The Outcast : Heroes Of Beginning

The Outcast : Heroes Of Beginning
Chapter 66 End of Journey


__ADS_3

Pulau terbang AUF  pun mendarat di bekas kerajaan Kalpaka, dan menjadi Kekaisaran Phanteos. Hikari diangkat oleh Matt dan lainnya menjadi kaisar wanita pertama setelah dewasa.  Yuan Long dan Valia pun kembali ke bekas kerajaan Vanadis dan membangun kembali kerajaan nya,  mereka menamai Kerajaan


mereka Oceania. Yuan dan Valia menjadi raja dan ratu pertama kerajaan Oceania.  Leonard adik Ceska pun kembali ke beastman kingdom dan membangun kembali kerajaan itu. Leonard menjadi raja melanjutkan generasi kerajaan. Sementara Will dan Cezka pergi menuju ke kerajaan Xenobia dan mendirikan sebuah negara di bekas reruntuhan kerajaan Xenobia. Negara mereka di namai Xelos. William dan Cezka menjadi raja dan ratu pertama,  tapi tidak lama karena setelah kerajaan berdiri  mereka  di gantikan anak pertama mereka Oscar. Setelah itu, cezka melahirkan anak ke dua perempuan dan di berinama Francoise yang nantinya akan menjadi istri dari anak pertama Yuan dan Valia bernama Michael walau berbeda umur jauh.  Para


elf mendirikan kerajaan mereka sendiri di balik tembok berdekatan dengan kerajaan dark elf yang ada di sana. Waktu pun terus berjalan, perkembangan teknologi menjadikan kehidupan menjadi lebih nyaman dan sejahtera. Tidak ada lagi peperangan dan perebutan kekuasaan. Lima puluh tahun pun berlalu dari penobatan


Hikari sebagai kaisar wanita, para demon lords kembali ke rumah ibu mereka yang masih berdiri di desa Astoria yang sudah menjadi reruntuhan, tempat mereka memulai segalanya. Mereka tiba saat subuh dan


hari masih gelap, mereka pergi diam2 dari ibukota dan hanya Hikari yang mengetahui nya. Mereka pun duduk di depan rumah ibunya yang sudah berantakan. “Kami pulang ibu.” Kata Fei sambil melihat rumah ibunya. “Iya kami pulang ma.” Kata Philia dan Cecil bersamaan.  “Aku dan Lori pulang ibu.” Kata Matt sambil merangkul Lori. “Oh iya Saya chan tidak ikut ya, dia membantu Hikari menjalan kan pemerintahan. “ Kata Philia. “Iya, dia


sibuk sebagai ibu suri hahaha oh sekarang nenek suri ya,  waktu kita mau pergi, dia sempat menangis, tapi malah mendorong kita pergi.” Kata Lori. “Kan katanya dia mau menyusul ke sini kalau semua sudah beres. Paling satu tahun lagi katanya.” Kata Matt. “Iya, makanya kita siapkan tempat ini buat dia juga, benar ga Dai.” Kata Fei.  “Yup, benar Yuu, kita bangun lagi desa ini.” Kata Matt. “Sejak penobatan Hikari lima puluh tahun lalu, kita tidak bertambah tua, masih sama seperti sebelum nya.  Sedangkan yang lain semua sudah menjadi nenek dan kakek. Bahkan banyak yang dulu berjuang bersama kita sudah meninggal.” Kata Lori. “Shinju chan, itu sebab nya kita kesini kan, kita tidak bisa campur tangan lagi, generasi sudah berganti. Kita pensiun di desa ini.” Kata Matt. “Aku mengerti penderitaan Saya chan, Hikari chan sudah berumur enam puluh tahun dan sudah menjadi nenek bahkan sudah punya cucu, sedangkan dia masih sama berumur  delapan belas tahun. Jones juga sudah tiada. Seharusnya kita tetap di sana dulu menemani dia.” Kata Philia. “Memang sih, tapi dia juga yang minta kita pergi duluan, karena kalau tidak Hikari akan terus tergantung sama kita walau sudah nenek haha. Aku ingat dulu Hikari lucu sekali sewaktu masih bayi.” Kata Fei memaksakan tertawa. “Yah, selama aku


bersama kalian semua aku tidak masalah masih begini2 saja. Ingat kan waktu Hikari chan menikah, kita pendamping nya malah lebih muda dari pengantin nya haha.” Kata Cecil. “Haha Chi chan tidak berubah sama sekali.” Kata Lori. “Shinju chan dan Keiko chan juga  tidak berubah, semua masih seperti sewaktu kita di jepang hahaha.” Kata Cecil berusaha memperbaiki suasana. “Haha iya benar, kita tetap begini2 saja. Sama


