
Dua hari kemudian, mereka tiba di langit ibukota.
Fei, Matt, Philia, Lori dan Cecil berdiri di pelabuhan untuk melihat
kondisi di bawah dan bersiap untuk turun. Rona tinggal di istana sambil
bersiap2. **, Hagel dan Ron terus memantau kondisi di bawah dengan Drone yang
mereka kendalikan. Di kejauhan mereka mulai melihat Istana Kerajaan Vanadis.
Bagian depan ibukota sudah di kuasai undead sampai perbatasan akademi. “Jr, apa
kondisi aman untuk turun ?” Tanya Matt kepada **. “Sebentar aniki, sampai kita
persis di depan istana baru kalian bisa turun, ibukota sudah di kepung oleh
undead.” Jawab **. “Baiklah, kita bersiap2.” Kata Matt kepada Fei dan lainnya.
Mereka akhirnya tiba di atas istana Vanadis. Di bawah, terlihat Rude, Drax dan
Lenton sedang memimpin pasukan di garis pertahanan terakhir yaitu halaman
istana. “Sudah clear aniki, kalian bisa turun.” Kata ** lewat alat komunikasi
nya. “Ayo, kita turun.” Matt langsung menaiki Hover bike dan membonceng Lori. Fei
juga menaiki Hover bike sambil membonceng Philia. Sedangkan Cecil langsung
melesat turun dengan sayap nya sendiri. “Aniki, ini Hagel, aku sudah
membersihkan undead dari akademi menuju istana. Aku kerahkan sepuluh Doll
Soldier angkatan darat.” Hagel memberi tahu Matt. “Ok, kerja bagus.” Kata Matt.
Mereka pun mendekati turun. Mereka sempat melihat para ksatria dan petualang
melompat2 karena undead di depan akademi sudah bersih. Matt dan lainnya pun
mendarat. Mereka berjalan menuju tenda pertahanan terakhir dimana Rude, Drax dan
Lenton berada. “Apa kabar Drax san, papa Rude dan Pelatih Lenton, kami
kembali.” Sapa Matt kepada mereka. Terlihat Drax yang langsung tersenyum melihat Matt dan lainnya, Lori
langsung memeluk papa nya dan Lenton yang langsung mendekati mereka berlima dan memeluk mereka dengan senang. “Aku tau kalian pasti kembali….akhirnya….tapi bagaimana kalian bisa muncul tiba2 ?
Dan sepertinya kalian tidak berubah ?” Tanya Lenton dengan haru.
“Ceritanya panjang coach Lenton, bisa kita ketemu Princess Valia ?” Tanya Fei kepada pelatih
Lenton. “Bisa aku antar kalian kedalam dan Valia sudah bukan princess lagi
melainkan ratu.” Kata Lenton. “Papa Rude, sab oji kemana ?” Tanya Lori kepada
Rude yang ikut mengantar ke dalam. “Sab sekarang ada di bagian strategi di
dalam bersama Floren, dia sudah tidak bisa bertarung karena kehilangan
kakinya.” Kata Rude. “Nanti bisa kita temui dia ?” Tanya Lori lagi. “Iya, tapi
kita bertemu Ratu dulu.” Kata Rude. Mereka pun masuk ke ruang singgasana. Di
dalam Valia yang duduk mendadak berdiri dan berlari ke pintu ketika melihat Fei
dan Lainnya. Valia langsung memeluk kelimanya. “Aku tau kalian akan
kembali….aku tau….terima kasih kalan sudah datang…” Katanya sambil menangis.
