
Keesokan harinya, pemindahan ladang dan kebun berjalan lancar, semua di pindah tanpa ada yang tertinggal
** dan Franz mengawal perpindahan ternak dan selesai dengan cepat.
Kemudian Evan dan beberapa soldier doll turun ke desa memastikan
tidak ada yang tertinggal. Setelah selesai Evan pun naik ke atas.
Tiba2 terdengar suara langkah kuda yang banyak dan langkah kaki pasukan.
Evan melihat dari atas dan melihat ada pasukan mendekat ke desa.
“Feirus kun, ada pasukan mendekati desa, sepertinya bukan pasukan kerajaan, aku baru melihat pasukan seperti itu.” Lapor Evan dengan alat komunikasi nya. “Baik, aku selidiki dari istana.” Jawab Fei .
Gambar pasukan itu langsung tampil di layar. “Pasukan dengan armor serba
hitam.” Kata Fei . “Apa kita tidak apa2 nih, kalau kelihatan mereka gimana ?”
Kata Philia Khawatir. “Tidak masalah, kita pakai selubung dan penghalang, kalau
dari luar tidak terlihat ada apa2 di udara.” Kata Rona tenang. “Hmm ini pasukan
yang berada di bawa perintah Pangeran Edgar, mereka bukan undead.” Ron
menjelaskan. “Di bawah masih ada tiga soldier doll yang memeriksa keadaan terakhir desa, Evan juga sudah naik.Kalau mereka menyerang sekalian kita tes kekuatan Soldier Doll kita.” Kata Matt.
“Serahkan padaku aniki.” ** mengabari lewat alat komunikasi, dia sedang di dalam gedung
lembaga militer dan mengontrol Doll itu dari sana. Pasukan itu mulai memasuki
desa dan memporak porandakan bangunan dan apa yang mereka lihat. “Cari ke
pelosok desa dan ambil yang bisa di ambil. Kita di tugasi untuk mencari batu
segel dan menghancurkannya.” Pemimpin pasukan itu memerintahkan anak buah nya.
Tiga doll yang ada di bawah bersembunyi sehingga tidak kelihatan. Mereka
merekam semua percakapan dari pasukan itu. “Desa ini kosong komandan, gimana selanjut
nya?” Seorang ksatria hitam lapor kepada pemimpinnya. “Sekarang kita jadikan
camp saja di sini, kita dapat perintah mencari batu segel terakhir yang katanya
ada di daerah ini.” Kata pemimpin nya. “Kita sisir semua area ini, necromancer
summon ghoul mu untuk mencari tempat2 yang mecurigakan di dalam hutan seperti
ruin atau dungeon.” Perintah pemimpin pasukan itu. “Baik.” Jawab pasukannya.
Mereka lalu menghuni rumah2 di desa dan menjadikan desa markas nya. “Hmm The
Astorian Village….inikah nama desa ini ?” Kata pemimpin pasukan sambil memegang
papan nama yg di copot mereka dari gerbang. “Hey, laporkan penemuan ini ke pangeran,
kita menemukan desa yang tiba2 muncul dan sudah kosong.” Perintah nya lagi.
Matt dan lainnya menyaksikan semua itu. “Untung kita sudah selesai, sekarang
bagaimana ? kita tinggal saja ?” Tanya Lori kepada Matt. “Hmm kita sudah dengar
tujuan mereka, memang lebih baik kita pergi. Ronanta chan, apa kita sudah bisa
pergi sekarang ?” Tanya Matt. “Sebentar lagi Matt oni chan, sekitar satu jam
lagi. Peta sudah di perbaharui, kita sudah bisa otomatis ke ibukota, tapi
pengisian mana tinggal lima persen lagi penuh.” Rona menjelaskan. “Baik kalau begitu. ** terus pantau mereka, dan satu jam lagi naikkan kembali semua Doll yang di bawah.” Kata Matt lewat alat
komunikasi nya. “Ozsu aniki.” Jawab **.
“Ronanta chan, kira2 berapa lama kita sampai ibukota ?” Tanya Philia.
“Sekitar dua hari, karena kita terbang jadi jauh lebih cepat dari naik kereta kuda.” Jawab Rona.
