
Kemudian setelah mengikuti kelas, Fei dan lainnya termasuk Charlotte dan Franz berkumpul di ruang Pelatih Lenton. “Selamat siang semua, sy sudah mendaftarkan pencalonan pemilihan student council.
Sekarang karena kalian sudah resmi terdaftar, kalian bisa berkampanye dan
mengumpulkan suara. Saya ucapkan selamat berjuang. Matthew kun dan Lorianne kun, kalian bisa membantu persiapan dan kampanye mereka. O ya dan jangan lupa mengikuti dua acara besar yang akan di selenggarakan oleh akademi. Sekarang kalian boleh bubar.” Pelatih Lenton berkata kepada Fei dan
lainnya. “Baik pak, kami pamit dulu, selamat siang.” Fei dan lainnya mohon diri
untuk pergi. Ketika mereka akan keluar “Matthew kun, Lorianne kun, kalian bisa
diam di sini sebentar ? Aku mau bicara.” Pelatih Lenton memanggil Matt dan
Lori. “Baik pak…..Feirus, kalian duluan saja, nanti aku susul.” Matt berkata
kepada Fei . Mereka pun tinggal di ruangan. “Baik, aku langsung kepada intinya.
Aku mau minta tolong ke kalian supaya mengawasi pergerakan kandidat lain yang
terlibat dengan gereja secara langsung. Kita harus antisipasi cara2 kotor mereka seperti yang mereka lakukan pada Chris dan teman2 nya dan supaya tidak jatuh korban di antara siswa yang tidak tau apa2. Keterlibatan sekte terlarang sudah semakin nyata dan aku sudah mendapat beberapa data dari Princess Valia
tentang hubungan sekte dan gereja, dan ini mengkhawatirkan. Aku serahkan tugas
ini ke kalian, karena kalian lebih bebas bergerak dan saat ini kalian belum di curigai. Aku mohon bantuan nya.” Pelatih Lenton menunduk ke Matt dan Lori.
“Baik pak Lenton, aku mengerti, aku dan Lori akan membantu sebisa kami.” Jawab
Matt. “Kalau bisa kalian bergerak di belakang layar, dan jangan libatkan
Philiandra kun dan lainya supaya mereka focus di pemilihan. Di tambah lagi,
kita juga harus hati2 kepada gereja supaya mereka tidak mencium rencana kita.
Kalau Philiandra kun dan lain nya bisa menarik perhatian gereja, mereka tidak
akan segan membuang kandidat nya dan kandidat yang di buang akan mendendam
kepada Philiandra kun dan lainnya, ketika hal itu terjadi kita bisa bergerak. Memang
sepertinya aku menggunakan Philiandra kun sebagai umpan. Aku harap kalian
mengerti.” Tambah Lenton. “Baik Pak Lenton, kami setuju, tapi kami tetap harus
membantu Philia dan lain nya karena mereka keluarga bagi kami.” Lori berkata
kepada Lenton. “Haha iya tentu saja Lorianne kun, maka dari itu aku meminta
kalian mengawasi dan menjaga Philiandra kun dan lainnya, sambil tetap menjaga
kerahasiaan pembicaraan ini. Aku bersama beberapa guru dan Leslie akan tetap
mengawasi akademi dari dalam dan bergerak sesuai dengan peran kami. Dan kalian
silahkan memanfaat kan sumber yang ada.” Lenton berkata kepada Matt dan Lori.
“Sumber yang ada maksudnya ?” Tanya Lori. “Kemarin ku menonton latih tanding
kalian. Banyak sekali penonton yang menonton latih tanding kemarin dan sebagian
adalah bagaimana menyebutnya ya ? Anak buah, suporter,pendukung, fans atau Prajurit dari Matthew kun. Dan sepertinya mereka setia kepada kalian.” Kata Lenton. “Oh maksud bapak teman2
sekelas kami dan lainnya ya, hmm mereka memang baik dan terus mengikuti kami.
