The Outcast : Heroes Of Beginning

The Outcast : Heroes Of Beginning
Chapter 21 Reunion with capital city


__ADS_3

Dua hari kemudian, mereka tiba di langit ibukota.


Fei, Matt, Philia, Lori dan Cecil berdiri di pelabuhan untuk melihat


kondisi di bawah dan bersiap untuk turun. Rona tinggal di istana sambil


bersiap2. **, Hagel dan Ron terus memantau kondisi di bawah dengan Drone yang


mereka kendalikan. Di kejauhan mereka mulai melihat Istana Kerajaan Vanadis.


Bagian depan ibukota sudah di kuasai undead sampai perbatasan akademi. “Jr, apa


kondisi aman untuk turun ?” Tanya Matt kepada **. “Sebentar aniki, sampai kita


persis di depan istana baru kalian bisa turun, ibukota sudah di kepung oleh


undead.” Jawab **. “Baiklah, kita bersiap2.” Kata Matt kepada Fei dan lainnya.


Mereka akhirnya tiba di atas istana Vanadis. Di bawah, terlihat Rude, Drax dan


Lenton sedang memimpin pasukan di garis pertahanan terakhir yaitu halaman


istana. “Sudah clear aniki, kalian bisa turun.” Kata ** lewat alat komunikasi


nya. “Ayo, kita turun.” Matt langsung menaiki Hover bike dan membonceng Lori. Fei


juga menaiki Hover bike sambil membonceng Philia. Sedangkan Cecil langsung


melesat turun dengan sayap nya sendiri. “Aniki, ini Hagel, aku sudah


membersihkan undead dari akademi menuju istana. Aku kerahkan sepuluh Doll


Soldier angkatan darat.” Hagel memberi tahu Matt. “Ok, kerja bagus.” Kata Matt.


Mereka pun mendekati turun. Mereka sempat melihat para ksatria dan petualang


melompat2 karena undead di depan akademi sudah bersih. Matt dan lainnya pun


mendarat. Mereka berjalan menuju tenda pertahanan terakhir dimana Rude, Drax dan


Lenton berada. “Apa kabar Drax san, papa Rude dan Pelatih Lenton, kami


kembali.” Sapa Matt kepada mereka. Terlihat Drax yang langsung  tersenyum melihat Matt dan lainnya, Lori


langsung memeluk papa nya  dan Lenton yang langsung mendekati mereka berlima dan memeluk mereka dengan senang. “Aku tau kalian pasti kembali….akhirnya….tapi bagaimana kalian bisa muncul tiba2 ?


Dan sepertinya kalian tidak berubah ?” Tanya Lenton dengan haru.


“Ceritanya panjang coach Lenton, bisa kita ketemu Princess Valia ?” Tanya Fei kepada pelatih


Lenton. “Bisa aku antar kalian kedalam dan Valia sudah bukan princess lagi


melainkan ratu.” Kata Lenton. “Papa Rude, sab oji kemana ?” Tanya Lori kepada


Rude yang ikut mengantar ke dalam. “Sab sekarang ada di bagian strategi di


dalam bersama Floren, dia sudah tidak bisa bertarung karena kehilangan


kakinya.” Kata Rude. “Nanti bisa kita temui dia ?” Tanya Lori lagi. “Iya, tapi


kita bertemu Ratu dulu.” Kata Rude. Mereka pun masuk ke ruang singgasana. Di


dalam Valia yang duduk mendadak berdiri dan berlari ke pintu ketika melihat Fei


dan Lainnya. Valia langsung memeluk kelimanya. “Aku tau kalian akan


kembali….aku tau….terima kasih kalan sudah datang…” Katanya sambil menangis.