“Matthew ni san, aku ada ide, terus terang aku penasaran sekali dengan persenjataan di istana terbang
ini, gimana kalau kita tes ke pasukan itu satu tembakan dari senjata yang menempel di tembok pertahanan ?” Fei berkata sambil tersenyum licik.
“Hmmmm ide menarik. Mereka terlihat jahat, dari awal masuk desa saja sudah memporak
porandakan. Tapi, kita tes takut takuti mereka dulu. Ayo kita ke gedung militer.” Jawab Matt sambil tersenyum licik juga.
Mereka pun pergi ke gedung militer untuk bertemu ** dan Hagel. “Aniki, kenapa ke sini ?” Tanya **.
“Yang pegang control Doll siapa ?” Tanya Matt. “Hagel aniki, dia di sana.” Kata
**. Fei pun menghampiri Hagel dan melihat monitor2 yang bisa melihat dari sudut
pandang Doll di lokasi. “Hagel senpai, panggil dua Doll kembali, sisakan satu saja, saya mau ke
konsol di depan, mau mencoba menembak satu kali dengan senjata itu.” Kata Fei.
“Eh tidak apa2 ya ? aku kembalikan 2 unit ya, kalau bisa tembak nya ke arah ladang yang sudah kosong itu atau tanah yang kosong. Aku siagakan satu Doll agak jauh untuk memantau.” Jawab Hagel.
“Siap, aku kesana ya, kalau sudah kembali tolong bilang ya.” Fei pun menghampiri
konsol yang cukup panjang di depan Hagel. Fei menekan tombol power nya
menyalakan konsol kemudian terdengar suara yang terbang menjauh, ternyata alat pemantau
jarak jauh terbang ke udara di lengkapi kamera dan tak lama kemudian, monitor menampilkan situasi desa dari atas. Fei menggerakkan tongkat pengendali yang ada di konsol itu dan memindahkan sasaran tembak ke ladang kosong. “Aku sudah siap hagel senpai. Doll nya gimana ?” Tanya Fei .
“Dua Doll sudah kembali, sekarang sedang di simpan oleh Evan di pelabuhan.
Sasaran ke bekas ladang ya, aku pindah kan dulu Doll yang di bawah ke atas
pohon yang tertinggi di dekat ladang. Silahkan menembak.” Kata Hagel mengacungkan jempol.
“Tembakkkk.” Fei pun menekan tombol di tongkat pengendali dan salah satu meriam di tembok pertahanan
menembakkan sinar laser ke ladang. Ladang yang tertembak pun meledak kencang
dan bekasnya meninggalkan kawah.
“Kita di serang, bagaimana ini pemimpin ? Kita tidak tau di serang dari mana tau2 ada cahaya
keluar dari langit dan langsung meledak.” Salah satu ksatria melapor kepada
pimpinan nya. “Mundur, semua Mundur sampai kota Azer, tinggalkan desa keparat
ini. Cepat…Cepat.” Pemimpin berteriak. Pasukan musuh pun lari tunggang langgang
meninggalkan desa. “Yess, berhasil, lihat mereka lari hahaha.” **
bersorak. “Hmm Cuma bisa menembak satu kali ya, lalu mengisi dayanya lama
sampai bisa menembak lagi. Tidak bisa sembarngan di gunakan nih, tapi sangat
dasyhat efek nya.” Gumam Fei. “Doll sudah di tarik mundur, kaki nya putus satu karena terkena ledakan, tidak di sangka ledakan nya sampai ke atas.” Kata Hagel lagi.
