
Semenjak mas Davin mengetahui tentang keberadaan putrinya dia semakin gencar mendekatiku, hampir setiap hari dia berkunjung, walau hanya sebentar, dan hubungannya dengan kedua orangtuaku mulai membaik, mama yang selama ini bersikap dingin mulai bisa memaafkan mas Davin.
Bukan berarti mereka menyetujui aku baikan dengan mas Davin, semuanya demi Davina, dan semua keputusan mereka serahkan padaku.
Diakhir pekan, mas Davin sering menjemput Davina membawanya mengunjungi oma dan kakak-kakaknya, dan karena seringnya pertemuan itu membuat kedekatan anak-anak mas Davin dengan Davina semakin dekat, mereka sangat menyayangi adik perempuannya.
Saat akan berangkat kekantor, kulihat mas Davin tengah bermain dengan Davina.
"Nad, berangkat sekarang?" tanya mas Davin, keningku mengkerut, memangnya kenapa jika aku berangkat sekarang, gumamku.
"Iya ... Kenapa ya, mas?"
"Barengan ajah!" ajak mas Davin.
"Tidak usah, mas! Aku bawa mobil sendiri." tolakku, sebenarnya aku tidak suka dengan sikap mas Davin seperti ini
"Kali ini ajah?" pinta mas Davin, aku hanya bisa menghembuskan nafas perlahan.
"Kali ini saja ya, mas? Besok jangan ulangi lagi." yang dibalas dengan anggukan olehnya.
"Ma ... Papa sudah berangkat?"
"Sudah sayang!" balas mama.
"Nadira berangkat ya, ma?" aku mencium punggung mama lalu disusul oleh mas Davin.
"Papa berangkat kerja dulu ya, sayang?" mas Davin mencium kedua pipi putrinya, mama hanya membalas ucapan mas Davin dengan senyuman.
"Assalamualaikum?" ucap kami berbarengan.
"Wa'alaikumsalam." mama ikut mengantar kami sampai kemobil.
Mas Davin melajukan mobilnya kearah kantor Kenand tempatku bekerja, padahal arah tujuan kami berbeda, tapi dia tetap maksa untuk mengantarku.
"Besok tidak usah mengantarku, mas? Tujuan kita berbeda, jika kamu telat bagaimana?" ucap Nadira.
"Sebenarnya sih tidak masalah, telat dikantor sendiri siapa yang berani memarahi."
"Tapi jika kamu keberatan, mas tidak akan memaksa." mas Davin tersenyum sebentar menatapku lalu kembali menatap kearah jalanan, dan akhirnya mobil mas Davin berhenti didepan lobby kantor
"Nanti mas jemput pulangnya!" Mas Davin langsung melajukan mobilnya tanpa mendengarkan jawaban dari mulutku, setelah aku keluar dari mobil, aku hanya bisa menghela nafas.
Bagaimana caranya menjelaskan dengan mas Davin jika aku benar-benar tidak bisa kembali lagi, Nadira memijit pelipisnya.
"Pagi buk Nadira?" ujar Adit saat aku sudah duduk dikursi kerjaku.
"Pagi pak Adit!" ujarku sambil tersenyum kearahnya.
Kudengar ponsel Adit berdering, Adit melirik kearahku sebentar, lalu mengangkat sambungan telpon, aku kembali mengerjakakan pekerjaanku.
__ADS_1
Adit diam-diam mengambil beberapa foto Nadira lalu mengirimkannya kenomor Kenand, sepertinya memantau Nadira sudah menjadi pekerjaan tambahan untuk Adit.
"Nadira sedang bekerja, pak." isi chat Adit.
"Dan sepertinya kamu harus kembali, pak?"
"Maksud kamu apa, dit?" tanya Kenand.
"Sepertinya mantan suami Nadira sudah mulai bergerak, jangan sampai anda terlambat, pak!" ejek Adit.
"Baiklah ... Kasih info tentang mereka, san jangan sampai ada yang terlewatkan." perintah Kenand.
Adit menghembuskan nafas kasar, lebih baik dia menanggung banyak pekerjaan daripada jadi penguntit seperti ini.
pukul 16:30, aku sudah sampai dilobby kantor, dan mas Davin sudah menunggu disamping mobilnya.
"Sore Nad?" tanya mas Davin sambil membukakan pintu mobil untukku.
"Sore ..." aku mendudukkan bokongku dijok mobil dan disusul mas Davin.
Aku melihat kejendela mobil, sebenarnya aku sedikit canggung dimobil yang sama dengan mas Davin, dan semakin hari perasaan cinta yang dahulu menggebu sekarang benar-benar tidak bersisa.