Terlihat dia sudah sangat dewasa sekarang. “Kami datang yang mulia.” Kata Matt


sambil bersujud di hadapan Valia di ikuti oleh Fei dan lainnya. “Bangunlah, aku


sudah lama menunggu kalian. Tapi…senpai, km kok tetap sama ya seperti waktu di


akademi ?” Tanya Valia kepada Matt. “Jadi begini yang mulia….” Matt


menceritakan semuanya di bantu oleh Fei dan lainnya, dari mereka terjebak di


dalam barrier selama sepuluh tahun sampai mereka datang membawa Flying Castle


ke ibukota dan kebangkitan New Astorian Empire.”Hmm aku sudah dengar cerita


kalian, sungguh luar biasa. Aku yakin kalian bisa membinasakan Evil God kali


ini. Semuanya….Beri sambutan kepada enam Demon Lord yang baru.” Teriak Valia di


dalam ruang singgasana. Semua ksatria, pengawal, noble dan pelayan yang ada di


ruangan berteriak dan bersorak, terlihat mereka sangat bersyukur dan senang


sampai ada yang menangis karena keselamatan sudah datang. “Untung kita tidak


terlambat yang mulia.” Fei berkata kepada sang Ratu. Valia pun menoleh dan


menghadap kepada Fei , Matt, Lori, Cecil dan Philia. “Selamat datang di


kerajaan Vanadis, yang mulia  Demon Lords.” Kata Valia sambil memberi hormat seperti putri bangsawan.


”Tidak ada kata terlambat, semua memang sudah di takdirkan.” Katanya. “Mari kita ke


ruangan ku, kita bicara di sana.” Ajak Valia. Mereka pun menuju ruang tamu


kerajaan dan kantor Valia. Setelah masuk ruangan, “Yang Mulia, bisa ceritakan


kondisi terkini ?” Tanya Matt. “Haiz, jangan panggil yang mulia, panggil Valia


saja senpai, eh walaupun aku lebih tua sekarang haha.” Kata Valia bercanda.


“Baiklah Valia, situasi sekarang seperti apa ? Aku lihat sebagian ibukota sudah


di masuki oleh undead.” Kata Matt. “Benar, situasi kita sudah gawat, hanya


akademi dan istana yang belum di kuasai undead, pertahanan terakhir kita di


akademi, tapi kita sudah tidak ada lagi cadangan pasukan, jadi kalau mereka


kalah semua habis.” Kata Valia menjelaskan. “Pangeran Edgar sudah menguasai


kerajaan Bestmen dan Xenobia juga kerajaan di timur jauh dan kerajaan di lautan.


Rakyat Xenobia sempat minta suaka kepada kita karena semua sudah menjadi


undead. Kekuatan militer di bawah pangeran Edgar ada dua puluh ribu prajurit


dengan undead yang tidak terhitung jumlahnya, sebab pasukan kita yang mati


mereka bangkitkan lagi untuk menyerang kita. Saat ini hanya kita di akademi dan


istana yang selamat. Jumlah kita sekitar dua ratus orang saja.” Kata nya lagi.


“Hmm hanya tinggal dua ratus orang ya, gawat juga, asal kita bisa mendekati


pimpinan nya yaitu pangean Edgar dan membunuh nya….” Gumam Matt menganalisa

__ADS_1


situasi. “Sulit, terlalu banyak lapisannya dan sekarang dia menduduki istana


Xenobia sebagai raja.” Kata Valia. “Siapa sih sebenarnya pangeran Edgar ?”


tanya Cecil kepada Valia. “Pangeran Edgar adalah anak bawaan permaisuri sebelum


di persunting oleh raja. Identitas sebenarnya adalah Rene I Xenobia, raja


pertama Xenobia yang mendatangkan Evil God ke dunia ini dan akhirnya menyatu.”


Jawab Valia. “Astaga….berarti sama saja dong kalau Evil God sudah bangkit.”


Kata Philia. “Benar, dan segel ke enam adalah segel terakhir yang kalau sampai


hancur maka kekuatan nya tidak bisa di tandingi oleh apa pun dan dia punya


kekuatan untuk memusnahkan seluruh mahkluk hidup.” Kata Valia yang tau segel


itu ada di mana. “Hmm kita harus mengumpulkan kekuatan lagi, walaupun sudah


banyak yang hancur pasti masih ada yang selamat dan mau berjuang.” Kata Lori.


“Benar, saat ini kita tidak akan bisa menang.” Kata Matt membenarkan. “Aku ada


usul Valia, bagaimana kalau semua yang di istana dan akademi di pindahkan ke


flying castle, New Astorian Empire. Kita terpaksa tinggalkan dulu istana ini


sementara.” Usul Matt kepada Valia. “Hmm boleh aku kesana dulu ? Aku ingin


melihat.” Kata Valia. “Baik, pak Lenton dan papa rude bisa temani Valia.” Kata


Matt. “Baik, aku selalu di sisi yang mulia ratu, aku akan info Drax supaya


tetap standby di sini.” Kata Lenton, kemudian dia keluar ruangan untuk bicara


kepada Drax. “Kalau begitu, mari Valia, kita keluar istana.” Ajak Philia. “Iya


ayo.” Jawab Valia. Mereka pun keluar istana dan berdiri di halaman istana.