Terlihat dia sudah sangat dewasa sekarang. “Kami datang yang mulia.” Kata Matt
sambil bersujud di hadapan Valia di ikuti oleh Fei dan lainnya. “Bangunlah, aku
sudah lama menunggu kalian. Tapi…senpai, km kok tetap sama ya seperti waktu di
akademi ?” Tanya Valia kepada Matt. “Jadi begini yang mulia….” Matt
menceritakan semuanya di bantu oleh Fei dan lainnya, dari mereka terjebak di
dalam barrier selama sepuluh tahun sampai mereka datang membawa Flying Castle
ke ibukota dan kebangkitan New Astorian Empire.”Hmm aku sudah dengar cerita
kalian, sungguh luar biasa. Aku yakin kalian bisa membinasakan Evil God kali
ini. Semuanya….Beri sambutan kepada enam Demon Lord yang baru.” Teriak Valia di
dalam ruang singgasana. Semua ksatria, pengawal, noble dan pelayan yang ada di
ruangan berteriak dan bersorak, terlihat mereka sangat bersyukur dan senang
sampai ada yang menangis karena keselamatan sudah datang. “Untung kita tidak
terlambat yang mulia.” Fei berkata kepada sang Ratu. Valia pun menoleh dan
menghadap kepada Fei , Matt, Lori, Cecil dan Philia. “Selamat datang di
kerajaan Vanadis, yang mulia Demon Lords.” Kata Valia sambil memberi hormat seperti putri bangsawan.
”Tidak ada kata terlambat, semua memang sudah di takdirkan.” Katanya. “Mari kita ke
ruangan ku, kita bicara di sana.” Ajak Valia. Mereka pun menuju ruang tamu
kerajaan dan kantor Valia. Setelah masuk ruangan, “Yang Mulia, bisa ceritakan
kondisi terkini ?” Tanya Matt. “Haiz, jangan panggil yang mulia, panggil Valia
saja senpai, eh walaupun aku lebih tua sekarang haha.” Kata Valia bercanda.
“Baiklah Valia, situasi sekarang seperti apa ? Aku lihat sebagian ibukota sudah
di masuki oleh undead.” Kata Matt. “Benar, situasi kita sudah gawat, hanya
akademi dan istana yang belum di kuasai undead, pertahanan terakhir kita di
akademi, tapi kita sudah tidak ada lagi cadangan pasukan, jadi kalau mereka
kalah semua habis.” Kata Valia menjelaskan. “Pangeran Edgar sudah menguasai
kerajaan Bestmen dan Xenobia juga kerajaan di timur jauh dan kerajaan di lautan.
Rakyat Xenobia sempat minta suaka kepada kita karena semua sudah menjadi
undead. Kekuatan militer di bawah pangeran Edgar ada dua puluh ribu prajurit
dengan undead yang tidak terhitung jumlahnya, sebab pasukan kita yang mati
mereka bangkitkan lagi untuk menyerang kita. Saat ini hanya kita di akademi dan
istana yang selamat. Jumlah kita sekitar dua ratus orang saja.” Kata nya lagi.
“Hmm hanya tinggal dua ratus orang ya, gawat juga, asal kita bisa mendekati
pimpinan nya yaitu pangean Edgar dan membunuh nya….” Gumam Matt menganalisa
__ADS_1
situasi. “Sulit, terlalu banyak lapisannya dan sekarang dia menduduki istana
Xenobia sebagai raja.” Kata Valia. “Siapa sih sebenarnya pangeran Edgar ?”
tanya Cecil kepada Valia. “Pangeran Edgar adalah anak bawaan permaisuri sebelum
di persunting oleh raja. Identitas sebenarnya adalah Rene I Xenobia, raja
pertama Xenobia yang mendatangkan Evil God ke dunia ini dan akhirnya menyatu.”
Jawab Valia. “Astaga….berarti sama saja dong kalau Evil God sudah bangkit.”
Kata Philia. “Benar, dan segel ke enam adalah segel terakhir yang kalau sampai
hancur maka kekuatan nya tidak bisa di tandingi oleh apa pun dan dia punya
kekuatan untuk memusnahkan seluruh mahkluk hidup.” Kata Valia yang tau segel
itu ada di mana. “Hmm kita harus mengumpulkan kekuatan lagi, walaupun sudah
banyak yang hancur pasti masih ada yang selamat dan mau berjuang.” Kata Lori.
“Benar, saat ini kita tidak akan bisa menang.” Kata Matt membenarkan. “Aku ada
usul Valia, bagaimana kalau semua yang di istana dan akademi di pindahkan ke
flying castle, New Astorian Empire. Kita terpaksa tinggalkan dulu istana ini
sementara.” Usul Matt kepada Valia. “Hmm boleh aku kesana dulu ? Aku ingin
melihat.” Kata Valia. “Baik, pak Lenton dan papa rude bisa temani Valia.” Kata
Matt. “Baik, aku selalu di sisi yang mulia ratu, aku akan info Drax supaya
tetap standby di sini.” Kata Lenton, kemudian dia keluar ruangan untuk bicara
kepada Drax. “Kalau begitu, mari Valia, kita keluar istana.” Ajak Philia. “Iya
ayo.” Jawab Valia. Mereka pun keluar istana dan berdiri di halaman istana.
