
Hari demi hari ...
Vania menjalani kehidupannya sendirian, biasanya dia hidup ditengah hiruk pikuk para santri, tapi sekarang Vania benar-benar sendiri.
hingga saat ini Davin masih sangat membencinya, dia akan bertemu dengan kedua putranya jika Davin sedang dikantor dan mama lah yang membawa mereka kebutik.
Ya ... Mama memberikanku pekerjaan, menjadi pegawai dibutik miliknya, dan pasti tanpa sepengetahuan mas Davin, entah apa yang akan terjadi jika dia tahu kalau mama membantuku.
Dizaman sekarang sangat susah mencari pekerjaan apalagi dengan lulusan SMA sepertiku, dan mama langsung mengulurkan tangannya dengan memberikanku pekerjaan.
Aku meminta mama untuk tidak memberitahukan mas Davin, aku tidak ingin membuat ibu dan anak tersebut terlibat perdebatan lagi dan lagi hanya karena wanita pendosa sepertiku.
Lamunanku tersentak kala gawai disaku bajuku berdering.
"Assalamualaikum, ma?" ucapku saat melihat nama yang tertera diasana.
"Nak ... Kamu siap-siap, sebentar lagi mama bersama anak-anak akan menjemputmu." balas wanita parih baya tersebut.
"Tapi ma ... jam kerjaku belum selesai." balasku, aku hanya tidak ingin mama membedakanku dengan pegawainya yang lain.
"Tidak apa-apa Vania, kasian anak-anak sedari tadi ingin sekali mengajak kamu ikut bermain bersama mereka." pinta mama.
"Baiklah ma, aku akan ganti pakaian dulu." ujar Vania tidak bisa menolak, sambungan telponpun terputus.
Beberapa menit kemudian, mama bersama anak-anakku sudah sampai dibutik.
Kami bermain sepuasnya, anak-anakku memintaku untuk menemani mereka bermain mandi bola dan mama memilih tempat duduk yang tidak jauh dari kami.
"Kak Daffa ..." atensiku teralihkan saat mendengar suara gadis kecil memanggil nama putraku, keningku mengkerut saat anak tersebut sudah berdiri dihadapan kami, kenapa wajahnya sangat tidak asing, gumamku.
Belum sempat aku berucap seseorang datang menghampiri gadis tersebut dan benar wajah anak ini benar-benar mirip mas Davin tepatnya perpaduan wajah Mas Davin dan Nadira.
"Na-Nadira ..." ucapku terbata, aku tidak menyangka akan bertemu dengannya disini, sebenarnya aku memang ingin menemuinya tapi hingga sampai saat ini aku masih belum berani untuk meminta maaf secara langsung, dan pastinya Nadira pasti sangat membenciku.
Ternyata dugaanku salah, wanita yang dulunya berulang kali aku celakai tersenyum lebar kearahku.
"Mbak Vania!" Nadira sedikit terkejut saat menatap wanita berhijab dihadapannya.
"Masya allah ... Ini benar-benar mbak?" tanya Nadira tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
__ADS_1
"I-iya ... Ini aku." balas Vania masih dengan suara terbata.
"Kamu apa kabar mbak?" tanya Nadira.
"Kamu ... Kamu tidak membenciku, Nad?" tanya Vania, entah terbuat dari apa hati wanita cantik yang berada dihadapannya saat ini, sehingga tidak mengingat kejahatan apa yang telah ia perbuat waktu itu.
"Kamu ngomong apa, mbak? Itu hanya masa lalu, jangan kita bahas lagi." balas Nadira dengan senyuman merkah dibibirnya.
"Tapi Nad! A-aku tidak bisa melupakannya begitu saja, aku melukaimu berulangkali, dan terakhir aku bahkan ingin melecehkanmu." ucap Vania tertunduk.
"Shht ... Tidak usah kita bahas lagi." Nadira menggeleng cepat.
"Biarkan anak-anak bermain, kita mengobrol disana saja." ajak Nadira, mereka memilih duduk dipinggiran tempat permainan.
"Tapi Nad ... A-aku benar-benar minta maaf karena dosa yang aku perbuat terhadapmu terlalu banyak." ujar Vania masih dengan wajah tertunduk.
"Aku sudah memaafkan kamu, mbak! masa lalu biarlah menjadi masa lalu, dan aku ikut senang melihat mbak telah menyadari kesalahan-kesalahan yang telah mbak perbuat." Nadira mengusap pundak Vania.
