The Outcast : Heroes Of Beginning

The Outcast : Heroes Of Beginning
Chapter 14 Rebuild our village


__ADS_3

Keesokan hari nya, Fei dan lainnya pergi ke kota Azer untuk berbelanja.


“Fei , aku dan Lori akan membeli bahan2 untuk kita membangun rumah, kalian jalan2 saja dulu tidak apa2.” Kata Matt kepada Fei .


“Aku mau beli beberapa perlengkapan untuk berburu dan latihan. Cecil, Philia


dan rona chan, kalian mau kemana ?” Tanya Fei . “Aku mau beli bahan makanan dan


rempah2, sekaligus aku mau beli bibit tanaman, karena aku mau mulai bercocok


tanam di desa. Cecil dan Rona bisa temani aku ?” Tanya Philia. “Iya kami temani


Philia one chan.” Jawab Cecil dan Rona. Mereka pun berpisah dan menuju tempat


keperluan masing2. “Hmm perang tidak sampai ke kota ini ya.” Pikir Fei dalam


hati sambil menuju toko perlengkapan. Fei masuk ke dalam toko perlengkapan dan


melihat ada dua orang sedang berbelanja di dalam. Fei mengenali kedua orang itu


yang ternyata Evan dan Mabel. “Loh, kalian kok di sini ?” Tanya Fei . “Oh Feirus


kun, kaget juga bisa bertemu di sini, iya kami di sini…..kami sedang melarikan


diri.” Jawab Evan. “Apa yang terjadi ?” Tanya Fei . “Bisa kita keluar dulu,


kami akan ceritakan.” Jawab Evan. Mereka pun keluar dan pergi ke sebuah kedai


makan di sebrang toko peralatan. Setelah duduk dan memesan makanan Evan mulai


bercerita. “Begini, km kan tau Feirus kun, sekarang Kerajaan Vanadis dan


Kerajaan Xenobia sedang berperang, orang tua ku memutuskan untuk menganulir


pernikahan aku dan Mabel. Mereka ingin memulangkan Mabel ke Xenobia. Tapi,


keluarga Mabel menolak dan tidak mengijinkan Mabel pulang karena mereka di


bawah pengaruh gereja dan men cap Mabel sebagai pengkhianat. Dan situasi ku


tidak lebih baik, ternyata paman ku memihak Pangeran Edgar yang sudah terang2an


memihak Xenobia  sehingga ayah dan ibu ku di tahan oleh nya.


Keadaan keluarga ku kacau sekarang, jadi aku memutuskan


untuk lari bersama Mabel dan keluar dari akademi.” Evan bercerita kepada Fei .


“Hm berat juga ya, memang kita sedang dalam keadaan perang.” Fei menanggapinya.


“Iya, aku dan Mabel ke kota ini karena di sini belum terjamah peperangan, jadi


kita mau mencoba menetap di sini.”  Kata Evan lagi.


“Iya benar, di sini masih belum terjamah perang. Tapi di sini tidak


terlalu damai juga, dan kalian bisa melanjutkan akademi juga kok di sini.


Penguasa kota ini adalah Princess Valia jadi ku rasa ga masalah.” Fei berkata


kepada Evan. “Aku tidak berani ambil resiko dengan melanjutkan akademi karena akademi


sekarang di bawah pengawasan negara, aku dan Mabel cuma mau hidup damai dan


tenang, lagipula aku tidak mau orang2 tau kalau Mabel berasal dari Xenobia.”


Kata Evan lagi. “Benar, aku dan Evan menjaga supaya kita tidak menonjol dan


menghindari kontak dari orang lain yang kenal sama kita, kalau km ya


pengecualian Feirus san, karena km juga keluar kan dari akademi.” Mabel


menambahkan. “Aku dan keluarga ku punya situasi sendiri, tapi kita sama


sebenarnya.” Jawab Fei . Philia pun datang menghampiri Fei , “Eh Evan san dan


Mabel san, apa kabar ?” Philia menyapa mereka. “Kok km sendiri Philiandra, Cecilia