“Ronanta chan, tolong aktifkan tractor beam dan angkat kita ke atas, aku di
halaman istana langsung ke ruang singgasana.” Kata Matt kepada Rona lewat
alat komunikasi. “Baik, sebentar menyesuaikan koordinat.” Jawab Rona.
Tak lama kemudian, sinar keluar dari langit dan langsung membawa mereka ke ruang singgasana.
“Wah….luar biasa…masih sama seperti dulu.” Kata Valia.
“O iya ya, Valia menyimpan ingatan kehidupan sebelum nya.” Pikir Fei dalam hati.
Valia langsung ke balkon dan melihat kota yang ada di bawah. “Aku rasa bisa untuk mengangkut semuanya, kapasitas kota ini lebih dari dua ribu orang, kalau hanya dua ratus rasanya tidak apa.” Kata Valia.
“Baiklah, kita mulai perpindahan nya, pak Lenton bisa mengumumkan kepada semua orang
di akademi dan istana untuk bersiap2 dan berkumpul di satu tempat. Kita dua
kali angkat karena kapasitas traktor beam hanya seratus orang. Buatlah
persiapan untuk apa yang akan di bawa.” Kata Matt kepada Rude dan Lenton.
“Baik, aku juga akan minta bantuan Drax, aku akan turun sekarang, Rude aku
minta tolong dampingi ratu.” Kata Lenton yang langsung pergi kebawah
menggunakan taktor beam. Tiba2 awah hitam berkumpul dan membentuk wajah di
langit di atas istana. “Valia, aku beri kamu kesempatan untuk menyerah dan
untuk melawan, pilih menyerah atau musnah, aku tunggu dua hari lagi.” Terdengar
wajah itu berbicara dengan suara yang besar dan mengerikan. “Itu pangeran
Edgar. Dia minta jawaban ku dua hari lagi, kita harus cepat” Kata Valia.
“Aniki, maaf mengganggu, coba lihat ke arah gerbang ibukota dan gunakan teropong di balkon.” ** menghubungi Matt lewat alat komunikasi. Matt pun begegas ke balkon dan meneropong ke arah
gerbang ibukota seperti yang di bilang oleh **. Dia melihat pasukan berbaju
zirah hitam sudah mendirikan camp di sana dengan barisan depan prajurit undead,
banyak nya kira2 lima ribu oaring.”Kita tidak aa waktu lagi, tolong percepat
evakuasi nya, musuh dengan jumlah banyak sudah di depan pintu, semoga Pangeran
benar memberi waktu dua hari.” Kata Matt kepada Valia. “Ratu Valia, tolong
tetap di sini, Lorianne dan Philiandra tolong dampingi beliau, aku dan Fei akan
turun kebawah membantu evakuasi. Cecilia km pantau pergerakan pasukan musuh
dari balkon ini. Ronanta chan tolong kirim aku dan Fei ke bawah. Sekarang” Kata
Matt. Rona segera mengaktifkan traktor beam nya dan membawa Matt dan Fei ke
bawah. Di bawah, Pelatih Lenton dan Drax sudah mengarahkan orang2 untuk
berkumpul di halaman istana dan membawa barang seadanya. Sab dan Floren pun
ikut membantu mengevakuasi warga non petarung untuk berkumpul di halaman
istana. Matt dan Fei mengatur keberangkatan dengan traktor beam. Seratus orang
pertama sudah di naikkan ke istana. Di atas mereka di arahkan oleh Charlotte,
Mabel, Weny dan Sasa untuk menempati rumah rumah yang masih kosong. Evakuasi
berjalan lancar, seratus orang terakhir termasuk anak2 panti asuhan di naikkan
ke istana. Yang tersisa di bawah hanya Drax, Sab, Floren, Lenton, Matt dan Fei . “Baiklah berarti tinggal kita ya.” Kata Matt. “Matt oni chan….maaf traktor beam nya belum bisa berfungsi lagi
karena panas, harus menunggu kurang lebih satu jam untuk pendinginan.
