotkan.” Kata Philia. “Ah tidak
apa2 dulu juga di desa aku bantu perhatikan dia juga, sudah biasa.” Kata Sasa.
“Cuma aku agak khawatir, dia ga pernah keluar dari ruangan ini, waktu di desa
dia bantu sana sini dan aktif, tapi sekarang dia Cuma duduk saja di sana sambil
nonton monitor dan baca buku padahal semua berjalan otomatis kan, ini sudah
dari semenjak kita datang ke sini. Makan, tidur bahkan mandi di ruangan ini,
Keluar Cuma sekali waktu kalian bertempur itu saja.
Lihat, sekarang dia agak sedikit lebih gendut dari sebelum nya.” Kata Sasa.
“Iya, bukan cuma km kok yang khawatir, aku dan Lorianne ne san juga
khawatir, makanya aku ke sini mau ajak dia main ke panti asuhan dekat ladang
dan kebun. Terima kasih Sasa san sudah perhatikan adikku.” Kata Philia. “Sama2
Philiandra sana, aneki juga sering kesini buat ngajak dia keluar dan menemani
__ADS_1
dia.” Kata Sasa lagi. Philia kemudian menghampiri Rona, memakaikan baju nya dan
berhasil membawanya keluar. “Syukurlah, dia berhasil.” Kata Sasa dalam hati. Di
ruang latihan, Fei dan Matt sedang mempelajari konsol yang bisa menampilkan
hologram monster untuk di lawan. Ketika konsol di hidupkan mereka di minta
untuk memilih mode latihan, dari mudah sampai luar biasa sulit. Fei dan Matt
menekan tombol luar biasa sulit. Dan keluarlah monster Behemoth yang sangat
besar dan ruangan pun berubah menjadi daerah pegunungan. “Wah, aku baru coba
mode ini, ayo kita maju Matt ni san.” Fei langsung melompat menyerang Behemoth
itu. “Tunggu aku, Fei .” Matt pun maju dan mendorong Behemoth itu menjauh dan
segera mengejar nya. Matt melancarkan serangan dengan kapak nya dari atas
sambil melompat, di susul serangan tinju cakar dari Fei yang betubi2. Tanpa sengaja
serangan Fei dan Matt beradu, dan membuat keduanya terpental. “Fei jangan
terburu2, sesuaikan ritme nya.” Kata Matt. “Matt ni san jangan lama, langsung
serang saja.” Jawab Fei . Dan untuk kedua kalinya serangan mereka beradu lagi.
“Fei , jangan halangi aku.” Kata Matt. “Matt ni san juga jangan di depan ku
terus.” Jawab Fei . Ketiga kalinya serangan mereka beradu. “Fei......” Matt
yang geram langsung menyerang Fei . “Matt ni san…..” Fei juga sama, karena
geram langsung menyerang Matt. Maka mereka akhirnya menjadi latih tanding dan saling serang dengan senjata masing2 tanpa menghiraukan Monster yang ikut menyerang. “Minggir….” Kedua nya langsung
menyerang Behemoth itu. Karena terkena telak maka Behemoth itu mati dan
menghilang. “Km yang mulai ya ini…..” Kata Matt sambil mengeluarkan auranya
yang berwarna kuning. “Matt ni san duluan yang mulai…. “ Kata Fei yang juga
mengeluarkan auranya yang berwarna merah. “Hiyaaaaaah” keduanya maju bersamaan
dan serangannya pun beradu. Beradunya serangan mereka mengakibatkan getaran dan
suara ledakan yang kencang. Matt dan Fei pun tersadar. “Fei Stop, kalau kita
teruskan bisa hancur istana ini. Maafkan aku” Kata Matt. “Iya Matt ni san, maaf
kan aku juga.” Kata Fei . “Tapi…seru ya hahaha.” Kata Matt sambil tertawa.
“Iya hahaha akhirnya kita malah latih tanding, monster mode luar biasa sulit ga ada
apa2 nya hahaha.” Kata Fei . Mereka pun bercanda tawa sambil keluar ruang
latihan yang tidak tertutup rapat. “Aba aba abababa.” Di luar ruangan Weny
tersender di dinding dalam kondisi duduk dan tidak sadarkan diri karena
ketakutan, terlihat juga dia membasahi dirinya sendiri (ngompol). “Loh
Weny…..aduh.” Kata Matt bingung. “Aduh…Matt ni san, gimana nih ?” Kata Fei .
