TITIK LELAHKU

TITIK LELAHKU
bertemu dengan Vania


__ADS_3

Aku tidak akan melepaskanmu Nadira!" teriakku prustasi.


Saat aku baru sampai didepan gerbang rumah seorang petugs pos menghampiriku, petugas itu menyerahkan sebuah amplop coklat kearahku.


Aku membukanya setelah petugas itu pergi, bagaikan disambar petir ditengah hari amplop iti berisikan surat panggilan dari pengadilan agama.


Jadi ini tujuan kamu mengindariku selama ini Nad, apakaha tidak ada lagi sedikitpun cinta untukku sampai-sampai kamu melayangkan gugatan cerai kepengadilan.


Aku meremas surat itu digenggamanku lalu melemparnya kesembarang arah, aku mulai tidak bisa mngendalikan emosiku lagi, hanya satu yang bisa menenangkan fikiranku, club. Ya hanya tempat itu yang bisa membuatku tenang.


Sejak mengenal benda h*r*m itu, sesaat aku bisa melupakan masalahku walaupun setelah sadar aku kembali memikirkan Nadira.


Kamu fikir dengan mengajukan gugatan cerai aku akan melepaskanmu Nad, tidak semudah itu, bercerai sekalianpun aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu.


Seminggu lagi kita akan ketemu istriku, sekian lama tidak melihat wajah cantik Nadira, akhirnya aku bisa melihat wajah wanita yang sudah membuat aku seperti orang gila.


Apakah kamu akan datang membawa anak kita sayang. Buah hati dari cinta kita berdua.


Airmataku menetes, aku benar-benar hancur. tubuhku merosot kelantai airmataku turun semakin deras, aku hanya memiliki raga sedangkan jiwaku ikut pergi bersama Nadira.


Apakah kamu tahu Nad, aku seperti orang yang kehilangan arah, tanpa ada tujuan hidup. Tidak adakah rasa kasihan sedikitpun untukku, aku merindukanmu Nad, aku sangat merindukanmu. ucapku terisak.


Aku bangkit lalu melangkahkan kakiku masuk kedalam rumah yang selama ini aku tempati bersama Nadira, rumah ini sama sepertiku seperti tidak ada kehidupan disini.


Saat sampai dikamar aku menatap foto-foto Nadira yang aku tempel disetiap sudut kamar, Aku tersenyum saat mengingat-ingat momen yang ada disana, dulu aku fikir semuanya akan berjalan mulus sesuai dengan yang aku harapkan.


Aku menuju kamar mandi membersihkan tubuhku, setelah mengganti pakaian aku berangkat lagi menuju tempat tujuan utamaku, club itu ... Aku butuh sesuatu untuk menenangkan fikiranku disana.


****


Saat kembali aku tidak menunda keputusanku, terhitung sudah beberapa hari yang lalu aku mengajukan gugatan perceraianku kepengadilan. Hari ini aku mendapatkan surat panggilan dari pengadilan.


Seminggu lagi aku akan bertemu kembali dengan mas Davin, cinta pertamaku, lelaki yang belum bisa aku lupakan hingga saat ini.


Apa aku sanggup bertemu dengannya nanti, aku haru mempersiapkan hatiku. Aku tidak menyangka akhirnya pernikahanku hanya bertahan beberapa tahun saja.


Aku menatap Davina putriku yang tengah terlelap, tentang putri kami apakah aku akan menceritakannya dengan mas Davin, atau aku akan menyembunyikan kebenarannya aku masih belum memutuskan, aku akan melihat situasinya terlebih dahulu.


Suara ketukan mengalihkan perhatianku kearah pintu, ternyata mama.


"Sayang ... Mama masuk ya?" ujar mama.


"Masuk saja ma." mama berjalan kearahku.


"Nad, diluar ada Kenand." lalu mama duduk disampingku.


"Kamu temuin sana, Davina biar mama yang jaga!" mama mengelus pucuk kepalaku.


"Iya ma Nadira keluar dulu." aku beranjak meninggalkan kamar, apa ada hal penting yang ingin Kenand sampaikan, gumamku.


Saat sampai diruang tamu, aku melihat Kenand sedang mengobrol dengan papa, aku mendekat kearah mereka.


"Hai Nad." Kenand lebih dulu menyapaku.


"Ada apa ya Ken?" aku duduk disebelah papa.


"Nad, besediakah malam ini kamu menemaniku pergi keacara pernikahan salah satu kolegaku." ujar Kenand.


"Pergilah nak, temani Kenand. Davina biar papa dan mama yang menjaganya." papa menatap kearahku.


"Baiklah Ken, pukul berapa?"


"Pukul 7 aku akan menjemputmu." aku tersenyum kearah Nadira, aku fikir Nadira tidak akan mau menerima ajakanku.

__ADS_1


"Ya sudah Nad, aku pamit dulu ya?"


"Om, aku permisi." aku menyalami punggung tangan papanya Nadira.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." ujar mereka serentak.


"Nad, papa ingin bicara?" papa menatapku setelah kepergian Kenand.


"Iya pa, bicara soal apa?" aku mengerutkan keningku.


"Bagaimana kelanjutan gugatan perceraianmu?" ujar papa.


"Minggu depan aku akan kepengadilan pa."


"Kamu harus ikhlas, mulai sekarang kamu harus memikirkan kebahagiaanmu."


"Putri papa pasti kuat." papa memelukku.


"Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami." papa mencium pucuk kepalaku.


"Aku sudah ikhlas pa." Aku semakin mengeratkan pelukanku, bulir bening jatuh dikedua pipiku.


Papa melepaskan pelukannya, lalu menghapus airmataku.


