
Para Elf yang sudah di selamatkan melihat pesta itu dari belakang dan tidak bergabung berpesta karena melihat Philia.
“Philiandra ne, para elf itu kenapa diam saja di belakang ?” Tanya Cecil.
“Aku tidak tahu.” Kata Philia. “Coba aku tanya ke mereka Philiandra san.” Charlotte berkata dan
kemudian menghampiri para Elf itu. Mereka berbicara dengan serius, kemudian
dari kejauhan terlihat Charlotte membuka penyamaran nya dan memperlihatkan
wujud half elf nya. Tak lama kemudian, Charlotte kembali bersama seorang Elf
yang sudah tua menghampiri Philia dan Cecil. “Philiandra san, tetua elf ini mau
berbicara dengan mu empat mata, aku tinggal ya. Yul , Cecilia san.” Kata
Charlotte sambil mengajak Cecil pergi. “Ada apa mencari saya.” Tanya Philia
sedikit ketus kepada Elf itu. Nama Elf itu Dorian. Dan dia langsung berlutut
menyembah Philia. “Maafkan km Philia anak Elrond, kami membuang mu dan menjual
mu menjadi budak. Terima kasih sudah menolong kami. Aku mewakili seluruh desa
untuk minta maaf oh Philiandra Von Astoria , Demon Lord yang agung.” Kata Dorian sambil menyembah Philia. “Oh sudah tau namaku ya, baiklah aku maafkan, sekarang aku permisi.” Kata Philia
ketus. “Ku mohon maafkan desa kami, aku bersedia melakukan apa saja. Tolong
maafkan kami.” Kata Dorian yang terus menyembah sambil memegang kaki Philia
mencegahnya pergi. “Lepaskan…..” Kata Philia kesal. “Mohon, ampuni kami, kami bersedia
jadi budak kalian, selamatkan desa kami.” Kata Dorian. “Kalian benar2 tidak tau
malu, aku minta kalian turun urus masalah kalian sendiri. Lepaskan aku……” Kata
Philia yang sudah marah. “Tolong ampuni kami, tolong.” Kata Dorian sambil
memanggil semua Elf yang di sana dan tidak melepaskan kaki Philia. Semua Elf
pun mendekati Philia dan bersujud di depan nya. “Kami minta maaf….” Semuanya
berteriak. “Aku bilang ……LEPASKAN.” Philia pun marah besar. Semua tenaganya
keluar dengan Aura berwarna putih yang menerangi seluruh kota. Mata Philia
berubah menjadi Putih dan dia mulai mengeluarkan Busur nya. Para elf itu pun terpental.
Philia perlahan mendekati Dorian dan mengarahkan busur nya kepada nya. Dorian pasrah, menutup
matanya dan membuka tangan nya. “Kalau memang aku bisa menebus semua kesalahan
ku aku bersedia mati.” Katanya tenang. “Baiklah…..” Kata Philia dengan suara
yang mengerikan dan bersiap menembak. “Philiandra ne……” Teriak Cecil yang
langsung memeluk Philia dari belakang. Philia yang terganggu melepaskan anak
panah nya ke atas yang mengenai pelindung luar flying Castle. “Lepaskan Cecilia……..”
Kata Philia dengan suara mengerikan. “TIDAK, aku akan melawan mu Philiandra
ne.” Cecil pun mengeluarkan tenaga nya yang ber aura hijau. Secara tidak sadar,
Cecil pun mengamuk, matanya menjadi hijau. Kota menjadi terang dengan beradunya
cahaya putih dan hijau. “Baiklah Cecilia…..bersiaplah.” Kata Philia dengan
suara mengerikan. “Philiandra ne……majulah.” Jawab Cecil dengan suara yang mulai
berubah mengerikan. Tiba2 datang Matt dan Fei yang langsung mendekati Philia
dan Cecil. Matt memukul tengkuk Cecil dan membuatnya pingsan, begitu juga
dengan Fei yang memukul tengkuk Philia dan membuatnya pingsan. Charlotte dan
Mabel pun menghampiri mereka bersama Weny dan Sasa. “Charlotte san, Weny san, aku
titip Philiandra dan Cecilia ya, tolong bawa mereka ke rumah sakit.” Kata Fei .
Valia, Cezka, William, Sab dan Rude pun berlari menghampiri mereka dari dalam
istana. Di balkon, Rona dan Jones melihat kejadian itu dan Lenton beserta **,
Hagel, Ron dan Franz keluar gedung militer untuk melihat nya. “Ada apa ini,
kenapa kalian menghampiri adik ku Philiandra ?” Tanya Matt kepada Dorian dan
elf lainnya. “Maaf yang mulia Matthew Von Astoria dan Feiruss Von Astoria. Kami
hanya mau minta maaf kepada yang mulia Philiandra Von Astoria karena kesalahan
kami dahulu membuang dia dari desa dan menjualnya menjadi budak.” Kata Dorian
sambil menyembah Matt dan Fei. “Oh berarti kalian adalah orang2 di desa tempat
tinggal Philiandra sebelum nya ?” Tanya Fei. “Iya, maafkan kami.” Kata Dorian.
