
Di istana, mereka langsung menghadap Raja Vanadis IX di singgasana.
Mereka mengutarakan maksud dan niat mereka ke pada Raja.
“Hmm begitu ya, baiklah, aku menyetujui keputusan kalian dan akan tetap
meninggalkan daerah yang kalian tunjuk kemarin sebagai tanah kalian. Disana
bekas the astorian empire dan sebetul nya bukan termasuk wilayah kerajaan ini,
kami hanya mengawasi dan menjaga daerah itu karena warisan sejarah. Sekarang km
bisa dengan tenang melepas daerah itu kepada kalian. Kami dari kerajaan Vanadis
tidak akan mengganggu kalian lagi dan merestui kalian sebagai pemilik dan
penguasa daerah bekas astorian empire. Gelar kalian di Kerajaan ini tidak di cabut dan kalian tetap di
nobatkan sebagai Viscount dan untuk kalian di sediakan rumah di ibukota atas
nama Viscount Astoria, jadi kalian bisa kembali kapan saja ke Kerajaan ini. Dan
untuk jasa kalian terimalah sejumlah uang hadiah. Selamat jalan para Pejuang ku
yang gagah berani, Sampai jumpa lagi dan sukses selalu.” Raja Vanadis IX
berkata kepada Matt dan lainnya di dampingi oleh Princess Valia yang tersenyum.
“Terima kasih yang mulia, kami menerima pemberian yang mulia.” Matt dan lainnya
menjawab. Lalu Princess Valia maju dan memberikan mereka nampan berisi uang
yang cukup banyak dan lambang kerajaan sebagai tanda kalau mereka sudah
mendapat gelar Viscount. Mereka pun keluar dari singgasana dan keluar dari
__ADS_1
istana. “Baiklah, untuk saat ini sebaiknya kita pulang.” Matt berkata kepada
lainnya. “Ayo, semuanya mendekat, aku langsung teleport saja ke rumah.” Kata
Lori sambil memegang cerminnya. Mereka pun langsung menghilang dan sampai di
rumah. Begitu sampai di rumah, Philia, Lori dan Rona langsung pergi lagi ke
pesawat untuk mengambil sebuah alat peninggalan ras Dragonian kuno yang bisa
membuat selubung dan penghalang ( Barrier ) untuk suatu daerah yang biasanya di
gunakan di pesawat induk, bentuk alat itu seperti kapsul berbentuk tabung dari logam yang tingginya
kira2 limapuluh centimeter dan lebarnya sekitar dua puluh lima cm dengan alas
berbentuk ligkaran. Ada layar digital dengan tulisan kuno bebentuk di atas tombol untuk menyalakan nya. Fei dan Matt juga langsung berburu dan mengumpulkan bahan makanan, sedangkan Cecil
pergi naik ke bukit makam untuk membersihkan makam orang tuanya.
Rona menyalakan alat yang di ambil nya tadi, dan langsung menciptakan selubung
juga penghalang dengan radius dua kilometer melewati jurang. Jika di lihat dari
udara dan dari luar barrier itu, maka daerah itu adalah hutan belantara dan
tidak ada kehidupan. Dengan bantuan alat itu, rumah Fei dan bukit makam di
belakang nya menjadi seperti terpisah dari dunia. Hanya burung yang bisa
melewati daerah itu tanpa mengganggu. “Besok kita ke kota Azer untuk membeli
beberapa perlengkapan dan bahan2 untuk membangun rumah ini. Karena kita akan
lama tinggal di sini, sebaiknya kita membangun sendiri rumah kita.” Kata Matt
__ADS_1
kepada lainnya. “Baik” Semuanya menjawab. Cecil dan Fei keluar rumah dan duduk di teras “Ga
nyangka ya Fei nii, kita jadi tinggal di sini lagi, bedanya sekarang kita
sendiri….desa pun sudah tidak ada.” Cecil berkata sambil mengenang masa lalu.
“Iya, memang disini rumah kita, tapi sekarang kita di sini ramai tidak seperti
waktu kita cuma bermain berdua.” Fei menambahkan. “Hehe iya….” Cecil berkata sambil menghapus
air mata nya karena terkenang masa lalu nya. Philia pun keluar membawa papan nama. “Apa itu
Philia ne ?” Tanya Cecil. “Ini papan nama desa yg sudah hancur, aku mau pasang
lagi di gerbang desa.” Kata Philia. “Apa tulisannya ?” Tanya Cecil lagi.
“Ini….” Philia menunjukkan papan nya. Tulisannya adalah The Astorian Village.
“Woaah kita mau bikin kerajaan lagi ya ?” Cecil bersemangat. “Haha tidak, ini cuma
sebagai tanda saja.” Kata Philia. “Wah boleh juga tuh, sini aku bantu pasang
nya.” Kata Lori yang baru keluar dari
rumah. “Sekalian aja kita jadikan kekaisaran baru, The New Astorian Empire.”
Tambahnya. “Haha Lori ne memang ga ada
yang ngalahin, trus kita ber enam demon lord nya ya.” Cecil menambahkan. “Yah
suatu saat bisa terjadi, tapi yang penting saat ini kita hidup tenang dan
damai.” Kata Matt menambahkan. Mereka pun bersama2 memasang papan itu di
gerbang desa yang sudah hancur.
__ADS_1