
Setelah melewati serangkaian proses persidangan beberapa bulan akhirnya hakim menyatakan kami resmi bercerai.
Mas Davin memegang ucapannya, dia benar-benar melepaskanku. Akhirnya perpisahan ini datang juga.
Perpisahan seperti inikan yang kamu inginkan, tapi kenapa kamu tidak bahagia Nadira, hati kecilku berkata.
Ada rasa sesak saat hakim memutuskannya, airmataku jatuh tanpa bisa kucegah, Lisa menggenggam erat jemariku memberikanku kekuatan agar aku tetap tegar.
"Kamu pasti kuat." ujar Lisa saat kami keluar dari ruang persidangan.
"Iya, Lis ... Aku baik-baik saja." jawab Nadira.
"Nadira! Kami menoleh kearah suara yang sedang memanggil namaku.
Davin melangkahkan kakinya kearah Nadira dan Lisa.
"Aku kemobil duluan." ujar Lisa, lalu meninggalkan kami berdua.
"Maukah kamu pergi bersama, mas?" ucap mas Davin.
Aku mengerutkan keningku, "Kemana, Mas?"
Belum sempat mas Davin memberitahukan keinginannya, Kenand datang menghampiri kami.
"Kamu!" Davin terkejut dengan kehadiran Kenand.
"Mau apa kamu disini?" Apa mungkin ini rencana Kenand, dulu dia pernah bersumpah akan memisahkan kami.
"Maaf, Dav! Aku disini bukan untuk mencari keributan." jawab Kenand.
ciiiih ...
"tidak usah sok bijak kamu, Kenand."
"Apa ini rencanamu? Davin menatap penuh Amarah.
"Nad, apa ini rencanaku?" Kenand mengembalikan pertanyaanku kepada Nadira.
"Kenapa kamu malah mempertanyakannya dengan Nadira!" Sepertinya persahabatan kami memang benar-benar telah berakhir.
Kenand menusukku dari belakang, dia tahu bahwa aku sangat mencintai Nadira, tapi dia tetap saja gencar untuk mendekatinya.
Meskipun selama ini kami tidak saling sapa, aku fikir suatu saat kami bisa memperbaiki persahabatan kami lagi, ternyata itu semua tidak akan pernah bisa.
"Sudah ... Tidak ada yang perlu diperdebatkan." Jika tidak dihentikan mereka pasti akan membuat keributan disini, bathin Nadira.
"Ayo kita pergi!" Kenand menggenggam jemariku.
"Nad, Apa kamu tidak bisa pergi bersama dengan, mas?" mas Davin ikut meraih jemariku.
Aku bergantian menatap dua lelaki dihadapanku, lalu melepaskan genggaman tanganku dari tangan mereka.
"Aku akan pergi bersama Lisa!" Aku meninggalkan mereka berdua disana, semoga saja mereka tidak membuat keributan disana, dan aku langsung meminta Lisa membawaku pulang kerumah.
Saat Davin akan mengejar Nadira, Kenand menahannya.
__ADS_1
"Biarkan dia menenangkan diri." Kenand menahan pundakku.
Aku menepiskan tangan Kenand yang berada dipundakku.
"Kamu tidak perlu ikut campur urusanku, Ken." aku menatap tajam kearah Kenand.
Aku tetap membiarkan Nadira pergi, aku takut Nadira akan menjauh dengan sikapku yang terkesan memaksa.
"Dav, aku ingin bicara?" Kenand membuka pembicaraan setelah kepergian Nadira.
"Apa masih ada yang perlu kita bicarakan?" Davin melipat kedua tangannya didada.
"Aku hanya ingin meluruskan kesalahpahaman ini, perceraian kalian murni keputusan Nadira, tidak ada ikut campur tanganku disana." Kenand mencoba menjelaskan.
"Mungkin memang murni keputusan Nadira, tapi kamu memanfaatkan kesempatan ini untuk merebut Nadira dariku, kan?"
"Tidak seperti itu, Dav!"
"Dari awal aku hanya ingin membantu Nadira lepas dari lelaki egois sepertimu, tidak ada niatku untuk merebutnya darimu, jika tujuanku hanya itu, dari dulu pasti sudah kulakukan."
Aku tidak ingin dendam ini berlarut-larut, Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri jika aku akan melupakan dendamku dan meminta maaf atas kesalahan yang telah aku perbuat.