“Dia pasti ngintip kita latihan tadi. Aduh aduh, gimana bawa nya nih ?” Kata
Matt lagi. “Matthew ni san, Feiruss, ada apa ? Loh kenapa Weny san ?” Kata
Philia yang datang bersama Rona dan Sasa yang sebenarnya mau keluar.
“Philiandra, tadi km terasa ada ledakan dan getaran besar ga ?” Kata Fei .
“Terasa kayak getar sedikit sih, memang kenapa ? bisa jelaskan ?” Kata philia.
“Tadi kita latihan di ruangan ini, memang pintunya tidak tertutup rapat jadi km
juga bisa merasakan sedikit getarannya. Dan…..kelihatan nya Weny melihat tadi.
Pas kita keluar kondisi nya sudah seperti ini.” Kata Matt. “Iya benar kata
Matthew ni san, bukan salah kita loh.” Kata Fei . “Ruangan itu kedap suara dan
kedap ledakan, jadi Matthew oni chan dan Feiruss oni chan bisa habis2an di
ruangan ini, tapi ya kalau oni chan berdua latihan yang melihat jelas takut.
Buktinya ada di depan kita.” Kata Rona menjelaskan. “Begitu ya….jadi salah kita
dong.” Kata Matt dan Fei kompak. “Lain kali tolong tutup rapat ruangan nya ya.”
Kata Philia. “Baik” Jawab Matt dan Fei . “Sasa san, bisa bantu aku bawa Weny
san ke ruangan infirmary di sebelah ? Oh ya sekalian nanti ambil pakaian buat
gantinya. Matthew ni san dan Feiruss, bisa kalian bersihkan ini.” Kata Philia
sambil menunjuk lantai yang basah.
“Baik Philiandra.” Jawab mereka. Matt dan Fei langsung mengambil kain pel dan seember air, dan mulai membersihkan lantai.
“Matthew, Feiruss, aku mau pakai ruangan bersama Drax dan beberapa ksatria ya. Oh…kalian sedang
apa ?” tanya Rude yang melihat Matt dan Fei membersihkan lantai. “eh Papa,
anu….ini sedang membersihkan lantai tadi ada kejadian sedikit.” Kata Matt. “Oh
ya sudah….aku masuk dulu bersama Drax, oh tapi kok ada bau aneh ya ?” Tanya
Rude lagi. “Hahaha.” Matt dan Fei tertawa kecil. Rude, Drax dan beberapa ksatria pun masuk ke dalam ruang latihan.
“Bagaimana kalau habis ini kita ke toko, minum Coffee.” Kata Matt. “Ok Matt ni san, setuju.” Jawab Fei .
Setelah mereka selesai, Philia dan lainnya keluar dari infirmary. “Sudah ? mau ikut ke
panti asuhan ? Aku sama Ronanta chan mau kesana. Sasa mau ke toko katanya beli
snack buat Ronanta chan.” Kata Philia. “Sasa one chan, minuman nya Cola ya
sepuluh kaleng.” Kata Rona. “Ga boleh kalau Cola, nanti belikan Jus saja Sasa san.
Colanya paling satu kaleng saja.” Kata Philia. “Huuuu………” Rona Cemberut. “Dah
turuti saja.” Kata Matt. “Ga bisa Matthew ni san, lihat perutnya ini, sudah
rada gendut.Padahal baru seminggu kita di atas sini, Jangan manjain dia terus.”
Kata Philia. “Philiandra one chan…..jahat.” Kata Rona. “Ini demi km Ronanta
chan.” Kata Philia. “Uuuuu iya deh one chan.” Kata Rona pasrah melihat Philia
yang melotot. “Feiruss, si Philiandra lama2 kok kayak Lorianne ya ? Kasih dia
jatah makanya.” Kata Matt berbisik ke Fei . “Jangan macem2 Matthew ni san,
masih lebih ngeri Lorianne ne san ah.” Bisik Fei . “Kalian kenapa bisik2 ?”
Tanya Philia. “Ah tidak…..yu jalan.” Fei langsung menggandeng tangan Philia dan
Rona. “Hihi….Feiruss sweet juga ya aniki.” Kata Sasa. “Kadang…….si Weny gimana
?” Tanya Matt. “Biarin dia tidur di sana sebentar Aniki. Dia kaget melihat
Behemoth mental ke arah dia tadi katanya ketika bangun.” Jawab Sasa. “Oooo
gitu. Ya sudah, yuk jalan.” Kata Matt kepada Sasa. Fei dan Philia mengajak Rona
__ADS_1
ke panti asuhan dan Matt bersama Sasa ke toko.
Tiga hari kemudian, Rona mengumumkan kalau pengisian energy sudah selesai dan mereka bisa berangkat.