“Ronanta chan, tolong aktifkan tractor beam dan angkat kita ke atas, aku di


halaman istana langsung ke ruang singgasana.” Kata Matt kepada Rona lewat


alat  komunikasi. “Baik, sebentar menyesuaikan koordinat.” Jawab Rona.


Tak lama kemudian, sinar keluar dari langit dan langsung membawa mereka ke ruang singgasana.


“Wah….luar biasa…masih sama seperti dulu.” Kata Valia.


“O iya ya, Valia menyimpan ingatan kehidupan sebelum nya.” Pikir Fei dalam hati.


Valia langsung ke balkon dan melihat kota yang ada di bawah. “Aku rasa bisa untuk mengangkut semuanya, kapasitas kota ini lebih dari dua ribu orang, kalau hanya dua ratus rasanya tidak apa.” Kata Valia.


“Baiklah, kita mulai perpindahan nya,  pak Lenton bisa mengumumkan kepada semua orang


di akademi dan istana untuk bersiap2 dan berkumpul di satu tempat. Kita dua


kali angkat karena kapasitas traktor beam hanya seratus orang. Buatlah


persiapan untuk apa yang akan di bawa.” Kata Matt kepada Rude dan Lenton.


“Baik, aku juga akan minta bantuan Drax, aku akan turun sekarang, Rude aku


minta tolong dampingi ratu.” Kata Lenton yang langsung pergi kebawah


menggunakan taktor beam. Tiba2 awah hitam berkumpul dan membentuk wajah di


langit di atas istana. “Valia, aku beri kamu kesempatan untuk menyerah dan


untuk melawan, pilih menyerah atau musnah, aku tunggu dua hari lagi.” Terdengar


wajah itu berbicara dengan suara yang besar dan mengerikan. “Itu pangeran


Edgar. Dia minta jawaban ku dua hari lagi, kita harus cepat”  Kata Valia.


“Aniki, maaf mengganggu, coba lihat ke arah gerbang ibukota dan gunakan teropong di balkon.” ** menghubungi Matt lewat alat komunikasi. Matt pun begegas ke balkon dan meneropong ke arah


gerbang ibukota seperti yang di bilang oleh **. Dia melihat pasukan berbaju


zirah hitam sudah mendirikan camp di sana dengan barisan depan prajurit undead,


banyak nya kira2 lima ribu oaring.”Kita tidak aa waktu lagi, tolong percepat


evakuasi nya, musuh dengan jumlah banyak sudah di depan pintu, semoga Pangeran


benar memberi waktu dua hari.” Kata Matt kepada Valia. “Ratu Valia, tolong


tetap di sini, Lorianne dan Philiandra tolong dampingi beliau, aku dan Fei akan


turun kebawah membantu evakuasi. Cecilia km pantau pergerakan pasukan musuh


dari balkon ini. Ronanta chan tolong kirim aku dan Fei ke bawah. Sekarang” Kata


Matt. Rona segera mengaktifkan traktor beam nya dan membawa Matt dan Fei ke


bawah. Di bawah, Pelatih Lenton dan Drax sudah mengarahkan orang2 untuk


berkumpul di halaman istana dan membawa barang seadanya. Sab dan Floren pun


ikut membantu mengevakuasi warga non petarung untuk berkumpul di halaman


istana. Matt dan Fei mengatur keberangkatan dengan traktor beam. Seratus orang


pertama sudah di naikkan ke istana. Di atas mereka di arahkan oleh Charlotte,


Mabel, Weny dan Sasa untuk menempati rumah rumah yang masih kosong. Evakuasi


berjalan lancar, seratus orang terakhir termasuk anak2 panti asuhan di naikkan


ke istana. Yang tersisa di bawah hanya Drax, Sab, Floren, Lenton, Matt  dan Fei . “Baiklah berarti tinggal kita ya.” Kata Matt. “Matt oni chan….maaf traktor beam nya belum bisa berfungsi lagi


karena panas, harus menunggu kurang lebih satu jam untuk pendinginan.