Kenapa bisa terjadi, semua berkat istriku ini.” Matt menjawab sambil
menggandeng Lori. “Hah bukan nya km yang mengamuk waktu aku di ajak duel para
preman di kelas waktu pelajaran martial arts itu ya gara2 nya, walau akhirnya
aku juga berduel dengan pemimpin nya. Setelah menang dan semua roboh, baru kita
berduel dengan hasil seri dan sejak itu mereka mulai memanggil aniki dan
aneki.” Kata Lori menjelaskan. “Ya, memang di kelas tiga ada geng yang
menguasai seluruh siswa, mereka biasanya membully yg kelihatan lemah dan
meminta uang pada mereka yang kelihatan lemah. Mereka hanyalah anak nakal
dengan kenakalan tidak lebih dari kenakalan anak remaja pada umum nya dan tidak ada keterkaitan dengan gereja. Mereka dari kalangan noble juga hanya saja mereka membenci noble di ibukota dan tidak
semua noble di luar dari ibukota berafiliasi dengan gereja. Nah karena kebetulan pemimpin nya kalian
hajar, jadi seluruh nya takluk kepada kalian.” Tambah Lenton. “Oh haha, jadi
begitu….” Lori merasa malu sendiri. “Nah kalian bisa mencari info lewat mereka
dan bisa meminta mereka mengawasi jalannya pemilihan ini. Hanya saja rahasiakan
identitas kalian dari mereka dan rahasiakan kalau kalian bekerja sama dengan
Princess Valia.” Kata Lenton lagi. “Baik pak.” Matt dan Lori menjawab. “Baiklah
kalau begitu, kalian boleh pergi.” Kata Lenton. “Baik pak, kami permisi.” Kata
Matt dan Lori. Mereka pun keluar ruangan. Di luar, “Hmm kok bisa ya kita jadi pemimpin
geng begini ?” Gumam Lori. “Aku rasa wajar, dulu aku bekas wakil komandan
penjaga kota di ibukota dan km sendiri bekas komandan penjaga kota labirin.
Jadi kalau sekarang jadi ketua geng ya ga heran. “ Jawab Matt santai. “Aku jadi
wakil saja, sebab kalau waktu itu latih tanding kita di teruskan aku pasti
kalah, karena staminaku kurang makanya km gendong kan waktu itu.” Tambah Lori
sambil tersenyum. “Haha habis nya km kayak orang udah mau pingsan walau ga
terluka, secara teknik km lebih bagus dari aku.” Matt tertawa. “Ah kita kan
saling menutupi kekurangan, apa aku salah ?” Tambah Lori sambil melihat ke
wajah Matt. “Ya, makanya aku sayang sekali sama km.” Jawab Matt. “Ah sayang….”
Lori membalas nya. Mereka pun saling mendekatkan wajah seperti mau berciuman.
“Braaakkk.” Terlihat beberapa orang jatuh di depan mereka. Matt dan Lori yang
kaget, langsung menengok. Seseorang yang berpenampilan urakan dengan rambut
Mohawk langsung berdiri “Aniki, aneki….Ozsu….silakan teruskan.” Katanya lagi dengan wajah pucat. Orang yg
berambut Mohawk itu bernama James Reinhold, tapi biasanya dia di panggil **
(Junior atau initial nya), dia tadinya merupakan pemimpin geng yang di sebutkan
oleh pelatih Lenton. “Heh **, ngapain kalian di sini ? Lagipula kalian
mengganggu mood ku, aku hajar kalian.” Lori berkata dengan kesal. “Hiii ampun
aneki.” Mereka menjawab. “Sudah2 ayo kita kembali ke kelas.”Matt berkata dengan
wajah sedikit merah. “Ozsu Aniki, Aneki.” Mereka berkata sambil hormat. Matt,
lori dan ** berserta teman2 nya kembali kelas bersama2. Hari sudah semakin
siang, petugas akademi menempelkan daftar kandidat student council yang mencalonkan
diri. Philia dan Charlotte yang kebetulan lewat melihat daftar nama tersebut.
“Philiandra san, nama kita sudah tercantum di sini. Sekarang kalau sudah
begini, kita harus mempromosikan diri. Apa km punya usul Philiandra san ?”
