
Mas Davin membebaskanku sebelum masa tahanananku habis, aku tidak tahu apa alasannya, entah karena aku ibu dari anak-anaknya atau ada alasan lain aku tidak mengerti kenapa dia mencabut tuntutannya. terakhir aku mendengar dia pergi jauh setelah pernikahan Nadira.
Setelah bebas aku memutuskan mengabdikan diriku disebuah pesantren ditanah kelahiran ayahku, aku mengatakan yang sejujurnya kepada pemilik pesantren ini apa tujuanku datang kemari, dan siapa aku yang sebenarnya tanpa menutupi sedikitpun dosa-dosa yang telah aku perbuat, dan aku bersyukur mereka menyambutku dengan tangan terbuka.
aku benar-benar telah menyesali semua perbuatanku terutama terhadap Nadira.
Beberapa bulan tinggal disini membuatku sedikit demi sedikit mengerti tentang ilmu agama dan aku mulai berhijrah menutup auratku, dan aku masih beruntung dipertemukan dengan orang-orang yang begitu baik disini mereka dengan sabar mengajariku yang sangat awam dengan ilmu-ilmu agama.
Suatu malam, wanita yang biasa kami panggil dengan sebutan ummi, dia adalah istri dari pemilik pesantren ini, ummi berkunjung kekamarku.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, aku baru mengerti apa tujuan kedatangan ummi kemari, umi ingin aku ta'aruf dengan keponakannya yang juga mengajar dipesantren ini.
Aku sebenarnya ingin menolak, tapi menginggat kebaikkan ummi selama aku disini aku sampai tidak enak hati untuk menolak permintaannya dan akhirnya aku mengiyakan.
Setelah melewati proses ta'aruf akhirnya kami resmi menikah tapi pernikahan kami tidak bertahan lama, karena kami sama sekali tidak memiliki kecocokkan dan akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri biduk rumah tangga yang masih seumur jagung.
Dan aku memutuskan untuk meninggalkan pesantren ini, sebenarnya ummi sangat keberatan dengan keputusanku yang ingin pergi dari sini tapi aku mengatakan jika aku sangat merindukan kedua putraku, dengan berat hati ummi membiarkan aku pergi.
Aku kembali kerumah orangtuaku, rumah yang sudah lama aku tinggali, semenjak menikah dengan mas Davin.
Aku memilih tinggal disini, dirumah sederhana milik kedua orangtuaku, walaupun rumah yang telah aku tempati semenjak menikah dengan mas Davin sudah diberikan untukku tapi aku merasa tidak pantas menerima rumah tersebut mengingat kejahatan yang telah aku perbuat selama ini.
Biarlah aku memulai semuanya dari awal, setelah ini aku akan mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari.
Hari ini aku mengunjungi rumah orangtua mas Davin, aku sangat merindukan kedua putraku, tapi saat sampai disana aku malah bertemu dengan mas Davin
Dia tidak mengizinkanku untuk menemui kedua putraku, luka yang aku torehkan begitu dalam sehingga kata maaf yang aku ucapkan tidak bisa mas Davin percaya.
Meskipun cacian dan hinaan yang terlontar dari mulut mas Davin aku tetap bergeming, aku masih tetap berdiri disini agar bisa bertemu dengan anak-anakku.
aku sudah bertekad sebenci apapun mereka aku akan terus berusaha agar mendapatkan maaf dari mereka.
Cukup lama aku menunggu didepan pintu gerbang rumah mantan mertuaku akhirnya nasib baik berpihak kepadaku, sebuah mobil berhenti ibu dari mas Davin keluar lalu menghampiriku dia.
Dan alhamdulillahnya ibunya mas Davin tidak membenciku dia masih bersikap baik terhadapku seperti saat aku masih menjadi menantunya kala itu.
Dan akhirnya aku dipertemukan dengan kedua putraku meskipun aku mengatakan jika mas Davin melarangku, mama tetap mempertemukan kami.
Aku memilih pergi saat mas Davin mengetahui jika mama mempertemukanku dengan anak-anak, aku tidak ingin menambah kekacauan lagi.
Pov Vania end ...
