The Outcast : Heroes Of Beginning

The Outcast : Heroes Of Beginning
Chapter 25 Embark to Beastmen Kingdom


__ADS_3

Setelah Rona mengumumkan kalau pengisian Energi


sudah selesai, Matt, Fei , Lori, Philia, Cecil dan Rona berkumpul di ruang rapat


di sebelah singgasana, Valia, Sab, Lenton, Rude dan Drax juga hadir di sana.


“Baiklah, sekarang kita bisa menetukan arah tujuan kita selanjutnya, untuk


melawan Pangeran Edgar yang di rasuki oleh Evil God, kita butuh menghimpun


kekuatan. Aku mengusulkan sekarang kita mengarah kepada Beastmen kingdom


terlebih dahulu yang merupakan kerajaan terbesar ketiga di benua ini. Bagaimana


menurut yang lain ?” Tanya Matt kepada yang hadir. “Aku setuju, tidak seperti


kerajaan vanadis, langit di beastmen kingdom benar2 sudah gelap, dan untuk mengurangi


kekuatan Evil God, kita harus membebaskan tanah mereka, seperti yang kalian lakukan


di kota Azer. Selain itu jika ada yang masih selamat bisa menambah kekuatan


kita.” Kata Valia. “Yang di katakan yang mulia Valia benar, satu2nya cara


supaya kita bisa melawan memang mengurangi kekuatan nya  dengan cara mematikan sumber energinya. Tapi, kita harus hati2, di beastmen kingdom banyak yang tidak suka bergabung dengan


ras lain. Mereka mengisolasi diri dan hanya bekerjasama di bidang tertentu


saja.” Sab memberi gambaran tentang Beastman kingdom karena dia berasal dari


sana. “Tapi dengan keadaan dunia seperti ini, tidak mungkin rasanya kalau


mereka masih kepala batu.” Fei berkata kepada Sab. “Aku sebenarnya juga tau,


karena aku sempat tinggal di sana waktu kecil. Banyak yang sebenarnya


berpikiran terbuka, tapi ada juga yang sangat keras kepala,  karena mereka memang mengasingkan diri.


Seperti contoh keluarga angkatku.” Kata Matt menambahkan. “Ga masalah, tujuan


kita menghancurkan alat2 penambah kekuatan Evil God di sana, kalau ada yang


selamat dan ingin berjuang bersama kita terima dengan senang hati, tidak pun


tidak masalah. Aku yakin, kekuatan kita ber enam cukup untuk menghadapi Evil


God ketika kekuatan nya sudah berkurang. Jadi menurutku kita prioritaskan membersihan


langit dan daratan dari cengkraman Evil God seperti di kota Azer.” Lori berkata


lantang. “Benar ne san, masalah merekrut orang itu belakangan karena kita juga


tidak tahu apa ada yang selamat atau tidak nya. Tapi aku yakin, tidak semua


binasa dan yang selamat pasti mau berjuang dan bergabung dengan kita.” Philia


menambahkan pernyataan Lori. “Aku mengerti kekuatan kalian ber enam sangat


besar, bahkan lebih besar dari para pahlawan dua ribu tahun lalu, tapi tetap


kita harus hati2 dan harus menambah kekuatan, ingat seluruh Xenobia yang


merupakan kerajaan terbesar di kuasai oleh Pangeran Edgar dan pengikut nya pun


ribuan. Saat ini kita tidak bisa mengukur kekuatan mereka.” Kata Valia.


“Sekarang kita berangkat saja dulu ke sana, kita lihat situasi dan kondisi,


nanti kita sesuaikan ketika sampai ke sana apa tindakan kita.” Kata Lenton.


