TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
merelakan


__ADS_3

ting ...


Satu pesan masuk diaplikasi yang berwarna hijau diponselku, mas Davin mengirimiku pesan.


Nad, malam ini bisa bertemu? Ada yang ingin mas bicarakan." isi pesan mas Davin.


"Kerumah saja mas." balasku.


"Iya, mas akan kerumah." isi pesan mas Davin berikutnya.


"Iya ..." Setelah itu tidak ada balasan lagi. aku menatap jam dinakas, masih pukul 18:30 malam.


"Sayang, ada kiriman untuk kamu?" mama menghampiriku dengan seikat bunga lili ditangannya dan satu buah coklat, aku sudah tahu siapa pengirimnya.


Hampir setiap hari Kenand mengirimi hal-hal seperti ini, kadang bunga, coklat, bahkan terkadang berbagai macam aksesoris rambut.


"Terimakasih ma?" aku mengambil bunga dan coklat dari tangan mama.


Mama mengusap pucuk kepalaku, lalu menatap kearah bunga yang sudah berpindah ketanganku.


"Dari Kenand lagi?" tanya mama.


"Hmm ..." aku tersipu didepan mama.


Mama tersenyum menatap tingkahku yang seperti ini, tapi aku benar-benar malu karena hampir setiap hari mama yang menerima kiriman dari Kenand.


"Mama senang melihat kamu bahagia seperti ini, nak?" mama merangkul tubuhku.


"Tetap seperti ini ya, sayang?" ujar mama, setelah itu mencium kening ini.


"Iya ma! aku akan tetap seperti ini." aku memeluk tubuh wanita yang telah melahirkanku.


Sedangkan Davin setelah membaca pesan balasan dari Nadira, dia langsung tancap gas ketempat tujuan.


Saat sampai dikediaman ibu dari anaknya tersebut, Davib disambut oleh papanya Nadira yang sedang bersantai diteras rumah.


"Assalamualaikum, pa?" Davin menyalami mantan papa mertuanya.


"Wa'alaikumsalam, Nak!" jawab papa.


"Masuk Vin." ajak papa, aku mengikuti langkahnya masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Diruang tengah kulihat mama dan Nadira tengah menemani davina bermain.


"Papa ..." Davina melambaikan tangannya, gegas dia langsung berdiri lalu menyalami punggung tanganku.


"Pintarnya anak papa?" ujar Davin sambil mencium pucuk kepala putrinya.


"Coba lihat apa yang papa bawa?" Davin mengulurkan sebuah boneka kearah Davina.


"Maacih papa!" gadis kecil itu tertawa riang mendapatkan sebuah mainan baru dari papanya.


"Duduk, mas! Pinta Nadira, yang dibalas dengan anggukan oleh Davin.


Cukup lama berbincang dengan papa dan mamanya Nadira, Davin mencoba mengutarakan maksud kedatangannya kemari.


"Pa, Ma! Boleh izinkan aku mengajak Nadira keluar sebentar?" ucap Davin.


Mama dan papa melirik kearahku, aku menganggukan kepala pelan kearah mereka.


"Boleh ... Tapi pulangnya jangan malam ya?" ujar papa.


"Iya pa, cuma sebentar." jawab Davin.


Setelah berpamitan dengan kedua orangtuaku, Mas Davin mengajakku ketempat yang biasa kami kunjungi saat masih bersama.


"Tentu mas, ini adalah tempat favorit kita dulu." ungkap Nadira.


"Oh iya ... Katanya ada yang ingin dibicarakan?" aku mengalihkan pembicaraan kami, jika diladeni, mas Davin akan mengungkit kisah lama, Dan aku tidak ingin mengingat lukaku kembali, luka itu perlahan-lahan mulai sembuh dengan kehadiran Kenand dihidupku.


"Ah ... Iya! Mas ingin menanyakan ..." ucapan Davin langsung terhenti saat melihat Kenand berjalan kearah mereka, Nadira mengikuti arah tatapan Davin.


Senyum Nadira langsung mengembang, tanpa Davin sadari ternyata Nadira mengirimkan pesan singkat keponsel Kenand.