"Papa harap ini yang terakhir kalinya papa melihat kamu menangis."


"Aku janji pa, setelah ini aku tidak akan menangis lagi."


"Nak ... Papa tahu kamu belum bisa membuka hatimu, tapi Kenand lelaki yang baik. Papa harap kamu mau memberikan kesempatan untuknya." ujar papa.


"Papa tenang saja, aku akan memikirkannya."


"Aku kekamar dulu ya pa?"


Saat aku kembali kekamar, ternyata Davina sudah bangun, mama sedang asik bermain dengannya, lalu aku menghampiri mereka dan duduk disamping mama.


"Ma, nanti malam aku titip Davina ya? Aku akan menemani Kenand keacara pernikahan salah satu koleganya." Aku memeluk mama.


"Iya sayang, mama pasti akan jagain Davina." ujar mama.


"Jadi ... Menurutmu Kenand bagaimana?" mama menaikan sebelah alisnya.


"Bagaimana apanya?"


"Apa kamu tidak tertarik dengan pria tampan seperti dia?" mama mengerlingkan matanya padaku.


"Mama apa-apaan sih, berhenti menggodaku seperti itu." aku melotot kearah mama.


"cup-cup ... Ternyata bayi tua mama merajuk." mama mencubit kedua pipiku.


"Udah ah ... Aku mau kekamar dulu." aku mencium pipi mama sekilas.


Saat keluar dari kamar, bibik menghampiriku dengan menenteng tiga paperbag ditangannya.


"Buat siapa bik?"


"Ini non, tadi ada kurir yang mengantarnya, katanya buat non Nadira." bibik menyerahkan paperbag itu ketanganku.


"Buat aku?" aku melihat alamat pengirimnya, ternyata dari Kenand.


"Iya bik, ini untukku."

__ADS_1


"Ya sudah bibik kebelakang dulu ya non." ujar bibik pamit.


Aku menenteng paperbag itu kedalam kamar, Saat membukanya aku sangat terpesona dengan gaun yang dikirimkan Kenand untukku. Indah sekali ... lalu aku membuka dua paperbag lagi isinya ternyata sepatu dan perhiasaan.


Sebenarnya aku tidak ingin menerima semua ini, tapi mungkin karena ini acara penting jadi Kenand memberikan semua ini, Aku mencoba berfikiran positif saja.


Gegas aku mandi lalu memakaikan baju yang diberikan Kenand, Aku merias wajahku dengan polesan make up lalu rambutku kusanggul keatas.


Selesai ... Aku menatap pantulanku dicermin, sudah lama aku tidak merias diri seperti ini, dulu aku sering menemani mas Davin keacara rekan-rekan kerjanya.


Setetes air mata jatuh dipipiku, aku menghapusnya perlahan. tidak kupungkiri mulutku bisa berkata tidak tapi tidak dengan hatiku, aku sangat merindukan mas Davin.


Ponselku berdering ...


Ternyata panggilan dari Kenand.


"Nad, aku sudah sampai." ujar Kenand diseberang sana.


"Baiklah ... Aku akan segera turun." lalu mematikan panggilan telpon.


***


Pandanganku tertuju dengan Nadira yang menuruni anak tangga.


Dress hitam panjang itu sangat kontras dengan kulit putih Nadira, aku benar-benar kagum dengan kecantikan Nadira.


Rasanya tidak ingin membawanya ke acara seperti, aku tidak rela kecantikan itu dinikmati oleh semua orang, tapi aku hanya bisa mengucapkan nya didalam hati.


"Ken ... Kita berangkat sekarang?" ujar Nadira saat sampai didekatku. Aku mencoba menenangkan detak jantungku.


"I-iya, kita berangkat sekarang!"


"Om, tante ... Kami jalan dulu." aku pamit dengan orangtua Nadira.


"Iya Ken... Hati-hati." ujar mama Nadira.


"Daddy pinjam mommy nya dulu ya sayang?" ujar Kenand kearah Davina yang berada digendongan mama.


"Iya Daddy ... Tolong jagain mommy nya Davina ya?" ujar mama yang suaranya dibuat seperti anak kecil.


Kenand membukakan pintu mobil untukku, setelah kami berpamitan lalu melajukan mobilnya.


Tidak banyak yang kami bicarakan saat dimobil, aku sedikit canggung saat berdekatan dengan Kenand sejak kejadian beberapa waktu yang lalu.


Sekarang kami sampai ditempat tujuan, ternyata banyak rekan-rekan kerja kantor Kenand disini.


Seseorang menghampiri kami, Aku menatap wanita yang bersama pria bule tersebut ternyata ...


Mbak Vania ... Bathinku, kenapa aku bisa bertemu dengannya disini, ingatan tentang mbak Vania yang mendorongku ditangga masih sangat jelas diingatanku.


"Hai Ken, apa kabar? Ujar pria bule tersebut.


"baik James." perkenalkan ini Nadira sekretarisku yang aku ceritakan tempo hari." aku memperkenalkan Nadira sambil melirik kearah Vania, aku yakin dia tidak nyaman bertemu denganku dan Nadira disini.


"Nadira." sambil mengulurkan tanganku.


"James." Aku menatap wanita cantik yang berada dihadapanku.


"You're very beutiful." ucap James


"Terimakasih." Aku melirik kearah mbak Vania, dia mengalihkan pandangannya saat bersitatap denganku.


Aku menatap kearah James yang sedari tadi mencuri pandang kearah Nadira, apa dia tertarik dengan pelakor itu. Bathin Vania.

__ADS_1


TITIK LELAHKU


BY : MIKHAYLA92


__ADS_2