sekali tidak berubah.” Kata Philia sedih. “Banyak ya yang sudah kita lalui

__ADS_1


bersama…. Shiori dan ni ni, mereka gimana ya kabar nya ? Aku jadi mengerti  kesedihan mereka, mereka hanya berdua di dunia ini dalam waktu yang sangat lama.” Kata Fei sedih. “Shiori dan ni ni ya, sampai terakhir pun mereka masih bohong sama kita haha. Tapi aku mengerti sih alasan nya.” Kata Matt sambil melihat ke atas dengan sedih. “Iya katanya mau menghubungi kembali. Sampai sekarang tidak ada kabar, mereka pasti sudah senang dan lupa sama kita haha.” Kata Lori sambil merebahkan diri  di pangkuan Matt dengan sedih. “Yah, akhirnya juga kita kembali ke sini, betul ga ? Desa yang penuh kenangan. Dulu ada Charlotte dan Franz, Mabel dan Evan, Ron dan Mariane, para senpai  Jr, Hagel, Weny dan Sasa , kita senang sekali ya waktu itu haha, berkebun, bertani, berternak dan makan siang di bawah pohon bersama2 dan sorenya mandi sama2 di mata air.” Kata Cecil sambil menitikkan air mata dan tersenyum. “Iya, sekarang mereka semua sudah tiada, teman2 di akademi. Charlotte teman sekamar ku, kita suka makan diam2 kalau malam dan jalan2 berdua


hehe. Sampai terakhir pun dia masih ragu memanggil nama ku, padahal sudah aku suruh panggil Philia atau Kei. Hehe dasar Charlotte.” Kata Philia mengenang masa lalu khusus nya  Charlotte sahabat nya sambil menitikkan air mata. “Hehe kalian berdua, mereka semua hidup bahagia sampai akhir, kita harus mengenang mereka semua dengan bahagia, kita harus maju terus juga demi mereka. Aku pun sama, kangen sama Rude ossan, Sab ossan, Coach Lenton dan lain nya yang sudah tidak ada, aku juga ingat mengajari  Franz berburu pertama kali di desa ini haha dia sangat payah dulu…..saat ini aku sangat bahagia karena menikah dengan Keiko chan  dan  Chizuru chan di kehidupan ini.” Kata Fei sambil merangkul Philia dan Cecil dan tersenyum sedih sambil menghibur mereka. Philia dan Cecil pun menangis tersedu2 di pelukan Fei yang


juga menangis. “Haha Yuan aniki dan Valia juga bahagia sampai akhir walau masih suka malu2 satu sama lain, bahkan sampai akhir nya haha, Ceska dan Will juga sama, masih suka berkelahi sampai akhir haha.” Kata Matt dengan mata berkaca2.  “Dan Ceska ne san masih saja menggoda kamu sampai saat terakhirnya, benar2 ne sama lucu dan ramai haha. Sasa dan Weny juga mengikuti aku mulu sejak di akademi sampai pindah ke desa dan di istana, seru ada mereka haha. Jadi kangen sama mereka semua.” Kata Lori menunduk sedih. Matt


dan Lori pun tersenyum sedih sambil saling merangkul. Suasana pun menjadi sedih  dan semuanya tenggelam dalam kenangan mereka masing2 sambil melihat reruntuhan desa. Selagi semua termenung, Rona


datang dan menyapa mereka. “Hai aku pulang.” Kata Rona. “Loh katanya tahun depan baru mau ke sini.” Kata Matt menoleh. “Hikari menyuruh ku pergi berkumpul dengan kalian, karena dia ga mau lihat aku sedih dan sendirian, lagipula sebenarnya aku hanya di minta bercerita tentang perjalanan kita dari awal sampai sekarang, setelah selesai maka tugas ku juga selesai. Oh ya sebelum kesini aku bertemu ** yang duduk di kursi roda milik nya di antar cucu nya, dan dia lagi diam di depan makam Hagel, Weny dan Sasa. Salam buat aniki dan aneki juga yang lain kata nya sambil tersenyum haha.”  Kata Rona sambil menunduk.  “Masih saja panggil aneki haha. ** benar2 lucu. Padahal sudah punya cucu.” Kata Lori dengan sedih. “Baiklah, yuk kita masuk ke dalam, kita bersihkan rumah kita.” Kata Matt berdiri sambil membangkitkan semangat teman2 nya. “Ayooo.” Kata semuanya yang juga ikut berdiri. Setelah semua selesai di bersihkan, mereka duduk di ruang makan dan berkumpul. Hari sudah menjelang siang. “Ahh tenang nya di sini. Banyak kenangan.” Kata Fei dengan nada sedih tapi berusaha menghidupkan suasana. “Hehe iya. Semoga terus seperti ini.” Kata Philia berusaha menanggapi nya walau dia sendiri juga sedih. “Aku kangen mama haha.” Kata Cecil dengan mata mulai ber air. Mendengar kata2 Cecil, semuanya pun termenung, mata mereka mulai berkaca2.  Saat itu mereka menyadari kalau mereka abadi walau tidak memakai bantuan selubung, kesedihan pun melanda mereka semua dan