Bagaimana  ini ?” Rona memberitahu Matt lewat alat komunikasi dengan panik.


“Hmm Tolong minta sama **, Hagel, Franz dan Evan untuk mengeluarkan hover bike dan menjemput kita.” Kata Matt kepada Rona.


“Baik oni chan.” Kata Rona. Tak lama kemudian mereka pun turun ke bawah


menggunakan hover bike. “Ayo, pertama sab oji san naik dulu bersama **, Bu Floren silakan sama Franz,


Drax dan pak Lenton silakan duluan.” Kata Matt.


“Baik hati2 Matt.” Kata Sab. Mereka ber empat pun naik ke atas dan kemudian **


bersama Hagel langsung turun lagi. Matt dan Fei pun naik ke hover bike. Ketika


mau berangkat, Fei melihat sesuatu. “Oh tidak, hagel senpai stop, kamu ikut aku


sebentar.” Fei segera berlari menuju sebuah reruntuhan rumah yang di kelilingi


undead, dia langsung menghajar undead2 itu dan mengangkat puing2 rumah itu.

__ADS_1


Di dalam ternyata ada dua orang kakak beradik yang sedang ketakutan dan saling


memeluk. “Tenang saja, kalian sudah aman.” Kata Fei kepada mereka sambil


tersenyum. “Hagel senpai bawa mereka dulu ke atas.” Kata Fei sambil menaikkan


kedua anak itu ke hover bike. “Baik, aku akan kembali menjemput km.” Kata


Hagel. “Fei nii, pasukan musuh mulai bergerak masuk, cepat kembali.” Cecil


mengabari  Fei dengan cemas.


“Hagel senpai cepat bawa dan jangan balik lagi, aku tidak apa2. Cepat.” Kata Fei panik.


“i..iya km hati2 Fei , aku berangkat.” Hagel pun langsung melesat naik. Fei melihat


pasukan undead sudah hampir sampai ke tempat nya. Dia berjalan tenang dan


memasang senjatanya. “Akhirnya…..aku mau tes juga kekuatanku haha….Philia, Cecil


hiduplah. Maaf, kayak nya aku ga bisa menemani kalian lagi nih hehe.” Katanya


dalam hati. Fei pun memejamkan mata dan diam menyambut pasukan undead yang


berlari ke arah nya karena melihat dia. “Heyaaaaa” Fei pun maju menrangsek


pasukan itu. Para undead itu pun terpental dan menghilang. Fei terus maju


mengahbisi pasukan itu sendirian. “Feiiiiiirusss…….”Philia yang melihat dari


balkon berteriak cemas. “Fei nii……ayo philiandra ne, kita bantu.” Kata Cecil geram.


Cecil pun mengeluarkan sayapnya dan menggendong Philia. Mereka langsung


melesat ke tempat Fei . Matt dan Lori pun menengok satu sama lain dan


mengangguk. Ketika mereka mau pergi, Rona menarik baju Lori, "Aku ikut...." Katanya, rupanya dia mau


ikut. “Valia one chan, nanti kalau taktor beamnya sudah bisa tolong angkat


kami.” Kata Rona kepada Valia. “Baik.” Jawab Valia. Matt langsung membonceng


Lori dan Rona naik Hover bike yang ada di balkon dan langsung menuju tempat Fei


. “Fei iii….” Philia berlari kepada Fei dan langsung memeluk nya. “Loh kok


kalian kesini, kenapa ?” Tanya Fei . “Kenapa kata kamu ? kalau km ga ada, aku


juga ga mau hidup lagi.” Jawab Philia dengan kencang. “Oni bodoh, bodoh,


bodoh……….” Kata Cecil sambil memukul2 Fei . “Terima kasih kalian berdua, ayo


maju bersama.” Kata Fei . “Baik” Jawab Philia dan Cecil. “Tunggguuuuu….” Ada


teriakan di belakang Fei , mereka pun menoleh. “Heeeei kalau senang2 ajak2 kami


dong.” Kata Matt kepada Fei . Sambil mengacungkan tinjunya. Fei pun membalas


dengan menempelkan tinjunya. “Haaaaah kalian tega, tolong dong ajak ajak kalau


mau pesta hahah.” Kata Lori. “Chappy keluar…..” Kata Rona santai. “Ayo, maju.”