Nadira takut kejadian saat Davin ingin menodainya waktu itu terulang lagi, Nadira takut Davin tidak bisa mengontrol emosinya saat dia mengatakan tentang hubungannya dengan Kenand.


Dan Nadira juga ingin menjaga hati Kenand, dia tidak ingin pertemuannya dengan Davin malam ini menjadi bomerang untuk huungannya kedepan.


"Sudah lama?" tanya Kenand sambil menarik kursi dan duduk tepat disamping Nadira yang berhadapan langsung dengan Davin.


Davin berusaha menyimpan rasa kesal dan cemburunya, apalagi melihat posisi duduk mereka yang tidak memiliki jarak sedikitpun.


"Barusan!" balas Nadira.

__ADS_1


"Mas ..." Nadira menatap kearah Davin.


"Kami berdua juga ada yang ingin disampaikan! Ujar Nadira menatap kearah Kenand sekilas lalu kembali menatap kearah Davin.


"Tapi ... Karena mas yang lebih dulu ingin bertanya! Mas boleh menanyakannya sekarang." pinta Nadira.


"Ehm ...


"Sebelum memulai pertanyaannya, Davin berusaha menetralisirkan fikirannya, jangan sampai dia terbawa emosi.


Sebenarnya Davin sudah menemukan jawabannya, tapi dia ingin mendengarkan secara langsung dari mulut Nadira.


"Jadi ... Apa hubungan kalian?" cicit Davin, walaupun Davin mengucapkannya dengan sangat pelan, tapi dua orang yang berada dihadapannya tersebut bisa mendengar ucapannya dengan jelas.


"Hubungan kami? Sepertinya tidak perlu dijelaskan, mas! Kamu pasti bisa menilainya sendiri." jawab Nadira, dan jawaban itu sukses membuat jantung Davin berpacu dengan cepat.


Walaupun sudah mengetahui jawabannya, tapi Hati ini masih saja sakit," Tahan Davin, kamu pasti bisa." bathin Davin.


"Aku harap mas bisa mengikhlaskanku, hubungan kita memang tidak bisa diperbaiki lagi." Kenand menggengam jemari Nadira, memberi kekuatan melalui genggaman itu, jika dia tidak sendiri.


"Kamu tenang saja Nad! mas sudah mengikhlaskan kamu, semoga Kenand benar-benar tulus mencintai kamu." balas Davin dengan dada yang masih bergemuruh hebat.


Secepat itukah Davin merubah pemikirannya? Bukankah baru kemarin dia mengatakan tidak akan pernah mundur untuk merebut kembali Nadira dariku? Walaupun Kenand belum bida percaya dengan ucapan Davin, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.


"Kamu serius, mas? Tanya Nadira lagi, Nadirapun sama terkejutnya, Davin berubah begitu cepat, ucapan Davin masih terekam jelas diingatan Nadira, Davin yang memohon-mohon agar diberikan kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki hubungan mereka.


Tapi sekarang? Davin mengatakan jika dia telah mengikhlaskannya berbahagia dengan lelaki pilihannys,, tentu saja menjadi tanda tanya besar diotak Nadira.


Tapi Nadira mencoba berfikiran positif, mungkin Davin sudah lelah, jadi dia memilih mundur dan mengikhlaskan Nadira bahagia bersama lelaki pilihannya.


"Benar, Nad! Jika kebahagiaan kamu bersama Kenand, mas akan belajar merelakan kamu, melihat kamu bahagia saja sudah membuat mas ikut bahagia." Davin menampilkan wajah sedihnya.


"Mas juga tidak ingin memaksamu lagi, mas baru menyadari jika selama ini mas sangat egois dan tidak pernah memikirkan kebahagiaanmu?" Davin beralih menatap Kenand.


"Aku titip Nadira, Ken?Jangan pernah sakiti dia seperti aku yang pernah menyakitinya dahulu." Davin mengusap embun yang ada disudut matanya.


"Tolong jaga dia dan cintai dia dengan segenap hatimu! Jangan biarkan dia meneteskan setetes air mata sedikitpun cukup saat bersamaku dulu dia merasakan luka, asalkan bersamamu sekarang tidak."


Ucapan Davin benar-benar membuat Nadira terharu.


TITIK LELAHKU

__ADS_1


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2