Tanya Charlotte sambil membaca pengumuman itu. “Jujur, saat ini aku belum ada
ide Charllote san, bagaimana kalau kita ke cafetaria, kita bisa bicara dan
mencari ide bersama2 di sana.” Ajak Philia. “Baik, ayo kita kesana.’ Jawab
Charlotte. Ketika mereka baru mau pergi, tidak sengaja Philia menabrak Robert
yang ada di situ dan sedang membaca pengumuman itu. “Oh maaf, permisi.” Kata
Philia sopan. “Hey, km, jangan sembarangan menabrak aku yang calon saint ini
ya, ayo sujud dan minta maaf.” Teriak Robert. “Oh aku sudah minta maaf tadi, apa
kamu terluka ?” Philia balas bertanya dengan maksud baik. “Huh, wanita rendah
seperti km menabrak ku itu melukai harga diriku.” Jawab Robert kasar dan dengan
sombong nya. Mendengar itu Charlotte naik pitam. “Heh jangan pikir mentang2 km
seorang calon saint terus bisa seenaknya, seharusnya km yang minta maaf kepada
Philiandra san karena berdiri di situ.” Kata Charlotte geram. “Hah Philiandra
Von Astoria ? oh jadi km ya yang berani mencalonkan diri menjadi ketua student
council. Hahaha, lucu sekali, perempuan dari noble rendahan seperti km berani mencalonkan diri.” Kata Robert meremehkan. “Hah tarik kembali ucapan mu itu, km lebih rendah dari Philiandra
san, kamu tidak bisa apa2 kan ? Jangan coba2 ya.” Charlotte langsung membalas
ucapan Robert dengan kesal. “Sudah sudah Charlotte san, biarkan saja, kita pergi saja, tidak usah meladeni dia. ”Philia mengajak Charlotte pergi. “Tapi Philiandra san…” Jawab Cahrlotte. “Hey2 jangan asal pergi saja, kalau di lihat kamu cantik juga Philiandra, bagaimana kalau kamu jadi wakil ku saja.” Kata Robert
sambil mendekati Philia dan Cahrlotte. “Oh terima kasih, aku menolak.” Jawab
Philia tegas. “Hey hey hey, mana bisa kamu memolak pria tampan yg meminta mu,
sementara kamu hanyalah noble rendahan dari daerah terpencil.” Robert yang berada
__ADS_1
di depan Philia mendekatkan wajah nya dan menjulurkan lengan nya ke arah wajah
Philia. “Maaf, jangan sembarangan menyentuh saya.” Philia berkata sambil
menangkap tangan Robert dan memelintirnya. “Ahhh aduh sakit2, lepaskan
aku….tolong siapa saja, hentikan wanita gila ini…..” Robert berteriak kesakitan
dan terjatuh dengan tangan masih di pelintir Philia. “Haha rasakan, lemah
begini berani mendekati Philiandra san, lagipunya masa calon saint selemah
ini.” Charlotte membalas Robert. “Oh Maaf, tolong di ingat tidak semua orang
bisa di perlakukan semau mu. Ayo Charlotte san, kita pergi.” Philia berkata sambil melepas tangan Robert dan
mengajak Charlotte pergi. “Hidup Philiandra sama.” Siswa2 lain yang melihat kejadian itu bersorak dan mengelu2 kan Philia yang pergi bersama Charlotte. Sementara itu, Robert yang ditinggal
sendrian, “Grr Awas ya, aku tidak akan lupa penghinaan ini, lihat saja….” Kata
Robert dalam hati yang masih jongkok menahan tangis dan memegang tangan nya yang masih sakit di
pelintir oleh Philia sambil melihat Philia bersama Charlotte yang semakin
menjauh di ikuti orang banyak. Philia dan Charlotte pun sampai ke Cefetaria,
mereka membeli minuman di counter dan kemudian mencari tempat duduk. Mereka
melihat Cecil dan Rona sedang makan dan mereka menghampirinya. “Cecili,
Ronanta, kalian disini ? Feirus dan Franz san kemana ?” Tanya Philia kepada Cecil
dan Rona yang sedang makan. “Gulp…oh Philiandra ne, Charlotte senpai ke sini
juga, aku sama Ronanta chan pergi ke sini duluan, tadi kita ke arena, aku dan
ronanta chan latih tanding dengan Franz san, Feirus oni kembali dulu ke asrama
dan kemudian menyusul ke arena. Sekarang Feirus oni bersama dengan Matthew oni
dan Lorianne ne yang datang belakangan, lagi mengajari Franz san supaya tambah kuat
kata mereka….jadi aku sama Ronanta chan makan duluan di sini karena sudah
lapar.” Jawab Cecil sambil memakan makanan nya. “O ya, senpai yg kemarin
menyusul kita di infirmary juga ada di sana. Lagi di ajari sama Matthew Oni dan di suruh2 oleh Lorianne ne.” Tambah Cecil.