Teriak Fei . Mereka pun berbaris ke samping dan maju bersamaan. Semua yang


melihat dari Flying Castle menjadi takjub. Philia mulai pertama, dia mengangkat


busurnya sambil terus berjalan. “Holy Magic. Turn Undead.” Langsung pilar


cahaya besar menghancurkan semua undead dengan radius satu kilometer. Yang


tersisa hanya lima ribu orang ksatria hitam yang mulai menyerang maju.


“Hiyaaaaaaaa” Matt, Fei , Lori, Cecil dan Chappy langsung menyambut para


ksatria itu. Matt langsung maju dengan perisainya dan berputar di dalam barisan


dengan kapak nya, pasukan pun tercerai berai dan banyak yang tewas. Fei melompat


ke tengah2 pasukan dan menghantam tanah, sebagian pasukan langsung terpental


tidak sadarkan diri. Lori maju dan dengan lincahnya melewati barisan ksatria


sambil memainkan pedang nya, banyak yang tumbang dan tewas karena serangan


Lori, Cecil pun terus menyerang dari atas sambil terus menghindari panah2 yg di


tembakkan ke atas. Philia dan Rona terus menyerang dengan magic dan panah tanpa


henti. Rona pun menyuruh Chappy mengamuk di tengah barisan bersama Fei dan


Matt. Pasukan musuh yang  sudah habis setengah perlahan mulai mundur.


“Astaga….kuat sekali mereka…..Kita punya harapan baru.” Sab yang melihat dari atas merasa terharu melihat Fei dan lainnya.


“Mereka sudah jauh sekali dari terakhir kita bertemu.” Tambah Drax tersenyum.


“Ya, akibat latihan nonstop selama sepuluh tahun. Legenda baru telah


lahir.” Tambah Lenton. Fei dan lainnya terus menerobos, barisan necromancer di


pasukan itu pun di hancurkan dan komandan mereka yang berpangkat jendral


terbunuh. Pasukan yang tersisa kocar kacir. Tapi Fei dan lainnya terus memburu


mereka sampai tidak ada yang tersisa. Fei dan lainnya pun berbaris menyamping


dan berjalan kembali menuju Flying castle dengan pakaian yang penuh darah dan


keringat. “Matt oni, mereka yang di atas, yang melihat kita jadi takut ga ya ?


Apa setelah ini kita di asingkan bahkan di usir ?” Tanya Cecil kepada Matt.


“Saat ini aku tidak bisa jawab….jujur aku memang berlebihan tadi karena melepas


emosi dan karena sudah lama juga tidak serius.” Kata Matt. “Sama Matt ni san, saking


emosi nya dan senang nya, malah tanpa sadar, pasukan musuh yang katanya lima


ribu orang sampai tidak ada sisa. Aku dan Cecil punya trauma, kita langsung di


diskriminasi gara2 menolong dulu, aku pernah cerita kan.” Kata Fei tertunduk.


“Aku ngerti  Fei , aku juga berlebihan, tenang saja, aku ada di sini bersama mu dan Cecil, kita akan hadapi bersama.” Kata Philia sambil menggandeng tangan Fei .


“Kita janji selalu bersama, apapun yang terjadi. Terus terang, karena lama tak bertarung, aku juga agak kelewatan. Tapi kalaupun mereka takut kepada kita, kita tinggal pergi saja.” Kata Lori menambahkan.


“….” Rona hanya bisa diam. “Umm kita ga perlu menyamar kan ?” Tanya Cecil.


“Ga perlu, kita pasrah saja, sini.” Fei berkata dan langsung menggandeng tangan Cecil.


Kemudian Cecil menggandeng tangan Matt  dan Matt meneruskan menggandeng tangan Lori


dan Lori menggandeng Rona. “Pokok nya apapun yang terjadi habis ini kita tetap

__ADS_1


bersama.” Kata Matt tegas. Mereka pun terus berjalan ke arah taman istana


dengan perasaan campur aduk. Heran akan kekuatannya, wujud mereka, tanggapan orang2, semua silih berganti di benak mereka, tapi mereka tidak mundur dan terus maju berjalan dan terus bergandengan tangan sebagai tanda kebersamaan.


__ADS_2