
Aku duduk tepat disebelah Nadira, Davina mengoceh mengulurkan tangannya kearahku.
"Anak Daddy minta digendong ya?" Kenand menerima uluran tangan Davina.
"Jadi pak Kenand mantan suami kamu, Nad?" tanya Sean.
"Siapa bilang?" Jadi pacar ajah belum sudah jadi mantan, gumam Kenand.
"Nadira bilang kalian sudah bercerai?"
Nadira menepuk jidatnya.
"Kamu salahpaham, Sean! Bukan Kenand mantan suamiku." ujar Nadira.
"Lalu ... Kenapa pak Kenand menyebut dirinya daddy untuk anakmu, Nad?" Sean semakin kebingungan.
"karena sebentar lagi aku akan menjadi Daddy nya Davina!" timpal Kenand.
"Maksudnya kalian berpacaran?" Sean menatap kearah Nadira.
"Bukan pacaran lagi, Nadira adalah calon istriku!" Kenand tersenyum kearah Nadira.
"Iyakan, sayang?" lalu Kenand memeluk pinggang Nadira.
"Ken ...?" Aku melirik kearah Kenand, maksudnya apa mengatakan semua itu.
"Ada apa sayang? Tidak usah malu, nanti Sean juga akan mengetahuinya, iyakan putri Daddy yang cantik?" Kenand mengalihkan tatapannya kearah Davina.
"Jadi benar Nad, kamu calon istrinya pak Kenand?" tanya sean, aku jadi binggung menjawabnya.
Jika aku katakan kami tidak memiliki hubungan apa-apa, itu sama saja aku menjatuhkan air muka Kenand, tapi jika aku bilang iya, kami memang tidak memiliki hubungan apa-apa.
"I-iya ... Aku calon istrinya." ucapku terbata.
Senyum Kenand mengembang, mungkin Nadira mengatakannya tidak ingin mempermalukan aku, tapi aku tetap senang. Nadira masih menjaga perasaanku didepan orang lain, bathin Kenand.
Ternyata aku kalah sebelum berperang, tapi sebelum janur kuning melengkung aku masih punya kesempatan untuk mendekati Nadira, gumam Sean.
"Jadi begitu!"
kalau begitu aku pamit ya, Nad?" aku tidak ingin berlama-lama disini, tatapan Kenand seperti mau memangsaku.
"Iya ..." Aku aku berdiri akan mengantar sean sampai depan pintu, Kenand juga ikutan bangkit.
"Ken ... Kamu mau kemana?" Aku melihat Kenand ikutan berdiri.
"Aku hanya mengantar Sean sampai kedepan pintu!" Kenapa Kenand jadi sepropektif ini sekarang.
"Kita akan mengantar tamu kita bersama-sama Mommy!" ujat Kenand dengan suara yang dibuat-buat.
Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat tingkah Kenand, lalu kami berjalan beriringan mengantar sean kedepan.
"Kalau begity aku pulang ya, Nad?" Sean izin pamit saat kami sampai didepan rumah.
"Om, pamit dulu ya cantik, nanti pasti om akan main lagi kesini." Kenand menatap tajam kearah Sean.
Jadi nanti dia akan kembali lagi kesini? sepertinya Sean tidak mendengar jelas apa yang aku katakan tadi, aku pastikan kamu tidak akan bisa mendekati Nadira, Kenand hanya bisa membathin.
__ADS_1
"Iya, om ... Kapanpun om boleh main kesini." ujar Nadira sambil memegang tangan Davina, lalu melambaikan tngan kecil itu.
"Dadaaa, om ... "
"Dadaaa, cantik! Kenand menatap dengan tatapan membunuh kearah Sean.
Sean mengelus pipi Davina sekilas lalu masuk kedalam mobilnya.
Astaga ... Kenapa wajah pak Kenand sangat menakutkan seperti itu, walaupun begitu aku tidak akan menyerah sebelum janur kuning melengkung pak Kenand.
Jodoh siapa yang tahu, belum tahukan jodohnya Nadira nantinya adalah aku. Sean nyengir sendiri dengan pemikirannya lalu melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah Nadira.
Setelah kepergian Sean aku menatap kearah Kenand.
"Kamu berhutang penjelasan denganku, ken?" Nadira menatap sinis kearah Kenand.
"Penjelasan yang mana? anak daddy bisa tolong jelaskan?" Kenand mencium pipi Davina.
"Ken, aku serius!" Aku melotot kearah Kenand.
"Aku juga serius Nadira." Aku menatap intens kemanik Nadira, dan melangkah semakin dekat kearahnya.
"Penjelasan yang mana?" jarak kami semakin dekat, Nadira memundurkan tubuhnya hingga membentur tembok.
