
Ketika mereka sampai, semua sudah menunggu di depan pintu gerbang desa dan bersorak sorai menyambut mereka.
Marianne ada di antara mereka, dia sudah sadar dan masih di papah oleh Ron.
“Selamat datang kembali, aku tau kalian pasti berhasil.” Kata Ron lagi.
“Kami berhasil, silahkan kalian lihat keluar barrier, langit sudah berubah seperti sepuluh
tahun yang lalu.” Kata Matt kepaa Ron. Mereka pun kemudian membawa Ron yang
pincang dan Marianne yang masih lemas keluar bariier sebentar di ikuti
Charlotte, Franz, ** cs, Evan dan Mabel. Begitu sampai di luar dan melihat langit,
Ron dan Marianne pun berlutut dan menangis. Mereka merasa lega dan mempunyai harapan baru setelah
berjuang mati2an selama sepuluh tahun. “Sable, Del, Jude. Kita berhasil. Ini permulaan. Mereka pasti bisa mengembalikan langit seperti semula, ketika kita masih bersama……terima kasih.” Marianne berkata sambil bersujud dan menangis.
Suasana haru dan bahagia pun menyelimuti mereka semua. Setelah semua tenang,
mereka kembali ke dalam dan berkumpul di alun2. Rona segera mengecek lagi alat
nya dan mempelajari nya. Di alun2 desa, Matt bercerita tentang apa yang mereka
alami ketika di Kota Azer. “Oh jadi setelah kalian menghancurkan alat itu,
langit langsung berubah, walaupun tanah belum berubah menjadi seperti semula.
Ini progress, kita harus melaporkan nya ke Ratu Valia.” Kata Ron.
“Tapi bagaimana caranya, jarak dari ibukota ke sini lumayan jauh dan memakan waktu
lama. Cermin ini sudah tidak bisa di gunakan untuk teleportasi.” Kata Lori.
“Kita harus cari cara lain….tapi ada yang membuat ku penasaran, Feirus kalau
aku boleh tanya, tadi itu km menggunakan kekuatan penuh tidak ?” Tanya Matt.
“Oh aku tidak menggunakan semua tenagaku, mungkin sekitar setengah nya.” Jawab Fei
.“Wow, Feirus oni hebat.”Kata Cecil. “Sesuai dugaan ku, soalnya aku merasa
juga ketika melawan Cerberus tidak ada satupun dari kita yang memakai kekuatan
penuh seperti sebelum nya.” Kata Matt menganalisa. “Kalau di pikir2 iya juga,
aku santai2 aja tuh tadi, dan tidak merasa tegang sama sekali, seperti sedang
menari.” Tambah Lori. “Aku pun sama, mengeluarkan magic sebesar itu, aku tidak
pingsan seperti waktu di akademi.” Philia juga berkata sambil melihat kedua
tangan nya. “Aku malah ga merasa apa2, tapi memang, aku melihat semua gerakan
Cerberus tadi itu sangat lambat dan tusukan tombak ku ini jadi dalam sekali.”
Tambah Cecil sambil mengacungkan tombak nya.
“Ronanta sudah tau penyebab nya.” Rona datang mendekati mereka.
“Kita selama sepuluh tahun di sini melakukan rutinitas biasa, seperti latihan, berburu dan lain nya. Alat ini rupanya melipatgandakan gravitasi juga, jadi aktifitas biasa kita dua kali lebih kuat
dari biasanya dan kita lakukan ini selama sepuluh tahun tanpa sadar. Aku yakin
bukan Cuma kita, semua yang tinggal di sini terkena efek nya.” Rona
menjelaskan. “Dan satu hal lagi, Rona baru paham, ternyata alat itu adalah
bagian terpenting dari mesin pesawat kuno Dragonian yaitu inti nya.” Tambah
Rona. Semua yang medengar itu terkejut. “Berarti kita semua lebih kuat dong
dari sebelum nya. “ Tanya Evan kepada Rona. “Betul, semuanya tanpa terkecuali.”
Jawab Rona. “Berarti saat ini kita mempunyai kekuatan yang cukup untuk melawan
reinkarnasi Evil God yang berada di badan Pangeran Edgar ya.” Gumam Fei .
“Betul Feirus, sepertinya kita harus lakukan ini, aku sudah tidak mau lagi
berpaling dari takdir. Bagaimana pendapat kalian ?” Tanya Matt kepada yang lain.