“Aku mohon, kalian jangan mendekati dia lagi, dia sekarang istriku, aku
mengerti perasaan kalian tapi tolong mengerti juga perasaan Philiandra yang
kalian telantarkan sendirian. Mohon kita bisa saling mengerti.” Kata Fei dengan
tenang sambil jongkok di hadapan Dorian. “Kami mengerti memang dosa kami tidak
terampuni, yang mulia, mohon selamatkan desa kami yang di duduki oleh ksatria
hitam. Mereka memasang sebuah alat yang sangat besar di desa kami dan
menjadikan kami korban alat itu.” Kata Dorian. “Sebagian penduduk kami di
jadikan persembahan di alat itu dan sebagian di jadikan budak. Kami yang
selamat ini adalah seluruh penduduk yang di jadikan budak, sedangkan masih
banyak yang di tawan untuk suatu saat di korbankan.” Kata Dorian lagi. “Baiklah,
__ADS_1
sekarang kalian kembali dulu ke rumah yang sudah di sediakan dan kami akan
mendiskusikan hal ini dengan Philiandra.” Kata Matt. “Mabel, Sasa, bisa
antarkan mereka ke bangsal mereka ?” Kata Matt lagi menoleh ke Mabel dan Sasa
yang berdiri di situ. “Baik Matthew ni sama kami akan antarkan mereka, ayo Sasa
san.” Kata Mabel. Kemudian mereka mengarahkan para Elf yang berjumlah tiga puluh orang ke bangsal mereka tinggal.
“Matthew dan Feiruss, aku ingin berbicara.” Kata William, bersama dengan Cezka
dan Valia. “Baik, kita ke istana sekarang.” Kata Matt. Mereka pun langsung ke
istana bersama2. Sementara itu di rumah sakit, “Uhhh, aku dimana ? Eh
Philiandra ne ?” Cecil terbangun duluan dan kaget berada di rumah sakit.
“Philiandra ne di mana ?” Tanya nya. “Tenang Cecilia san, Philiandra san ada di
sebelah mu, dia belum bangun. Biarkan saja dulu.” Kata Charlotte.
“Huu Philiandra ne, maafkan aku…..Charlotte ne ini gara2 aku ya ?” Kata Cecil mulai
merasa bersalah. “Bukan, tenang saja, kalian di buat pingsan oleh Matthew san
dan Feiruss san. Jadi kalian belum berbuat apa2.” Kata Charlotte. “Tapi kenapa
km bisa ngamuk juga Cecilia san ? Kalau Philiandra san aku bisa mengerti.” Tambah Charlotte.
“Aku tak tahu, aku cuma merasa sangat takut dan merasa sangat marah dengan para Elf itu tadi. Aku takut
Philiandra ne berbuat sesuatu yang akan dia sesali nanti. Aku hanya berpikir menghentikan dia dan menghajar para elf itu singkatnya.” Kata Cecil menunduk. “Memang, aku sendiri takut melihat kalian,
dan tidak tahu harus bagaimana mencegahnya, untung saja Mabel san memanggil Feirus san dan Matthew san.” Kata Charlotte. “Aku…takut dengan diriku sendiri Charlotte ne.” Kata Cecil yang
mulai menangis. “Aku mengerti, sini, aku sangat mengerti perasaan mu…..tapi aku
sama sekali tidak takut dengan kalian Cecilia san, tenang saja Cecilia san
tidak akan terjadi apa2.” Kata Charlotte sambil memeluk Cecil. “Cecilia…Philiandra….”
Kata Lori sambil membuka tirai. “Lorianne ne……huaaaaaaaa.” Cecil langsung
memeluk Lori dan menangis tersedu2. “Tidak apa2….tidak apa2.” Kata Lori
menenangkan Cecil. Charlotte pun mengelus2 punggung Cecil yang menangis. “Uuuuuh
dimana aku.” Philia bangun dan duduk di ranjang nya. “Aku….kenapa…..oh…” Kata
Philia. Wajah nya terlihat mulai marah lagi dan tangannya menggenggam sprei
ranjang nya. “Philiandra……” Lori langsung lari dan memeluk Philia. “Sudah tidak
apa2…..lepaskan semuanya…..aku di sini.” Kata Lori. “Huaaaaaaaaa” Philia pun
menangis tersedu2 di pelukan Lori. “Philiandra ne…..huaaaaaa” Cecil pun
menangis tersedu2 lagi sambil memeluk Philia. Cahrlotte yang melihat itu pun
tersenyum dan menitikkan air mata. Lori pun merubah posisi nya dan memeluk
yang mulai menitikkan air mata. “Charlotte maaf, bisa tinggalkan kami
sebentar.” Kata Lori menoleh kepada Charlotte. “Baik, silahkan lepaskan
semuanya.” Kata Charlotte sambil dia keluar kamar dan menutup pintunya.