“Ronanta chan, kira2 butuh berapa lama kita bisa sampai kesana.” Tanya Rude


kepada Rona. “Kalau masuk ke perbatasan sekitar tiga hari, sampai ke ibukota


mungkin lima hari.” Jawab Rona. “Bisa kamu gambarkan rutenya di peta ini


Ronanta chan ?” Tanya Rude lagi. “Bisa, kalau kita mengikuti rute darat, kita


akan memutar dan memakan waktu lebih lama, aku mensetting di konsol, kita


melewati pegunungan di barat ini, tempat kita menemukan reruntuhan ruin


Dragonian, tempat ku dan menyebrangi pegunungan nya. Kita akan tiba di


perbatasan Beastman kingdom.” Kata Rona. “Tapi pegunungan ini kan tinggi, apa


bisa kita melewatinya ?” Tanya Sab. “Bisa, aku sudah menyesuaikan ketinggian


nya, dan ketika aku deteksi tidak ada halangan di atasnya.” Kata Rona. “Ok


kalau begitu kita ambil jalan itu, semakin cepat kita sampai semakin baik. Kita


berangkat sekarang.” Kata Matt. Mereka pun kembali ke ruang singgasana dan Rona


mulai mengarahkan rutenya. “Baiklah kita berangkat.” Rona menekan tombol nya


dan menset auto pilot nya. “Hmm pegunungan itu bernama Dragon mountain, karena


menurut sejarah, ras Dragonian pertama kali tiba dan mendarat di pegunungan


itu, kemudian mereka membuat pemukiman di sana.” Valia bergumam. “Iya, dan


katanya mereka mempunyai sebuah kota yang di namakan Garden, yang melayang di


atas gunung tersebut, tapi kebenarannya tidak ada yang mengetahui. Ibuku suka


bercerita dulu.” Tambah Rona. “Benar, begitu menurut legenda nya, dengan ingatan


ku pun aku tidak tahu karena di ingatan ku dulu, sudah ada ras Dragonian yang


hidup berdampingan dengan kita. Cerita itu pun menjadi legenda jaman limaribu


tahun yang lalu.” Tambah Valia. “Kalau begitu, kita tidak tahu pasti dong kapan


Dragonian datang dan terdampar di dunia ini.” Tanya Lori. “Ya, dan di jaman ku


dulu, semua ras sudah ada, bahkan ada ras Dwarf dan Halfling yang sudah punah

__ADS_1


sekarang, peninggalan mereka adalah senjata relic kalian. Jadi penciptaan ras


oleh ras Celestial dan kedatangan Dragonian adalah sejarah saat aku hidup dulu.


Ada kemungkinan, Dragonian terdampar pertama kali sewaktu manusia masih


menguasai planet ini dan mereka sudah bertukar teknologi sebelum nya, ketika


manusia lari masuk ke dalam tanah akibat bencana dan ber evolusi menjadi demon,


mereka kembali. Itu teoriku dari sejarah yang aku tau saat itu.” Kata Valia.


“Planet ? apa itu planet ?” Tanya Fei . “Tempat kita tinggal ini di sebut


planet dan di luar sana banyak sekali planet2 lain yang tidak terhitung


jumlahnya, itulah yang sekarang kita namakan bintang2 dan kita bisa melihat nya


waktu  malam hari.” Valia menjelaskan.


“Hmm menakjubkan, berarti manusia sama dengan demon dong ya.” Tanya Philia.


“Ya, tapi manusia sekarang berbeda, karena manusia sekarang adalah ciptaan ras


Celestial. Jaman ku dulu, manusia yang menjadi demon di sebut high human.


Mereka tidak bisa menggunakan Magic, sebagai gantinya teknologi mereka sangat


maju. Menurut legenda, mereka datang ke planet ini dari planet asal mereka yang


di sebut Bumi sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu atau mungkin sebelumnya,


kita tidak dapat pastikan. Semua teknologi kuno ini adalah peninggalan mereka


yang di sesuaikan oleh ras Dragonian.” Kata Valia. “Benar benar misterius, tapi


kita sekarang menikmati hasilnya.” Kata Sab. “Iya, kita bersyukur kepada


manusia jaman dulu dan Dragonian.” Tambah Drax yang terpesona dengan cerita


Valia. “Menurut ibu Floren, banyak sekali buku di dalam perpustakaan yang


memakai bahasa lebih kuno dari dua ribu tahun yang lalu. Mungkin saja itu bahasa


high human jaman dulu sebelum ber evolusi. Dan sekarang tidak ada yang bisa


menterjemahkan nya.” Kata Philia. Mereka pun terdiam mencerna kisah yang


menakjubkan itu. “Pegungungan mulai terlihat…..mungkin besok kita sudah bisa


mulai menyebranginya.” Kata Rona. “Baiklah, sekarang sebaik nya kita bersiap2


dan mengecek semua peralatan. Semua boleh pergi dan mengerjakan tugas masing2.


Terima kasih.” Kata Matt kepada semuanya. “Ok, aku mau gedung militer dulu ya,


dadah.” Kata Cecil yang langsung melompat terbang dari balkon. “Astaga, anak


itu, dia masih belum puas rupanya.” Kata Sab. “Hahaha, energik sekali dia,


lakukan disana, kadang pulang malam dan menyelinap malam2 kesana.” Tanya Fei .