Charlotte dan lainnya pun berbisik satu sama lain. “Aku rasa semua setuju
Matthew san, kami siap membantu.” Kata Charlotte mewakili semua.
“Charlotte san…..” Philia menghampiri Charlotte dan menggenggam tangan nya.
“Kita ber enam sudah pasti akan berjuang, terima kasih kalau kalian semua mau membantu.” Kata
Matt sambil membungkuk.
“Pasti dong kita mau bantu aniki, kita bisa di sini karena aniki, kalau di luar mungkin aku dan teman2 sudah mati.” Kata ** kepada Matt.
“Aku juga membantu sekuat tenagaku, ilmu pedang ku masih dangkal, tapi selama sepuluh tahun
berlatih rasanya aku sudah siap, bersama Charlotte.” Kata Franz yakin.
“Betul Franz kun, aku pun yakin setelah mendengar ini, aku dan Mabel siap berjuang.” Evan berkata mewakili Mabel juga. “Semuanya…….” Lori menitikkan air mata.
“Jangan menangis aneki.” Weny dan Sasa memeluk Lori. “Jadi, kita harus ke
ibukota membawa harapan ini untuk meningkatkan moral mereka. Pertanyaan nya
bagaimana kita menghubungi ibu kota atau bagaimana kita kesana ? Kita harus bergerak
__ADS_1
cepat sebelum semua nya terlambat. Ada ide ?” Tanya Ron. “Itu yang jadi masalah, dengan kondisi
normal saja kita butuh tiga minggu baru sampai ke ibukota, tapi dengan kondisi
sekarang mungkin lebih. Kita di sini tidak ada kuda. Kalian naik kuda dan terus
memacu sehingga sampai di kota Azer hanya seminggu dari ibukota.” Gumam Matt
sambil berpikir. “Ronanta ada ide. Kita pernah baca tentang istana terbang dari
legenda milik ras Dragonian kuno. Ronanta mencoba menyalakan pendeteksi pesawat
yang ada di alat itu dan ternyata ada reaksi yang kuat di dekat sini, tepat nya
di bawah makam orang tua kita. Apa mau coba kita selidiki ?” Tanya Rona. “Hmm
coba kita selidiki, ayo sekarang juga kita ke basement.” Ajak Matt. Mereka
semua pun menuju basement di bawah makam orang tua mereka.
“Oh ternyata ada ruangan ini di sini.” Ucap Mabel kagum karena Mabel sangat mennyenangi
arkeologi. “Aku pernah baca, Kalau menurut legenda, di sini bekas Astorian
Empire, eh eh Astoria ?” Mabel yang baru menyadari asal nama Astoria.
“Benar Mabel san. Aku ceritakan semuanya….” Philia pun mulai menceritakan
semuanya setelah Fei dan lainnya setuju. Dia bercerita kepada semuanya tentang
asal usul mereka, keluarga Astoria dan orang tua mereka. “Tenyata semua legenda
itu benar, aaaah aku benar2 tertarik dan terharu mendengarnya.” Mabel berkata
sambil melompat2 girang, “Tak di sangka, ternyata Philiandra san dan lainnya
adalah anak dari Demon lord pahlawan dari 2000 tahun yang lalu, yang terlempar
ke jaman ini. Sulit di percaya, tapi kalau melihat kekuatan kalian aku tak
heran.” Charlotte berkata kepada Philia. “Hey coba lihat ini, di sini tembok
nya sedikit berbeda.” Cecil berkata kepada yang lainnya. Cecil memang jeli, dia
dari dulu bisa menyadari perbedaan sekecil apapun. “Ada tulisan di sini, coba
aku baca.” Mabel melihat tulisan itu sambil membetulkan kacamatanya. “Control
Room, Flying Castle, Astorian Empire.” Mabel membaca tulisan nya. “Hmm Astorian
empire memang bukan cuma ras manusia tapi semua ras ada di sini, tak heran kalau teknologi Dragonian pun ada di sini. Bagaimana sinyal nya Ronanta chan ?” Tanya Mabel kepada Rona.
“Reaksinya kuat di sini mabel one chan.” Kata Rona sambil membawa alat nya yang menyala.
“Sebentar, Feirus san, coba km pegang tembok yang berbeda dan berwana
hitam ini, taruh telapak mu di sini.” Kata Mabel sambil menunjuk tembok yang
lain sendiri dengan warna berbeda dari yang lain. Fei pun menaruh telapak nya.