Mobil mas Davin berhenti didepan sebuah tokoh mainan anak-anak, lalu memintaku menemaninya memilihkan beberapa mainan untuk Davina.
"Nad, kita ngopi dulu, boleh?" tanya mas Davin.
Akhirnya mas Davin mengarahkan mobilnya kearah kedai kopi yang tidak jauh lagi dari rumahku.
"Terimakasih ya, Nad?" ucap Davin.
"Sama-sama, mas." aku tersenyum kearah mas Davin.
"Nad, mas ingin mengatakan sesuatu?" ujar mas Davin sambil menarik tanganku lalu menggenggamnya.
"Eh ... Ada apa ya, mas?" aku terkejut dengan perlakuan mas Davin.
"Untuk kali ini mas mohon, fikirkan lagi Nad?"
Aku tahu kemana arah pembicaraan mas Davin, sulit sekali untuk memberi pengertian dengannya.
"Mas ... kamu pasti sudah tahu jawabanku seperti apa?"
"Nad, apa kamu tidak memikirkan anak kita?"
"Kita bisa membesarkannya bersama-sama, dan itu mimpi kita sejak lamakan, Nad?"
Memang benar, dari awal pernikahan kami memimpikan momen seperti itu, tapi allah belum mempercayakan kami untuk memiliki anak waktu itu.
Tapi setelah kami akan memilikinya ujian didalam rumahtangga kami datang bertubi-tubi sehingga membuatku mundur dari pernikahanku sendiri, walaupun banyak yang aku korbankan saat itu, mengorbankan cintaku dan memisahkan putriku dari ayahnya.
__ADS_1
"Maaf mas! Aku sudah memikirkannya, tapi jawabanku tetap sama, aku tidak bisa." aku menggelengkan kepalaku pelan.
"Aku harap kamu bisa mengerti, mas! Cinta tidak bisa dipaksakan." aku menarik kembali tanganku dari genggaman jemari mas Davin.
"Mas sudah berusaha untuk mengerti, Nad! Tapi rasa itu semakin hari semakin bertambah besar, apa yang harus mas lakukan?" ucap Davin tertunduk.
"Mas, aku sudah pernah melewati fase itu, walaupun butuh waktu yang lama tapi aku bisa melewatinya." Nadira mencoba memberikan pengertian selembut mungkin.
"Tidak Nad! Memikirkannya saja hati ini sudah sakit, bagaimana bisa mas berhenti untuk mengharapkan agar kalian kembali.
Nadira sampai kehabisan kata-kata, percuma menjelaskan jawaban mas Davin tetap sama.
"Maaf mas! Aku harus kembali," mas Davin menahan tanganku yang akan melangkah keluar.
"Nadira, kasihanilah mas! Mas beneran tidak bisa hidup tanpa kamu! Kamu adalah rumah untuk mas kembali." ujar mas Davin memelas.
"Mas, mengertilah! Aku tidak bisa menjalani rumah tangga tanpa cinta."
"Aku tidak mencintai kamu lagi, mas!"
"Tapi mas tidak bisa hidup tanpa kamu, Nadira! Sekian lama kita berpisah, seujung kukupun cinta itu tidak pernah berkurang."
"Tapi cintaku yang telah berkurang, mas! Bahkan cinta itu tidak ada lagi sama sekali."
"Kenapa mas tidak mau mengerti aku? Biarkan aku memilih kebahagiaanku sendiri, sudah cukup kamu membuatku terluka, mas." Emosi Nadira mulai tersulut.
"Mas janji, Nad! Setelah ini hanya kebahagiaan yang selalu kamu dapatkan, kamu akan menjadi ratu diistana kecil kita."
"Bukan kebahagiaan seperti itu yang aku inginkan, aku ingin bahagia dengan jalanku sendiri."
"Mas mohon Nad! Kembalilah?" mas Davin berlutut dikakiku.
Aku mengusap wajah kasar, beberapa orang dicafe menatap kearah kami, untung saja suasana cafe tidak begitu ramai.
"Berdirilah, mas! Jangan mempermalukan diri kamu sendiri." Nadira membantu Davin untuk berdiri.
"Kalau demi memperjuangkan cintaku, aku tidak akan malu Nadira, walaupun seisi dunia menatapku."
"Dengar, mas! Beberapa kali aku merenunginya dan mempertimbangkannya, tapi hati ini menolaknya, mas." aku menunjuk kearah dada ini.
"Siapa, nad? Siapa yang telah membuat kamu melupakan cinta pertama kamu?" Davin menatap intens kearah manik Nadira.
Sekali tarikan nafas ... lalu Nadira menjawabnya dengan tegas.
"Kenand ... Kenand yang telah membuatku melupakan cinta pertamaku."
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92
__ADS_1