Bagaimana ini ?” Rona memberitahu Matt lewat alat komunikasi dengan panik.
“Hmm Tolong minta sama **, Hagel, Franz dan Evan untuk mengeluarkan hover bike dan menjemput kita.” Kata Matt kepada Rona.
“Baik oni chan.” Kata Rona. Tak lama kemudian mereka pun turun ke bawah
menggunakan hover bike. “Ayo, pertama sab oji san naik dulu bersama **, Bu Floren silakan sama Franz,
Drax dan pak Lenton silakan duluan.” Kata Matt.
“Baik hati2 Matt.” Kata Sab. Mereka ber empat pun naik ke atas dan kemudian **
bersama Hagel langsung turun lagi. Matt dan Fei pun naik ke hover bike. Ketika
mau berangkat, Fei melihat sesuatu. “Oh tidak, hagel senpai stop, kamu ikut aku
sebentar.” Fei segera berlari menuju sebuah reruntuhan rumah yang di kelilingi
undead, dia langsung menghajar undead2 itu dan mengangkat puing2 rumah itu.
__ADS_1
Di dalam ternyata ada dua orang kakak beradik yang sedang ketakutan dan saling
memeluk. “Tenang saja, kalian sudah aman.” Kata Fei kepada mereka sambil
tersenyum. “Hagel senpai bawa mereka dulu ke atas.” Kata Fei sambil menaikkan
kedua anak itu ke hover bike. “Baik, aku akan kembali menjemput km.” Kata
Hagel. “Fei nii, pasukan musuh mulai bergerak masuk, cepat kembali.” Cecil
mengabari Fei dengan cemas.
“Hagel senpai cepat bawa dan jangan balik lagi, aku tidak apa2. Cepat.” Kata Fei panik.
“i..iya km hati2 Fei , aku berangkat.” Hagel pun langsung melesat naik. Fei melihat
pasukan undead sudah hampir sampai ke tempat nya. Dia berjalan tenang dan
memasang senjatanya. “Akhirnya…..aku mau tes juga kekuatanku haha….Philia, Cecil
hiduplah. Maaf, kayak nya aku ga bisa menemani kalian lagi nih hehe.” Katanya
dalam hati. Fei pun memejamkan mata dan diam menyambut pasukan undead yang
berlari ke arah nya karena melihat dia. “Heyaaaaa” Fei pun maju menrangsek
pasukan itu. Para undead itu pun terpental dan menghilang. Fei terus maju
mengahbisi pasukan itu sendirian. “Feiiiiiirusss…….”Philia yang melihat dari
balkon berteriak cemas. “Fei nii……ayo philiandra ne, kita bantu.” Kata Cecil geram.
Cecil pun mengeluarkan sayapnya dan menggendong Philia. Mereka langsung
melesat ke tempat Fei . Matt dan Lori pun menengok satu sama lain dan
mengangguk. Ketika mereka mau pergi, Rona menarik baju Lori, "Aku ikut...." Katanya, rupanya dia mau
ikut. “Valia one chan, nanti kalau taktor beamnya sudah bisa tolong angkat
kami.” Kata Rona kepada Valia. “Baik.” Jawab Valia. Matt langsung membonceng
Lori dan Rona naik Hover bike yang ada di balkon dan langsung menuju tempat Fei
. “Fei iii….” Philia berlari kepada Fei dan langsung memeluk nya. “Loh kok
kalian kesini, kenapa ?” Tanya Fei . “Kenapa kata kamu ? kalau km ga ada, aku
juga ga mau hidup lagi.” Jawab Philia dengan kencang. “Oni bodoh, bodoh,
bodoh……….” Kata Cecil sambil memukul2 Fei . “Terima kasih kalian berdua, ayo
maju bersama.” Kata Fei . “Baik” Jawab Philia dan Cecil. “Tunggguuuuu….” Ada
teriakan di belakang Fei , mereka pun menoleh. “Heeeei kalau senang2 ajak2 kami
dong.” Kata Matt kepada Fei . Sambil mengacungkan tinjunya. Fei pun membalas
dengan menempelkan tinjunya. “Haaaaah kalian tega, tolong dong ajak ajak kalau
mau pesta hahah.” Kata Lori. “Chappy keluar…..” Kata Rona santai. “Ayo, maju.”