“Oh yang rambut nya berdiri itu ya ?” Tanya Charlotte. “Iya benar, ronanta
sempat berlatih tanding sama dia sekali……lemah banget. Begitu kena air bullet ronanta
dia langsung mental tapi langsung berdiri lagi, trus kita di ajari berpedang
oleh Lorianne one chan.” Kata Rona dengan wajah datar dan sambil meminum
minuman nya. “Iya, kasihan dia Ronanta chan, di bentak2 mulu sama Matthew oni
dan Lorianne ne, belum lagi di suruh2, trus kamu hajar, di bentak2 lagi……tapi
heran nya dia kelihatan senang dan bahagia…….orang aneh si senpai itu.” Cecil menambahkan sambil
merinding.Tiba2 datang sekumpulan anak kelas satu datang mendekati ceci. “Cecilia
sama, nanti kita latihan sore ya.” Salah satu siswi berbicara kepada Cecil.
“Iya, nanti aku menyusul ya.” Jawab Cecil singkat. “Cecilia sama kami sudah
membuat kaos dengan gambar Cecilia sama, magic wand menyala, dan ikat kepala,
kami siap mendukung Cecilia sama.” Para siswa laki2 berbicara kepada Cecil.
“Terima kasih yaaaa, muah.” Jawab Cecil. “Ooohhhhh” mereka pun pergi mengikuti
siswi2 yang sudah pergi barusan. “Cecilia kamu ikut apa di kelas mu ?” Tanya
Philia kepada Cecil. “Oh itu…..aku di minta jadi idol dan bernyanyi bersama siswi yang tadi ngajak latihan di
panggung untuk Cultural Festival (Festival Budaya) nanti. Mereka adalah fans ku
hehe.” Jawab Cecil santai. “Cecilia one chan bisa nyanyi ? kok Ronanta ga
pernah dengar ?” Rona berkata kepada Cecil. “Iya aku juga tak pernah dengar.”
Tambah Philia. “Philiandra ne, aku bisa nyanyi, Cuma kalau ga ada fans aku
malas nunjukin nya hehe.” Cecil menjawab riang. “Ronanta fans Cecilia one
chan,……ayo nyanyi.” Ronanta berkata kepada Cecil dengan wajah tanpa ekspresi.
“Hah, mana ada fans yang punya wajah datar kayak km Ronanta chan.” Cecil
membalas Rona. “Sudah, sudah, aku dan Charlotte san lagi mencari ide untuk bagaimana mempromosikan diri supaya bisa menang pemilihan nanti. Kalian ada ide atau masukan ?” Tanya Philia kepada Cecil
Philiandra ne saja gimana ? Charlotte senpai, kok tumben diam saja ?” Tanya Cecil
kepada Charlotte. “Maaf Cecilia san, aku masih kesal sama kejadian tadi.” Jawab
Charlotte. “Oh memang ada kejadian apa ?” Tanya Cecil. Lalu Charlotte
menceritakan kejadian di depan papan pengumuman dengan Robert.
“Oh yang waktu itu menghampiri kita dan mengoceh ga jelas ya, yang gayanya seperti banci, dah
cuekin aja Charlotte senpai. Dia ga penting sama sekali” Cecil berkata setelah
mendengar ceritanya. “iya benar Cecilia san, aku lagi meredam emosi ku
sebentar.” Jawab Charlotte. “Usul kamu boleh juga Cecilia, nanti tolong ya. Tapi kan Cultural Festival masih dua bulan
lagi ? Kalau untuk yang sekarang gimana ?” Tanya Philia lagi. “Oh sekarang mah
kamu sudah populer Philiandra ne gara2 kejadian kemarin hehe.” Jawab Cecil.