“Hmm tidak terjadi apa2 ?” Kata Fei . “Sebentar” Mabel pun melihat sekitar nya
dan berkeliling. “Philiandra san, sini, km coba pegang di sini, Feirus kun
tetap di sana.” Kata Mabel. “Tidak terjadi apa2 juga nih.” Kata Philia. “Hmm
seharusnya ada kunci nya nih.” Gumam Mabel sambil berpikir. Kemudian dia melihat
lukisan gambar orang tua Fei dan lainnya. “Aku tau, coba cari semua tembok yang
berbeda warna di ruangan ini, mungkin di belakang rak atau di belakang meja,
dan semuanya berbentuk seperti ini. Semuanya bantu cari, cepat.” Kata Mabel
menyadari sesuatu sambil menunjuk tembok yang di tekan Fei . “Eh ada nih,
sebentar aku geser lemarinya.” Kata Evan sambil menggeser lemari nya.
“Aku juga menemukan satu dekat lukisan kerajaan.” Cahrlotte menunjuk tembok berbeda.
“Oii di sini ada satu juga.” ** menemukan di sisi lain ruangan itu. “Oh ada nih,
satu lagi, berwarna merah persis di sebrang yang di tekan Feirus san.” Frans
menunjuk tembok yang berbeda warna nya. “Oh sudah ketemu enam ya, bagus, tunggu
sebentar.” Kata Mabel sambil mengamati lukisan dan melihat tembok nya.
“Matthew ni san, kesini, ke tempat Philiandra san sini. Dan berdiri di sini menggantikan
Philiandra san. Menhadap tembok berwarna kuning ini.” Kata Mabel. Matt pun
bergantian dengan Philia. “Di sini ?” Katanya. “Iya, diam dulu di situ. Feirus
kun, km ke tempat Franz kun di sana dan berdiri di depan tembok nya yang
berwarna merah. Philiandra san, km ke tempat ** di sisi yang sama dengan
Matthew ni san, dekat dengan Feirus kun, tembok berwarna putih. Lorianne ne
san, km ke tempat Evan persis di sebrang Matthew ni san, tembok berwarna Biru, Cecilia chan, km ke tempat Charlotte tembok berwana hijau persis di sebrang Philiandra san dan Ronanta chan, km ke sebelah tulisan itu dan menghadap tembok berwarna hitam itu persis di sebrang Feirus kun dan di sebelah pintu. Ayo semuanya bergerak ke posisi masing2.” Kata Mabel. Mereka ber enam pun segera menuju ke titik yang di tunjuk Mabel. “Sudah, sekarang keluarkan senjata legendaris kalian dan tempelkan batu permata senjata kalian
di tembok serentak. “ Kata Mabel lagi. Mereka pun melakukan apa yang di katakan
Mabel, ketika mereka menempelkan batu permata senjata mereka, tembok itu
__ADS_1
pun menyala dan terdengar mekanisme yang berjalan. Pintu di sebelah Rona pun
terbuka. “Nah teori ku benar hehe.” Kata Mabel puas. “Kok km bisa tau Mabel chan ?” Tanya Lori heran.
“Aku hanya mlihat senjata di lukisan itu yang mirip dengan senjata kalian dan ketika menemukan tembok yang berwana sama dengan batu permata di senjata itu, mungkin senjata itu kuncinya. Ternyata benar, senjata
kalian memiliki elemen yang bisa menggerakkan panel2 di tembok itu.” Katanya Puas.
“Hebat Mabel san, tidak percuma jadi ketua kelas.” Charlotte memuji Mabel. “Hohoho.” Mabel tertawa puas. “Baiklah, kita coba masuk. Di dalam gelap sekali, coba philia gunakan sihirmu.” Kata Fei yang melongok ke dalam ruangan itu. “Baik, Light ball.” Philia melemparkan Light Ball nya kedalam. Ruangan pun
menjadi terang. “Astaga, ini ruangan yang menakjubkan.” Semuanya bergumam dan
terbengong2. Di depan mereka terdapat sebuat layar besar dan di bawah nya ada
konsol seperti yang ada di dalam pesawat. Di depan konsol itu ada enam tempat
duduk menhadap Layar. “Aku coba kesana…” Rona pun berlari ke arah konsol dan
mengutak atik nya. “Ronata akan pasang alat ini di sini.” Dia memasang alat itu
di atas konsol yang sepertinya memang di sediakan untuk alat itu karena alas
nya cocok dan alat itu langsung masuk dan menyalakan konsol. Ruangan itu pun
menjadi terang dan terdengar suara seperti mesin yang siap menyala. “Semuanya
berpegangan, kita tidak tau apa yang terjadi.” Kata Matt sigap.