sama Ronanta chan kemana ?” Tanya Fei . “Oh mereka lagi jalan2 saja katanya,


mau cari makanan.” Jawab Philia. “Mabel san, kenapa ke sini ?” Tanya Philia


lagi kepada Mabel. “Duduk dulu, aku ceritakan.” Fei menarik kursi dan


mempersilahkan Philia duduk. Philia pun duduk dan Fei menceritakan kisah Evan


dan Mabel. “Oh jadi begitu ya, gimana kalau kalian tinggal bareng kita ?” Ajak


Philia. Evan dan Mabel saling menengok satu sama lain.  “Hei, jangan langsung memutuskan.” Tegur Fei ke


Philia sambil berbisik. “Iya aku tau, tapi tidak mungkin kan kita diamkan


mereka seperti ini.” Bisik Philia lagi. “Kita bicarakan dulu dengan semuanya.


Aku menyalakan alat komunikasi dari sebelum berbicara, Matt ni san dan Lori ne


san pasti dengar.” Bisik Fei lagi. “Maaf Feirus kun, Philiandra san, kami tidak


mau merepotkan kalian, tidak apa2, kami akan cari jalan sendiri. Aku akan


bekerja untuk membiayai kita berdua.” Evan merasa tidak enak kepada Fei dan


Philia dan berniat pergi. “Eh tunggu sebentar jangan pergi dulu, kakak2 ku lagi


menuju kesini.” Philia mencegah Evan dan Mabel pergi. Mereka pun duduk kembali.


“Maaf Evan kun, bukan maksudku untuk meragukan dan mencurigai kalian, seperti


yang ku bilang tadi, aku dan keluargaku mempunyai situasi sendiri. Sejujurnya


perasaan ku sama dengan Philiandra yang ingin membantu kalian.” Fei berkata


kepada Evan. “Aku mengerti Feirus kun, aku pun akan bersikap sama seperti km


kalau terjadi padaku. Aku sendiri tidak mau merepotkan, begitu juga Mabel.”


Kata Evan. “Boleh aku bertanya satu hal kepada Mabel san ?” Philia bertanya


serius. “Silahkan Philiandra san.” Mabel menjawab Pertanyaan Philia. “Kalau


Evan kun aku bisa mengerti situasinya, Mabel san, apa km benar di usir dari


Xenobia dan tidak ada hubungan sama sekali ?” Tanya Philia. “Aku bukannya di


usir, keluarga ku adalah keluarga merchant yang cukup besar di Xenobia. Mau


tidak mau, keluarga ku harus mengikuti aliran gereja dan peraturan perdagangan

__ADS_1


kerajaan. Awal nya aku di sekolahkan di akademi dan di nikahkan dengan Evan itu


semata karena menjalin hubungan baik sesama pedagang dan noble kedua kerajaan.


Ketika aku sedang di sini dan bersekolah di akademi, aku mendapat kabar kalau


paman ku dari pihak ibu di hukum mati karena menentang gereja. Kemudian bisnis


keluargaku di ambil oleh kerajaan dan menjadi milik kerajaan dengan ayah ku


sebagai pengelolanya. Kakak perempuanku di paksa untuk menjadi selir bagi raja,


karena raja tertarik kepadanya. Ayah ku mau tak mau menuruti permintaan raja. Ketika


