
Ting ...
Aku meraih ponselku yang tergeletak tepat disamping aku tidur kepalaku masih sedikit pusing.
"Temui aku ditaman hijau." ternyata pesan tersebut dari Lisa.
Aku melihat jam diponselku, pukul 10:30, ternyata cukup lama aku tertidur, aku bangkit dari ranjang dengan bertopangkan telapak tangan, rasa nyeri langsung terasa, aku menatap tanganku yang dibalut perban.
Aku kembali mengingat apa yang telah aku lakukan semalam, aku tidak begitu ingat apa saja yang aku katakan saat ditelpon.
"Sebentar lagi aku kesana." balasku.
Akhirnya aku memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh ini.
Saat ini aku sudah berada ditaman hijau setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit.
"Disini, Vin!" Lisa melambaikan tangannya.
Aku berjalan mendekat kearah Lisa dan duduk disebelahnya.
"Ada apa ya?" tanyaku langsung keintinya.
"Semalam aku sudah katakan kita perlu membahas tentang apa yang sudah terjadi." Lisa mengulurkan satu cup cofee kearahku.
"Memangnya apa yang aku katakan? Aku benar-benar tidak ingat." ujar Davin sambil menyedu coffe yang berada ditangannya.
"Oke ... Mungkin kamu tidak ingat! Tapi bagaimana jika semalam kamu benar-benar menghubungi Nadira?"
"Tidak kebayang bagaimana perasaan Nadira, ditambah kamu mengancam akan mengakhiri hidupmu segala! Dan aku yakin Nadira pasti akan mengorbankan perasaannya untuk yang kedua kalinya."
"Aku bicara begitu, Lis?" tanya Davin tidak percaya.
"Iya ... Kamu bicara seperti itu, dan lebih parahnya lagi kamu meminta Nadira untuk membatalkan pernikahannya dengan Kenand dan jika dia tidak ingin rujuk denganmu, biarkan seperti itu seterusnya."
"Maksud kamu apa? Kamu ingin Nadira hidup sendiri seumur hidupnya?" Jelas Lisa.
Davin tertunduk, dia tidak menyangka jika akan mengucapkan kata-kata seperti itu.
"Aku benar-benar tidak ingat, Lis!" sesal Davin.
"Aku tidak yakin jika kamu memang ikhlas melepaskan Nadira?" selidik Lisa.
"Kamu lihat disana?" aku mengikuti arah telunjuk Lisa.
"Bukankah sudah lama kamu tidak melihat tawa itu? bahkan aku sendiripun sangat merindukan tawanya." ujar Lisa.
Aku terdiam menatap kearah yang ditunjukkan Lisa, benar ... sejak Nadira mengetahui kebohonganku tidak kutemukan lagi tawa lepas seperti itu.
Andai ... Andai aku jujur dari awal, mungkin posisi itu masih ditempati olehku, bukan di isi oleh lelaki lain, kami pasti sudah bahagia dengan kehadiran putri kecil tengah-tengah kami.
__ADS_1
Aku tak mampu membendung tangisku, aku seorang pria tapi aku lemah jika sudah menyangkut tentang cinta.
"Apa kamu sengaja memperlihatkan kemesraan mereka, Nad?" tanya Davin menghapus bulir bening disudut matanya.
"Iya ... Aku memang sengaja! Agar kamu sadar Vin, jika Nadira benar-benar telah menemukan kebahagiaannya."
"Jangan rusak kebahagiaannya lagi." pinta Lisa.
"Bangkitlah, Vin! Cari kebahagiaanmu tanpa menghancur kebahagiaan orang lain." Lisa memohon agar Davin bisa mengerti.
Davin hanya diam, tidak ada yang bisa dia katakan sekarang, dia masih menatap tiga orang yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk, dan sekali-sekali Kenand menyelipkan rambut Nadira kebelakang telinganya karena tertiup angin.
Ah ... Romantis sekali, mereka seperti sepasang suami istri yang baru dikaruniai seorang anak, tanganku terkepal kuat, berusaha menahan rasa cemburuku, rasanya saat ini juga aku ingin berhenti bernafas.
Apa aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan seperti itu? Momen seperti itulah yang aku impikan selama ini, bisa tertawa bersama dengan orang-orang yang aku cintai, gumam Davin.
Sekarang Davin berperang dengan hatinya, disisi lain dia bahagia akhirnya Dia bisa melihat tawa dari wanita yang sangat dicintainya, tapi dari sisi lain hatinya dia tidak sanggup melihat Nadira berbahagia dengan pria lain.
"Aku harap kamu tidak menyia-nyiakan kata maaf dari Nadira, jangan lakukan kesalahan membohongi Nadira untuk yang kedua kalinya."