lagi, ayo berangkat.” Kata Fei.  “Sabar dulu Yuu, kita baru bisa jemput kalian tengah malam dan masih ada setengah hari  lagi, lagipula apa kalian tidak mau keliling dulu melihat semuanya baru jalan, kalian ga bisa kembali lagi loh ke sana.” Kata Eiji. Semuanya pun terdiam. “Baiklah, kami jalan2 dulu hehe. Terima kasih ni ni dan Shiori, di kasih kesempatan terakhir hehe.” Kata Rona yang mengerti maksud dari Eiji dan Shiori. “Hehe gitu dong, kelihatan kan kalian ceria lagi. Aku jadi senang melihat nya. Sudah dulu ya.” Kata Shiori. “Baiklah,


kami pamit dulu, nanti jam dua belas malam kumpul di bukit  di belakang rumah kalian tempat bekas makam


orang tua kalian.” Kata Eiji. Suara mereka pun tidak terdengar lagi. Mereka pun saling melihat satu sama lain. “Yuk kita jalan2.” Kata Fei.  “Yuuuk.” Kata semuanya semangat. Begitu keluar rumah, mereka pun terbang dan berkeliling dunia, mereka melihat semua kerajaan yang sudah berdiri dan makmur. Wajah mereka pun berseri2. Mereka berusaha mengukir semuanya dalam ingatan mereka. Kemudian, mereka sempat mampir ke makam orang tua mereka dan teman2  seperjuangan mereka di ibukota  Pantheon bekas  New  Astoria dan berdoa tanpa terlihat siapapun, Cecil juga berdoa di depan makam anak nya bersama Fei sambil menangis dan tersenyum. Rona pun terdiam lama dan menangis di makam Jones, sedangkan Philia terdiam sambil jongkok mengelus batu nisan Charlotte sambil tersenyum dan menangis.  Setelah itu mereka ber enam  pamit kepada Hikari dan saling bergantian memeluk Hikari. Rona memeluk Hikari dengan erat dan menciumi nya sambil menangis sedih karena akan berpisah.  Setelah itu mereka sempat mampir ke ibukota bekas kerajaan Vanadis, mengunjungi monumen reruntuhan akademi  tempat mereka dulu sekolah bersama2 dengan teman2 mereka  dan sempat mengunjung kota labirin yang sudah menjadi reruntuhan dan sudah tidak di huni lagi. Mereka masuk ke dalam reruntuhan gedung bekas guild petualang, mengenang awal mereka memulai petualangan bersama, Lori sempat mengunjungi reruntuhan penginapan yang merupakan rumah nya sewaktu dia tinggal bersama Rude, lalu kemudian mengunjungi rumah di pinggir danau tempat mereka pernah tinggal yang sudah hancur. Waktu sudah hampir tengah malam, mereka semua bersiap untuk pergi, makan dan minum bersama untuk yang terakhir,  kemudian mereka keluar rumah dan pamit kepada rumah ibu mereka, lalu mereka pergi ke bukit. Mereka semua berdiri di tebing bekas istana terbang yang juga bukit bekas tempat makam orang tua mereka sewaktu belum di pindahkan. Mereka masing2 membawa sebuah peti  dari rumah dan menaruh senjata relic mereka masing2 di dalam nya, peti itu di beri nama mereka masing2 berikut nama2 senjatanya. Matt dan Fei kemudian menggali enam lubang seperti makam dan mereka semua meletakkan peti2 itu di dalam nya. “Senjata2 relic ini sudah tidak kita butuhkan lagi. Semoga selamanya tidak di butuh kan lagi. Terima kasih sudah berjuang bersama kami.” Kata Matt sambil memberi hormat dengan mengatupkan kedua telapak nya di dada. Fei , Lori, Philia, Cecil dan Rona pun memberi hormat kepada senjata2 mereka . Kemudian mereka menutup lubang besar itu dan mengiubur peti2 berisi