gereja runtuh di kerajaan ini, kerajaan Xenobia mendeklarasikan perang terhadap


kerajaan Vanadis. Peristiwa ini di jadikan alasan untuk mengabarkan kematian ku


pada saat keruntuhan gereja oleh ayahku kepada pangeran pertama yang ingin


menjadikan ku budak nya. Karena itulah aku tidak bisa pulang dan ayahku


menyerahkan aku kepada Evan sepenuhnya dan meminta Evan membawa ku pergi yang


jauh.” Mabel menjelaskan situasi nya. “Oh maaf Mabel san, tapi kenapa pangeran


kerajaan Xenobia menginginkan mu menjadi budaknya ?” Tanya Philia lagi. “Karena


sebenarnya dia tertarik kepada kakak perempuan ku, karena raja sudah mengambil


nya maka aku di jadikan sasaran nya, tapi sebagai budaknya karena Keluarga ku


di cap sebagai pemberontak oleh kerajaan, karena ulah paman ku. Jadi, untuk


mengembalikan kehormatan, pangeran meminta kepada ayahku supaya aku di jadikan


budaknya, seperti kakak ku yang di jadikan selir oleh raja. Karena ayah ku


memberitahu kalau aku mati membela gereja di kerajaan Vanadis, pangeran tidak


mengusik orang tua ku lagi. Lagipula aku senang dan bahagia bersama Evan, jadi


aku tidak sedih dan menyesal. Kemanapun Evan pergi aku akan mendampingi nya.”


Jawab Mabel lagi sambil tersenyum. “Benar2 keterlaluan kerajaan Xenobia dalam


memperlakukan rakyat nya.” Philia berkomentar geram. “Baiklah Evan kun dan


Mabel san, kedua kakak ku sudah tiba dan menuju kesini. Kita tunggu mereka


sebentar.” Fei memberi tau Evan. Matt dan Lori pun sampai ke tempat Fei dan


lainnya. “Evan kun, ini Matthew ni san dan Lorianne ne san.” Fei  memperkenalkan Matt dan Lori kepada Evan.


“Salam kenal Matthew ni san dan Lorianne ne san. Aku Evan dan ini istriku


Mabel, kami teman sekelas Feirus kun dan Philiandra san di akademi” Evan dan


Mabel memperkenalkan diri. “Salam kenal Evan dan Mabel, aku sudah dengar cerita


kalian dari Feirus dan Philiandra.” Matt menyapa Evan. “Salam kenal Evan dan


Mabel.”  Lori menyapa  Evan dan Mabel. “Umm Matthew ni san, sudah


dengar ceritanya ? bagaimana bisa ?” Tanya Evan bingung. “Dengan alat ini kita


bisa mendengar percakapan Feirus dan kalian.” Jawab Lori sambil menunjukkan alat


san , aku menyalakan alatnya dan semua nya mendengar, termasuk adik2 ku Cecilia


dan Ronanta yang sekarang lagi berjalan2 di kota.” Kata Feirus menjelaskan. “Oh


begitu, siapa kalian sebenarnya Feirus kun, aku baru pernah melihat alat


seperti itu.” Tanya Evan. “Begini Evan, terus terang kami ingin mengajak kalian


tinggal bersama kami, tapi karena kami juga punya situasi, kami harus jelas


dulu siapa yang akan kami ajak. Kami benar2 mau mengajak kalian, tapi apakah


kalian mau kalau bersama kami ? Ini yang kami mau pastikan. Bisa kalian berdua


ikut dengan ku dan Lori sebentar ada yang ingin ku tunjukkan.” Ajak Matt kepada


Evan. “Aku tidak mengerti….” Evan bingung. “Sudah ga usah bingung2, sini Mabel


chan, ikut aku sebentar.” Lori menarik Mabel yang kebingunan. “Mabel…..Feirus


kun.” Evan terlihat panic. “Tidak apa2, Lorianne ne san memang begitu orangnya,


tapi dia baik kok, kamu coba ikut saja sekalian sama Matthew ni san.” Fei meyakinkan


Evan. “Ayo aku dan Philiandra juga menemani kalian.” Tambah Fei . Mereka lalu


ke gang sempit di sebelah kedai. Matt dan Lori berdiri di depan Evan dan Mabel,


kemudian mereka melepas penyamaran nya dan memperlihatkan wujud aslinya. “Evan


dan Mabel, bagaimana pendapat kalian. Apa kalian takut ?” Tanya Matt kepada


Evan dan Mabel. “Oh astaga, tidak, kami tidak takut, malah kami lega


mengetahuinya.” Jawab Evan. “Oh lega, maksudnya ?” Tanya Lori. “Aku akui,


kekuatan Feirus kun dan keluarganya di atas manusia pada umumnya, sekarang aku


jadi mengerti kalau kalian adalah demon.” Kata Evan lagi. “Oh bukan demon, kita


semua half demon. Cuma kita ber enam di dunia ini ras Half Demon.” Matt


mengkoreksi Evan. “Aku tidak percaya ini, tapi sekarang aku tau kalau legenda


itu benar, terima kasih sudah percaya kami dengan menunjukkan wujud asli


kalian.” Mabel menambahkan. “Mabel  chan, apa kamu bisa menerima kami yang seperti ini ?” Tanya Lori. “Tidak ada alasan untuk tidak bisa menerima, Feirus kun dan Philiandra san adalah teman sekelas


