TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
pertemuan Davin dengan putrinya


__ADS_3

Saat dirumah Reza adalah hari terakhir aku bertemu Kenand, semenjak saat itu Kenand benar-benar menghilang dari hidupku.


Terakhir aku dengar Kenand bersama mamanya pindah keluar negri, dan posisinya diperusahaan digantikan oleh Adit asisten kepercayaannya, aku tetap bekerja diperusahaan yang Kenand pimpin, tetap menjadi seorang sekretaris disana, tapi dengan bos yang berbeda.


Hari-hariku yang selalu diisi oleh Kenand selama ini terasa hampa setelah kepergiannysa, aku baru menyadari jika hatiku sudah diisi oleh lelaki itu, Kenand pergi dengan membawa cintaku.


Reza sudah menceritakan alasan Kenand menghindariku, aku sangat menyayangkan keputusan Kenand, kenapa dia tidak bertanya terlebih dahulu tentang perasaanku, bertanya apa aku akan kembali lagi dengan mas Davin atau tidak.


Lamunanku tersentak saat merasakan tepukan dipundakku.


"Jangan ngelamun? Ntar kesambet loh." ujar Sean.


Setelah kepergian Kenand, Sean sering mengunjugiku disaat jam makan siang seperti sekarang.


Aku tahu tujuan Sean mendekatiku, beberapa kali dia mengungkapkan perasaannya tapi aku menolaknya secara halus, tidak ada yang mampu menggantikan posisi Kenand dihatiku.


Ungkapan perasaan Sean kunggap gurauan, aku tidak pernah menanggapinya dengan serius.


Sean hanya cocok dijadikan sahabat, mengingat kami seusia, dengan kekocakan Sean kami lebih cepat akrab.


Sean duduk dihadapanku, menumpukan kedua tangan didagunya menatap tanpa berkedip kearahku.


"Jangan memggodaku!" Aku melemparkan tisu kewajahnya.


"Aku tidak pernah bosan menatap kamu, Nad! kamu wanita tercantik yang pernah aku temui." Sean tersenyum manis kearahku.


"Aku juga tidak pernah bosan melihat wajah tampan kamu?" aku balas menatap Sean tanpa berkedip.


"Jangan menatapku seperti itu? Kamu mau membuatku tidak tidur malam ini Karena membayangkan wajah cantik kamu."


"gombal." ujarku sambil menyantap makananku.


"Nad, bukankah besok ulang tahunnya Davina? Bagaimana kalau kita membawanya bermain." ungkap Sean.


"Boleh juga! Tapi rame-rame ya?" balasku.


"Enggak ah ... Maunya bertiga biar dibilang keluarga kecil yang bahagia?" Sean nyengir kearahku.


"Sean ... Serius dong?" Aku melototkan mataku.


"Iya-iya ... Kita perginya rame-rame! gitu ajah sewot."


"hihi ... Gitu dong, kalau perginya rame-ramekan seru."


Fikiranku menerawang jauh, coba saja kalau ada Kenand, dia akan menjadi orang yang terdepan disaat perayaan seperti ini, jauh-jauh hari dia pasti sudah sibuk sendiri, kedekatan Kenand dengan Davina membuatku merindukan lelaki itu.

__ADS_1


Benar kata pepatah, istimewanya seseorang memang akan lebih sangat terasa saat dia tidak lagi bersama dia.


Ken, apa kabar kamu disana? Apakah rasamu masih sama dengan rasaku, jujur ... apakah kamu juga merindukanku disana? Bathin Nadira.


"Sean ... Sepertinya jam makan siangku sudah hampir habis, aku akan kembali kekantor!" Nadira melirik arloji di pergelangan tangannya.


"Jangan lupa besok ya?" Ujar Nadira sambil berlari kecil keluar cafe.


Sean hanya tersenyum kecut menatap punggung Nadira.


"Sampai kapan kamu akan menganggap perasaanku hanya candaan, Nad?" gumam Sean.


****


Kami semua sudah berkumpul, kecuali Lisa, dia lagi bermasalah dengan suaminya, nasibnya tidak jauh beda dariku, suaminya ketahuan berselingkuh, dan sekarang Lisa sedang sibuk mengurus perceraiannya.


"Jadi kita akan kemana?" tanya mama.


"Sean ... bukankah kamu yang memberikan ide ini? Jadi kita akan kemana?" tatapan Nadira tertuju menatap Sean.


"Kita ke mall saja, kitakan bisa bermain sepuasnya disana?" jawab Sean seadanya.