Jika bukan karena campur tanganku menyembunyikan Nadira, mungkin mereka masih bertahan sampai saat ini
"Jujur aku memang mencintai Nadira, tapi saat dia masih berstatuskan istrimu aku tidak pernah ingin merebutnya darimu."
"Maaf, jika aku juga mencintainya." ujar Kenand dengan suara yang lirih.
"Sudah kuduga, dari awal kamu sudah mencintainya. apa kamu sadar, kamu mencintai istri sahabatmu sendiri?"
"Dav ... Aku minta maaf atas masa lalu kita, tidak seharusnya aku menyalahkanmu atas kematian adikku."
"Dan maaf ... Jika aku mencintai Nadira." ucapku lirih.
"Tidak semudah itu memaafkan, ken!"
"Jika kamu mau aku maafkan, maka berhentilah untuk mendekati Nadira." ungkap Davin.
"Maaf ... kalau untuk itu aku tidak bisa, Dav."
"Ya sudah ... Selamanya tidak ada lagi yang namanya persahabatan diantara kita."
"Aku tidak akan menyerah, aku akan mendapatkan kembali cinta Nadira." Davin pergi meninggalkan Kenand.
Maafkan aku Dav, aku juga tidak akan menyerah untuk mendapatkan Nadira.
****
"Sean ... ?" Aku melihat Sean tengah berada dirumahku setelah Lisa mengantarku kembali dari persidangan.
"Hai, Nad ... Maaf jika aku tidak memberi tahumu akam kemari?" Aku berjalan kearah Sean dan duduk disofa depannya.
"Tidak apa-apa!" Mama datang menghampiri kami dengan menggendong Davina.
"Kamu sudah kembali, Nad?" ujar mama lalu menyerahkannya padaku.
__ADS_1
"Temanmu sedari tadi menunggu?"
"Mama sudah memintanya untuk menghubungimu tapi dia bilang dia akan menunggu sampai kamu kembali." jelas mama.
"Seharusnya kamu menghubungiku!" aku menatap kearah Kenand.
"Tidak masalah, Nad ... Lagian aku juga tidak terlalu sibuk hari ini." balas Sean.
"Siapa bayi ini, Nad? Adikmu?" tukas Sean.
"Bukan ... Dia putriku!" jawab Nadira.
"Pu-putri mu?" ucap Sean terbata.
"Jadi kamu sudah bersuami?" Sean menatapku penuh tanya.
Aku tersenyum kearah Sean.
"Iya ... Ini putriku! Namanya Davina."
"Aku memang sudah menikah, tapi sekarang kami sudah berpisah." ujar Nadira menjelaskan.
Ah ... Syukurlah, jika Nadira masih bersuami pupus sudah harapanku untuk mendekatinya, bathin Sean.
"Oh ... Begitu! Aku hanya mangut-mangut mendengar penjelasan dari Nadira.
"Putrimu sangat cantik, sama seperti ibunya?" ujar sean.
"Terimakasih, om? Dan om juga sangat tampan." balas Nadira dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.
Davina tertawa menatap kearah Sean,
"Duhhhh ... Kok ngegemisin sih!" Sean memegang kedua pipi Davina.
Davina terus saja mengoceh, membuat Sean semakin gemas melihatnya.
"Jadi berapa usianya?" tanya Sean.
"Tujuh bulan," Davina mengulurkan tangannya kearah Sean.
"Kamu ingin digendong, om ya?" Lalu sean mengambilnya dari pangkuanku.
Aku tersenyum melihatnya, Sean sangat cepat mengakrabkan dirinya denganku, aku seperti sudah kenal lama dengannya.
"Sean ... ?" Pandangan kami teralihkan kearah suara yang memanggil nama sean.
"Kamu kenapa bisa disini, ujar Kenand.
"Pak Kenand kenapa juga ada disini?" Sean balik bertanya.
Apa-apaan nih sih sean, aku tidak akan membiarkanmu mendekati Nadira, ternyata sainganku bertambah satu lagi.
Lalu apa itu, apa dia mencoba mendekati Davina. Enak saja, hanya aku yang akan menjadi daddy nya Davina, bathin Kenand dengan rasa jengkelnya.
TITIK LELAHKU
__ADS_1
BY : MIKHAYLA92