“Dia terus memakai mesin simulator untuk operator Doll, Golem dan Drone. Angka


perolehan dia sangat tinggi loh, makanya kita diamkan saja.” Kata Sab. “Tapi


dia ga bikin repot kalian kan  ?” Tanya Matt.


“Ah tidak, malah kita senang melihatnya. Hanya saja kadang dia minta


tolong ** untuk beli makanan atau minuman haha.” Kata Sab. “Tapi aku ga


nyangka, Cecilia bisa seminat itu ? baru kali ini aku lihat dia minat sesuatu


sampai rela malam2 menyelinap keluar.” Kata Fei sambil senyum. “Iya memang,


biasanya dia hanya keliling2 saja, dan membantu serabutan.” Kata Matt  sambil tersenyum juga.


“Makanya di biarkan saja, kalian mengerti kan Philiandra kun dan Lorianne kun ?” Kata Lenton.


“Sejujurnya aku lebih senang kalau dia bantu aku sih. Banyak pekerjaan yang tertunda


soalnya. Dia kan perempuan, masa perempuan suka yang seperti itu.” Gumam


Philia. “Haha, tidak ada istilah laki2 atau perempuan dalam hal pendidikan.”


Kata Lenton lagi. “Ya sudah, kalau memang dia bisa tenang dan tidak macam2, aku


fine2 saja. Tapi tetap aku akan awasi jangan sampai seperti yang satu itu.”


Kata Lori sambil menunjuk Rona. “Iya benar. Aku juga awasi, kalau sudah sampai


taraf minta di belikan makanan dan minuman sudah ada tanda2 seperti yang satu


itu.” Tambah Philia sambil menunjuk Rona juga. “Philiandra one chan, Lorianne


one chan, kok nunjuk Ronanta ? Ada apa ?” Tanya Rona heran. “Haha dia ga berasa


tuh, ya sudah kalian tenang saja, aku juga bantu awasi.” Valia berkata. Rona


melihat semua dengan wajah heran sambil memakan keripiknya dan duduk di kasur.


“Sasa memanjakan dia soalnya, jadi sekarang sudah susah. Iya kan Sasa.” Kata


Lori sambil menengok ke arah Sasa yang ada di situ dengan marah. “Hiii maaf


aneki.” Kata Sasa ketakutan. “Hahah untuk Cecilia kun kalian tenang saja, nanti


aku batasi dan kasih dia jadwal.” Kata Lenton. “Ya aku juga akan bilang ke **


supaya kemauannya jangan selalu di turuti. Kalau bisa km bantu jelaskan ke **


Matthew, dia sepertinya lebih nurut ke kamu.” Tambah Sab. “Baik ji san, nanti


aku tatar **.” Kata Matt. “Aduh, Philiandra dan Lorianne ne san, kalian terlalu


khawatir, tenang saja, lama2 juga mereka bosan.” Kata Fei santai. “Sekarang km

__ADS_1


lihat yang satu itu, bulat kan ?” Kata Philia sambil menolehkan kepala Fei .


“Oh iya, baru sadar aku, dia jadi bulat dan lucu haha.” Kata Fei . “Apanya


lucu, dia sudah tiga belas tahun seharusnya, bukan nya besar ke atas malah ke


samping. Gimana sih kamu.” Kata Philia kesal. “Iya ya, aku kok baru sadar, musti


di ajak olah raga nih.” Kata Lori sambil mengamati Rona dan kemudian menghampiri


Rona. “Ronanta chan…….hup.” Lori langsung mengangkat Rona. “Eh eh Lorianne one


chan, kita mau kemana ?” Tanya Rona kaget. “Ke ruang latihan, kita olah raga.”


Kata Lori. “Ga maaaau, turunin Lorianne one chan huaaaaaa…” Rona meronta dan


berteriak. “Kamu sih Philiandra, dah tau Lorianne orang nya spontan, lihat,


datang, kerjakan. Kasihan kan Ronanta chan….” Kata Matt protes.


“Bagus aku malah senang, Matthew ni san juga sama kayak Sasa san. Kadang  bawakan dia makanan kan ? Bukan kadang malah, hampir setiap hari.” Kata Philia kesal.


“Oh hehe maaf. Dia jadi bulat soalnya hehe.”  Kata Matt merasa ga enak.


“Sudah ah, aku mau pulang, tidur dulu, badan rasanya cape. Philiandra mau ikut ?” Ajak


Fei . “Nanti ya, aku mau ke panti, mengantar baju yang sudah selesai di jahit.”