“Tidak apa2, aku dengar dari Evan katanya ada alat untuk memperbaikinya di dermaga
pelabuhan.” Kata Matt. Kemudian, Lori, Philia, Cecil dan Charlotte yang
kebetulan sedang di toko sebrang, lari masuk ke dalam gedung. “Ada apa barusan
__ADS_1
? Kenapa ada getaran besar ?” Kata Lori panic, terlihat dia sedang minum dan
bajunya yang basah karena ketumpahan minuman nya. Begitu juga dengan Cecil,
bajunya jadi berwarna dan mulutnya berwarna merah. “Oh kalian, tidak apa2, kami
mengusir pasukan yang masuk ke desa di bawah dengan mencoba menembakkan meriam
yang ada di tembok pertahanan. Gempa itu efek dari ledakan nya yang besar di
bekas ladang di desa.” Matt menjelaskan ke Lori dan lainnya. “Ngg itu baju mu
kotor Lorianne, kenapa ?” Tanya Matt. “Iya ketumpahan minuman ini tadi karena
kaget, nih cobain, minuman dari es tapi rasanya manis trus bikin lidah dan bibir jad berwarna seperti
warna minuma nya namanya smoothie, aku beli di sebrang.” Kata Lori sambil memberikan
minuman nya ke Matt. “Loh Cecilia km kok berantakan banget, hahaha, bibir merah lidah biru, bajunya basah lagi.” Kata Fei meledek.
“Iya ini gara2 gempa, lagi minum padahal tadi, karena enak aku ga berenti tiba2 kepala
ku pusing banget, eh tau2 ada gempa, aku jatuh deh dan minuman nya tumpah.”
Kata Cecil cemberut. “Haha, ya sudah,ayo kesana sama aku, aku belikan lagi.”
Kata Fei menghibur. “Asiiik, ayo oni.” Cecil dan Fei pun pergi ke toko sebrang.
“Philiandra km kok diam saja ? Ga ikut Feirus ?” Tanya Matt. Philia menjawab
dengan menggeleng2kan kepala. “Kenapa dia Charlotte ?” Jawaban Charlotte pun sama, cuma
mengeleng2kan kepala. “Mereka kenapa sih ?” Bisik Matt kepada Lori. “Tadi
mereka minum minuman yang sama dengan aku, trus mereka seperti nya ketagihan,
sampai pusing2 tetap nambah terus, sekarang mereka ga brani bicara karena
lidahnya berwarna warni.” Jawab Lori berbisik. “Oh…begitu.” Kata Matt sambil
geleng2. “Philiandra ne, Charlotte ne, ayo sini, oni mau beliin lagi, kalian
doyan kan ?” Cecil dengan polosnya mengajak mereka. Langsung wajah Philia dan
Charlotte menjadi merah dan keluar gedung bersama Cecil. “Ada ada aja…..ampun
deh.” Matt geleng2 kepala. “Tau tuh mereka, aku aja cuek, biarin aja berwarna
memang kenapa ?” Kata Lori. “Kamu mah memang ga punya malu….” Kata Matt dalam
hati walaupun wajah nya tersenyum. Sementara di toko, “Fei ni, aku
bawa Philiandra ne dan Charlotte ne, sekalian ya merea di belikan.” Kata Cecil
sambil masuk toko. “Oh ok, ayo ambil minuman kalian, aku bayar sekalian, aku
minum Coffee yang semalam.” Kata Fei kepada mereka. Philia dan Charlotte menggeleng2kan kepala.
“Oh kalian ga mau ?” Tanya Fei heran. “Haaah kenapa Philiandra ne, Charlotte ne, barusan kan kalian
minum banyak, bukannya suka ya ?” Kata Cecil polos. Mereka langsung mendekati Cecil
dan mencubit pipi kanan dan kiri Cecil. “Eeeeh kenapa ? Kalian kan suka,
bukannya tadi kita banding2 kan lidah.” Kata Cecil lagi. “Ugu ugu ugu.”
Charlotte mencubit pipi kanan Cecil. “Ugu uguu ugugu.” Philia mencubit pipi
kiri Cecil. “ih kalian kenapa sih ? Oh aku tau, kalian malu ya sama Fei nii karena
lidahnya berwarna…?” Kata Cecil lagi. “Ughhhhhh” Wajah Philia dan Charlotte
nya. “Ah nanti juga tau…malas ceritanya, mereka terlalu santun.” Jawab Cecil.
