
Saat terbangun aku merasakan sakit diseluruh tubuhku, aku tertidur dikamar hotel tempatku bertemu dengan pemakai jasaku semalam.
Sepertinya pria itu sudah pergi, dia meninggalkan secarik kertas dan dibawahnya terdapat satu amplop yang sangat tebal.
"Aku sangat menyukai servismu semalam, aku pasti akan menghubungimu lagi nanti, cantik."
itulah yang tertulis didalam secarik kertas tersebut.
Aku tersenyum miris saat membacanya lalu menatap lembaran demi lembaran uang yang berwarna merah tersebut. karena mas Davin tidak membiayai hidupku lagi, aku terpaksa menjadi wanita penjajah sekarang
Aku yang hanya lulusan SMA sangat sulit mendapatkan pekerjaan dikota sebesar ini.
aku memang tidak pandai bekerja dari kecil hingga menikah semua kebutuhanku terpenuhi oleh ayahku.
Saat ayahku masih hidup, walaupun kami hidup dalam kesederhanaan ayahku sangat memanjakanku, setiap keinginanku pasti bisa ayahku wujudkan.
Dan saat ayah meminta mas Davin menikahiku, aku seperti memenangkan sebuah lotre, hidupku benar-benar berubah. Mas Davin tidak pernah membatasi keuanganku.
Dan sekarang saat mas Davin menceraikanku, dia hanya memberikan rumah yang kami tempati bersama saat masih menjadi pasangan suami istri. Percuma memiliki rumah sebesar itu jika aku tidak memiliki uang sepeserpun.
Mas Davin benar-benar murka saat mengetahui jika akulah yang melukai Nadira, dia mengambil segalanya dariku termasuk kedua putraku.
Semalam laki-laki itu menggempurku dengan sangat buas, aku benar-benar kelelahan dibuatnya hingga dia pergipun aku tidak menyadarinya.
Aku bersumpah akan membalaskan dendamku terhadap mas Davin Dan Nadira, karena mereka hidupku menderita seperti ini.
Hari ini aku memutuskan berjalan-jalan dimall, saat menjadi istrinya mas Davin aku sering menghamburkan uangnya untuk bersenang-senang, dan kebiasaan itu tidak bisa aku hilangkan sampai saat ini.
****
"apa kamu tidak apa-apa kembali kekota itu Nad?" beberapa kali aku menanyakan hal serupa dengan Nadira.
Aku sudah pernah meminta Nadira untuk mengambil cuti saja, karena kandungannya sudah berusia 7 bulan, tapi Nadira tetap menolaknya. Dia selalu bilang Nanti saja saat telah mendekati lahiran saja.
"Tidak apa-apa Ken, semoga saja disana nanti kita tidak bertemu dengan mas Davin."
__ADS_1
"Kita kembali kesanakan hanya beberapa hari saja, sepertinya tidak masalah."
"maaf ya Nad? Aku harus melibatkan kamu dalam pekerjaan ini."
"Ini memang sudah menjadi tugasku sebagai sekretarismu Ken."
"Aku juga merindukan orangtuaku."
"Jika bukan karena proyek besar seperti ini, aku pasti tidak akan mengajakmu Nad."
ujar kenand.
"Aku benaran tidak apa-apa ken."
"Ya sudah ... Kita berangkat sekarang."
Aku membukakan pintu mobil untuk Nadira, setelah menutupnya aku berjalan kesisi kemudi.
Aku sengaja mengendarai mobil sendiri, aku ingin membuat Nadira aman saat diperjalanan. Seprotektif itukah aku terhadap Nadira.
"Kamu capek Nad? Apa kita istirahat dulu saja."
Aku melihat Nadira membetulkan posisi duduknya, pasti sulit baginya melakukan pergerakan dengan perut yang membuncit seperti itu.
"Tidak Ken, Lanjutkan saja."
"Tapi Nad ..."
"Kenand ... Aku benaran tidak apa-apa."
"Jangan mencemaskanku seperti itu."
"Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan saja."
"Aku pasti akan bilang jika aku ingin beristirahat."
__ADS_1
"Baiklah ... Jangan sungkan untuk mengatakannya."
Aku tersenyum kearah Kenand, aku tidak menyangka dia akan sepeduli itu padaku.
Nadira menyandarkan kepalanya disandaran kursi mobil, dengan memejamkan matanya.
Sepertinya Nadira tertidur, aku memelankan laju mobilku. Aku melirik kearah Nadira, dia sangat cantik saat tertidur, rasanya ada ribuan kupu-kupu yang bertebangan didalam dada ini.
Semakin hari perasaanku semakin bertambah untuk Nadira. Semoga saja mau menerimaku saat dia telah berpisah nanti.
Aku menepuk bahu Nadira saat kami telah sampai, aku membawa Nadira kerumahku.
"Nad ... Kita sudah sampai."
Aku menggeliat, tubuhku sakit semuanya, lalu aku menatap kesekeliling. Tempat ini sangat asing bagiku.
"Kita dimana Ken?"
"Dirumahku." aku turun lebih dahulu, membukakan pintu mobil untuk Nadira.
"Kenapa membawaku kesini?"
"Karena kita melewati rumahku, lebih baik kita beristirahat disini."
"Aku lihat kamu benar-benar kelelahan."
"Baiklah ...
Aku mepersilahkan Nadira masuk, saat sampai diruang tamu aku melihat mama tengah berada disana."
"Assalamualaikum ma."
Wa'alaikumsalam." kok kalian disini, mama terkejut saat melihat kami. Aku memang tidak mengabari mama jika akubakan pulang.
TITIK LELAHKU
__ADS_1
BY : MIKHAYLA92