Kata Philia. “Aku temani ya Philiandra san.” Kata Valia. “Baik, ayo Valia san.”


Kata Philia lagi. Mereka pun langsung keluar dan menuju tempat penjahitan baju.


“Baiklah, aku dan Lenton akan ke gedung militer dulu, ayo lenton.” Sab mengajak


Lenton. “Ok sab, Matthew kun, Feiruss kun, kami pamit ya.” Lenton mendorong


kursi roda  Sab keluar menuju gedung militer.


“Ok Matthew ni san, aku pulang dulu.” Kata Fei . “Baiklah, aku di sini


dulu sebentar.” Kata Matt. “Ok, duluan ya ni san, bye.” Fei langsung lompat ke


bawah lewat balkon. “Kan ada pintu……” Pikir Matt melihat Fei . “Senang nya


punya keluarga….haha” Pikir Matt dalam hari. Dia baru merasakan bahagianya


punya keluarga karena selama dia hidup selalu sendiri. “Aku mau ke makam ah,


menengok sekaligus membersihkan makam.” Kata Matt dalam hati. Dia pun berjalan


keluar menuju makam. Fei yang melompat turun, melihat Ron yang sedang duduk di


air mancur sambil minum Coffee. “Hey Ron, apa kabar ?” Tegur Fei . “Oh Feiruss,


baik2 saja, sudah lama aku ga keluar gedung militer haha.” Kata Ron. Fei melihat


ada dua gelas coffee di samping Ron. “Oh km beli tiga gelas kopi Ron ?” Tanya Fei


. “Dua gelas ini untuk Sable dan Del, hari ini peringatan kematian mereka.


Mereka pasti belum pernah minun ini hahah.” Kata Ron sambil tertawa. “Iya


benar, maaf aku ga peka.” Kata Fei . “Ah tidak apa2 kok, aku tidak merasakan


apa2 hanya ingin mengenang saja. O iya Fei , boleh ga aku buatkan makam untuk


mereka, aku yakin Marianne juga pasti senang. Di dekat makam orang tua kalian


kan masih ada tanah kosong, aku rencana mau buat di sana.” Tanya Ron. “Oh


silahkan, pakai saja lahan nya.” Kata Fei . “Aku mau meletakkan pedang milik


Sable ini dan helm milik Del di sana, dan ini ada buku milik Jude juga.” Kata


Ron. “Iya boleh, nanti aku bantu, supaya cepat.” Kata Fei . “Baiklah Fei , aku


kesana sekarang. Soalnya buat aku dan Marianne, mereka bertiga bukan hanya


sekedar teman tapi sudah keluarga.” Katanya lagi. “Iya ya, kalian selalu


bersama, memang sudah berapa lama kalian membentuk partynya ?” Tanya Fei .


“Sekitar lima tahun, Marianne yang bergabung terakhir. Waktu itu dia punya


masalah sama seorang anak noble dan kita membantunya lari.” Kenang Ron. “Wah


sudah lama juga ya.” Kata Fei . “Makanya aku kagum melihat kalian ber enam,


dari awal tidak kenal sama sekali, sekarang sudah menjadi keluarga yang hangat.


Makanya Fei , km harus menjaganya, jangan sampai kayak kita.” Kata Ron


menasihati Fei . “Ya..aku tau.” Jawab Fei . “Baiklah, kita berangkat ?” Tanya


Ron. “Ok, yuk.” Kata Fei . Mereka pun segera menuju makam.  Di makam mereka bertemu Matt dan Ron minta


ijin kepada Matt untuk mendirikan makam bagi Sable, Del dan Jude. Matt pun


menyetujuinya dan langsung membantu mereka. Sore harinya, makam sudah selesai


di bangun, Ron pun mengajak Marianne dengan menuntun nya, Marianne tidak bisa


berjalan normal karena terluka. “Wah makam untuk Jude, terima kasih Ron.” Kata


Marianne sambil menitikkan air mata. “Haha iya, tadi kepikiran dan kebetulan


ketemu Fei dan Matt mereka langsung mengijinkan, lihat aku menaruh pedang sable


di makamnya, helm del di atas nisan dan buku jude di depan nisan nya sebagai


kenangan.” Kata Ron. “Iyaa, terima kasih, besok aku bawakan mereka bunga.” Kata


Marianne. Mereka pun terus menatap makam itu sambil berpelukan. Fei dan Matt


yang melihat dari jauh, merasa senang dan high five dengan suara pelan.


Kemudian mereka pergi pulang ke rumah masing.

__ADS_1


__ADS_2