kami yang kami kagumi.” Jawab Mabel. “Jadi, kalian mau tinggal di desa kami ?”


Matt bertanya kepada keduanya. “Kalau Matthew ni san dan Lorianne ne san


mengijinkan, dengan senang hati kami menerima tawaran ini. Sebab kami juga


tidak tau harus kemana saat ini dengan keadaan perang yang mengancam setiap


saat.” Jawab Evan tegas. “Baiklah, selamat datang di astorian village.” Matt


memberi ucapan selamat datang. “Terima kasih Feirus kun, Philiandra san,

__ADS_1


Matthew ni san dan Lorianne ne san, kami sangat bersyukur.” Mabel  berkata sambil membungkuk. “Tapi tenang saja, kami tidak akan membuka penyamaran kami selamanya, kecuali menunjukkan kepada


orang yang mau tinggal bersama kami.” Matt menjelaskan kepada Evan.”Mabel chan


bisa masak ?” Tanya Lori kepada Mabel. “Bisa Lorianne ne san, aku juga bisa


bercocok tanam dan berkebun.” Kata Mabel.  “Bagus, nanti ajari aku masak ya. “ Kata Lori lagi. “Loh, Lorianne ne san kan bisa minta ku ajari masak.” Philia berkomentar. “Umm masakan km sulit


Philiandra, lagipula km terlalu jenius, aku jadi ga bisa mengikuti hehe, Cecilia


juga sama, makanya kita suka melihat km saja hehe.” Kata Lori lagi. “Huh dasar,


kalau minta di ajari kan tinggal bilang, bukan melihat aja.” Gumam Philia.


“Hihi, kalian akrab ya, aku senang melihat nya, Lorianne Von Astoria yg cantik


dan perkasa, Philiandra Von Astoria yang jenius dan kalem, baru kali ini aku


melihat sisi kalian yang sebenarnya kalau bersama keluarga nya.” Mabel menjadi


terhibur dan senang melihat sisi lain Lori dan Philia. “Ya begitulah….” Philia


menanggapi dengan wajah sedikit memerah. “Hahaha bisa saja Mabel Chan.” Lori


tertawa menutupi malu nya. “Baiklah, ayo kita pulang.” Ajak Matt kepada yang


lain. Terlihat dari kejauhan, Cecil dan Rona menghampiri mereka. Kemudian mereka


semua kembali ke Desa. Ketika belum sampai ke desa, “Umm Feirus kun, kok tidak


ada apa2 di sini selain hutan belantara ?” Tanya Evan penasaran. “Oh, tenang


saja, kita sebentar lagi sampai.” Jawab Fei tenang. Mereka pun memasuki


Barrier. “Oh ada desa, tapi bagaimana bisa ?” Tanya Evan kepada Fei . “Kita


memasang barrier untuk membatasi dan menghalangi orang2 yang punya maksud jahat


masuk. Kalau dari luar terlihat seperti hutan belantara, jadi tidak ada orang


yang mendekatinya.” Fei menjelaskan kepada Evan. “Hebat….ini wilayah kalian


sendiri ? Kita jadi terisolasi dari dunia luar, sangat cocok untuk orang


seperti ku dan Mabel yang sedang lari sejauh mungkin.” Evan berkata kagum.


“Iya, tapi kita tidak mengijinkan sembarang orang untuk masuk.” Kata Fei lagi.