“Haduh tolong jangan di ingatkan. Aku malu.” Jawab Philia. “Haha Philiandra
san, kamu ga sadar dari tadi banyak yang kasak kusuk soal kamu. Apalagi setelah
mereka baca pengumuman tadi” Charlotte berkata kepada Philia yang malu. “Santai
aja Philiandra ne, km terlalu cemas dan tegang sih, coba santai aja kayak aku.”
Cecil menambahkan.”Aku baru pertama kali mengalami hal ini Cecilia, aku kurang
pede sejujurnya.” Kata Philia cemas. “Nih aku buktikan ya Philiandra ne.” Cecil
berkata lagi, kemudian dia pun naik ke atas meja dan berteriak. “Teman2
sekalian aku Cecilia Von Astoria sang idol, nanti tolong pilih one chan
tercintaku yaa, Philiandra one chan pada pemilihan ya….terima kasih semua….love
u…muah.” Katanya. Semua nya menengok ke arah Cecil. “Ayo Philiandra ne, kata
sambutan nya.” Cecil berkata sambil menarik tangan Philia untuk berdiri. “Um
Teman2 sekalian, perkenalkan saya Philiandra Von Astoria. Mohon bantuan nya
untuk memilih ku pada saat pemilihan student council nanti. Terima kasih kerja
samanya. Selamat makan.” Philia memperkenalkan diri dengan singkat. “Uooooh
hidup Philiandra Von Astoria…….kami tau Philiandra sama.” Semua siswa pria di
cafetaria mengangkat gelas mereka dan bersorak dan di susul para siswi.
“Astaga…….memalukan sekali……kenapa adikku bisa seperti ini….pede mu datang
darimana Cecilia.” Philia menutup wajah nya dengan kedua tangan nya. “Beres kan
Philiandra ne, langsung banyak pendukung mu hehe.” Cecil berkata sambil
tersenyum lebar. “Haha menyengkan kan Philiandra san, aku jadi bersemangat.”
Charlotte menambahkan. “Km benar2 imut Philiandra san, aku senang godain km nih
jadinya hahaha.” Tambahnya. “DIAAAM” Sebuah teriakan bergema dan membuat hening
ruangan. Semua menoleh ke pintu masuk, ternyata Robert dan kelima calon saint
lain nya masuk ke dalam. “Teman2 Sekalian, kalian jangan sampai tertipu oleh
Philiandra Von Astoria, dia hanya noble rendahan yang ikut pemilihan karena
berhasil mendekati salah satu guru dan menjual tubuh nya supaya bisa ikut
pemilihan. Lebih baik kalian pilih saya, seorang calon saint yang di akui oleh
gereja yang memang berdevosi untuk kebaikan umat manusia.” Kata Robert menghina
dan memfitnah Philia. Cecil yang melihat nya sangat geram dan marah. Charlotte
pun berdiri dengan maksud mendekati Robert dan menamparnya. “Hey kamu siapa……jangan sembarangan bicara yaaa.” Seorang siswa berteriak. “Hah mungkin kamu kali yang menjual tubuh dan merayu2 supaya bisa ikut pemilihan….” Seorang siswa lagi berteriak kepada Robert. “Kalian jangan asal bicara….aku ini calon
saint yang di akui gereja.” Belum selesai Robert berbicara, sebuah gelas
melayang ke arah nya. “Calon saint….? Dengan mulut sampah….” Teriak yang lain.
Dan kemudian cafetaria menjadi ramai dan rusuh akibat para siswa dan siswi yang
makan di situ melempar apa yang ada di depan nya ke arah Robert dan para calon
__ADS_1
saint itu. “Pergi kalian….kalian tidak punya tempat di sini….” Semua nya
berteriak. “Hidup Philiandra sama…..kita akan mendukung Philiandra sama.”