“Kleng2” Pintu toko di buka. “Ah Feirus san, Cecilia san, aku mau tanya,
Charlotte kenapa ya ? tadi dia pulang langsung masuk kamar, ku panggil2 ga mau
keluar, ketika kususul masuk dia ngumpet di bawah selimut.” Tanya Franz
bingung. “Aku juga ga tau, padahal aku rencana mau beliin Cecilia, Philiandra
dan Charlotte minuman itu. Philiandra juga sama kok, dia kabur tadi.” Kata Fei sambil
menunjuk ke mesin Smoothie. “Sudah ah, aku permisi dulu, aku mau keruang
latihan di bawah istana, mau ikut Franz ?” Tanya Fei . “Oh aku tidak dulu, sebab aku mau ke kandang
mengurus binatang2.” Kata Franz. “Aku pulang ya, aku bawakan minuman nya buat
Philiandra ne.” Kata Cecil. Dia pun langsung keluar toko dan pulang. Ketika Cecil
keluar Ron dan Marianne masuk, “Halo Feirus, tadi ada guncangan besar ya. Semua
ok kan ?” Sapa Marianne. “Iya, tadi kita mengadakan percobaan menembak meriam
utama yang ada di tembok pertahanan. Hasil nya luar biasa dan kesimpulannya
kita tidak bisa menembakkan dari jarak dekat, efek balik nya cukup berbahaya.”
Kata Fei . “Hooo memang gempa tadi cukup besar guncangan nya, serasa mau jatuh.
Berarti kekuatan kita bertambah sekarang. Semoga kita belum terlambat.” Kata
Ron cemas. “Tidak usah khawatir, aku yakin kita tepat waktu. Ronanta chan masih
mengisi tenaga kita, katanya tinggal sedikit lagi dan kita bisa sampai ke
ibukota dalam dua hari.” Fei menjelaskan dan meyakinkan Ron. “Iya Feirus, aku
percaya, kalian memang berbeda. Terima kasih ya sudah membantu kami.” Kata Ron
lagi. “Ron, boleh aku makan ini ?” Tanya Marianne. “Silahkan beli saja, nanti
ku bayar.” Jawab Ron. “Ngg, kalian sekarang dekat ya, rasanya dulu ga begini.”
Tanya Fei . “Banyak yang terjadi Feirus, setelah kehilangan Sable, Del dan
Jude, kami mau tidak mau menjaga satu sama lain, lagipula umur kami sudah
bertambah, kalau bukan karena kejahatan yang melanda, mungkin kami sudah
pensiun dan hidup tenang di sebuah desa.” Kata Ron lagi. “Oh jadi kalian
sekarang sudah menikah ?” Tanya Fei lagi. “Hah hubungan kami tidak seperti itu,
mungkin lebih ke kakak dan adik, saling menjaga dan hidup bersama saja, karena
tadinya kita berlima, kita hidup dengan mengenang yang sudah tiada.” Kata Ron.
“Jude……” Marianne berkata pelan dengan wajah murung. “Maaf, aku tidak bermaksud
membuka luka lama.” Kata Fei lagi. “Tidak apa2, aku hanya ingat dia, dulu dia
adalah gadis yang pendiam, dia cuma cerita kepadaku, segala cita2 nya, mimpinya
dan semuanya. Makanya aku ingin hidup menjaga kenangan itu dan kalau bisa
__ADS_1
mewujudkan mimpinya. Aku tidak suka makanan manis, tapi sekarang aku mau makan
ini, karena makanan manis adalah kesukaan Jude.” Marianne menanggapi Fei . Franz
pun diam saja dan tidak berkata apa2. “Sini, biar aku yang bayar, kalian santai
saja.” Fei pun maju ke golem yang menjaga kasir dan membayar belanjaan Ron dan
Marianne. “Aduh terima kasih Feirus, aku jadi ga enak.” Kata Ron. “Ah tidak
apa2, kalian mau kemana habis ini ?” Tanya Feirus. “Marianne bilang dia mau ke
ladang dan mulai bekerja di sana bersama Mabel chan. Aku sendiri paling hanya
menemani karena kaki ku ini. Sebenarnya aku ingin membantu.” Kata Ron. “Aku ada usul, coba km ke gedung di sebrang toko ini, kita masih butuh operator untuk Soldier Doll dan Cannon di dalam, di sana sudah ada Matt, ** dan Hagel.” Kata Fei lagi. “Oooh ide bagus, aku segera ke sana, Marianne, km bisa
sendiri ke ladang ?” Tanya Ron. “Pergilah, aku ga apa2.”jawab Marianne.