"Kenand ... Jangan bertingkah seperti itu!" Nadira mendorong tubuh Kenand yang hanya berjarak beberapa centi.
"Kenapa Nad? Bukannya kamu butuh penjelasan?" Kenand menyelipkan rambut Nadira kebelakang telinganya.
Dan perlakuan itu sukses membuat jantung Nadira berdegup kencang.
"A-apa, Ken?" Nadira mengalihkan tatapannya.
"Tatap aku, Nad!" Kenand meraih pipi Nadira agar menatapnya.
"Apa kamu merasakan jantungmu berdetak lebih cepat?" Aku semakin menatap dalam kemanik Nadira, hingga tatapan kami teralihkan dengan celotehan Davina.
"Kamu lupa ada Davina disini, matanya pasti ternodai." ucap Nadira asal.
bbbuaahhh ... Tawaku pecah seketika.
"Nad, memangnya apa yang menodai mata Davina? Apa kita melakukan sesuatu?" Aku memegang perutku yang terasa keram karena tidak bisa menahan tawaku.
"Ihh ... Kamu apa-apaan sih Ken." Aku mendorong tubuh Kenand sekuat tenaga, lalu mempercepat langkahku meninggalkan Kenand.
Kenapa Kenand bertingkah seperti itu, apa dia mencoba mengungkapkan perasaannya melalui cara seperti itu.
Kenand mengikutiku sambil menggendong Nadira digendongannya.
****
Saat ini Davin tengah berada disebuah club langganannya, dia menumpahkan semua kesedihannya setelah resmi berpisah dari Nadira.
Tanpa Davin sadari dia telah masuk kedalam jebakan James dan Vania.
"seperti itu yang kamu harapkan?" ujar James, dia dan Vania duduk tidak jauh dari tempat Davin.
"Iya ... Aku mengharapkan ini semua!" Vania memeluk tubuh James.
__ADS_1
Sebenarnya aku belum puas, mas Davin belum melakukan tindakan yang aku harapkan, aku menginginkan dia menyakiti Nadira.Tapi kenyataannya dia malah melepaskan wanita itu.
"Tapi James, kenapa aku melihat mas Davin tetap tenang seperti biasa."
"Kamu tunggu saja beberapa waktu kedepan, apalagi jika ada pemicu yang membuat dia tidak bisa mengontrol emosinya, Davin akan melakukan tindakan-tindakan diluar batasan."
"Benarkah?" seringaian tercetak dibibir Vania, sepertinya aku harus mencari cara, tatapanku terhenti saat menatap James.
Aku tahu laki-laki ini menyukai Nadira, aku bisa mengajaknya untuk bekerja sama.
"James ... Apakah kamu tertarik dengan Nadira?"
"Memangnya kenapa?" James menautkan alisnya.
"Bagaimana jika kita bekerja sama?"
"Dalam rangka apa?"
"Kamu pasti mengerti maksudku, James!"
"Setelah Nadira membenci mas Davin, kamu memiliki kesempatan untuk mendekatinya."
"Boleh juga! Jadi apa yang akan kita lakukan?"
"Aku ingin mas Davin menggila, buat Nadira membencinya, satu penghalangmu sudah tersingkirkan, bukan?" aku mencoba memanfaatkan James.
"Mari kita coba! Tapi ... Kamu harus tetap tetap menjadi fartner ranjangku." ujar James dengan sikap nakalnya.
"kalau untuk itu tidak masalah!" Aku tau bagaimana gilanya James, dan aku harap dia bisa membuat Nadira hidup seperti dineraka.
"Lebih baik kamu temui mantan suamimu sekarang."
"Kamu pasti tahu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya."
"Dan kamu harus membuat Davin terikat denganmu, jangan pernah biarkan dia mendapatkan celah untuk mendapatkan Nadira."
"Baiklah ... Aku tahu apa yang akan aku lakukan." Vania melangkah kearah Davin yang setengah sadar.
"Nadira ... Mas yakin kamu akan kembali." ujar Davin yang melihat Vania sebagai nadira.
"Iya mas, aku kembali." Vania membantu Davin berdiri dan membawanya kemobil.
"Mas tahu kamu masih mencintai mas, kan?"
"Jangan pernah menerima laki-laki lain selain mas, apalagi Kenand! Dia tidak pantas untukmu sayang." Ujar davin yang masih belum menyadari jika wanita yang bersamanya bukan Nadira.
"Iya, mas! Aku hanya milikmu, sekarang mas masuk." Vania membantu Davin masuk kedalam mobil.
"Nadira ... Sayang! Mas Sangat merindukanmu?" Davin mendekatkan bibirnya kebibir Vania.
Belum sempat dia melakukannya, Davin mengucek kedua matanya.
"Vania ..."
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92
__ADS_1