__ADS_1
****
Sebuah mobil berhenti dihalaman rumah Kenand, Reza turun dari mobil dan menghampiri Kenand yang sedang bersantai sambil menikmati kopi diteras depan.
Kenand mengkerutkan keningnya saat melihat sahabatnya berkunjung tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Apa yang kamu lakukan pagi-pagi disini?" tanya Kenand saat Reza sudah duduk dikursi tepat disampingnya dengan dtelan rapi.
"Wah ... Bener-bener nih anak, bukannya menyuguhkan kopi atau teh untukku, ini malah bertanya?" ujar Reza.
"Memangnya kalau mau berkunjung harus ada pemberitahuan dahulu?" tanya Reza.
"Ya ... Tumben ajah, biasanya kan weekend seperti ini kamu akan tetap menghabiskan waktu sendirian dirumah." Ledek Kenand.
"Eh ... Ketinggalan informasi, aku tidak sendirian lagi loh." Reza menaik turunkan alisnya.
"Dan tujuanku datang kemari untuk menemui pujaan hatiku." ucap Reza senyum-senyum.
"Apa ...? Pujaan hati?" Kenand menempeleng kepala Reza dengan majalah yang dia ambil dari atas meja.
"Auuh ... sakit, kamu gila ya ...! Kesal Reza.
"Memangnya aku ada bilang gitu?" tanya Reza balik.
"Otak kamu perlu dibersihin nih sepertinya, kamu sadar tidak pujaan hati kamu itu sudah punya suami." bentak Kenand.
"Tenang bos ... Aku kemari bukan untuk istri anda, tapi untuk Lisa." Reza geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya.
"Bukannya Lisa disini?" tanya Reza tanpa bersalah karena telah membuat sahabatnya salah paham.
"Lisa ...?" tanya Kenand.
"Iya ... Makanya jangan asal tuduh, ini langsung main tempeleng saja." rajuk Reza sambil mengusap kepalanya.
"Masak sih Lisa mau sama bujang lapuk kek kamu?" ledek Kenand.
"Enak saja, gini-gini banyak loh gadis-gadis cantik yang mengejarku, akunya saja yang menolak mereka." Reza mencibir ucapan Kenand.
"Noh ... Panjang umur dia." tunjuk Kenand kearah wanita yang tengah mereka perbincangkan.
"Kalau begitu aku masuk saja." Kenand meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Dalam hati Kenand sangat bersyukur akhirnya sahabatnya Reza bisa menemukan wanita sebaik Lisa.
"Pagi-pagi sudah berkunjung kerumah orang." ujar Lisa duduk tepat disebelah Reza.
"Nungguin siang kelamaan Lis! Memangnya kamu tidak merindukanku?" goda Reza.
Eh ... Ri-rindu?" ucap Lisa terbata.
"Terimakasih?" balas Reza.
"Untuk?" tanya Lisa balik dengan kening mengkerut.
"Untuk rindunya." Reza senyum-senyum.
"Ah ... I-iya." tadikan aku hanya mempertanyakan bukan mengatakan jika aku merindukan dia, gumam Lisa.
Tapi tidak kupungkiri aku benar-benar merindukan Reza, pria yang belum memiliki hubungan apa-apa denganku.
"Lis ... Jalan yuk! kamu pasti merindukan kota ini kan?" ajak Reza.
"Boleh ... Aku ganti baju dulu ya?" ujar Lisa yang dibalas dengan anggukan oleh Reza.
wah ... sepertinya ada yang tidak ingin berbagi kebahagiaan nih?" tangan Nadira bersedekap dengan celemek menggantung dilehernya.
"Apa sih bumil." Lisa menghampiri Nadira yang cemberut menatapnya.
"Malah pura-pura enggak ngerti nih anak." balas Nadira.
"Memangnya apa sih?" alis Lisa terangkat.
"Reza ..." ujar Nadira memanyunkan bibirnya.
"Memangnya Reza kenapa?" tanya Lisa pura-pura tidak mengerti dan mendapat lirikan tajam dari Nadira.
"nanti aku ceritain, kasian tuh Reza udah nungguin." Lisa nyengir lalu mencuri cium pipi sahabatnya.
Belum sempat Nadira bicara Lisa sudah berlari menuju kamarnya, Nadira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya.
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92
__ADS_1