Mereka pun memegang apa yang kuat di sekitarnya.
Kemudian Layar pun menyala dan terlihat pemandangan seperti kalau memandang di atas bukit tempat makam orang tua mereka. “Ronanta coba nyalakan mesin nya ya.” Kata Rona sambil memutar alat
itu. Kemudian alat itu pun masuk ke dalam konsol setelah di putar oleh Rona dan
terdengar suara gemuruh yang sangat kencang di susul getaran yang mengguncang
bumi dengan keras seperti sedang terjadi gempa besar.
Kemudian cahaya matahari pun mulai masuk ke ruangan itu.
Di layar nampak pemandangan semakin naik ke atas. “Oh kita terbang…..” Kata Fei kepada yang lain.
Mereka pun keluar balkon ruangan itu dan melihat sebuah kota kuno yang masih
utuh di depan mereka. Cecil yang bisa terbang, langsung menggendong Philia
untuk melihat dari luar. Ternyata mereka berada di dalam istana yang terbang,
beserta kota nya. Lebarnya sekitar dua kilometer terbentang dan berbentuk
lingkaran dengan istana di tengah nya. Cecil dan Philia pun melihat kebawah dan
melihat makam orang tua mereka sekarang ada di pinggir jurang dan bukit di
depannya semua terangkat terbang. Ternyata selama ini, istana itu terkubur di
dalam tanah dan basement itu adalah ruang baca keluarga kerajaan. Mereka juga baru
tau kalau konsol dan kursi itu merupakan singgasana dan mereka berada di dalamnya.
Semua yang di dalam pun tercenganng sambil berkeliling menyelidiki dalam istana.
Cecil dan Philia pun mendarat di kota dan pergi ke arah pelabuhan, di sana mereka mendapatkan alat seperti motor yang bisa terbang dan kereta yang di tarik nya. Jumlah nya ratusan.
Philia mengambil salah satu motor itu dan mencoba menyalakan nya, kemudian dia mencoba mengemudikan nya dan terbang ke singgasana di dampingi Cecil.
“Sungguh luar biasa, aku benar2 kagum sama teknologi kuno. Ini alat terbang yang di gerakkan oleh mesin berbahan bakar mana. Aku cukup mengisi mana nya dan langsung bisa terbang.” Kata Philia
mengabarkan kepada yang lain. “Wah, aku mau coba dong…” Kata Mabel.
“Aku juga dong.” Charlotte menambahkan. Kemudian Philia membonceng Mabel dan Charlotte
turun ke kota. Mereka mengamati semua bangunan di kota yang seperti sebuah
komplek atau distrik dan mempunyai satu alun2 di depan istana. “Kota ini tidak
sebesar kota biasanya, tapi semua nya ada, kita masih bisa memakai bangunan
nya.” Kata Mabel. “Benar, kita bisa memanfaat kan nya untuk tinggal, benar2
seperti dongeng.” Tambah Charlotte. Fei dan lainnya pun turunke kota di jemput
oleh Philia dan Cecil. “Aku tak percaya ini, beruntung sekali aku masih hidup
untuk menyaksikan keajaiban ini.” Ron berkata kepada Marianne. “Benar Ron, aku
merasa bersyukur sekali, seandainya Jude bisa menyaksikan ini.” Kata Marianne
sedih. Mereka pun berjalan terus menelusuri kota. ** dan Hagel keluar lewat
pintu istana bersama Matt dan Lori. “Istana ini sangat luas aniki, bisa untuk
buat pasukan.” Kata **. “Aku setuju, kita bisa membangun pasukan di sini.” Kata
Matt. “Aku mau menyusul Weny dan Sasa yang masih berkeliling di dalam istana,
mereka mau melihat dapur dan kamar katanya.” Kata Lori kepada Matt. “Iya, hati2
kita tetap harus waspada.” Pesan Matt kepada Lori. Lori pun segera masuk lagi
ke istana dan mencari Weny dan Sasa. Rona tetap berada di ruang singgasana
untuk mempelajari konsol dan mencoba berbagai fitur. Semua pun berpencar
mengelilingi kota dan menyelidiki isi kota tersebut.
__ADS_1