__ADS_1


senjata mereka dengan rasa syukur. Fei  mengambil sebuah batu menhir besar dan mendirikan nya di depan lubang2 yang sudah tertutup, dia mengukir batu itu dengan jarinya, dia menulis sesuatu dan namanya sendiri. Kemudian mereka semua menuliskan nama mereka masing2 dengan wajah ceria dan kemudian memandang batu itu sambil berpelukan. Air mata mereka pun deras mengalir. “Batu ini jadi kenang2an terakhir kita selagi kita masih di dunia ini haha. Awal dan akhir kita di sini….aku di lahirkan di sini dan ayah ku terbaring di sini, pergi dari sini dan akhirnya kembali bersama kalian semua, tinggal di desa ini, membangun desa, menikahi


Keiko dan Chizuru…… aku bahagia sampai saat ini bersama kalian semua….. Sekarang aku sudah lega dan siap berangkat.” Kata Fei terisak dan tersenyum, kedua tangan nya merangkul Philia dan Cecil. “Iya, banyak kejadian yang kita alami dan kita selalu kembali ke tempat ini. Kita selalu bersama di tempat ini sampai akhir dan selamanya, batu itu sebagai penanda nya….bertemu papa dan mama di saat terakhir, mendapat restu menikah dengan  Yuuya, tinggal bersama di desa ini….dan di sinilah kita berada untuk terakhir kalinya. Perasaan ku sangat bahagia, pergi bersama Yuuya, Chizuru, Sayako, Daisuke dan Shinju…. Aku juga sudah siap pergi.” Kata Philia yang masih menangis deras di pelukan Fei.  “Haha itulah kita, tidak berubah sama sekali,


dari dulu sampai sekarang, bersama Yuu kun dari kecil di sini dan memulai awal baru di sini bersama2…. Oh ya awal pertama aku jatuh pun persis di tebing ini hehe, ingat kan Yuu kun…..awal aku bertemu papa dan mama…. sampai memakamkan papa mama disini… menikah dengan Yuu kun, tinggal di desa ini dan saat terakhir di sini,  Aku puas dan bahagia bersama semuanya hehe….Aku siap pergi.” Kata Cecil yang juga menagis deras dan memeluk Fei sambil tersenyum.  “Benar2,  sampai kapan pun tetap tidak berubah. Sampai


kapan pun kita tetap sama.  Kita selalu bersama dari awal sampai akhir. Dari Jepang sampai ke dunia ini……berawal dari  bertemu kembali dengan kalian di kehidupan ini, tinggal di desa ini….bertemu Jones, menikah dan mempunyai anak bernama Hikari, aku bahagia sampai akhir bersama semuanya….Aku juga sudah siap pergi.” Kata Rona sambil mengusap air matanya yang masih deras mengalir. “Semoga yang menemukan batu ini nanti mengerti pesan kita ya haha. Banyak yang sebenarnya mau di tuliskan, Suka dan duka sudah banyak kita lalui di dunia ini….Dari di usir keluarga, mengembara dan jadi penjaga….bertemu lagi dengan Yuuya, Keiko, Chizuru, Sayako dan menikah dengan Shinju….bersama2 pulang ke desa ini dan di sinilah saat terakhirnya,  tanpa penyesalan sedikit pun,  saat ini aku merasa sangat bahagia kita pergi bersama….Aku sudah siap untuk pergi.” Kata Matt sambil tersenyum dan menangis, tangan nya merangkul Lori sedangkan tangan satunya mengelus kepala Rona yang berusaha menahan tangis dengan tersenyum. “Aku yakin mereka akan mengerti.  Syukurlah Shiori dan ni ni akan menjemput kita di sini…..Titik awal kita bersama di dunia ini dan sekarang jadi titik akhir kita juga haha….Menjadi yatim piatu, di asuh papa Rude, bertemu kalian, menikah dengan  Daisuke, tinggal di desa ini dan sekarang  pulang ke desa ini lagi…akhirnya selesai…aku


sangat bahagia bisa bertemu dan bersama semuanya lagi…..Aku pun sudah siap pergi.” Kata Lori sambil menghapus air matanya yang masih terus keluar dan merangkul  badan Matt. Kemudian mereka