“Desanya kosong ya, banyak rumah yang tidak di huni dan sebagian ada yang


hancur.” Tanya Evan lagi. “Iya, semua penghuni desa ini pergi dan desa ini


kosong, jadi silahkan kalian pilih rumah mana yang mau kalian huni. Kami


tinggal di rumah yang lumayan besar di ujung desa.” Kata Fei lagi. “Terima


kasih Feirus kun, aku tidak tahu harus bilang apa, kamu sudi menolong ku,


padahal waktu di kelas kita tidak banyak bicara.” Evan berkata sambil merasa


terharu. “Haha kita kan teman sekelas, walau jarang bicara tapi kita tetap


teman.” Kata Fei sambil tersenyum. “Baiklah Feirus kun, terima kasih sekali


lagi, boleh kami tinggal di rumah yang seperti toko itu ?” Tanya Evan.


“Silahkan, kalian bebas memilih.” Jawab Matt yang menoleh kebelakang. “Terima


kasih Matthew ni san, ayo Mabel, kita coba masuk.” Kata Evan sambil mengajak


Mabel.  “Iya ayo Evan, kita lihat dalam nya.” Jawab Mabel.


Mereka pun masuk kedalam rumah yang berada di dekat gerbang.


Rumah itu bekas pedagang, terdiri dari dua lantai, lantai satu untuk toko dan lantai


dua untuk tinggal. “Bagus, dan bangunan nya kuat, kita ambil rumah ini ya.”


Kata Evan kepada Matt dan lainnya. “Syukurlah kalau kalian suka, kami semua


tinggal di ujung jalan ini, sekarang kita bertetangga.” Kata Matt. Evan dan


Mabel berdiri menghadap Fei dan lainnya lalu mereka membungkuk. “Terima kasih”


Ucap mereka. “Iya sama2, aku bantu beres2 ya. Ayo Mabel san.” Kata Philia. “Aku


ikut….”Cecil menambahkan. Kemudian, Mabel, Philia dan Cecil masuk ke dalam


untuk beres2. Matt dan Fei mengantar Evan keliling desa. “Nah di sini lahan


perkebunan dan ladang, untuk mengambil air, ada sumur di pinggir ladang ini


atau ke sungai kecil di belakang ladang.Kamu bisa bercocok tanam dan berkebun


di sini kalau mau. Jauh kebelakang ada gerbang menuju ke hutan untuk berburu


dan mengambil tanaman obat di dalam hutan. Lalu kalau kamu mau ke tanah kosong


di sebelah timur bisa lewat jalan ini. Di tanah kosong itu banyak bunga dan


tanaman obat yang dulu pernah di tanam di sana. Bagaimana pendapat mu ?” Tanya


Matt kepada Evan. “Bagus sekali desa ini, tapi kenapa bisa di tinggalkan ?”


Tanya Evan. “Dulu sebelum kami datang ke sini, desa ini di serang bandit dan


penduduk nya di tangkap dan di bunuh, sebagian lari  dan pindah ke kota. Jadi kami memang


sendirian di desa ini.” Matt menjelaskan. “Oh begitu ya, sayang sekali ya, tapi


kita bisa hidupkan lagi sebenarnya. Desa indah yang ter isolasi.” Kata Evan


mengagumi. “Ya dan kita bisa hidup tenang dan damai di sini tanpa ada yang


mengganggu. Aku minta kepada mu Evan kun, tolong rahasiakan desa ini. Jangan


sampai ada yang mengetahui desa ini dan kami.” Fei berkata dan memperingati


Evan. “Pasti, aku dan Mabel akan terus menjaga rahasia ini sebab kami juga


tinggal di sini.” Kata Evan. “Ok aku percaya km Evan kun, gimana kalau sekarang


kita berburu, Matthew ni san mau ikut ?” Tanya Fei . “Oh aku tidak, aku mau


menemani Lori membereskan barang yang tadi kita beli.” Jawab Matt. “Baiklah ayo


Evan kun, kita berburu babi hutan ( Wild Boar), masakan Wild Boar Philiandra

__ADS_1


sangat enak hehe.” Ajak Fei kepada Evan. “Haha baiklah Feirus kun, ayo berangkat.”


Jawab Evan. Kemudian mereka pun menuju hutan untuk berburu.


__ADS_2