"Terimakasih, Nad ..." ucap Vania, dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, Vania hanya bisa terisak.
"Sudah ... sekarang mari kita berteman, mbak boleh menganggapku seperti saudara mbak snediri." balas Nadira mengusap pundak Vania.
"Jadi gadis kecil itu anak kamu bersama mas Davin?" tanya Vania memastikan.
"Iya ... namanya Davina." jawab Nadira.
"Dia sangat cantik, sama seperti ibunya." balas Vania sambil tersenyum.
"Terimakasih mbak." Nadira membalas senyuman Vania.
Bagi Nadira tidak ada gunanya jika dia terus-menerus membenci Vania, jika wanita itu benar-benar telah menyesali perbuatannya kenapa tidak, setiap manusia pasti pernah khilaf.
"Sayang ... Kamu disini?" tanya Kenand menghampiri istrinya.
"Ka-kamu ..." tunjuk Kenand saat tahu siapa yang sedang mengobrol dengan istrinya.
"Jangan pernah dekati istriku." Kenand langsung menarik tangan Nadira lalu langsung menggandengnya.
"Mas ... Kamu tenang dulu! Mbak Vania hanya ingin meminta maaf?" Nadira mencoba menenangkan suaminya.
__ADS_1
"Dan kamu percaya dengan ucapan wanita ular seperti dia?" Kenand menatap tajam kearah Vania yang hanya tertunduk dan tidak berani menatap pasangan yang berada dihadapannya.
"Apa salahnya mas, aku tidak mungkin membenci mbak Vania, dan akan sangat berdosa jika aku tidak memberikan maafku untuk orang yang benar-benar telah menyesali perbuatannya." Ujar Nadira menjelaskan.
"Sudahlah ... Sebaiknya kita pulang." timpal Kenand, karena dia tidak ingin berdebat dengan istrinya, Kenand tidak ingin membuat Nadira banyak fikiran.
"Tapi Davina masih ingin bermain, mas?" tunjuk Nadira kearah anaknya yang masih sibuk bermain.
"Ya sudah ... Kita tunggu sebentar lagi." ucap Kenand mulai melunak.
"Mas ...?" panggil Nadira, dia menatap kemanik suaminya, dan Kenand tahu apa arti tatapan itu, lalu beralih menatap Vania yang masih tertunduk.
"Vania ...?" panggil Kenand, walaupun hati kecilnya mengumpat wanita yang ada dihadapannya saat ini tapi Kenand tidak ingin mengecewakan Nadira dan dia akan mengikuti kemauan istri tercintanya ini.
Perlahan Vania mendongakkan wajahnya menatap sepasang suami istri yang berada dihadapannya.
"I-iya ..." jawab Vania gugup.
"Untuk saat ini aku akan mengikuti apa yang diucapkn oleh istriku, tapi ingat ..." Kenand menjeda sebentar ucapannya.
"Jika ini hanya manifulasi kamu untuk balas dendam, aku tidak akan membiarkan kamu hidup lebih lama." kecam Kenand.
"Mas ..." Nadira sedikit meninggikan suaranya, dia tidak habis fikir suaminya akan berfikiran sejauh itu.
"Ini demi keselamatan kita semua sayang ... Terutama kamu? Kamu lupa bahwa incarannya selama ini adalah kamu?" Kenand menatap dalam manik istrinya agar dia paham maksud ucapannya dan tidak mudah terpedaya dengan tampang polos Vania.
"Mas ... Aku yakin jika mbak Vania benar-benar telah berubah, percaya padaku?" pinta Nadira.
Kenand menghela nafas, lalu tersenyum menatap wajah istrinya.
"Baiklah ... Aku akan mempercayai kamu." balas Kenand melunak lalu kembali menatap Vania yang tetap membisu ditempatnya.
"Aku harap kamu benar-benar telah berubah Vania." ucap Kenand.
"Aku janji ... Aku tidak akan mengulangi kesalahan seperti itu lagi." jawab Vania lega, setidaknya Kenand dan Nadira sudah berusaha untuk memaafkannya.
Akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang bersama dan menghampiri ibu Davin yang tidak jauh dari tempat mereka, seperti wanita paruh baya itu memberikan ruang untuk Vania meminta maaf kepada sepasang suami istri tersebut.
TITIK LELAHKU
__ADS_1
BY : MIKHAYLA92