Mereka pun segera keluar toko dan pergi ketujuan nya masing. "Feirus san, aku kasihan melihat mereka.” Kata Franz. “Jangan kasihan Franz, semangat hidup mereka masih tinggi, mereka menjalankan hidup
demi teman2 mereka yang sudah tiada, aku pun tau mereka dulu seperti apa, saat
ini Ron dan Marianne mengerti arti hidup dan penuh rasa bersyukur.” Kata Fei .
“Km benar Feirus san, aku ga boleh mengasihani mereka. Baiklah, aku ke kandang dulu.” Kata Franz.
“Ya, aku juga ke istana dulu. Thanks Franz.” Kata Fei lagi. Mereka pun keluar toko dan langsung
menuju tempat tujuan nya. Sementara itu di ruang singgasana, “Ronanta Chan, apa kamu ga mau
keluar sebentar ? kami mau membersihkan ruangan ini.” Kata Sasa kepada
Rona.”…..tidak, Ronanta di sini saja……” Dia terus melihat monitor sambil makan
popcorn dan snack lainnya. “Aduh….susah nih bersihin nya dan dia sudah tidak
mandi dua hari……ruangan ini jadi bau dan pengap walau ada angina masuk.” Kata
Sasa dalam hati. “Wah kita sudah bisa berangkat ke ibukota, Sasa one chan bisa
tolong panggil Matthew oni san atau Lorianne one san?” Tanya Rona ke Sasa.
“Baik sebentar ya Ronanta chan.” Sasa langsung menuju pintu ruang singgasana. Ketika dia membuka pintu, Lori masuk ke dalam. “Hey Sasa, ada apa ?” Tanya Lori. “Oh Aneki, kebetulan, Ronanta chan
bilang kita sudah bisa ke ibukota.” Kata Sasa mengabari Lori. “Ronanta chan,
apa kita sudah bisa berangkat ?” Teriak Lori. “….Bisa Lorianne one chan,semua
sudah ok.” Rona balas berteriak. “Matthew, Matthew, km dengar ? menurut Ronanta kita sudah bisa berangkat, apa langsung saja ?” Tanya Lori lewat alat komunikasi. “Ok, semua sudah siap,
langsung berangkat saja.” Jawab Matt setelah memastikan kepada semuanya. “Sudah
OK Ronanta chan, langsung saja semua sudah ok.” Teriak Lori lagi. “Baik.” Rona langsung memencet beberapa tombol dan mengatur auto pilot nya. “Baiklah sasa, aku mau ke bawah dulu.” Kata Lori.
“Sebentar aneki, tolong berbuat sesuatu tentang Ronanta chan, dia sudah dua
hari di ruangan ini, bekas snack, makanan dan minuman nya berserakan dimana2 dan lagi dia agak bau karena ga mandi2.” Sasa langsung menarik tangan Lori dan berbisik. “Hmm bau ini asalnya dari dia
ya ? Baiklah.” Kata Lori. Dia langsung mendekati Rona dan mengangkat Rona.
“Eh…Lorianne one chan, kenapa ?” Tanya Rona heran. “Ayo kita mandi dulu, ini
terbang nya otomatis kan ? masa mau ketemu ratu di ibukota ruangan ini bau dan
kotor, biar sasa bersihkan dulu.” Kata Lori sambil menggendong Rona. “Iya
otomatis….tapi ronanta suka lihat monitor nya ketika kita berjalan.” Kata Rona
memelas. “Iya, aku tau, tapi kamu mandi dulu sama one chan ya. Habis itu baru
lihat monitor lagi.” Kata Lori sambil terus berjalan keluar singgasana dan
memberi Sasa kode untuk membersihkan. “Mantap Aneki…” Pikir Sasa dalam hati.
Sementara itu, “Philiandra ne, aku pulang, ini aku bawakan minuman dari
toko di belikan oleh Fei nii, km di mana Philiandra ne ?” Tanya Cecil. “Di sini…..”
Kata Philia sambil jongkok di dapur. “Idih ngapain di situ….?” Tanya Cecil.