“Sudah tidak apa2….aku mendekap kalian….” Kata Lori yang juga mulai menangis.
Sementara di istana, “Matthew, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Philiandra
dan Cecilia berhadapan satu sama lain ?” Tanya Cezka. “Jadi begini, para budak
elf yang kita tolong kemarin menghampiri Philiandra, mereka adalah orang2 desa
yang dulu menjual Philiandra ke perbudakan. Tujuan mereka menghampiri adalah minta maaf dan berterima kasih karena sudah di tolong, tapi mereka memaksa ke Philiandra supaya di maafkan. Menurut
keterangan Mabel, Philiandra sudah bilang dia memaafkan dan ingin pergi dari
situ, tapi kaki nya di pegang oleh kepala desa nya sambil terus bersujud minta
di maafkan, nah Philiandra jadi naik pitam dan akhirnya mengamuk. Kenapa
berhadapan dengan Cecilia karena Cecilia berusaha menghentikan Philiandra yang
hampir membunuh kepala suku dan melontarkan panah nya ke atas. Ledakan itu lah
yang memancing kalian datang kan. Lalu menurut Mabel, karena panik dan takut
dia jadi mengeluarkan semua tenaga nya demi mencegah Philiandra dan tanpa sadar
ikut mengamuk. Kira2 seperti itu kronologi nya.” Matt menjelaskan.
“Duh elf2 itu memang kelewatan juga, ketika melihat Philiandra yang mereka buang menjadi
salah satu Demon Lord, mereka minta di akui dan di maafkan, terus terang aku
pun marah mendengarnya.” Kata Valia. “Ya benar, sebaiknya kita apakan ya elf2
itu.” Tambah Cezka. “Mereka minta bantuan kita untuk membebaskan desa mereka
dari jajahan ksatria hitam dan alat yang mereka tanam di desa mereka.” Kata Fei.
“Idih benar2 tidak tau malu.” Kata Cezka. “Tapi bagaimana pun, alat itu harus
kita hancurkan untuk mengurangi kekuatan Evil God. Betul kan Valia ?” Kata
Matt. “Betul sih, tapi gimana ya, apa mereka pantas kita tolong ?” Tanya Valia.
“Dengan gampangnya mereka membuat dua demon lord mengamuk dan tanpa malu
meminta bantuan. Tapi apa benar2 perlu kita menghancurkan mesin
itu ?” Tanya Will. “Maksudnya ?” Kata Matt. “Begini Matt, sebelum nya
maaf, bukan nya aku takut atau menghindari kalian, tapi aku mau bertanya kepada
__ADS_1
km, apa selama ini km sudah memakai semua kekuatan km ? Karena terus terang,
aku sudah melihat amukan mu ketika melawan Celine, amukan Feiruss setelah Drax terbunuh , Cezka melihat amukan istrimu di istana, dan hari ini kita menyaksikan amukan kedua adik mu di kota.
Dan yang aku belum lihat adik mu yang paling kecil, tapi kekuatan dia sudah
besar. Kalau kalian bisa memakai kekuatan amukan itu setiap saat tanpa
kehilangan kendali apa masih perlu menghancurkan mesin2 yang tersebar itu ?
Sebab kekuatan kalian sangat lah besar ketika mengamuk. ” Kata Will. Matt dan Fei
terdiam. “Jujur…belum pernah terpikir sebelum nya.” Kata Fei . “Benar, karena
kami ber enam selalu di kucilkan km tidak pernah sampai mengeluarkan semuanya,
karena kami ga mau orang takut kepada kami.” Kata Matt. Semua nya pun terdiam.
“Anoo mungkin aku bisa bantu….” Jones masuk dan berbicara. “Masuk sini Jones.
Katakan saja tidak apa2” Panggil Fei . “Terima kasih Feiruss oni san, begini, ada fungsi di ruang latihan yang
baru saja aku aktifkan, yaitu fungsi pengukur kekuatan. Aku mencoba mengukur
kekuatan Evil God dari sisa2 mesin yang hancur kemarin. Lalu aku coba mengukur
kekuatan Ronanta chan di ruang latihan yang menyebab kan Ronanta chan tidak
sadarkan diri setelah mengeluarkan tenaga besar dengan aura hitam menyebar ke
seluruh ruangan dan merubah warna matanya menjadi hitam, kemudian tanduk nya
membesar dan dia tiba2 pingsan. Maafkan aku, aku tidak minta ijin dulu dan
melakukan penelitian berbahaya.” Kata Jones. “Astaga kapan itu terjadi” Tanya
Matt dan Fei kompak. “Ketika kalian sedang berpesta setelah kembali berperang.