Semuanya bersorak sambil melemparkan apa saja di depan nya. “Wha….dengarkan
aku…..aku Rpbert….aku ‘guaah’” Sebuah gelas mendarat di bibir Robert yang belum
selesai bicara. Mulut nya menjadi bengkak dengan bibir yang membesar. “Hahahaha
pergi badut…….jangan kesini lagi…..Hahaha” Semua menertawakan Robert yang
bibirnya membesar karena bengkak. “A…auah halian (awas kalian).” Kata Robert
yang sambil berlari pergi dan menangis di ikuti lima calon saint lain. “Hidup
Philiandra sama……bersulang.” Semua nya bersorak dan mengangkat gelas. Mereka satu
persatu menyalami Philia. Kemudian setelah selesai, Philia, Charlotte, Cecil
dan Rona di panggil untuk menghadap pelatih Lenton. “Maafkan kami.” Mereka
menunduk meminta maaf di depan Lenton. “Haha tidak apa2, aku memanggil kalian
bukan masalah di cafetaria tadi. Mereka memang pantas dapat ganjaran nya. Aku
Cuma mau bilang, di suasana panas ini kita harus cool down dulu sementara.
Beberapa hari ini aku minta kalian mengalah dulu. Kita lihat reaksi gereja dan
para calon saint itu dulu. Karena ayah Robert adalah perdana mentri kerajaan
dan tangan kanan pangeran ke dua. Kita sekaligus menunggu Princess Valia datang
besok lusa.” Lenton menerangkan maksudnya. “Tapi apa maksudnya kita menunggu
Princess Valia datang ?” tanya Philia. “Karena kedatangan beliau ke ibukota
sifatnya rahasia, jangan sampai karena pertengkaran dan pemilihan, kedatangan
beliau jadi terbongkar.” Tambah Lenton. “Oh jadi maksudnya kalau suasana kian
memanas, mereka akan menyelidiki kita dan akhirnya malah membongkar situasi
kita dengan Princess Valia kepada Pangeran kedua dan gereja. Begitu ya oji
san.” Charlotte merangkumkan penjelasan Lenton. “Benar, karena ayah Robert yang
berpengaruh dan kepercayaan pangeran kedua bisa menghalal kan segala cara demi
anak nya.” Tambah Lenton. “Baik, kami mengerti, kami akan menghindari kontak
dengan Robert beberapa hari ini.” Philia berkata ke Pelatih Lenton. “Braaaak”
Tiba2 Pintu terbuka kencang. “Di hini hupanya hamu (di sini rupanya kamu).”
Robert dan kelima calon saint lainnya masuk. “Hiliandra, ahu menatang hu
berhuel (Philiandra, aku menantang mu berduel)” Robert berkata dengan bibir
tebal nya .Philia, Charlotte, Cecil dan Rona menahan tawa melihat Robert yang
memaksakan bicara. “Hangan hetawa (jangan ketawa).” Tambah Robert dengan kata2
tidak jelas. Philia berusaha menenangkan diri dari tawanya, “Maaf….aku menolak”
Jawab nya tegas. “Aha….hamu hidak hisa menolak (apa…kamu tidak bisa menolak).”
Robert menjawab sambil mengcung kan pedang nya ke wajah Philia. “Dia bisa
menolak, peraturan di akademi, duel tidak bisa berlangsung kalau salah satu
pihak tidak setuju untuk berduel.” Lenton menjelaskan sambil menurunkan pedang
Robert. “AHA….hamu hakut ? ahu menantang hu (APA….kamu takut ? aku
menantangmu)” Kata Robert yang semakin geram. Philia dan yang lain nya masih
menahan tawa. “Maaf maaf, aku tidak tega pffft.” Jawab Philia sambil menahan
tawa. “Hurang hajar (Kurang ajar)” Robert berteriak sambil menyerang Philia.
“Eit, jangan sembarangan di kantor ku ya, begini saja, kalau duel mereka ga
setuju, bagaimana kalau latih tanding, kamu setuju ?” Lenton berkata sambil
menahan serangan Robert. “Haik….henam lawan henam, ahu hunggu hekarang di
harena. (Baik…enam lawan enam, aku tunggu di arena)” Robert berkata dengan
kesal dan keluar dari ruangan. “Haaah rusak pintu ku, baiklah sekarang kalian
latih tanding saja dengan mereka, panggil Feirus dan Franz.” Lenton berkata
kepada Philia dan lain nya. “Tidak perlu pak, kita ber empat saja.” Jawab
Philia. “Baik terserah kalian, ingat, ini bukan duel tapi latih tanding jadi
kita memakai senjata latihan. Aku akan mengawasi.” Tambah Lenton. “Baik pak.”