"Kamu mau mengajari cucu tante menghamburkan uang sedari kecil, hah?" mama melirik tajam kearah Sean.


Sean nyengir menatap kearah mamaku.


"Jadi kapan berangkatnya?" timpal papa yang sedari tadi hanya diam mendengarkan ocehan kami.


"Sekarang dong, om! Sean membukakan pintu depan untukku dan Davina, mama dan papa duduk dikursi belakang.


Setelah puas membawa Davina bermain, kami memutuskan untuk mencari tempat makan.


Karena Davina tidak ingin digendong, dan meminta diturunkan akhirnya kami berdua tertinggal jauh dari mereka.


Aku mengikuti langkah Davina, yang selalu mengoceh memanggil papa.


Langkahku terhenti saat menatap lelaki yang ditarik-tarik oleh Davina.


"Ma-mas Davin!" ucapku terbata, setelah kepergian Kenand, aku selalu menghindari mas Davin.


Setiap bertemu, mas Davin selalu memintaku kembali, sudah berulang kali aku katakan aku tidak bisa, tapi mas Davin tidak pernah mau mengerti, dia tetap berpegang pada ucapannya untk memperjuangkanku.


"eh ... Sayang! kok kamu sendirian, dimana orangtua, kamu?" Mas Davin berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Davina.


Davina mengulurkan tangannya meminta mas Davin untuk menggendongnya.

__ADS_1


"pa ... Pa-pa ... Suara Davina berceloteh memanggil mas Davin.


Mas Davin menerima uluran tangan kecil Davina lalu menggendongnya


"kenapa kamu sangat mirip dengan seseorang yang sangat aku kenal, gadis kecil?" Mas Davin mencuil hidung mancung Davina.


Davina menduselkan wajahnya kearah dada mas Davin. Apa Davina merasakan kontak bathin dengan papanya? gumamku.


"Apa kamu tersesat, nak?" Davin mengedarkan pandangannya, tanpa sengaja matanya bertemu dengan tatapan Nadira yang terdiam mematung tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Cukup lama Nadira terdiam, dia bingung harus mengatakan apa jika mas Davin menanyakan tentang Davina, apa aku jujur saja soal putri kami, tapi bagaimana jika mas Davin akan merebutnya dariku.


Nadira berperang dengan fikirannya sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk tetap melanjutkan langkahnya menuju tempat mas Davin yang masih menatap kearahnya.


"Nadira ..." panggil mas Davin.


"Berikan kepadaku, mas?" Nadira mengulurkan tangannya, Davina mengoceh memanggilnya mama.


Aku melihat raut kebingungan dari wajah mas Davin, dia bergantian menatapku lalu menatap Davina.


"Siapa anak ini, Nadira?" tanya mas Davin saat Davina sudah berada digendonganku.


"Jangan bilang jika dia ...?" ucap mas Davin menghentikan ucapannya.


"Benar mas, dia putri kita!" jawab Nadira singkat.


"Jadi selama ini kamu membohongi mas, Nad? Apa kamu ingin membalas perbuatan mas dengan cara memisahkan kami?" aku tidak menyangka Nadira bisa menyembunyikan hal sebesar ini dariku.


"Aku tidak pernah berfikiran seperti itu mas! Tapi ya sudahlah mas, sepertinya tidak perlu kita bahas, dan sekarang mas sudah mengetahuinya, kan?"


"Nad ... Segampang itu kamu berbicara seperti itu? andai saja anak ini tidak memanggil mas apakah kamu akan jujur tentang keberadaannya?"


Aku hanya bungkam, tidak ada yang bisa aku katakan, memang benar ... Selama ini aku menyembunyikan kebenaran tentang putri kami.


Mas Davin mengambil kembali Davina yang sudah berada ditanganku, aku tidak menahannya.


Mas Davin menangis memeluk tubuh putrinya, menciumi setiap jengkal wajah Davina.


"Maafkan papa sayang, papa benar-benar tidak tahu jika kamu masih hidup!"


Penyesalan semakin menyusup kesanubariku, semuanya karena kebohonganku dimasa lalu, aku kehilangan orang-orang tercintaku


Aku tidak pernah menyalahkan Nadira, mungkin kekecewaan Nadira atas sikapku membuatnya menyembunyikan putri kami.


"Mas mohon, Nadira! Jangan pisahkan kami lagi? Kita sama-sama mendambakan kehadirannya sejak lama, Nad." mas Davin menyendu dihadapanku.

__ADS_1


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2