“Aku malu…..” Kata Philia. “Haaah malu kenapa ?” Tanya Cecil lagi. “Aku ga mau Fei
lihat lidah ku berwarna warni kayak gini, dan aku dari tadi mencoba menghilangkan nya tapi ga hilang2.” Kata Philia. “Ya ampun one, ga masalah kali, aku aja malah memperlihatkan ke dia warna lidah ku, ini di minum dulu.” Kata Cecil. “Ntar kalau Fei pulang gimana ?” Kata Philia yang ragu antara mau
karena melihat minuman nya dan tidak mau karena malunya.
“Tenang dia lagi berlatih di istana, tau kan kalau sudah latihan dia bakal lama. Ini minuman nya
nanti keburu cair loh.” Kata Cecil sambil memberikannya. “Ya sudah
sini….” Philia langsung minum dan wajah nya terlihat sangat menikmati. “Benar2 udah ketagihan ya ?” Kata Cecil.
“Habisnya enak, kalau Coffee aku ga suka, kalau ini aku suka banget Karena manis dan dingin, walau kalau
menyedotnya berlebihan kepala bisa pusing.” Kata Philia sambil menikmati minuman nya.
“Haha, aku juga sama sih, lihat nih lidah ku blee.” Cecil mengeluarkan lidah nya.
“Hehe sama nih blee.” Philia juga mengeluarkan lidahnya.
“Aku pulang, oh kalian lagi apa ?” Fei tiba2 masuk dan melihat Cecil dan Philia sedang menjulurkan lidahnya. “Aaaa selamat datang…..aaaaaaa.” Philia yang kaget langsung berwajah merah.
“Haha good timing. Aku dan Philia ne lagi pamer lidah.” Kata Cecil. “Haha iya aku juga nih blee.” Fei pun menjulurkan lidah nya yang juga berwarna. “Tuh kan Philia ne, km kenapa musti malu, Fei nii aja berwarna kok haha.” Kata Cecil kepada Philia.
“….Blee.” Philia pun perlahan2 mengeluarkan lidahnya.
“Wah warna warni, bagus, kamu coba semua warna ya ?” Tanya Fei kepada Philia.
“Iya…..” Jawab Philia sambil tersenyum malu. “Fei ni katanya tadi mau latihan.” Kata Cecil.
“Tidak jadi, sebab istana ini mulai bergerak menuju ibukota, Rona chan sudah menyelesaikan
pengisian energinya dan mensetting rutenya.” Kata Fei .
“Oh begitu, berarti dua hari lagi kita sampai ya.” Kata Philia.
“Iya seharusnya.” Jawab Fei . “Kita lagi bergerak nih ? kok tidak terasa ya.” Tanya Cecil.
“Itulah hebatnya, kita tidak merasakan apa2.” Kata Fei lagi.
“Waaaaaaaa Ronanta ga mau mandi….Lorianne one chan tolong turunkan Ronanta.”
Terdengar teriakan Rona di luar rumah. “Kita mandi dulu, habis itu km boleh ke
istana lagi.” Terdengar Lori menjawab. “Waaaaa Lorianne one chan kejaaaam.”
Teriak Rona lagi. Kemudian terdengar suara pintu di tutup.
“Hehe Lori ne san membawa Rona pulang buat mandi, memang semenjak kita masuk ke sini, Rona selalu
di istana dan tidak pernah keluar. Dia juga tidak mandi2.” Kata Philia.
“Iya benar, walaupun aku ajak main dia ga mau, ujung2 nya nitip beli snack dan makanan di toko, karena aku senang bolak balik ya gpp, toh aku ga perlu lewat bawah langsung terbang dari balkon.” Kata Cecil.
“Ya sudah, sekarang kita sudah berangkat. Semoga tidak ada halangan dan tepat waktu.” Kata Fei lagi.
“Iya, aku berdoa supaya lancar.” Kata Philia.
__ADS_1
“Ayo kita makan dulu, aku sudah masak pakai peralatan baru.” Kata Philia lagi.
“Asik, ayo Fei oni, duduk sini.” Kata Cecil sambil mengajak Fei duduk. “Baik” kata Fei . Mereka pun makan bersama di meja makan. Flying Castle pun mulai bergerak dan memutar menyesuaikan rute menuju ke ibukota.