Teriak Fei . Mereka pun berbaris ke samping dan maju bersamaan. Semua yang
melihat dari Flying Castle menjadi takjub. Philia mulai pertama, dia mengangkat
busurnya sambil terus berjalan. “Holy Magic. Turn Undead.” Langsung pilar
cahaya besar menghancurkan semua undead dengan radius satu kilometer. Yang
tersisa hanya lima ribu orang ksatria hitam yang mulai menyerang maju.
“Hiyaaaaaaaa” Matt, Fei , Lori, Cecil dan Chappy langsung menyambut para
ksatria itu. Matt langsung maju dengan perisainya dan berputar di dalam barisan
dengan kapak nya, pasukan pun tercerai berai dan banyak yang tewas. Fei melompat
ke tengah2 pasukan dan menghantam tanah, sebagian pasukan langsung terpental
tidak sadarkan diri. Lori maju dan dengan lincahnya melewati barisan ksatria
sambil memainkan pedang nya, banyak yang tumbang dan tewas karena serangan
Lori, Cecil pun terus menyerang dari atas sambil terus menghindari panah2 yg di
tembakkan ke atas. Philia dan Rona terus menyerang dengan magic dan panah tanpa
henti. Rona pun menyuruh Chappy mengamuk di tengah barisan bersama Fei dan
Matt. Pasukan musuh yang sudah habis setengah perlahan mulai mundur.
“Astaga….kuat sekali mereka…..Kita punya harapan baru.” Sab yang melihat dari atas merasa terharu melihat Fei dan lainnya.
“Mereka sudah jauh sekali dari terakhir kita bertemu.” Tambah Drax tersenyum.
“Ya, akibat latihan nonstop selama sepuluh tahun. Legenda baru telah
lahir.” Tambah Lenton. Fei dan lainnya terus menerobos, barisan necromancer di
pasukan itu pun di hancurkan dan komandan mereka yang berpangkat jendral
terbunuh. Pasukan yang tersisa kocar kacir. Tapi Fei dan lainnya terus memburu
mereka sampai tidak ada yang tersisa. Fei dan lainnya pun berbaris menyamping
dan berjalan kembali menuju Flying castle dengan pakaian yang penuh darah dan
keringat. “Matt oni, mereka yang di atas, yang melihat kita jadi takut ga ya ?
Apa setelah ini kita di asingkan bahkan di usir ?” Tanya Cecil kepada Matt.
“Saat ini aku tidak bisa jawab….jujur aku memang berlebihan tadi karena melepas
emosi dan karena sudah lama juga tidak serius.” Kata Matt. “Sama Matt ni san, saking
emosi nya dan senang nya, malah tanpa sadar, pasukan musuh yang katanya lima
ribu orang sampai tidak ada sisa. Aku dan Cecil punya trauma, kita langsung di
diskriminasi gara2 menolong dulu, aku pernah cerita kan.” Kata Fei tertunduk.
“Aku ngerti Fei , aku juga berlebihan, tenang saja, aku ada di sini bersama mu dan Cecil, kita akan hadapi bersama.” Kata Philia sambil menggandeng tangan Fei .
“Kita janji selalu bersama, apapun yang terjadi. Terus terang, karena lama tak bertarung, aku juga agak kelewatan. Tapi kalaupun mereka takut kepada kita, kita tinggal pergi saja.” Kata Lori menambahkan.
“….” Rona hanya bisa diam. “Umm kita ga perlu menyamar kan ?” Tanya Cecil.
“Ga perlu, kita pasrah saja, sini.” Fei berkata dan langsung menggandeng tangan Cecil.
Kemudian Cecil menggandeng tangan Matt dan Matt meneruskan menggandeng tangan Lori
dan Lori menggandeng Rona. “Pokok nya apapun yang terjadi habis ini kita tetap
__ADS_1
bersama.” Kata Matt tegas. Mereka pun terus berjalan ke arah taman istana
dengan perasaan campur aduk. Heran akan kekuatannya, wujud mereka, tanggapan orang2, semua silih berganti di benak mereka, tapi mereka tidak mundur dan terus maju berjalan dan terus bergandengan tangan sebagai tanda kebersamaan.