
"James ... Kenapa akhir-akhir ini kamu sangat sulit ditemui?" Aku menunggu James didepan apartemennya.
"Aku sibuk, Vania!" James membuka pintu apartemen miliknya, lalu aku mengekori dibelakang James.
"Benarkah?" Aku menautkan kedua alisku.
"Tapi yang aku lihat kamu seperti sedang menghindariku." aku melangkah kearah James yang tengah mendudukan tubuhnya disofa lalu aku duduk diatas pangkuannya.
"Itu hanya perasaan kamu saja, Vania!" kenapa aku tidak bergairah lagi saat didekat Vania.
"Aku tidak bodoh James! Biasanya kamu tidak seperti ini." sambil mengalungkan tanganku dileher James.
James mencium sekilas bibirku, hanya sebentar lalu dia menurunkanku dari pangkuannya.
"Ak lelah, Van! Sebaiknya kamu pulang saja." James bersikap dingin terhadap Vania.
James ...?" aku menatap sendu kearahnya.
"Vania ... pulanglah!" James melirik tidak suka dengan sikapku, dia langsung berdiri dan berjalan kearah pintu.
"Oke ... Aku akan pulang! Tapi aku butuh bantuanmu lagi kali ini."
"Kamu ingat wanita yang bersama Kenand waktu diacara pesta kemarin?" ujar Vania.
Apa yang Vania maksud sekretaris Kenand? aku sangat tertarik dengan pembahasan ini, aku kembali mendudukan bokongku disofa.
"Maksud kamu sekretaris Kenand?" aku menatap kearah vania yang sedang duduk disebelahku.
"Iya ... Nadira!" Menyebut namanya saja darahku sudah mendidih.
"Kamu mengenalnya?" Keningku mengkerut.
"bukan kenal lagi, tapi sangat-sangat kenal!" gigiku gemeratuk menahan amarah.
"oh ... Ya, apa dia temanmu? Tapi kalian seperti tidak saling mengenali waktu itu." aku menatap heran kearah Vania.
"Mana sudi aku berteman dengan wanita yang sudah meenghancurkan pernikahanku." geram Vania.
Aku menaikkan sebelah alisku, "Maksud kamu Nadira istri mantan suamimu?" aku semakin bingung dengan arah pembicaraan Vania.
"benar ... dialah yang menyebabkan pernikahanku kandas, mas Davin menceraikanku demi wanita itu!"
Rasanya aku tidak percaya jika wanita seperti Nadira menjadi seorang pelakor.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Aku menatap Vania yang sedang berusaha menahan emosinya.
"Aku ingin kamu membantuku membalaskan dendamku kepada wanita itu." Vania menatapku dengan tatapan memohon.
"Hanya itu?"
"Iya ... Aku ingin kamu membuatnya menderita." ujar Vania.
"Baiklah ..." untuk saat ini aku akan mengiyakan saja permintaan Vania, aku akan mencari tahu terlebih dahulu tentang mereka, aku masih tidak yakin jika Nadira adalah seorang pelakor.
__ADS_1
"Apakah dia masih bersama dengan mantan suamimu?"
"Terakhir yang aku dengar mereka akan berpisah!" Vania melirik kearahku.
"Kenapa waktu diacara kemarin kamu selalu melirik kearah wanita itu? apa kamu tertarik dengannya, James?"
"Sepertinya aku tidak perlu menjawabnya."
"Kamu harus tahu batasanmu Vania! Urusan pribadiku jangan pernah sekali-sekali kamu mempertanyakannya." Aku menatap kesal Vania.
"Kamu kenapa berubah, James?"
"Biasanya kamu selalu memanjakanku, tapi sekarang apa? kamu tidak menyukaiku lagi?"
Jika benar James sudah tidak tertarik lagi denganku, bagaimana aku akan melanjutkan hidupku nanti, James kan ATM berjalanku, aku harus melakukan sesuatu agar James tidak meninggalkanku.
"Maaf ... Jika pertanyaanku menyingungmu?" Aku menautkan jemari James kejemariku.
"Untuk kali ini aku maafkan? Jangan pernah mengulang kesalahan yang sama."
Aku mengangguk menanggapi ucapan James, jika bukan karena uangnya mana mau aku diperlakukan seperti ini, aku tidak mau menjadi wanita penghibur lagi.
"Sekarang kamu pulanglah." James meninggalkanku dan masuk kedalam kamarnya.
"Jangan lupa tutup kembali pintunya, Vania." sebelum dia benar-benar masuk kekamarnya.
Aaaahhhhh ...
Aku berteriak sambil membanting setir mobilku, setelah aku keluar dari apartemen James.
kenapa setiap pria yang dekat denganku selalu menyukai wanita itu.