semua maju ke pinggir tebing dan berteriak. “Selamat tinggal Dunia, Kami senang berada di sini. Terima kasih atas semuanya. Kami pergi dulu.” Sambil menunduk menghormat dan menangis gembira. Mereka saling berpelukan mendengar suara gema teriakan mereka.  Tepat  jam dua belas,  sebuah lubang hitam terbuka di depan mereka. Shiori dan Eiji pun keluar dari lubang itu. “Hai semuanya, kita bertemu lagi. Sudah siap ? Kita akan pulang kerumah…..” Kata Shiori. “Shiori….”  Lori, Philia, Cecil dan Rona pun berlari memeluk Shiori dengan wajah ceria dan tangisan karena sudah sangat kangen."Shiori, kamu kok berubah ?" Kata Rona. "Apanya  ?" Tanya Shiori. "Seperti lebih dewasa gitu trus ada yang lain......aku tidak bisa mengatakannya." Kata Rona. "Iya Saya chan benar,  ada yang berbeda dari kamu dan ni ni." Kata Cecil. "Ah perasaan kalian saja. Hahahaha." Kata Shiori tertawa. Eiji pun langsung berjalan ke belakang Matt dan Fei lalu


merangkul pundak mereka. “Ayo kita masuk. Dai,Yuu,Saat nya pergi.” Kata Eiji dengan suara pelan, wajah nya terlihat sedih. “Ayo ni ni, kita pergi.” Jawab Fei dan Matt dengan tersenyum riang. “Shinju chan, Kei chan, Chi chan, Saya chan, sudah waktunya…ayo kita masuk.” Kata Shiori dengan  suara pelan. “Ok ayoo


kita pergi.” Kata Lori, Philia, Cecil dan Rona dengan riang. Kemudian mereka semua pun berjalan  ke arah lubang dan masuk ke dalam nya dengan riang gembira, walau ada sedikit keraguan di hati mereka karena melihat Eiji dan Shiori. Di dalam lubang hitam, ke enam nya berjalan dengan berpelukan satu sama lain. “Kalian kenapa ? Takut ya ? Haha  jangan takut. Lihat kita sudah mau keluar, mereka sudah menunggu" Kata Shiori. “Mereka ?” Tanya ke enam nya bingung sambil menoleh ke Shiori.  “Lihat lah kedepan…..” Kata Eiji. Ke enam nya pun melihat ke depan. Ternyata di depan ada sebuah cahaya  dan di dalam cahaya itu, orang tua mereka sudah menunggu, Wiena, Ronan juga Ayah dan ibu Matt, Rona, Philia dan Lori, semuanya melambaikan tangan, Wiena terlihat sedang menggendong seorang balita yang juga melambaikan tangan nya di tuntun oleh Wiena. Di belakang orang tua mereka terlihat  Jones, Charlotte, Franz, Mabel, Evan, Yuan, Valia, Ceska, Will, Rude, Sab, Lenton, Ron, Mariane, Sable, Del, Jude, Weny, Hagel dan Sasa yang juga melambaikan tangan mereka, semuanya terlihat muda kembali. Matt, Fei , Lori, Philia, Cecil dan Rona pun menangis melihat nya sambil tersenyum kaget seakan tidak percaya, mereka pun diam terpaku. Hati ke enam nya berdebar2 dan bertanya2. “Ibu…Sab Ossan.” Kata Fei sambil bengong, air matanya deras mengalir karena kangen nya dia dengan ibunya. “Guru…papa…mama.” Kata Matt sambil menangis dan bengong yang juga karena kangen nya.  “Jo…nes…Pa..pa..ma..ma.” Kata Rona sambil menangis, kedua tangan nya menutup mulut nya yang tersenyum. “Papa….mama Wiena, yang di gendong nya anak ku ?…mama Rose….semuanya.” Kata Cecil sambil menangis sangat bahagia. “Mama…..Charlotte…...” Kata Philia sambil menangis tersedu2. “Papa Rude….mama Ana…weny…sasa.” Kata Lori yang juga sambil menangis. Mereka semua tetap terpaku diam di tempat dan tidak bisa berkata apa2 sambil terus menangis. “Tunggu apa lagi, sana, temui mereka.” Kata Eiji sambil menepuk punggung Fei.  “Ayoolah, jangan diam saja, maju sana.” Kata Shiori bersorak. Matt, Fei , Lori, Philia, Cecil dan Rona saling melihat satu sama lain, mereka menanggukkan kepala sambil tersenyum. Mereka semua pun bergandengan tangan dengan dengan wajah berseri2  dan tertawa walau menangis, kemudian mereka berlari menuju cahaya tempat semua orang menunggu mereka. “Kami pulaaaaaang…..” Teriak ke enam nya dengan bahagia dan tetap bergandengan tangan. Mereka pun pulang ke rumah mereka dan tidak akan kesepian lagi.

__ADS_1


__ADS_2