"Dan aku juga berharap ucapan kamu tempo hari dengan Nadira benar-benar tulus." Lisa menepuk pelan pundak Davin, lalu meraih ponselnya menelpon seseorang.
Saat aku masih menatap mereka yang tengah bermain dengan Davina, Nadira menoleh kearah kami, aku melirik kearah Lisa.
"Kamu memberitahukan jika kita juga disini?" tanya Davin.
Davin menghembus nafas kasar, lalu menatap kearah Nadira yang berjalan kearah mereka disampingnya Kenand merangkul pundak Nadira dan sebelah tangannya menggendong Davina.
Sakit sekali melihat pemandangan seperti ini didepan mata, tapi aku tidak ingin terlihat lemah didedapn mereka terutama didepan puteiku.
"Papa ..." teriak Davina berlari kearahku setelah turun dari gendongan Kenand.
"Eh ... anak gadisnya papa?" tanyaku mengelus pipi putri kecilku.
Davina mencium punggung tanganku lalu beralih mencium kedua pipiku, manis sekali, aku tersenyum menatap kearahnya lalu mendudukan Davina dipangkuanku.
"Udah lama mainnya?" tanyaku.
"Udah ... ! laper pa?" ucap Davina dengan berbicara khas anak-anaknya.
"Adek mau makan apa?" tanya Davin mencium pucuk Davina.
"Ayam chi-ten! Ujar Davina.
"Boleh ..." tapi adek ajak semua orang dulu dong." pinta Davin.
"Iya, itu harus ... Dan si-embul juga melupakan tante sejak tadi." Lisa menunjukkan wajah sedihnya.
"hihihi ... Davina cekikikan melihat wajah Lisa yang tekuk.
__ADS_1
"Maaf tante! Adek tidak lihat." Davina mengulurkan tangannya untuk menyalami Lisa dengan cepat Lisa mengambil alih menggendong Davina dari pangkuan Davin.
"Tante yang sebesar ini masak adek tidak lihat." ujar Lisa sambil menggelitik pinggang Davina, dan membuat gadis kecil itu tertawa terbahak-bahak, mereka yang disana hanya tersenyum melihat tingkah Lisa Dan Davina.
"Udah tante ... Adek laper!" balas Davina, dan Lisa langsung menghentikan candaannya.
"Sekarang sudah jam makan siang, pantesan Davina Lapar." ujar Nadira sambil melirik arloji dipergelangan tangannya.
"Kita cari tempat makan." ajak Kenand.
"Biar Davina aku yang gendong!" Davin mengambil Davina dari atas pangkuan Lisa.
Kami berlima hanya berjalan kaki, karena tidak jauh dari taman terdapat kedai ayam chicken, makanan yang hampir disenangi semua anak.
"Oh iya, Lis ... katanya tadi tidak sempat ikut main, kok sekarang bisa disini?" Tanya Nadira setelah mereka telah sampai dikedai.
"Iya ... Kebetulan pekerjaanku sudah selesai, dan kebetulan juga bertemu Davin, ya ... Aku ajak saja sekalian menyusul kalian." ujar Lisa berbohong.
"Mm ... Gitu!" jawab Nadira.
"Sayang ... Makannya pelan-pelan." pinta Nadira yang melihat putrinya sangat lahap memakan menu favoritnya.
"Tambah mi!" Davina menunjuk chicken yang berada dipiringnya.
"adek mau upinnya mommy!" pinta Davina.
"Upin? Mana ada upin disini, mbull!" jawab Lisa mencubit pipi Davina.
"Adek mau tambah upin tante!" rengek Davina.
"Sebentar ya sayang, mommy ambilkan dulu." Nadira beranjak dari duduknya mendekat kearah salah satu pelayan.
Tidak butuh waktu lama, Nadira sudah membawa satu paha ayam chicken didalam piring dan meletakkannya dihadapan Davina.
Mereka bertiga masih menatap bingung.
"Apa hubungannya upin dengan paha ayam, Nad?" tanya Lisa.
"Masih belum mengerti juga?"
"Davina itu paling menyukai film upin ipin, dan setiap nonton yang bab upin dan ipinnya makan ayam goreng, mereka pasti memakan paha ayam."
"Jadi ... Davina menamai paha ayam itu dengan sebutan upin." jelas Nadira panjang lebar.
Seketika tawa mereka pecah mendengar penjelasan Nadira, sedangkan orang yang tengah dibicarakan tidak peduli, dia tetap lahap memakan upinnya.
TITIK LELAHKU
BY : MIKHAYLA92
__ADS_1