Aku benar-benar sudah muak denganmu Nadira ... Teriakku frustasi.
Saat aku keluar dari halaman apartemen James, aku melihat mobil mas Davin melaju kearah rumah mamanya.
Aku mengikuti mobil mas Davin, aku merindukan putraku, mas Davin benar-benar menjauhkan mereka dari ibu kandungnya.
Mobil mas Davin berbelok memasuki halaman rumah nan super luas dan bangunan yang megah. ya ... Rumah ini adalah rumah mantan mertuaku jika bukan karena Nadira aku akan tetap menjadi menantu pratama.
Aku memarkirkan mobilku tidak jauh dari mobil mas Davin, aku berlari medekat kearahnya.
"Mas Davin ..." Aku meraih tangan mas Davin yang akan memasuki rumah.
"Vania ...!" mas Davin langsung menyentak tanganku.
"Apa yang kamu lakukan disini?" ujar mas Davin.
"Aku ingin bertemu dengan anak-anak, mas?"
"Aku mohon izinkan aku bertemu mereka, sebentar saja mas?"
"Ternyata kamu masih berani menemuiku, Vania? Belum cukup pelajaran yang aku berikan kemarin?" Aku menatap sinis kearah Vania.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bertemu mereka sebentar mas, setelah itu aku akan pergi."
"Apa kamu tidak pernah memikirkan sedikitpun mas, akulah yang menemani selama sebelas tahun, dan akulah wanita yang telah melahirkan keturunanmu."
"Tidak usah merasa terdzalimi Vania, jika kamu ibu yang baik kamu pasti merawat mereka sejak lahir, tapi apa? Kamu menyerahkan tugasmu kepada Art.
"Dan untuk sebelas tahunnya, tetimakasih sudah berdiri disampingkku selama sebelas tahun, tapi semua itu sepadan dengan yang aku berikan kepadamu selama ini."
"Sudahlah ... Jalani hidup kita masing-masing, jika kamu masih mengusik ketenanganku, aku akan berbuat hal yang lebih buruk dari kemarin."
"Mama ...!" aku mengalihkan tatapanku kearah pintu rumah, ternyata kedua putraku.
"Raffa, Raffi ... Ibu merindukan kalian." ujarku, dan langsung menghamburkan diri kepelukan kedua putraku.
"Mama, Raffi rindu mama? Kenapa mama baru datang sekarang?" ujar Rafi putra bungsuku.
"Papa bilang mama sangat sibuk, jika tidak sibuk lagi mama pasti akan menemui kami kesini." aku melirik kearah mas Davin, aku fikir dia akan menjelekkanku didepan anak-anak, tetapi ternyata tidak.
"Iya sayang ... Maaf mama baru bisa mengunjungi kalian sekarang." aku memegang pipi kedua putraku.
"Mas, izinkan aku menghabiskan waktuku dengan mereka , hari ini saja?" aku sengaja berbicara didepan anak-anak.
"Papa, kami ingin bermain dengan mama." rengek Raffi.
"Kami merindukan mama, pa?" ujar raffa putra sulungku, dia sudah besar sekarang sudah lebih bijak dalam berbicara.
"Baiklah ... Papa akan ikut!" aku tidak ingim Vania berbicara hal-hal buruk dengan kedua putraku.
Seringaian tercetak dibibir Vania, sudahku duga mas Davin tidak akan menolak permintaan anak-anak. Bathin Vania.
Aku memang masih sangat mencintai mas Davin, jika begini membuatku terus bertemu dengan mas Davin, aku akan mencari cara agar anak-anak berpihak padaku.
"Ayo ... Pakai mobil papa saja."
"sebelum itu, izin dulu sama oma!" ujar Davin.
Aku melangkah kearah ibuku yang sedari tadi hanya diam didepan pintu, entah apa yang difikirkan beliau saat ini.
"Ma, Davin bawa anak-anak bermain dulu ya?"
iya Vin ... Hati-hati." mama tidak menanyakan apa-apa perihal Vania.
"Oma ... !" Raffi berlari memeluk omanya.
"Raffi mau jalan-jalan dulu sama papa, sama mama, oma!" ujar Raffi yang bergelayut dilengan mama.
"Iya, sayang? Jangan bandel ya?" mama mencubit pipi Raffi.
"Assalamualaikum, oma?" ujar Raffa dan Raffi.
"Wa'alaikumsalam, cucu-cucu oma." seraya melambaikan tangannya saat anak-anak sudah berada didalm mobil.
Aku hanya diam saat Vania duduk disebelahku, ingin protespun tidak mungkin didepan anak-anak.
__ADS_1
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92