Jawab mereka kompak. “Ayo kita jalan.” Lenton dan Ke empatnya pun pergi menuju
arena. Di arena Robert dan kelima nya sudah menunggu dengan senjata latihan nya
masing2. Philia dan lainnya memasuki arena. “Baik, ini latih tanding enam lawan
empat, kalian bebas menyerang siapa saja karena ini battle royal antar dua
grup. Tidak boleh menggunakan magic” Lenton menjelaskan .”halian meremehkan
hami ya. Haku hantai halian. (kalian meremehkan kami ya. Aku bantai kalian).”
Kata Robert. Philia dan lainnya pun tertawa mendengar nya, dan karena ini di
arena mereka tidak menahan tawa lagi. “Baik, mulai.” Lenton memberikan aba2.
Robert dan kelima calon saint lainnya langsung maju menyerang Philia,
Charlotte, Cecil dan Rona. Philia dengan sigap menhindari serangan Robert yang
penuh emosi dan dengan short sword nya langsung mementalkan pedang Robert dan
memukul leher nya dari belakang. “Ups maaf.” Kemudian dia langsung menyerang
wanita calon saint di depan nya dengan cepat dan menohok perut nya dengan short
sword nya. Kedua nya pun pingsan. Cecil pun dengan lncah nya menghadang tiga
orang yang menyerangnya. Kemudia dia memukul kaki penyerang di depan nya nya
sampai tersungkur dan menuntaskan nya sampai pingsan dan meloncat kebelakang
menghindari serangan dari belakang dan memukul kepala penyerang nya dari atas
yang langsung membuat nya pingsan. Rona pun mendekati seorang calon saint
berbadan besar. Calon saint berbadan besar itu langsung memukul Rona yang bersenjatakan tongkat kayu. Rona menerima pukulan itu seperti tidak merasakan apapun dan ekpresi wajah nya tidak
berubah. Calon saint berbadan besar itu pun kaget. Rona kemudian membalas menyerang
dengan kuda2 berpedang yang di ajarkan Lori sebelum nya. Pria berbadan besar
itu pun terpental jauh keluar arena dan tidak sadarkan diri. “……lemah.” Rona
berkomentar dengan ekpresi datar. Akhirnya, Charlotte pun berhasil membereskan
penyerang nya yg seorang wanita dengan memukul nya dengan pedang nya. Tapi
karena belum pingsan, penyerang itu bangkit dan berlari menikam nya. Charlotte
menghindar sambil memukul kepalanya dan penyerang itu langsung pingsan. “Terima
kasih Franz sudah mengajarkan aku berpedang” Katanya dalam hati. “Yak sudah selesai.”
Pelatih lenton berkata sambil menepuk tangan nya tanda sudah selesai.”Uhhh ini
tidak mungkin, aku yang seorang calon saint di kalahkan oleh wanita ini. AKu
belum menyerah.” Teriak Robert yang telungkup dan di injak oleh Philia. “Oh ok,
kalau km bisa berdiri dan melepaskan injakan ku ini, aku mengaku kalah.” Jawab
Philia. Robert pun berusaha berdiri tapi dia tidak bisa. Wajahnya menjadi merah
karena mengerahkan semua tenaga nya untuk melepaskan diri dari injakan Philia
dan berdiri. “Sudah kamu tidak akan bisa melepaskan diri…tolong menyerah saja,
jangan berbuat lebih jauh dari ini.” Ucap Philia kepadanya. Robert pun sudah
mencapai batasnya dan hanya bisa menangis, tapi dia tetap tidak mau menyerah.
“Baiklah, aku lepaskan, tolong jangan ulangi lagi. Selamat tinggal.” Philia
berkata sambil meninggalkan Robert yang masih terlungkup di tanah dan menangis.
Dia melihat teman2 nya pingsan. “Awas…akan ku balas…..akan ku balas.” Katanya
dalam hati dengan emosi dan tangis. “Baiklah,sekarang sudah selesai, kalian
silahkan kembali ke asrama. Aku akan mengawasi mereka” Kata Lenton. “Baik pak
__ADS_1
Lenton terima kasih.” Philia, Charlotte, Cecil dan Rona berkata bersama2 kepada
Lenton. Mereka pun pergi meninggalkan arena dan kembali ke asrama.