Ronanta menghampiri ku dan bilang tolong buat aku seperti Matthew oni chan dan Feiruss
oni chan, begitu. Dan keesokan nya ketika di panggil oleh Valia one san, aku mencoba fitur itu kepada sisa mesin Evil God. Dan kalau di perbandingkan dengan kekuatan Ronanta chan keesokan
harinya, kekuatan Evil God di angka seratus dan kekuatan Ronanta chan di angka
sepuluh. Menurut analisa ku, kekuatan Ronanta chan sama dengan kekuatan
Philiandra one san dan Cecilia one san yang mengamuk hari ini, karena tidak sengaja terekam. Anggap lah semua sama, jadi kekuatan Evil God bernilai seratus dan kekuatan gabungan semua Demon Lord
secara tidak sadar bernilai enam puluh.” Jones menjelaskan. “Hmm berarti masih
kurang empat puluh ya di banding Evil God nilainya. Tapi sesuai kata ku
Matthew, Jones kun juga bilang kan, secara tidak sadar, tapi….bagaimana kalau
kalian sadar ? Aku rasa mungkin bisa lebih. Benar ga Jones kun.” Kata Will.
“Kemungkinan nya tinggi, karena melihat statistic kekuatan Ronanta chan, ketika
matanya berubah menjadi hitam, dia tidak bisa megendalikan nya dan karena lepas
kendali makanya jadi pingsan sebab Ronanta chan mengeluarkannya bukan karena
ada kejadian yang memicu emosinya, untuk hal ini aku tidak tau bagaimana cara
dia. Tapi kalau seandainya dia bisa mengendalikan nya, kekuatan nya terus
bertambah hanya saja aku tidak tahu seberapa besar bertambahnya.” Kata Jones.
“Benar, semua kejadian mengamuk ini karena ada kejadian yang memacu emosi.
Ketika aku melawan Celine, melihat dia mengejar Lorianne, aku hanya merasa aku
sangat marah dan ingin mengoyak2 nya kemudian menelan Celine.” Kata Matt.
“Begitu pun aku, sama seperti nisan.” Kata Fei .
“Hmm aku mulai mengerti, Matthew, Lorianne, Feirus, Philiandra, semua karena kalian marah. Yang jadi pertanyaan di sini bagaimana dengan Cecilia, karena dia sebalik nya, segitunya dia ingin menghentikan
Philiandra sehingga mengamuk. Dan Ronanta yang kita tidak tau apa yang dia
pikirkan karena ekpresinya selalu datar ?” Tanya Cezka. “Menurut analisa ku, Cecilia
one san mengamuk karena saking takutnya dan cemas nya dia, jadi dia menggunakan emosi juga hanya saja bukan marah. Sedangkan Ronanta chan, karena melihat Matthew oni san dan Feiruss oni san, dia
juga ingin memiliki kekuatan itu, jadi pada dasar nya ini emosi juga. Dengan
kata lain, Emosi kalian ber enam mengaktifkan kekuatan tersembunyi kalian.
Kesimpulan nya kendalikan emosi dan jadikan kekuatan karena kuncinya di emosi.
Untuk caranya aku belum sampai kesana.” Kata Jones mengungkapkan analisanya.
Mereka pun semua terdiam mendengar analisa Jones. “Untuk bisa mencapai kekuatan
kami yang sekarang, kami berlatih non stop selama sepuluh tahun tanpa sadar.
Perlu berapa lama lagi untuk melatih emosi ini ?” Tanya Fei . “Hey ga usah
khawatir, mau seratus tahun pun tidak masalah, sekarang kita kan di dalam
barrier yang menyelimuti istana terbang ini kan ? Umur tidak akan bertambah.
Sambil kita menolong orang dan menambah jumlah kita. Apa yang di khawatirkan ?”
Kata Will yang sudah tau semuanya. “Benar, kami tidak keberatan sama sekali
menunggu nya.” Kata Valia. “Yup, di sini kami senang kok, dan tau tidak akan
bertambah tua, sekalipun bertambah tua, anak2 kami punya masa depan.” Kata Cezka.
“Semuanya……..” Kata Fei. “Baiklah, besok aku bersama2 dengan istri dan adik2 ku akan membahas hal ini,
sekarang kita bubar dulu, aku dan Fei mau melihat keadaan Philiandra dan Cecilia.”
Kata Matt. “Matthew oni chan….Ronanta ikut.” Kata Rona yang tiba2 masuk. “Iya,
sini Ronanta chan.” Panggil Fei . “Baiklah, kami pergi dulu, terima kasih semua
__ADS_1
masukan nya.” Kata Matt. Kemudian Matt, Fei dan Rona keluar ruang pertemuan.